
pemimpin kediaman marquess sedang dalam perjalanan pulang , pria itu marah besar ketika mendengar kediaman nya hancur tanpa menyisakan sedikit pun ,mau taruh dimana wajahnya jika itu sampai benar ,tapi dia tak bisa mengelak ketika mendengar ledakan besar yang berasal dari arah kediamannya .
selama perjalanan menuju kediamannya ,pria itu selalu memaki sang supir karena membawa kereta kudanya dengan lambat menurutnya ,dibelakang juga ada tiga kereta kuda yang mengikuti.
"sialan cepat lah !kenapa kau membawanya dengan sangat lambat !" ujarnya marah marah
"maaf sir ,tapi ini sudah sangat cepat " jawab pelan sang kusir kuda
"ah...!akku tidak peduli ! percepat ,jalannya !" sentak nya penuh emosi
"ba..baik! sir!"
cass....ghiii....
(anggap aja bunyi pecutan dan suara kuda :)
pada saat sang kusir ingin kembali memecut kudanya sekelebat bayangan hitam mengejutkan nya dan juga kedua kuda ,membuat kuda takut dan kereta terguling ,begitu juga dengan ketiga kereta dibelakangnya
hiiii......
Brak...glatak.....glatak...brak.....
empat sosok dengan jubah hitam dan topeng rubah berdiri menatap orang orang yang sedang mencoba menyelamatkan diri dari kecelakaan yang mereka buat tanpa berniat membantu.
"sialan ! beraninya kau membuatku kecelakaan!" teriak louis marah besar ,dia adalah ayah dari evan .
louis yang masih marah tidak menyadari jika ada empat sosok yang masih setia melihatnya , dia sedang marah dan terus mengatakan kata kata kasar begitu juga dengan beberapa petua yang ada dibelakangnya.
"kau masih tidak berubah juga ya " sebuah suara dingin menghentikan acara marah marah louis , pria itu menoleh kearah sumber suara .
"siapa kalian?!" ujarnya terkejut dan mulai mundur seraya bergabung dengan para petua dibelakang.
"kau sungguh tidak mengenali ku ? ah..apa yang kuharap kan toh kau juga tidak peduli ,!" ujar evan ,dia memakai jubah hitam dengan topeng rubah yang mengulurkan lidah.
di sampingnya Alexa ,small dan Arthur juga memakai jubah yang sama hanya topeng rubah dengan ekspresi yang berbeda saja .
evan memberikan isyarat kepada ketiga untuk mundur dan dipatuhi oleh ketiganya , sekarang ini urusan keluarga nya mereka tidak bisa ikut campur.
evan menurunkan topeng nya memperlihatkan wajahnya yang berubah dingin . louis cukup terkejut dengan evan yang berada didepannya , bocah itu sudah berubah !
"oh itu kau! beraninya kau menghalangi jalan kereta ku! kau akan mendapatkan hukuman yang pantas bocah!" teriak louis sambil menunjuk kearah evan yang terdiam
"kau tidak akan bisa melakukannya lagi!"sedetik kemudian evan menghilang dari tempatnya dan mulai membantai para tetua yang ada dibelakang louis , evan tidak akan langsung membunuhnya dia hanya memotong kaki dan tangan mereka setelah itu akan dia biarkan
louis terpaku diam ,suara teriakkan yang menyedihkan sekaligus mengenaskan terdengar dibelakangnya ,dia enggan untuk berbalik dan melihat adegan yang ada dibelakangnya.
"kau terlihat tenang tenang saja ya ,,padahal mereka sedang meminta tolong pada mu " ucapan evan terkesan dingin dan itu tepat ditelinga louis .
evan menghadap kearah louis yang masih syok , evan menikmati wajah syok louis .
"aku datang untuk menghancurkan mu !" suara evan menyadarkan louis ,pria itu menatap pemuda didepannya .
"a..apa..apa maksud mu nak ?" kini nada bicara louis terdengar lemah dan takut , dia merasa tidak berdaya dihadapan evan yang sekarang
"dulu kemana kau ketika aku masih menjadi anak mu !bahkan dulu kau tidak menghiraukan ku yang ada di sampingmu ! kau bahkan enggan mengganggap ku anak mu di depan umum!" sentak evan dengan tajam dan itu membuat louis terdiam tapi dengan cepat dia kembali karena masih belum ingin mati
"maafkan ayah ,,,,ayah pada waktu itu salah,kakek dulu yang menghasut ayah " ujar louis mencoba menarik simpati evan ,evan hanya memandang muak pria didepannya
"jika begitu ,aku tanya siapa nama ku ?" tanya evan dan itu sukses membuat louis terdiam
"........"
"LIHAT!!! kau bahkan tidak tahu siapa nama ku !dan kau berharap aku maafkan dan mengganggap mu ayah ku ?! kau mengurung ibuku ! bahkan ketika dia meninggalkan sekalipun kau tidak menyediakan pemakaman untuk nya ! kau bahkan tidak peduli ! " evan berteriak marah , matanya berkilat menatap kearah pria tua yang tertegun dengan tubuh bergetar
"kau ingin meminta simpati kepada ku ?! bahkan dulu kau dengan tega menghukum ku tanpa peduli jika aku adalah anak mu! kau lebih peduli pada anak haram itu!"
"kau brengsek,bajingan tidak berakhlak! kau lebih peduli kepada pelac** dan anak haramnya itu dibandingkan dengan anak dan istri mu yang sah !"
"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN MU!"teriak evan benci , evan mendekat sambil menyeret pedang besarnya kearah louis yang ingin lari tapi tidak bisa karena terlalu takut .
evan mengangkat pedangnya dan sedetik kemudian dia menurunkan nya kembali , pada saat itu lah louis kehilangan kaki kakinya .
"argh........!!!"
"aku akan menyiksa mu!" rasa benci dan amarah meluap disekitar evan ,pemuda yang ceria itu mengeluarkan aura kebencian yang bahkan melebihi kebencian Arthur , dibelakang louis para petua menyaksikan semua yang terjadi didepan mereka , mereka tanpa sadar terdiam dan tidak merasa sakit lagi ketika melihat evan ,anak malang kediaman marquess dulu berubah tepat didepan mata mereka .
evan menguliti Louis dengan belati karat , pemuda itu juga mengeluarkan garam dan lemon tak lupa juga elixir agar membuat louis tetap terjaga dan tidak mati akibat kehabisan darah .
small dan Arthur terdiam ,pemuda yang ceria itu berubah ! dia tidak sama seperti pertama kali mereka kenal . Alexa hanya diam dia tidak begitu terkejut dengan yang dilakukan oleh evan tapi dia kagum dengan nya yang bisa menyembunyikan kesedihan dengan selalu ceria.
"sesakit itukah ? kau bahkan memutuskan pertalian iti dengan tegas !" batin Arthur menatap evan yang masih melakukan aksinya mengabaikan semua nya dan fokus pada maha karyanya
"ternyata dibalik sikap ramah dan cerianya tersimpan seekor monster " batin small melihat evan
" ......aku tahu itu pasti sakit " Alexa
.
.
.
.
.
//Dibalik senyuman tersimpan kesedihan
Dibalik keramahan tersimpan kebencian
Dibalik keduanya tersimpan monster yang siap
untuk keluar ketika tidak bisa ditahan lagi //