Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 2 : GETTING CLOSER (PART III)



Dikelas,


Melihat Alfred yang terus menerus mengelus telinga bekas jeweran Nadya yang bahkan sampai memerah, ia menjadi kasihan dan kemudian mengajak Alfred ke kantin selagi guru belum datang.


“Gua ngak ngerti lagi sama Nadya. Kenapa coba dia sampai harus ngejewer? Kan bisa tegur baik-baik,” Alfred mengomel saat mereka menuruni tangga menuju kantin yang ada di lantai 1.


“Lagi PMS mungkin? Lagian lu juga sih, kalo dia minta tolong soal tugas, selalu lama baru lu respon. Giliran cewek lain, langsung fast respon. Siapa yang ngak eneg coba,”


“Kalo dia meminta dengan sedikit imut, mungkin gua akan fast respon juga. Tapi kan lu tahu sendiri bagaimana dia kalo minta tolong, kaya cetek banget. Ngak ada sisi feminimnya sama sekali,”


“Ya tapi tetap saja, harusnya lu ngak pilih kasih lah,” ucapnya. Alfred juga tidak mengucapkan apa-apa lagi. Mungkin sudah kehabisan alasan, pikirnya.


Meski begitu, setelah melihat reaksi Nadya tadi. Ia menjadi sedikit yakin, kalau yang disukai Nadya bukan dirinya melainkan Alfred. Akan tetapi, sekali lagi, dia tetap memilih untuk diam saja dan lebih memilih untuk mengamati saja bagaimana perjalanan cinta kedua temannya yang berharga ini.


“Tapi, Kak Vina kayaknya tertarik sama lu deh,” Alfred tiba-tiba berceloteh tidak jelas.


“Ah, ngehalu lu,” jawabnya dengan singkat, dia lebih memilih tidak meladeni pembicaraan ngelantur dari Alfred kali ini. Walaupun, dia tadi sempat kepikiran ide gila soal dirinya yang bersanding dengan Kak Vina di masa depan. Akan tetapi, dia cukup sadar diri dengan peluangnya sekarang ini; sangat kecil.atau bahkan hampir nihil.


“Astaga, masa lu ngak nydar juga sih. Dia itu kaya care banget sama lu,” mendengar perkataan Alfred tersebut, timbul rasa penasaran yang belum ia rasakan sebelumnya, “Tahu ngak? Pas dia ngejelasin soal klub musik yang lu masuki, dia itu kaya memohon sama gue dan Nadya supaya ikut jaga rahasia itu sampai lu berani menceritakan sendiri. Dan tatapan matanya saat menunjukkan lu yang sedang bermain piano itu, beh, kayak orang yang sedang jatuh cinta,” lanjut Alfred kemudian.


“Ah, masa sih, ngibul lu kan?” ujarnya, karena memang ia tidak percaya kalau Kak Vina sampai menaruh hati ke dirinya. Dan saat ini pun, dia cuma sekedar mengagumi Kak Vina yang sudah cantik, memiliki paras sempurna, namun tetap saja mau berjuang demi impiannya sendiri. Tidak seperti kebanyakan perempuan dengan paras cantik lainnya; mendekati banyak cowok untuk mendapatkan apa yang mereka mau.


“Ya sudahlah kalau lu ngak percaya. Yang penting, dari apa yang gua liat, gua berani bilang kalau Kak Vina ada perasaan sama lu,” ucap Alfred yang terdengar cukup percaya diri.


Melihat Alfred yang mengatakan hal seperti itu dengan sangat percaya diri, pikirannya sekarang ini melayang kemana-mana. Akan tetapi saat ini, dia punya banyak hal yang harus diutamakan. Dan terutama yang paling terutama yaitu mendapatkan ranking 1 umum sebagai pembuka. Dalam perjalanan kembali ke kelas setelah membeli sebotol aqua dingin—yang sekarang ditempelkan di telinga Alfred bekas jeweran Nadya—ia kembali memikirkan perkataan Alfred baik-baik.


Dalam kepalanya sekarang muncul 1 pertanyaan, ‘Apakah mungkin ia dan Kak Vina mempunyai kesempatan untuk bisa bersama?’. Memikirkan hal yang rasanya mustahil seperti itu, ia tersenyum  tipis dan menggelengkan kepalanya. Ia hanya bisa menyerahkan hal itu kepada Tuhan, kalau memang mereka berjodoh, pasti akan bersama juga bagaimana pun caranya. Pikirannya yang selalu bersifat logis, juga menampar dirinya dan menyuruhnya untuk tetap fokus dengan rencananya seakrang ini untuk mendapat juara 1 umum di akhir semester kali ini.


Setelah merenungkan semua itu, ia menghela nafas untuk melepas semua beban di pikirannya, “Lebih baik lu fokus ke PR Pak Panji, pasti belum selesai kan lu,” ucapnya ketika teringat kalau mata pelajaran terakhir nanti adalah Bahasa Inggris.


“Kampret, kenapa baru ngomong sekarang lu?” ucap Alfred sembari menepuk jidat, dan kemudian berlari sekencang mungkin kembali ke kelas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya satu itu. Mungkin tidak akan ada yang percaya kalau ia mengatakan tingkah Alfred yang juara 1 OSN namun malas mengerkjakan PR matpel tertentu.


Ketika sampai di kelas, ia sempat heran, karena kelas yang tadinya penuh menjadi cukup sepi, “Pada kemana semua?” ia memutuskan untuk bertanya kepada Nadya yang tampak sedang sibuk membaca buku novel yang dia pinjam dari perpus.


“Mau kemana lu?” tanya Alfred yang ternyata mengikutinya dari belakang.


Sambil terus berjalan, ia sempat berpikir sejenak apakah akan mengatakan yang sejujurnya atau tidak, “Mau nonton lah, apalagi?” ucapnya, yang pada akhirnya ia memilih untuk berbohong saja. Karena alasan sebenarnya dia langsung pergi adalah karena Kelas 12 IPA 2 merupakan kelas Kak Vina.


“Ternyata, lu termasuk orang yang suka menonton yang kaya begituan ya?” ujar Alfred kembali.


Ia tidak menjawab dan terus membiarkan Alfred mengoceh sesuka hatinya. Baginya, untuk saat ini tidak ada gunanya juga kalo Alfred mengetahui soal perasaannya ke Kak Vina untuk saat ini. Ketika akan sampai di lantai 3; tempat dimana semua kelas 12 dan fasilitasnya ditempatkan, mereka sudah bisa mendengar keriuhan di lantai 3.


Dan begitu melewati anak tangga terakhir, kerumunan siswa yang berkumpul di depan kelas 12 IPA 2–yang tertulis di plang nama kelas dimana orang berkumpul—seperti orang sedang menonton pertunjukan yang sangat seru.


Kebetulan, ditengah-tengah kerumunan tersebut, ada seorang teman kelasnya yang bernama Galih. “Oi Gal,” Alfred dengan akrabnya langsung memanggil galih sebelum ia sendiri sempat mengatakan sesuatu.


Ia dan Alfred mungkin pertama kali mengenal Galih saat pembentukan group untuk pelajaran olahraga. Dari pertama kenal, sifat Galih yang cukup ramah, asyik, dan tidak jaim saat diajak bergaul membuat ia dan juga Alfred cepat akrab dan kompak. Bahkan, karena begitu kompak, mereka bahkan mendapat nilai sempurna.


“Wih, lu berdua ternyata juga tertarik dengan hal norak kayak ginian?” ujar Galih.


“Ada apaan memangnya?” Alfred langsung bertanya tanpa menunda-nunda sedikit pun. Sedangkan ia sendiri lebih memilih untuk diam dan mengamati saja; menjaga wibawa sedikit.


“Itu, ada yang nembak yang lagi menyatakan cinta,”


“Ceweknya cakep kagak?”


“Ngak usah lu tanya, wajahnya kayak model, terus katanya suaranya cukup bagus. Anggota klub musik pula,”


Mendengar perkataan Galih, ia terkejut dan ada sedikit perasaan panik dalam dirinya; namun masih bisa ia sembunyikan rapat-rapat dan memasang poker facenya. Meninggalkan Galih dan Alfred, ia berjalan maju, memaksa menembus kerumunan yang ada sampai ia bisa melihat apa yang sedang terjadi dari balik celah kecil di antara kerumunan tersebut.


Ia bisa melihat seorang perempuan berdiri dan di depannya ada seorang laki-laki yang sedang memegang bunga sambil berlutut. Masih tidak tenang kalau tidak bisa mendapatkan gambaran jelas tentang perempuan yang berdiri tersebut, ia kembali mencoba melangkah maju dan menerobos kerumunan tersebut.


Perasaan tidak tenang yang dia rasakan dalam hatinya kemudian berubah menjadi gembira dan senang saat melihat kalau perempuan yang berdiri tersebut ternyata bukanlah kak Vina, melainkan Kak Alice yang juga anggota klub musik namun lebih ke arah Choirs dari pada solo singer; seperti yang ditekuni Kak Vina.


“Jadi kamu juga suka pertunjukan kaya begini?” suara Kak Vina yang tiba-tiba terdengar dari belakangnya, membuatnya kaget. Ia pun langsung berbalik dan semakin terkejut karena ternyata Kak Vina betul-betul berada di belakangnya sembari tersenyum tipis.