Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 1 : FALLING IN LOVE (PART II)



CHAPTER 2


“Wah mati kita, beritanya sudah menyebar kemana-mana,” manajer Vina; Kamila, mulai terlihat panik saat menatap layar tablet yang di pegangnya. Dia, Evan, berani bertaruh kalau apa yang dimaksud Kamila adalah artikel soal dirinya dan juga Vina.


“Sudah, tenang saja, lagian aku sebenarnya memang mau mengumumkan di bandara tadi, tapi kelupaan,”


Vina menjawab dengan santainya seolah apa yang terjadi sekarang bukanlah sesuatu yang wow. Sikapnya memang tidak berubah dari pertama kali ia mengenal Vina; tidak takut dengan apapun selama dirinya merasa benar. Meski hal itu cukup bagus karena menandakan kalo dia mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi. Akan tetapi, terkadang juga sifatnya itu tidak jarang membuat dia sendiri terjebak dalam masalah. Apalagi, ditambah dengan sifat impulsifnya yang terkadang muncul tiba-tiba.


“Yakin kamu ngak bakal nyesel?” ia bertanya sekali lagi kepada Vina sambil sedikit meremas tangannya.


Vina hanya membalasnya dengan senyuman, tidak mengatakan apa-apa sama sekali. Meski begitu, setelah berpacaran selama hampir 14 tahun lamanya, dia bisa mengetahu sedikit isi pikiran Vina hanya dari sorotan matanya. Dan saat ini, dia bisa melihat kalo Vina sedang mencemaskan sesuatu.


Tak mau melihat pacarnya cemas seperti sekarang ini, ia memutuskan untuk memakai rencana cadangan yang sudah dipersiapkannya dengan baik selama ini. Ia kemudian mengambil hpnya dari dalam saku celananya, membuka sesuatu di penyimpanan cloudnya, dan mengirim beberapa file ke Kento.


“Kamu ngapain?” Vina bertanya dengan wajah yang terlihat kebingungan.


“Ini namanya sedia payung sebelum hujan,” dia menjawab sambil berusaha menelepon Kento, “Halo, lu mau tau kan soal yang gua ceritakan selama ini? Semuanya ada lengkap di file yang gua kirim barusan. Gua mau lu rilis semuanya hari ini dengan menggunakan akun anonim. Buat seolah-olah itu diliat oleh orang lain, bukan dari perspektif gua atau Vina. Dan, kirimkan dulu gua previewnya sebelum lu post,” jelasnya kepada Kento tepat setelah Kento mengangkat telponnya.


“Apa yang kamu mau rilis?” Vina kembali bertanya,


“Hmm, pengumuman soal pernikahan kita maybe,” melihat raut wajah Vina yang bertanya dengan mengerutkan keningnya, dia memutuskan untuk sedikit menggoda Vina.


“Wh.. What? Pe.. Pernikahan?” reaksi wajah Vina memang terkejut dan terlihat seperti tidak menyukai candaannya. Namun alam bawah sadar Vina tampak menyukai ide tersebut, bahkan sampai membuat wajahnya merona tanpa dia sadari di beberapa detik pertama, sebelum akhirnya memalingkan mukanya.


“Bercanda, aku cuma mau orang-orang tahu kisah kira yang sebenarnya supaya orang mengerti bagaimana perjalanan cinta kita. Biar mereka ngak salah paham saja,” jelasnya.


Sebagai orang yang cukup paham bagaimana kelamnya dunia hiburan, yang dari luar terlihat menyenangkan dan bergelimang harta, namun sebenarnya menyimpan segudang penderitaan yang baru akan terasa ketika terjerumus ke dalamnya. Aturan yang ketat, persaingan yang sangat sengit, dan tekanan sebagai public figure menjadi alasan kenapa banyak orang di dunia hiburan menjadi stress hingga akhirya terjerumus ke jalan yang salah seperti narkoba dan berbagai masalah lainnya. Dia sendiri juga sudah pernah melihat bagaimana Vina hampir terjerumus ke dalam jurang tanpa dasar tersebut, ketika lagu dan albumnya tidak mendapatkan reaksi yang bagus.rahasia kelam.


“Kak, ada telpon,” Kamila menyela pembicaraan mereka dan memberikan telfon kepada Vina.


Tatapan Vina lagi-lagi seperti terlihat cemas ketika sedang menjawab telpon tersebut. Hanya dengan melihat bagaimana reaksi Vina dan juga Kamila ketika menjawab telpon tersebut, Evan menduga kalau itu pasti telpon dari bos manajemen artisnya. Meski sebenarnya dirinya ingin mengambil telpon tersebut dari tangan Vina, akal sehatnya menghentikan dirinya untuk ikut campur terlalu jauh dengan karir Yunita dan menyibukkan dirinya untuk melihat artikel yang kebetulan baru saja dikirim oleh Kento.


Ketika memeriksa 2 artikel pertama yang masuk, dia cukup puas dengan keputusannya mempercayakan semua kartu AS-nya tersebut kepada Kento. Semuanya ditulis begitu rapi, dan tidak memperlihatkan kalau foto-foto yang melengkapi artikel tersebut sebenarnya berasal dari dirinya. Dan, bukan Kento namanya kalau tidak ada sedikit kejahilan. Di bagian paling bawah artikel tersebut, Kento menambahkan P.S ‘Jangan lupa, lu hutang traktiran sama gua ya’. Dia tersenyum ketika melihat keisengan temannya itu.


“Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?” Vina menegurnya saat dirinya sedang sibuk melihat draf awal artikel yang Kento kirimkan. Tanpa banyak berbicara, ia memberikan hpnya kepada Vina dan menunjukkan apa yang dilihatnya dari tadi, “Wah, hebat juga rencanamu. Aku ngak kepikiran loh cara kaya begini,” Vina juga ikut tersenyum setelah membaca beberapa saat, bahkan sampai menunjukkan artikel tersebut ke Kamila.


“Wah, so sweet banget. Ini benaran kisah kalian kaya gini?”


Vina dan ia mengangguk pelan hampir bersamaan. Karena ia tahu, kalo apa yang ada di dalam artikel tersebut adalah salah satu momen yang mereka berdua paling ingat dan agak susah untuk bisa dilupakan. Hal itu sengaja dia lakukan agar saat ada ada wawancara soal mereka berdua,Vina bisa mengingatnya lebih mudah, karena mengingat kesibukan Yunita yang sangat padat, beberapa momen mereka berdua mungkin sudah dilupakan olehnya.


“Kamu ngak apa-apa kan kalo kita di wawancara besok?” Vina tiba-tiba bertanya sambil mengenggam tangan Evan, “Soalnya you know lah, Prisca nyuruh kita untuk memberikan penjelasan. Takut fans ku sama fans si kampret itu salah paham,” wajah Vina tampak terlihat ogah saat menyebut ‘si kampret’; Giovani, orang terakhir yang terlibat skandal dengannya..


Yah, sebenarnya bukan hal baru lagi sih kalo beberapa manajemen artis sering memanfaatkan kepopuleran artis yang sering di jodoh-jodohkan dengan menjalin hubungan kontrak dalam jangka waktu tertentu demi mendongkrak popularitas atau biasa di kantornya disebut ‘pasangan bisnis’. Mereka tidak betul-betul berpacaran, namun tampil layaknya pasangan di beberapa kesempatan dan juga melakukan iklan bersama. Vina dan Michael pun sama, mereka melakukan itu selama 6 bulan--yang itupun karena kejadian tidak terduga--untuk kepentingan mereka masing-masing; Vina demi melariskan album dan lagunya, sedangkan Michael demi menggaet lebih banyak sponsor.


Cemburu? Ia beberapa kali merasakan hal itu. Akan tetapi, Vina yang selalu memberitahunya sebelum melakukan syuting iklan bersama Giovani, membuatnya cukup tenang dan percaya sepenuhnya kepada Vina.


“Ok. Jam berapa?” dia menyanggupi wawancara tersebut, karena memang cepat atau lambat, mereka juga toh akan menghadapi semua itu akhirnya. Apalagi, ketika mengingat akan status Vina sebagai penyanyi populer.


“WHAT?!!” dia terkejut saat mengetahui lokasi wawancara besok adalah kantornya, “Seriusan kamu? Ngak bercanda kan?” dia mencoba memastikan apakah Vina sedang mengerjainya atau tidak.


“Serius. Kenapa? Ada yang kamu sembunyikan di kantormu ya? Atau jangan-jangan kamu punya affair dengan salah satu pegawai di kantormu? Atau…”


Mendengar ocehan Vina yang membuatnya sakit kepala, dia langsung menutup mulut Vina dengan tangannya, “Ngak usah terlalu banyak menghayal yang ngak-ngak deh bu,” ucapnya.


Alasan yang disebutkan Vina tadi tentu tidak pernah ia lakukan sekalipun. Dan yang sebenarnya dia cemaskan—atau lebih tepatnya dia takuti—adalah gosip yang akan beredar di dalam kantornya nanti. Dia sangat malas jika harus menjadi bahan omongan wanita-wanita penggosip di kantornya, yang kalau sudah berkumpul dan bergibah, sudah hampir sama seperti ibu-ibu penggosip. Bahkan mungkin bisa lebih parah lagi. Membayangkannya saja sudah membuatnya sedikit merinding.


***


Esoknya, sekitar 30 menit sebelum wawancara di mulai. Dia dengan tergesa-gesa berlari ke toilet untuk mengganti pakaian kantornya dengan setelan yang di belikan oleh Vina dalam perjalanan pulang kemarin di sebuah mall.


“Wah, gila juga lu ya, ternyata selama ini lu pacaran diam-diam sama artis beken. Jadi tujuan lu masuk ke sini itu buat ngejaga supaya lo ngak ketahuan begitu?” ujar Kento yang bersikeras untuk ikut menemaninya ganti baju.


“Yah, salah satu alasannya memang itu sih,”


“Wah, gokil. Tapi, kok bisa kalian ngak terendus selama ini ya? Apa paparazi kita yang kurang cakap atau bagaimana ya? Bisa-bisanya dikelabui sama kalian selama ini,”


“Simple, cuma butuh keberuntungan dan menahan hawa nafsu. Bagaimana penampilan gue?” dia bertanya sembari menggulung lengan bajunya agar tidak basah saat dia mencuci tangannya.


Kento terlihat menatapnya untuk beberapa saat sebelum berbicara, “Not bad. Kalau Vina yang pilih pasti bagus sih,” ujar Kento.


“Ehm, permisi ya. Mulai sekarang panggil dia dengan Miss, karena dia adalah pacar gue,” ia  mengusili Kento dengan pamer soal statusnya dengan Vina; artis favorit temannya ini, sebelum berjalan pergi meninggalkan Kento dan menitipkan baju kerjanya di lengan Kento.


Melihat ekspresi Kento yang spechless, ada sedikit kepuasan tersendiri dalam dirinya saat berhasil mengerjai temannya itu. Dan mungkin saja, itu akan menjadi salah satu hobi barunya, yakni menggoda Kento sebagai bayaran akibat terlalu kepo dengan kisahnya dengan Vina dulu.


Sekitar 5 menit sebelum jam 1, ia memasuki ruangan yang diberitahukan oleh Bosnya—yang begitu excited saat medengar wawancara ini—dan juga Vina, yang sudah sampai di ruangan tersebut terlebih dahulu.


“Kemana saja kamu? Telat amat datangnya,” Vina menyambutnya dengan sedikit omelan


Dan, apa yang ditakutkannya kemarin, tampaknya menjadi kenyataan. Beberapa karyawan wanita yang ia kenal hadir juga disitu, padahal ini hanyalah per recoded interview dan bukanlah wawancara live atau talkshow yang membutuhkan penonton.


Seperti kebanyakan interview, beberapa pertanyaan awal berfokus pada karir Vina yang baru saja mendapatkan penghargaan Grammy. Sementara itu, ia juga tak luput dari pertanyaan soal karirnya dalam mencapai jabatan Direktur HRD dengan waktu yang terbilang cukup cepat. Dia sendiri sebenarnya juga merasa kalo dirinya cukup beruntung karena memiliki perjalanan karir yang begitu mulus.


“Nah, sekarang, yang semua orang tunggu-tunggu. Tentang kisah cinta kalian berdua, banyak yang menganggap kalo hubungan kalian itu hanya karena Vina ingin membalas Giovani yang berselingkuh? Apakah benar begitu?” pewawancara tersebut akhirnya mulai memasuki bagian yang menjadi daya tarik utama para wanita penggosip yang sedang melihat dari kejauhan.


“Tentu saja tidak, saya dan Giovani dari awal memang cuma sebatas rekan kerja. Kebetulan dia pernah menjadi model MV saya. Dan, semua yang ada di media itu hanya sebatas profesionalisme pekerjaan saja kok,” Vina menjawab dengan lancar dan santai.


“Nah, kak Evan (karena usia pewawancara yang lebih muda) apa tidak pernah cemburu saat melihat kemesraan yang ditunjukkan kak Vina dan Giovani di depan umum? Dan kenapa lebih memilih untuk menyembunyikan hubungan kalian?” pewawancara itu menanyainya,


“Hmm, cemburu sih pernah. Tapi saya percaya kalo semua itu hanya untuk pekerjaan saja, dan kebetulan saya juga sedikit tahu bagaimana kehidupan para artis. Jadi, ngak ada rasa khawatir apapun. Intinya tetap komunikasi saja sih. Dan untuk alasan kami menyembunyikan hubungan kami berdua sebenarnya simple. Karena kami ingin mengejar karir masing-masing dulu dan tidak ingin terganggu dengan rumor yang bisa mempengaruhi pekerjaan kami berdua,” jawabnya,


“Ow, couple goals banget ya mereka berdua. Betulkan?” orang-orang yang menonton mereka tampak mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan pewawancara tersebut, bahkan sampai ada yang menyoraki mereka berdua, “kalau boleh tahu, awal kalian jatuh cinta bagaimana ya?” pewawancara tersebut menanyakan satu pertanyaan kembali.


Ia dan Vina kemudian saling menatap dan tersenyum sebelum kompak menjawab, “Adele” Jawaban mereka berdua membuat semua orang dan pewawancara di depan mereka terlihat kebingungan. Namun, Ia dan Vina hanya terus tersenyum tidak peduli dengan reaksi orang lain.