
14
Menyadari ada kemungkinan Silvia akan seperti Nadya saat marah, ia memilih untuk tidak banyak bicara dan membicarakan hal yang lain. Ia bukannya takut sih, tapi malas saja harus berurusan dengan wanita yang terlalu bar-bar. Karena ia sudah berpengalaman dengan Nadya; yang ketika marah, satu perkataan selalu dibalas dengan ratusan kata.
“Jadi bagaimana dengan sekolah baru yang sangat dibangga-banggain dengan nyokap lu?” Ucap Vina ketika mereka berdua sedang berjalan menuju rumah kaca—yang sengaja dibangun Ayahnya sebagai tempat untuk menghilangkan stress—yang terletak di taman di bagian samping rumahnya.
“Yah, you knowlah. Sesuai dengan repurtasinya, tugas-tugasnya juga gila-gila semua. Deadlinenya cuma 1 atau 2 hari. Paling lama hanya seminggu. Bikin stress saja,” jawabnya sembari menaruh kedua tangannya dalam kantung jaketnya. Silvia tampak hanya mengangguk; seolah memahami perkataannya barusan.
“Wajarlah, namanya juga sekolah favorit. Masuknya ngak mudah, bertahan disana juga pasti akan lebih sulit lagi,”
“Tumben banget lu bijak. Biasanya kalau datang juga palingan cari ribut doang,” ia sebenarnya tidak heran kalau Silvia juga merasakan hal yang sama soal keluhannya barusan. Itu karena Silvia juga memasuki SMA Favorit di kota sebelah—walau tidak sebagus punyanya sih—yang juga terkenal cukup susah dimasuki.
“Kan, selalu lu yang ngajak ribut duluan,” melihat Silvia yang hendak memukul, ia langsung bergerak menjauh sedikit sehingga pukulan Silvia tidak mengenainya, “Tapi, gua dengar-dengar lu lagi dekat sama seseorang ya?”
Seketika itu juga, langkahnya terhenti; ia terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Pikirannya sekarang dipenuhi dengan pertanyaan soal bagaiamana Silvia bisa tahu soal Kak Vina. Akan masuk akal jika Silvia mengenal Nadya dan Alfred, akan tetapi ia meragukan hal tersebut; karena Silvia tidak sekarab itu dengan Nadya dan Alfred karena mereka baru bertemu beberapa kali.
“Siapa yang bilang? Hoax kali lu,” ucapnya sembari menahan drinya untuk tidak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali di wajahnya.
Meski hatinya mengatakan kalau dia sudah ketahuan, otaknya menyuruhnya untuk bersikap biasa. Alasannya? Karena Silvia cukup mahir dalam mengorek informasi dengan memanfaatkan kondisi pikiran seseorang. Bisa jadi—menurut pemikirannya—Silvia hanya mengeluarkan pertanyaan Random untuk menjebaknya saat ini. Dan juga, ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini.
Dan sesuai dugaannya; lirikan mata Silvia sekarang tampak seperti sedang mengamati reaksinya dengan diam-diam—inilah kenapa ia sempat menyebut Silvia sebagai seroang pshyco—dan mimik wajah Silvia yang tidak berubah sedikit pun—tetap serius—membuatnya semakin yakin kalau pertanyaan tadi hanyalah pertanyaan jebakan.
Tidak lama kemudian, Silvia tersenyum. Hal itu malah membuatnya cukup khawatir dan bertanya-tanya ‘ini orang kenapa sih?’. Namun Silvia kemudian bersikap santai dan berbicara, “Wah, ternyata teman gua yang satu ini sudah semakin dewasa ya? Padahal lu dulu selalu ketipu dengan trik yang tadi loh,” lirikan mata Silvia sekarang terlihat lebih kalem tidak setajam tadi. Namun tetap saja ia masih harus waspada agar tidak jatuh dalam trik Silvia yang lainnya.
“Semua orang juga pasti akan sadar kali kalau kena tipuan yang sama berkali-kali,”
“Yah, tapi gua senang sih kalau lu memang sedang dekat dengan seseorang,”
“Hah? Kenapa?”
“Supaya orang tua kita berdua bisa diam soal perjodohan kagak jelas itu,”
“Dasar gua kirain kenapa,” ia menghela nafas karena pikirannya sempat traveling ke hal-hal lain tadi saat Silvia mengatakan soal perjodohan mereka berdua.
Selain memang keluarga mereka yang memang sudah sangat akrab, ia juga sudah mengenal Silvia cukup lama sampai di tahap dimana ia sudah hafal dengan sifat Silvia; bagaimana sikapnya saat marah; saat sedang ada maunya; sampai tingkahnya saat absurd pun ia sudah tau.
Mungkin saja, sekedar mungkin, kalau ia tidak bertemu dengan Kak Vina, ia pasti sudah menerima perjodohannya dengan Silvia.
“Kenapa lu senyum-senyum?” Silvia bertanya ketika pikirannya sedang melayang membayangkan masa depannya dengan Silvia tadi, “Lagi ngebayangin apa lu?” sambung Silvia kembali dengan muka yang dibuat seperti sedang menatap orang aneh.
“Kagak, gua cuma ngebayangin seandainya kita berdua betul-betul punya perasaan tersembunyi. Apa jadinya kalo kita berdua sampai menikah ya? Masa depan kita seperti apa…. AW!!!” belum selesai ia berbicara, ia merasakan sakit di bagian atas lengannya akibat pukulan Silvia. Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika ia melihat wajah Silvia yang agak memerah, “W.. wait, lu ngak punya perasaan terpendam kan?”
“Udah gila kali gua ya? Semua cewek juga pasti akan tersipu kalo pembahasanlu kaya begitu bego,” ucap Silvia. Ia sebenarnya tidak tahu harus berkata apa. Karena ini merupakan pertama kalinya ia melihat Silvia bisa tersipu malu seperti ini.
Entah dirinya yang tidak peka; terlalu berpikir jauh; atau memang kegeeran, ia merasa kalau Silvia punya sesuatu yang di sembunyikan. Namun, ia tidak mau mendorong percakapan itu lebih jauh, apalagi setelah melihat reaksi Silvia barusan.
Cukup lama mereka berada di rumah kaca, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sesekali, mereka membicarakan soal hal-hal yang tidak terlalu penting; bercanda soal apa yang terjadi di dalam kehidupan mereka berdua selama ini, dan duet Bersama—walau hasilnya agak hancur-hancuran—untuk sekedar menghabiskan waktu sambil menunggu waktu makan malam tiba.
Saat mereka sedang menyanyikan lagu ‘Cantik’, Silvia tiba-tiba berhenti di pertengahan lagu. “Kenapa? Kurang pas?” tanyanya sambil terus memainkan lagunya namun dengan agak lembut.
“Ngak, gua cuma kepikiran kata-kata lu tadi pas di luar,” ucap Silvia yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya; begitu tulus, seperti orang yang sedang menyesal akan sesuatu.
“Maksudmu?” ia bertanya, sementara Silvia pergi menjauh dan duduk di sofa yang tidak jauh dari piano.
“Maksudku, kenapa kita tidak coba saja dulu kan? Biar orang tua kita senang saja dulu,” ucap Silvia, yang sekarang wajahnya terlihat murung seperti sedang stress memikirkan sesuatu.
Ia kemudian menghentikan permainan pianonya dan berjalan mendekati Silvia, mengambil tempat duduk di samping dia, namun memberi jarak agak lebar—untuk sewaktu-waktu menghindari pukulan Silvia—dan bertanya: “Memangnya kamu sudah pikirkan dampaknya ke depan? Maksudku, perasaan kan ngak bisa dipaksakan. Dan kalo kita harus putus nantinya, kamu ngak memikirkan soal dampaknya ke hubungan keluarga kita berdua?”
Sudah menjadi kebiasaannya untuk berpikir cukup jauh ke depan, apalagi semenjak ia dibully dulu. Ia jadi memikirkan setiap tindakan dan perbuatannya jauh ke depan.
“Kenapa kita harus putus? Mungkin saja kita berdua menjadi merasa nyaman nantinya kan?”
Sontak, perkataan Silvia tersebut membuatnya sedikit terkejut. Dan sebelum ia sempat membalas perkataan Silvia tadi, handphonenya berdering; yang ternyata adalah panggilan dari ibunya yang sudah pasti memanggil ia dan Silvia untuk makan malam.