
17
“Hush, iseng aja terus lo ya,” sebelum sempat dirinya meluapkan emosinya, Evan meralat perkataan dan bahkan menjetikkan jari di jidat perempuan yang sudah membuatnya hampir saja naik darah di depan banyak orang sekarang ini, “Maaf kak, ini teman saya, Silvia. Orangnya emang usil,” melihat Silvia dan Evan yang sangat akrab di depannya saat ini. Perasaan was-was dalam dirinya seperti memperingatkan dirinya untuk tidak terlalu welcome dengan perempuan yang mungkin akan menjadi batu sandungan baginya nanti.
“Hmm, jadi ini cewek yang sudah membuat lu sampai mabuk kepayang dan menolak pe…”
“Maaf ya kak, permisi sebentar,” secara mengejutkan, Evan langsung menutup mulut Silvia sebelum menyelesaikan kalimatnya dan pergi agak jauh setelah pamit.
Meski ia sudah memutuskan untuk tidak cemburu—karena toh dirinya dan juga Evan masih hanya sebatas teman—akan tetapi, hatinya tidak bisa berbohong kalau dia memang suka dengan Evan dan sangat ingin mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh Silvia dan Evan. Agak menyebalkan juga sih, namun ia tidak punya piihan lain selain bersabar dan mengamati dari jauh saja.
Sambil berusaha menahan perasaan penasaran bercampur cemburu dan kesal, ia terus mengamati Silvia dan Evan yang tampak sedang berdebat. Dan begitu kedua orang itu kembali, suara klakson mobil yang dibunyikan dua kali dengan cepat menyapa mereka. Saat ia menengok, ia cukup terperana saat melihat mobil SUV Hitam yang merupak model kesukaannya karena banyak dipakai oleh artis-artis ibukota.
“Ayo kak,” ucap Evan; dengan senyuman di wajahnya ditambah dengan gesture tangan yang mempersilahkannya untuk maju lebih dulu, membuat Evan terlihat begitu manly saat ini.
Dengan agak hati-hati, ia menaiki mobil tersebut. Ruang kaki yang lega, tempat duduk yang begitu empuk, sampai ruagan yang terasa begitu lega karena hanya ada dua kursi ditengah, rasanya ia mengerti kenapa banyak artis atau orang-orang kaya yang suka dengan mobil ini. Selain menawarkan privasi—berkat horden kecil di setiap kacanya—kenyamanan di mobil ini juga terasa begitu berbeda dengan SUV biasa.
“So, ternyata apa yang kudengar dari orang-orang itu betul ya, kalau Kak Vina sangat cantik bagaikan dewi. Ndak heran lah kalau manusia Jones satu ini bisa sampai terpikat juga,” ujar Silvia begitu pintu mobil tertutup dan mulai berjalan.
“Terima kasih atas pujiannya,” meski kata-kata Silvia terdegar seperti sebuah pujian. Namun, ia masih tidak bisa melepaskan kewaspadaannya terhadap wanita yang satu ini. Terlebih lagi, tatapan mata Silvia saat memujinya juga tidak terlihat tulus dan malah lebih seperti mengamati reaksinya barusan.
“Sudah napa, lu sebenarnya ada urusan apa sih ngejemput gue hari ini? Tumben banget lu,” cara berbicara Evan terlihat seperti kurang senang dengan kehadiran Silvia disini. Dan tidak bisa dipungkiri, ada sedikit perasaan gembira di hatinya namun juga tetap curiga dengan hubungan Silvia dan juga Evan.
“Wah, jadi, gara-gara sudah punya gebetan baru. Kawan lama mau lu lupakan begitu?”
“Not like that. Masalahnya, hari ini, gua punya agenda penting dengan Kak Vina keles,”
“Agenda penting apaan? PDKT?”
“Sekali lagi lu nyerocos ngak jelas, gua turunin lu ditengah-tengah jalan tol,” Silvia tampak tenang, tidak menanggapi ancaman Evan tersebut, dan hanya mengambil handphone dari dalam tas sekolahnya, “Mau ngapain lu?” Evan bertanya dengan raut wajah curiga dan waspada.
“Mau telpon nyokap lu,” ucap Silvia dengan senyuman menggoda dan lidah yang sedikit menjulur. Reaksi Evan sedikit membuatnya terkejut, Evan yang biasanya terlihat kalem dan pendiam, langsung menyambar telepon milik Silvia dan menyitanya, “Balikin ngak,” ancam Silvia dengan wajah yang terlihat geram dengan tingkah Evan.
Setelah suasana menjadi diam beberapa saat, ia kemudian memulai topik pembicaraan soal bagaimana Silvia dan Evan bisa menjadi teman akrab seperti sekarang ini. Yah, sekalian hitung-hitung menggali infromasi juga soal Silvia.
Silvia dan Evan awalnya hanya saling menatap—seperti sedang berbicara dengan telepati—sebelum akhirnya Evan mulai bercerita soal kehidupan sekolahnya di SD dan SMP yang membuatnya sedikit terkejut. Bagaimana tidak? Ia tidak menyangka kalau Evan merupakan korban bullying sebelumnya. Hal itu sekaligus menjelaskan soal sifat Evan yang sangat pendiam dan malu-malu saat pertama kali mereka bertemu.
Padahal, menurutnya Evan adalah orang yang luar biasa karena bisa membagi waktu mengembangkan kemampuan bermusiknya dan juga mempertahankan prestasi akademik yang begitu cemerlang. ‘Dasar orang-orang bodoh’ gumamnya dalam hati. Dirinya termasuk orang yang mengutuk keras para pelaku bullying. Menurutnya, orang-orang yang melakukan tindakan seperti itu tidak lebih dari sekedar sampah yang harus dibuang.
Dan soal Silvia, Evan tidak berbicara banyak, hanya soal bagaimana pertemuan mereka berdua yang begitu absurd dan kocak sebelum akhirnya menjadi teman yang begitu akrab. Namun, ia sekali lagi, masih tetap curiga dengan Silvia. Karena sebagai sesama wanita, ia mempunyai feeling kalo Silvia sebenarnya punya perasaan terpendam kepada Evan. Semuanya terlihat dengan jelas dari tindakan, perkataan, dan caranya menatap Evan sedari tadi.
“Hmm, ngak nyangka ya. Orang sebaik dia masih ada aja yang bisa ngebully,” ungkapnya; yang sebenarnya bentuk rasa kagum dan sekaligus pujian terhadap Evan yang bisa tidak menyimpan dendam dan terus melanjutkan kehidupannya dengan baik. Padahal, jika dipikir-piki lagi, seandainya ia yang berada dalam posisi Evan, mungkin ia sudah menyimpan dendam yang amat besar kepada orang-orang yang membulinya.
“Yah, mungkin itu juga salah satu yang membuat aku jadi orang yang seperti ini kak. Siapa yang tahu? Mungkin kalo aku punya kehidupan normal seperti mereka, mungkin saja sifatku ndak kaya begini, ndak bisa ketemu kakak sekarang, semuanya mungkin bakal berbeda dari apa yang terjadi sekarang,” apa yang dikatakan Evan barusan membuatnya sedikit berpikir kalau itu ada benarnya juga.
Pada awalnya, ia selalu memikirkan apa yang akan terjadi kalau dirinya bisa melakukan perjalanan waktu dan merubah beberapa hal di masa lalu. Contohnya, seperti perceraian orang tuanya yang mungkin bisa dia rubah. Namun setelah mendengar perkataan Evan tadi, pikirannya sedikit berubah. Ia menjadi mensyukuri apa yang sudah terjadi di masa lalu dan memilih untuk belajar mengikhlaskannya.
“Dan lo ngak bakal ketemu dengan gue juga,” Silvia menyela ditengah-tengah ketika ia sedang memikirkan masa lalunya sebagai anak broken home*
“Kalian ngak pernah saling jatuh cinta apa?”
Suasana seketika menjadi hening, dan di saat ini ia baru tersadar kalau perkataannya barusan lah penyebabnya. Dirinya sendiri juga heran kenapa bisa mengucapkan kata-kata tersebut tanpa berpikir. Apa karena ia terlalu memikirkan hal tersebut? Atau karena pikirannya menjadi kacau?
‘Dasar Bodoh’ ia mengutuki dirinya sendiri yang membuat suasana menjadi canggung seperti ini. Padahal, sebelumnya ia sudah mensugesti dirinya untuk menahan diri agar tidak mengungkit hal tersebut.
“PERNAH!!” ucap Silvia
“NGAK PERNAH” jawab Evan yang hampir bersamaan dengan Silvia dan hanya telat sepersekian detik.
Jujur saja, ia tercenang mendengar jawaban Silvia dan sedikit senang mendengar jawaban Evan. Namun, ia semakin membenci dirinya sendiri yang selalu punya firasat jitu jika menyangkut hal seperti ini.
*broken home : anak yang orang tuanya bercerai