Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 4 : SEBELUM BADAI MENERJANG (5)



“Hey, yang benar dong manggangnya, awas tuh udah mau gosong,” Evan mengomeli adik perempuanya, Jacline yang terlihat tidak fokus memanggang daging dan hanya terus menatap kolam renang pribadi yang ada di penthouse Vina sedari tadi. Cukup wajar sih, mengingat ini pertama kalinya dia mengajak adiknya ikut ke Penthouse milik Vina.


“Kenapa kakak ngak beli Penthouse kaya punya Kak Vina sih?” Jacline membalas sembari membalik daging yang ada di atas panggangan; yang memang jika di perhatikan sudah mulai terlihat sedikit menghitam di beberapa bagian.


“Buat apa? Lebih baik kakak alihkan ke bisnis kakak sama investasi yang lainnya. Dan juga, biaya perawatan Penthouse sebesar ini ngak semurah yang ada dalam kepalamu,” Evan menjawab; sebenarnya dia bukannya tidak mampu. Dia juga bisa saja memaksakan dirinya untuk mencicil satu Penthouse seperti milik Vina dengan gajinya sekarang ini sebagai seorang Wakil Direktur. Namun, dia merasa dirinya tidak akan sanggup membayar biaya utilitas, perawatan, dan cicilan di waktu yang bersamaan setelah mendengar jumlah biaya yang dikeluarkan Vina untuk semua itu.


“Bilang aja kakak ngak mampu,” ejek adiknya.


Sedikit kesal, ia kemudian menatap adiknya dan membalas, “Peringkat berapa kamu kali ini?”. Hal itu cukup berhasil membuat adiknya terdiam, sampai-sampai alat pemanggang di tangannya jatuh dan membalas dengan senyuman masam,


“Wah, bisa-bisanya yah kakak pake senjata itu,” Jacline membalas setelah tidak percaya kakaknya akan menggunakan rahasia soal raportnya yang memang hanya dia dan Evan saja yang tahu.


“Makanya jangan macam-macam dengan kakak,” ucap Evan yang sedang tersenyum puas. Karena memang, keluarganya cukup ketat soal pendidikan. Walau tidak seketat dirinya dulu, adiknya tetap diberi batasan harus tetap berada dalam ranking 10 besar umum, bukan kelas. Turun sedikit saja, maka uang jajan bulanan akan di potong. Dan kebetulan, adiknya kali ini hanya mendapat ranking 15 umum.


Walau begitu, ia tetap saja merasa kasihan kepada adiknya dan pada akhirnya membuatkan kartu bank lain untuk menambah uang jajan adiknya. Yah, karena dirinya sendiri sudah pernah merasakan bagaimana susahnya mendapatkan ranking 10 besar umum; karena kebetulan adiknya juga masuk ke dalam sekolah yang terkenal dengan murid-murid yang berprestasi.


“Hmm, bau harum apa ini,” karen terlalu fokus dengan memotong bahan-bahan BBQ di depannya dan juga nostalgia soal dirinya dan adiknya, Evan sampai tidak menyadari bunyi private lift saat Vina sampai tadi.


“Sudah sampai?” Evan menyambut Vina dengan senyuman lebar. Namun saat melihat Kamila yang sepertinya stress akibat apa yang terjadi hari ini di konferensi pers tadi, dia memutuskan untuk sedikit menggoda Kamila, “Kenapa kamu ajak dia? Kan sudah kubilang ini acara keluarga,”


“Jahat benar lo ya ama gue. Ok lah, gua pulang duluan,” di luar dugaan, Kamila sepertinya sedikit lebih sensitif dari pada dugaan Evan, dan malah menyebabkan suasana menjadi agak canggung untuk sesaat.


“Ya ellah, baperan amat jadi orang. Bercanda kali. Ngak liat ada 4 piring di meja apa?” Evan memutuskan untuk tidak menggoda Kamila lebih jauh lagi, karena takut kalau Kamila akan betul-betul pulang. Sebab, jika itu sampai terjadi, Vina pasti akan mengomelinya habis-habisan. “Bagaimana kondisi di belakang layar tadi? Ngak ada yang ngamuk-ngamuk kan?” sambungnya saat Kamila duduk di salah satu kursi, sedangkan Vina berjalan ke arah Jacline yang sekarang ini sedang sibuk memanggang daging.


Sebenarnya, ada alasan kenapa Evan bertanya seperti itu. Sebab, dia sempat mendengar rumor dari beberapa orang kenalannya—yang kebetulan bekerja untuk acara yang dibintangi Vina—kalau ada sedikit keributan di ruang tunggu tadi. Dan kemungkinan kalau Vina dan Kamila yang menyebabkan kegaduhan tersebut cukup besar, mengingat kemunculan Giovani—orang yang cukup dihindari oleh Vina ataupun Kamila saat ini—secara mendadak di konferensi pers tadi.


“Tanya noh your fiance. Gua baru pertama kali ngeliat orang berani ngebentak orang yang punya stasiun TV tanpa takut sama sekali loh. Terbaik lah dia tadi,” Kamila membalas sembari terlihat sibuk dengan handphonenya, “Tapi yang lebih mengkhawatirkan lagi, manajernya Giovani ternyata Joshua,”


“Hmm, begitu,” Evan menjawab dengan santai, sebab dia sudah tahu soal Joshua yang menjadi manajer Giovani beberapa bulan lalu, “Terus, jangan bilang lu malah marah-marah ke Joshua lagi?”


Evan dan Kamila hanya saling bertukar pandangan untuk beberapa detik, seolah ingin menjaga percakapan mereka agar tidak di ketahui oleh Vina sama sekali. Seolah, rahasia tersebut tidak boleh diketahui oleh Vina. Yah, ada alasannya juga sih. Karena kalau Vina tau seperti apa orang yang bernama Joshua tersebut—kelakuannya, sifatnya, dan kelicikannya—Vina pasti akan sedikit canggung saat bertemu dengan orang tersebut. Sehingga, terkadang lebih baik Vina tidak mengetahui orang-orang seperti itu. Apalagi, Vina tergolong orang yang cukup baik dan tidak bisa terlalu jahat ketika harus menghadapi orang-orang seperti Joshua.


“Aih, emang sulit kalau bergaul sama orang-orang kaya mereka kak. Cuma dibikin penasaran doang, padahal mungkin yang sebenarnya ngak se-wow bagaimana mereka menyembunyikannya. Ibarat iklan, kita hanya dibikin tergoda, tapi pas nyobain langsung malahan tidak seberapa,” ungkap Jacline yang sebenarnya itu adalah sedikit uneg-unegnya terhadap Evan kakaknya. Sebab, beberapa kali Evan memang melakukan hal tersebut; membuatnya sangat penasaran, namun pada akhirnya ternyata tidak seindah yang kakaknya deskripsikan.


“Hush, jangan ngomong kaya gitu kamu. Tetap saja, kakakmu itu orang yang hebat tau semasa kami dulu sekolah, dan sangat jarang berbohong,” alih-alih setuju dengan perkataan Jacline, Vina justru mengetuk kepala adik Evan dengan penjeput daging yang ada di tangannya sekarang ini.


“Tuh, dengerin kakak iparmu. Kakak ini orang yang termasuk terpadang selama di sekolah dulu. Dan.....”


“AISH, T** lah,” Kamila menyela dengan umpatannya ketika Evan sedang berbicara. Dia tidak bisa tidak mengumpat saat melihat artikel yang baru saja dirilis oleh beberapa website soal konferensi pers tadi siang, “Dengar ya...”


‘Konferensi pers acara audisi oleh Stasiu J yang diadakan siang ini berjalan cukup mulus. Mulai dari perkenalan juri, sesi tanya jawab bersama, dan foto bersama. Akan tetapi, kejutan datang di penghujung acara, ketika pengumuman soal siapa yang akan menjadi MC acara ini yang sudah menjadi pertanyaan banyak orang semenjak awal. Berbagai nama artis dan MC beken sempat di ancang-ancang oleh banyak orang, terlebih lagi salah satu juri merupakan penyanyi papan atas yang baru saja menjadi perbincangan banyak orang di benua biru setelah Mini EP yang dia rilis menerima komentar positif.


Akan tetapi, yang terjadi justru di luar dugaan ketika sebuah pintu dibuka menampilkan Giovani dan Yunita. Hal ini tentu menjadi kejutan tersendiri bagi fans Giovani dan juga Vina, sebab kedua orang ini sudah di rumorkan punya hubungan spesial semenjak beberapa bulan lalu. Dan dari pantauan kamera saat sesi tanya jawab singkat untuk Giovani dan Yunita, Giovani tampak tersenyum setiap kali menatap ke arah Vina, sementara Vina sendiri hanya tersenyum sepanjang konferensi pers berlangsung.


Apakah hubungan mereka seperti dugaan media selama ini? Atau mereka hanya tidak ingin menunjukkan keromantisan mereka di depan umum? Tidak ada yang tahu, hanya waktu lah yang akan memperlihatkan. Yang jelasnya, acara kontes menyanyi ini akan mempunyai kisah manis tersendiri


“...Wah, percaya ngak lu sama berita kampret kayak gini?” Kamila mengungkapkan kekesalannya terhadap berita yang baru saja dia bacakan.


“Sudah, ngak akan ada habisnya kali lu mau terbawa suasana dengan berita macam sampah kaya begitu,” ujar Evan menasehati Kamila sembari menaruh piring berisikan setumpuk daging di atas meja lengkap dengan berbagai potongan sayur, paprika dan pelengkap lainnya.


“Untung lu udah pindah ke bagian marketing, jadi gua bisa ngomong bebas kaya gini,” ujar Kamila.


“Tapi jangan kebablasan, kan itu masih dalam satu lingkup perusahaan yang sama. Ntar kita bisa dibawa ke meja hijau lagi,” Vina sedikit menggoda Evan ketika datang dengan setumpuk sosis panggang dan beberapa baso bakar lalu duduk di samping Evan sambil menaruh piring yang dibawanya di atas meja.. Sedangkan Jacline, datang dengan saus racikannya yang dia bangga-banggakan di hadapan kakaknya tadi sebelum Vina dan Kamila datang.


“Ngak mungkin lah, kita semua kan punya pekerjaan. Mereka juga melakukan itu demi sesuap nasi. Jadi anggap aja angin lewat,” Evan mencoba bersikap bijaksana dalam hal ini.


Ironis memang, karena Evan sendiri sebenarnya bekerja di bidang yang diumpat Kamila. Dulu, dia awalnya juga sama seperti Kamila, kerap mengutuk artikel yang seperti itu. Namun, setelah cukup lama bekerja dan pindah ke bagian marketing, dia menjadi masa bodoh dengan semua artikel seperti itu. Karena tidak banyak orang yang tahu, kalo orang-orang yang mengetik artikel seperti itu juga mendapatkan tekanan dari atasan mereka untuk mengejar target jumlah artikel per hari demi menaikkan SEO website perusahaan mereka.