
“K.. K.. Kak Vina? Ada perlu apa ya kak?” Ia berusaha untuk bersikap rileks dan sesantai mungkin saat berbicara dengan Kak Vina. Karena saat ini, ada 2 orang yang mengamatinya dengan begitu serius. Ia juga berusaha memberi kode ke Kak Vina dengan menggunakan mata ataupun ekspresi wajahnya.
Sayangnya, Kak Vina tampaknya tidak menangkap apa yang ia maksud dan malah berjalan melewati dirinya dengan senyuman di wajahnya, “Tidak apa-apa kan kalo saya ikut gabung Nad?”, ujar Kak Nadya sambil mengambil tempat duduk di samping Nadya.
Untuk sesaat, pikirannya sedikit nge-blank. “Wait a minute,” gumamnya dalam hati setelah menyadari Kak Vina yang memanggil Nadya dengan kata ‘Nad’ seolah sudah saling kenal. Spontan saja, dia langsung berbalik, “Kalian sudah saling kenal? Kapan?”, ia bertanya dengan perasaan bingung. Karena seingatnya, tidak pernah sekalipun ia menceritakan soal Kak Vina kepada Nadya ataupun Alfred.
“Sudah seminggu mungkin,” jawaban Nadya tersebut membuatnya semakin bertanya-bertanya.
“Duduk dulu,” Alfred kemudian memegangi pundaknya dan memaksanya untuk duduk. Sementara Nadya dan Kak Vina; kedua orang itu ini hanya tersenyum di hadapannya.
“Gua sama Alfred sudah tahu kok kalau lu masuk ke klub musik,” Nadya mulai berbicara,
“Tapi kapan? Perasaan gua ngak pernah ngomong sama lu berdua kan? Dan juga, gua sudah hati-hati amat loh supaya kagak ketahuan sama lu berdua,” ia menjelaskan, karena memang seperti itu kenyataannya. Demi menutupi fakta kalo ia masuk ke klub musik, dia selalu pergi diam-diam ke teater setiap sore untuk latihan dan selalu sembunyi-sembunyi saat sedang mengirim pesan ke anggota klub musik.
Alfred dengan Nadya langsung tersenyum, “Lo ngak nyadar kalo sifat lu jadi mencurigakan setelah masuk klub musik? Ngak butuh waktu lama lah buat gue sama Alfred nyadar dengan tingkah aneh lu itu,” ujar Nadya,
“Jadi, waktu itu. Gua sama Nadya ngikutin lu diam-diam ke ruangan teater. Nah, ngak sengaja ketemu sama kak Vina. Dari segitu baru gua sama Nadya tahu soal lu ikut klub musik,” jelas Alfred.
‘Habis sudah’ gumamnya dalam hati. Kejadian ini pasti akan menajdi bahan gosip bagi Nadya dan Alfred selama sisa hidup mereka.
“Yah, gua memang dari awal sudah tahu kalo lu suka banget sama musik. Dan sejujurnya, gue ingin banget bisa lihat lu main satu lagu buat gue,”
Mendengar perkataan Nadya, ia cukup terkejut karena berpikir kalau Nadya akan mengejeknya. “La.. Lagu apa?”, ia kemudian bertanya. Namun, perasaannya masih tidak yakin bagaimana Alfred ke depannya, entah akan menjadi comel atau sama seperti Nadya; memaklumi hobinya ini.
“My Heart Will Go On,” Nadya menjawab.
Tanpa pikir panjang, ia menyanggupi permintaan Nadya; karena memang lagu ballad tidak terlalu susah untuk dimainkan. Akan tetapi, matanya masih terus melirik ke arah Alfred untuk menyelidiki reaksinya.
Tak lama berselang, Alfred membalas lirikannya dan tersenyum tipis saat sembari memegang pundaknya, “Tenang saja, ngak akan seperti yang lu kira kok,” ucap Alfred. Ekspresi wajah Alfred; dan cara dia berbicara sih terdengar meyakinkan. Akan tetapi, entah kenapa, masih ada sedikit perasaan mengganjal di hatinya.
“Nah, jadi sudah aman kan. Sekarang kau ngak perlu mikirin lagi soal diam-diam ke ruangan latihan. Soalnya beberapa hari ini, kakak liat kau itu kurang fokus saat latihan,” ujar Kak Vina kemudian.
“Lagian apa salahnya kalo orang suka musik kan? Justru, cewek-cewek itu lebih terpesona dengan laki-laki yang bisa main musik. Terutama pemain piano atau keyboard, auranya itu lain, lebih mempesona saja,” Kak Vina menjelaskan.
“Mempesona apanya, cuma modal mencet tuts saja apa susahnya?” Alfred membalas perkataan Kak Vina.
Nadya kemudian mendaratkan pukulan dengan sebuah buku diatas kepala Alfred; cukup keras sampai bunyi ‘buk’ terdengar cukup keras dan membuat Alfred mengelus kepalanya, “Biarin saja dia kak, palingan hanya sirik doang,” ucap Nadya.
Kak Vina tampak shock pada awalnya, namun kemudian tersenyum saat Nadya tersenyum seolah hal itu adalah kejadian yang lumrah, “Pertemanan kalian tampaknya awet banget ya?” Kak Vina kemudian bertanya sambil menunjuk Nadya dan Alfred.
Mendengar pertanyaan Kak Vina tersebut, ia hanya bisa tertawa dalam hati. Sudah sering ia mendengar pertanyaan serupa. “Bukan awet kak, tapi karena terpaksa,” ia menjawab pertanyaan Kak Vina tersebut. Karena memang kenyataannya begitu; kenapa pertemanan mereka bertahan? Itu semua karena Nadya yang terus menjadi lem diantara mereka bertiga.
“Lu mau juga?” Nadya mengancamnya dengan sorotan mata yang sudah siap memukulnya seperti Alfred barusan. Namun saat menatap Kak Vina, langsung berubah menjadi anak gadis yang polos. Mungkin, kalau Nadya menjadi artis, adegan bipolar pasti akan sangat sempurna untuknya.
Beruntung, tak lama berselang—sekitar 5 menitan—bel sekolah tanda jam istirahat berakhir yang berbunyi menyelamatkan ia dan Alfred dari situasi yang penuh dengan tekanan mental dari Nadya. Entah sebanyak apa harga dirinya dan Alfred akan tercoreng di depan Kak Vina jika bertahan lebih lama lagi.
Untungnya, Kak Vina juga tampaknya sibuk dan hanya mengucapkan perpisahan dengan singkat, saling melambaikan tangan dan meninggalkan mereka bertiga. “Awas saja lu bertiga kalo ngegosip,” dia mengancam, namun sedikit melunak ke Nadya.
“Itu sih tergantung,” jawab Nadya.
Seperti yang ia duga, sikap manis Nadya hanya bertahan ketika ada Kak Vina atau orang lain di depan mereka. Namun ketika hanya ada mereka bertiga, Nadya pasti akan kembali ke sifat jahilnya. Berteman beberapa bulan sudah cukup untuk menunjukkan sifat asli dari Alfred dan Nadya, termasuk juga dirinya yang bisa dengan cepat merasa nyaman dengan mereka berdua.
Tiba-tiba, Alfred merangkulnya. Dalam hatinya, ia sudah langsung tahu kalo pasti ada yang diinginkan manusia satu ini. “Tapi ada bagusnya juga sih kalo lu masuk ke klub musik. Gua dengar orang disana pada cantik-cantik. Bisalah lu minta beberapa No. telponnya. Oke?”, ucap Alfred sesuai dengan apa yang dia duga, pasti tidak akan jauh-jauh dari sifat centil temannya yang satu ini.
“Y…” baru saja ia mau berbicara, Nadya langsung membuat Alfred meringis kesakitan dengan menarik telinganya.
“Lu ya, giliran soal cewek saja cepat banget. Giliran gua mintain tolong soal pelajaran selalu saja banyak alasan,” ujar Nadya sembari terus menarik telinga Alfred hingga sampai di depan kelas layaknya seorang ibu yang sedang menjewer anaknya yang nakal. Tak sedikit siswa-siswa yang mereka lewati menertawai Alfred dan Nadya.
Tidak mau terlibat, ia sedikit menjaga jarak dengan Alfred dan Nadya, membiarkan mereka berdua berjalan agak jauh di depan.