
Past Time
Sebulan setelah pentas dimana pentasnya dengan kak Vina berakhir; tepatnya di bulan November, ketika hendak pulang, matanya secara tak sengaja melihat lomba memasak dalam rangka lomba akhir semester yang tertempel di papan mading sekolah; tempat dimana pengumuman penting biasa ditempel. Dan kebetulannya lagi, lomba tersebut adalah lomba couple!
Kenapa dia senang? Karena tepat setelah pentas selesai, Kak Vina menjanjikan satu hal, yakni sebuah permintaan. Dan bagusnya lagi, tidak ada syarat dan ketentuan apapun; yang artinya, ia bebas meminta apapun—termasuk menemani lomba memasak—kepada Kak Vina. Dan juga, ini bisa jadi ajang tersendiri baginya untuk menyatakan cintanya kepada Kak Vina. Karena menurut Alfred, laki-laki yang pintar memasak banyak disukai oleh wanita.
Dengan semangat yang begitu mengebu-gebu, ia mengambil notebook kecil yang biasa dipakainya untuk mencatat sesuatu yang bersifat penting; mengambil bolpoin dari dalam saku celananya, dan mulai menuliskan tanggal lomba tersebut berlangsung: 12 Desember, dengan senyuman lebar di wajahnya; yang akan membuat orang lain berpikir kalau dia sudah gila.
Setelah menyimpan kembali notebooknya ke dalam tas, sambil berjalan menuju tempat ia biasa menunggu taksi, pikirannya mulai sibuk memikirkan ingin belajar memasak apa: “Ayam oseng-oseng kesukaannya?”, “Cumi asam manis?”, atau “Udang goreng tepung?”. Akan tetapi, sebuah pertanyaan muncul di dalam kepalanya: “Bagaimana caranya mengajak Kak Vina?”.
Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak bisa lepas dari bagaimana mengajak Kak Vina. Cara mengajaknya mungkin simple, namun apa yang harus ia katakanlah yang membuatnya cukup pusing sekarang ini. Meski Kak Vina sudah berjanji akan mengabulkan apapun permintaannya. Namun, ia tak bisa memungkiri kalau ada sedikit keraguan dalam dirinya; takut kalau Kak Vina akan menolak permintaannya.
Meski sudah pernah tampil bersama, ia masih kurang percaya diri kalau ingin meminta Kak Vina menjadi pasangan lombanya kali ini. Apalagi, mengingat bagaimana Kak Vina begitu populer setelah pentas kemarin. Memikirkan hal tersebut, ia hanya bisa menghela nafas dan menurunkan ekspektasinya soal Kak Vina akan mengabulkan permintaannya tersebut. Tidak terlalu mau mikir kan hal tersebut, ia mengambil iPod nano dari dalam tasnya dan memutar lagu-lagu kesukaannya.
“Lagi galau dek?”, bapak-bapak supir taksi yang ditumpanginya tiba-tiba bertanya; yang untungnya volume musiknya cuma ia taruh 50%, sehingga suara dari luar masih bisa terdengar.
“Ngak pak, lagi memikirkan lomba yang mau saya ikuti,” jawabnya. Meski wajah bapak-bapak ini terlihat ramah; ia lebih memilih untuk tidak terlalu akrab dengan orang asing, hanya sekedar ramah saja dan membalas dengan sopan; mungkin karena orang tuanya sering menasihati betapa menakutkannya kasus penculikan yang kerap terjadi selama ini.
Dan juga, jarang-jarang ia mendapati supir taksi yang memulai pembicaraan; kalau bukan saat menanyakan alamat, menanyakan alamat saat sudah dekat, meminta bayaran, ia biasanya akan mendengarkan musik di mp3 player miliknya.
“Oh.. saya kira lagi galau. Soalnya mukanya kaya orang lagi sedih begitu,” ujar bapak sopir taksi kembali. Dalam hatinya, ia langsung bertanya-tanya: ‘Apakah iya ekspresinya seakrang seperti itu?’. Padahal menurutnya, saat ini ia tidak merasa sedih sama sekali. Sehingga cukup aneh jika saat ini ekspresinya terlihat seperti orang sedang galau.
“Mungkin karena ekspresi biasa saya yang memang agak cemberut saja pak,” ujarnya membantah perkataan bapak sopir tersebut namun dengan sopan.
Pak supir tersebut hanya tersenyum; yang terlihat dari spion tengah sebelum kemudian berbicara banyak soal sifat-sifat orang yang pernah naik ke taksi tersebut. Entah kenapa, ia merasa sedikit nyaman setelah mendengar cerita bapak sopir ini dan melihat beliau tersenyum. Pemikiran negatif yang semula menguasai pikirannya, mulai berkurang. Bahkan, ia bisa menikmati perjalanan pulang menuju rumahnya hari ini tanpa mendengarkan MP3 Player miliknya.
“Terima kasih pak,” ucapnya dengan tersenyum riang; yang dibalas dengan senyuman ramah oleh pak sopir. Ia bahkan memberikan tip sebesar 30 ribu diluar ongkos taksinya; salah satu hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Di detik ini, sebuah perkataan yang pernah ia dengar terlintas di pikirannya kembali: “Jangan menilai semua orang dengan satu penilaian saja”.
“Everyone has an opportunity,” ucapnya dalam hati sambil menatap langit sore hari yang adaberwarna keemasan dan terlihat begitu indah. Seperti langit diatasnya yang terlihat begitu luas dan tidak berbatas, begitu pula dengan masa depan yang akan terjadi; tidak ada yang akan tahu apa yang akan terjadi. Dan setidaknya, ia tidak mau hanya berdiam diri dan menyesali hal tersebut di kemudian harinya.
“Eh ada yang baru pulang ternyata,” ucap suara yang tidak terdengar asing di telinga Evan; Silvia.. Silvia merupakan teman yang sudah seperti saudara baginya. Orang tua mereka berdua bahkan sangat akrab sampai di tahap di mana ibu mereka berdua sering menyinggung soal perjodohan dirinya dengan Silvia; yang selalu mereka berdua tanggapi dengan guyonan saja.
Alasannya? Karena ia tidak tertarik sama sekali dengan Silvia, yang sudah ia anggap sebagai teman akrab dan tidak pernah sekalipun ia melihat Silvia sebagai seorang wanita. Ia juga sudah pernah membicarakan hal itu dengan Silvia; yang ternyata juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya, bahkan sampai merasa kurang nyaman dengan perjodohan yang dikatakan oleh Ibu mereka berdua.
“Ah elu lagi,” seperti biasa, begitu melihat Silvia, sambil melepas sepatunya, Evan menghela nafasnya dan membalas dengan kurang antusias. Sebab, setiap kali Silvia datang berkunjung ke rumahnya, pasti saja ada saja aib yang terbongkar. Dan jujur saja, hal itu agak sangat menyebalkan.
“Kenapa? Jangan-jangan lu punya rahasia baru lagi?”
“Berisik,” ucapnya sembari berjalan melewati Silvia begitu saja.
Satu hal yang menakjubkan dari Silvia adalah soal feelingnya yang tajam. Hanya dengan sekali tatap saja, orang ini sudah bisa mengetahui yang sedang ada dalam pikiran orang lain. Tidak heran kalau cita-cita Silvia adalah ingin belajar psikologi saat kuliah nanti. “Punya kemampuan membaca pikiran orang lain ditambah belajar psikolog? Kombinasi yang sempurna,” ucapnya dalam hati saat mendengar pemikiran Silvia tersebut saat mereka lulus SMP dan sedang membicarakan soal minat studi mereka kedepannya.
“Baru saja ketemu sudah saling berantem, awas benci menjadi cinta entar,” sahut ibunya yang ternyata sedang berada di ruang tamu. Ia berani menebak kalau Ibu Silvia juga sedang berada di samping ibunya saat ini; sedang tertawa bersama menikmati apa yang sedang terjadi saat ini dengan menafsirkan situasi sekarang sesuai dengan imajinasi para ibu-ibu.
“O C’mon, stop it both of you,” diluar dugaan, Silvia yang biasanya bersikap masa bodoh seperti dirinya, kali ini tampil berbeda dengan mengomeli ibu mereka berdua.
“Lu masih Silvia yang gua kenal kan?” Ia berbisik; cukup pelan agar tidak terdengar kedua orang tua mereka di ruang tamu. Melihat Silvia yang marah untuk pertama kalinya seperti ini, ia tidak bisa menagan dirinya untuk menggoda Silvia.
“Kenapa? Lu mau liat sisi bad side diri gue begitu?”
“No. Just joking, sensitif amat sih bu,” jawabnya sembari menyilangkan tangan di depan dada; karena sebenarnya ia memang sedikit terkejut dengan tempramental Silvia yang baru dilihatnya saat ini—yang mengingatkannya dengan Nadya—dan ia tidak mau mengambil risiko yang akan membuat pertemanan mereka merenggang.