Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 1 : FALLING IN LOVE (PART IV)



Hari ke-3 ospek, semua aktivitas yang mereka lakukan selama ini terbilang cukup seru meskipun di saat yang bersamaan juga sedikit aneh. Contohnya saja, kemarin mereka harus memperkenalkan diri dengan perkenalan yang unik karena harus ada nama panggilan yang tidak biasa. Dirinya sendiri misalnya, ia mengubah namanya menjadi Evan ‘Casio’, Cerdas, Manis, Loyal.


Terkhusus bagian manisnya, hal itu langsung disambut dengan ekspresi mau muntah dari Alfred. Sedangkan Nadya, dia terlihat seperti menertawakan nama karangannya tersebut.


Di hari ketiga; sekaligus yang terakhir ini. Tugasnya terbilang cukup ringan. Hanya harus menyiapkan nama kelas yang unik, dan membentuk struktur organisasi di kelas tersebut. Tidak butuh waktu lama untuk menentukan struktur organisasi di kelas. Dan sialnya lagi, entah ini memang sudah takdir atau tidak. Ia dan juga Alfred terpilih sebagai Ketua dan Wakil Ketua kelas. Sementara Nadya, cukup beruntung, karena tidak terpilih sama sekali.


Ketika jam istirahat, Ia, Alfred, dan juga Nadya memilih untuk menyegarkan pikiran mereka dengan pergi ke kafetaria. Di luar bayangannya, pelajaran yang mereka dapati di sini sangat berbeda dengan kebanyakan SMA biasa—setelah membandingkan dengan beberapa temannya di SMP dulu—bahasa pengantarnya saja adalah Bahasa Inggris, yang membuatnya sedikit puyeng di awal-awal.


Ketika dalam perjalanan ke kafetaria, kepalanya begitu penuh dengan ketidakpercayaan akan kemampuannya. Jangankan untuk bisa meneruskan rekornya menjadi juara umum. Di kondisinya yang sekarang, untuk bertahan saja dia sudah sangat bersyukur.


Ditengah semua itu, ketika mereka melewati ruang musik, ia mendengar suara lantunan piano yang nadanya cukup familiar di telinganya.


Tidak salah lagi, ‘Hero – Enrique Iglesias’. Lagu itu menjadi salah satu lagu yang sangat sering dia dengar baru-baru ini, karena kakak sepupunya pernah memainkan lagu itu beberapa kali ketika libur panjang kemarin. Dia memutuskan untuk berhenti dan mengintip lewat jendela yang ada di pintu.


Saat melihat sesosok perempuan yang sedang memainkan piano dengan indah seperti itu, membuat ia ingin menerobos pintu tersebut dan ikut bermain juga; apalagi ketika perempuan tersebut memasukkan appergio dengan cepat dan mulus.


“Oh, kak Vina ternyata, pantaslah kalau permainannya indah,” ujar Vina yang tidak tampak terkejut sama sekali.


“Siapa?” Alfred bertanya,


“Kak Vina,” Nadya mengulang perkataannya dan berjalan pergi dari tempat mereka berdiri sekarang, sedangkan ia dan juga Alfred mengikutinya dari belakang, “Dia senior No.1 yang jadi incaran banyak cowok saat ini. Sudah cantik, punya suara bagus lagi, top deh,” Nadya menjelaskan sambil mereka berjalan ke kafetaria.


“Vina, nama yang cantik, seperti orangnya,” Evan bergumam.


Permainan pianonya juga bagus, terlihat menghayati; tahu kapan harus menekan tuts dengan keras, kapan harus membuatnya jadi pelan dan lembut. Dia menjadi sedikit penasaran dengan Kak Vina, karena kebanyakan orang yang bermain piano mempunyai jiwa yang lembut; tahu bagaimana harus mengontrol emosi agar permainan mereka tidak terlalu berlebihan.


Semenjak hari itu, setiap berjalan ke kantin, ia selalu menyempatkan diri duduk di depan ruang musik karena penasaran dengan lagu apa yang dimainkan Kak Vina. Terkadang memang sengaja saja duduk di situ, biasa juga sambil mengerjakan tugasnya. Sesuai perkataan orang-orang yang paham dengan musik, lentunan nada dari piano bisa menjadi self healing atau juga bisa sekedar untuk relax. Teori tersebut cukup terbukti, dirinya menjadi merasa lebih tenang dan tidak stress setiap mendengar permainan Kak Vina, yang memang kebanyakan memainkan musik dengan tempo agak lambat.


Suatu hari, ketika dia seperti biasa duduk di depan ruangan tersebut. Ia tidak mendengar oermainan piano apapun setelah duduk beberapa menit di tempat biasa duduk.


Karena penasaran, dia menutup bukunya lalu kemudian mengintip lewat jendela di pintu dan tidak menemukan siapa pun di dalam. Melihat tidak ada siapapun di dalam ruangan tersebut, dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut dan berjalan mendekati piano yang biasa di mainkan Kak Vina.


Setelah menunggu sekitar semenit dan tidak ada orang yang masuk ke dalam ruangan tersebut, dia lalu membuka penutup piano tersebut; menaruh bukunya di tempat pemusik biasa menaruh sheet lagu mereka dan mulai memencet beberapa tuts, karena ini merupakan pertama kalinya dia memegang piano sungguhan.


Pertama kalinya memegang grand piano, ada sedikit perasaan berbeda yang dia rasakan. Tuts yang terasa lebih keras; tiga pedal kaki yang terasa baru. Dan setelah merasa yakin dan menemukan di mana pedal sustainnya, ia kemudian memainkan salah satu musik favoritnya; I am Your Angel – Celine Dion ft R. Kelly.


Berhubung ini adalah piano only, ia menambahkan sedikit movement di tangan kirinya agar terdengar lebih baik. Sedangkan tangan kanannya fokus pada melodi dan chordnya. Sambil menyanyikannya dalam hati, dia memencet tuts piano dengan agak lembut dan juga terkadang cukup kuat sesuai dengan musik di kepalanya sampai selesai.


“Wah, bagus banget. I am Your Angel ya?” ia terkejut ketika mendengar tepuk tangan dan suara seorang perempuan di belakangnya. Dengan cepat dia mengambil bukunya kembali; berdiri dari tempat duduknya; dan sudah bersiap untuk berlari untuk meninggalkan ruangan tersebut secepat mungkin.


Akan tetapi, saat melihat orang yang berbicara kepadanya ternyata adalah Kak Vina, langkahnya terhenti.


“Permainanmu cukup bagus,” kak Vina melanjutkan sambil berjalan melewatinya, “Kau kursus ya?” imbuh Kak Yunita.


“Ti.. Tidak kak,” jawabnya dengan agak gugup dan cukup singkat.


Entah apa yang sedang terjadi padanya, jantungnya berdegup lumayan cepat; perutnya juga terasa agak mules, padahal beberapa saat yang lalu baik-baik saja; pikirannya juga tidak bisa diam saat melihat bagian belakang kak Vina, orang yang dia kagumi.


“Berarti otodidak?” Kak Vina berbalik dan bertanya kembali.


Ia hanya bisa mengangguk. Dan secara tak sengaja, mata mereka berdua bertemu untuk sesaat, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia merasa sangat gugup, dan ingin segera pergi dari tempatnya berdiri sekarang.


“Wah, hebat juga kamu kalo bisa sampai seperfect tadi mainnya. Kalau begitu, bagaimana kalau kamu masuk klub musik sekolah? Kebetulan ada posisi kosong untuk pianist,”


“B.. Boleh dipikir-pikir dulu ngak kak?” dia mencoba untuk bernegoisasi dengan kak Vina, karena musik sebenarnya bukan fokus utamanya dan hanya sekedar hobi saja.


“Boleh, kakak kasih waktu seminggu, setuju? Kalau kamu mau gabung, kakak ada disini terus setiap jam istirahat kok,”


“Terima kasih kak,” ia menjawab sambil menundukkan kepalanya sebentar sebelum berlalu dari hadapan kak Vina.


“Dasar bodoh, harusnya langsung kau iyakan saja,” gumamnya dalam hati. Meski begitu, ia juga sadar kalau saat ini dirinya masih kesusahan beradaptasi dengan lingkungan dan cara belajar sekolah barunya. Sehingga, prioritas utamanya saat ini tentu adalah bagaimana bisa beradaptasi terlebih dahulu. Setelah itu, dia baru bisa memikirkan hal-hal yang lainnya, seperti klub musik yang ditawarkan kak Vina tadi.


Akan tetapi, tetap saja, dia tidak bisa menyembunyikan kegirangannya bertemu dan berbicara langsing dengan Kak Vina.


“Kenapa lu senyum-senyum kaya begitu?” tanpa ia sadari, Alfred dan Nadya sedang berdiri di depannya. Alfred menunduk dan memandanginya dengan muka genit. Sedangkan Nadya, wajahnya terlihat curiga dan seperti siap mengajukan pertanyaan untuk mengorek informasi.