Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 7 : Everyone Have Their Own Problem (4)



Esoknya, di bandara,


Setelah audisi di makassar usai, Evan dan Vina seperti tidak malu-malu lagi untuk menunjukkan kemesraan tanpa memedulikan orang-orang di sekeliling mereka. Meski memang wajah mereka masih ditutupi dengan masker, kacamata hitam dan juga topi. Akan tetapi, orang dengan mudah pasti akan mengenali Vina, dan keberadaan sejoli yang tidak segan-segan untuk berjalan berdampingan di depan umum, bisa-bisa menjadi perbincangan hangat jika ada foto yang beredar di sosial media.


Hal inilah yang membuat Kamila cukup khawatir, karena fans Vina terbilang tidak main-main dalam urusan mengikuti aktivitas panutan mereka; bahkan sampai ke tingkat yang cukup untuk membuat orang-orang berdiri bulu jemari. Hampir tidak ada privasi sama sekali, kalimat itulah yang mungkin tepat untuk menggambarkan kegigihan para fans ini. Dan sudah termasuk cukup hebat bagi Vina dan Evan yang berhasil menyembunyikan hubungan mereka sampai sekarang ini.


“Wah, lu berdua memang ngak punya pertimbangan sama sekali,” ucap Kamila yang melihat ke sekeliling mereka untuk memastikan tidak ada wartawan atau fans yang cukup gila untuk ikut menyelinap masuk ke dalam lounge demi menstalker Vina dan Evan.


“Lah, bukannya elu yang nyuruh untuk ‘mengungkapkan secara perlahan’,” Vina menjawab dengan meniru perkataan Kamila malam itu diruang tunggu.


“Iya betul, tapi yang lu lakuin ini namanya terang-terangan keles,” ujar Kamila dengan suara yang agak meninggi. Ia kemudian melirik ke Evan yang tampak sibuk dengan handphonenya, “Lu juga Van, sebagai pacarnya…”


“Tunangan,” Evan menyela, dan membuat Vina senyum sendiri dengan satu kata tersebut.


“Hah..” Kamila tidak bisa berkata apa-apa untuk sesaat, “Whatever, but anyway, lu sebagai ‘tu-na-ngan-nya’,” ia memenggal kata tuanangan tersebut dan menyebutnya sambil menggerakkan kepala; dengan maksud untuk sedikit mengejek, “Dan juga mantan wartawan, seharusnya lu ngerti lah bagaimana parahnya jika sampai ada wartawan yang memotret wajah kalian berdua,” sambungnya.


“Kamu tuh ya hon, dengarin tuh kata-kata Kamila, sebagai manajer kan dia pasti memperhatikan banget soal karirmu. Hargai sedikit lah,” Evan sempat terperanga sebelum menatap Vina dan seperti sedang memarahinya.


“Ngak usah pura-pura lu,” strategi Evan untuk mengalihkan topik seperti itu tentu saja tidak berhasil untuknya. Sebagai manajer yang profesional, dia tau betul kapan harus menempatkan dirinya sebagai teman dan manajer Vina. Dan saat ini, dia tidak mau rencana yang sudah dipikirkannya untuk membalikkan keadaan secara matang-matang menjadi berantakan.


“Serius amat bu, menurut gua sih aman-aman aja untuk saat ini. Beberapa teman kantorku juga sudah kusuruh pantau akun lambe yang biasa posting gosip-gosip yang lu takutkan,


“Dan, lu yakin kalian berdua ngak akan pernah tertangkap akun lambe itu?"


“Yah bisa dibilang 50 50 lah. Kalo beruntung, akan aman-aman aja, kalo ngak ya akan ketahuan,”


Mendengar jawaban Evan yang seolah cuek akan ketahuan atau tidak, membuat Kamila merasakan sakit kepala karena memikirkan apa yang harus dia lakukan dengan kedua orang yang sudah di mabuk cinta di depannya ini.


‘Your Attention please,…..’


Beruntung baginya, mereka tidak perlu tinggal lebih lama lagi dalam lounge dan bisa segera boarding ke pesawat. Keluar dari dalam lounge, Vina berjalan paling depan dengan ditemani beberapa petugas keamanan, sementara Evan dan Kamila menyusul Vina dari berlakang.Sebelum boarding, ia sempat melirik dan melihat Evan yang tampak mengirimkan sesuatu di handphonenya.


“Kerjaan penting ya?” dia bertanya kepada Evan ketika mereka sedang berjalan di lorong garbarata.


“Hah?” Evan tampak sedikit terkejut, “Itu loh, yang tadi gue bilang, soal akun lambe-lambe itu,” jawab Evan; bahkan sampai menunjukkan layar handphone yang isinya percarian beberapa akun gosip.


Dia menjadi sedikit merasa kurang enak pada Evan karena sudah sampai berlebihan dalam mencrigai orang yang paling dekat dan tidak mungkin melakukan hal macam-macam kepada Vina.


***


‘Enak benar lu ya, bisa angkat-angkat kaki sambil nyuruh orang yang sedang sibuk,’ dia mengirimi Eva—teman sekaligus atasannya tersebut—pesan singkat yang berisikan keluhannya.


‘Ntar gua traktir makanan enak,’ Evan membalas pesannya kurang lebih sekitar bebera menit kemudian.


Ingin menghilangkan penat, ia kemudian bangkit dari kursinya; mengambil bebrapa barangnya seperti kunci mobil, handphone. Powerbank dan juga handphonenya, lalu berjalan oergi meninggalkan mejanya menuju ke lift. Pikirannya sekarang hanya tertuju pada satu hal, sup kacang merah yang ada di warteg yang letaknya tak jauh dari kantornya; sekitar 10 menit perjalanan menggunakan mobil.


“Pantes aja si Giovani ditolak sama Vina, sudah ada pawangnya ternyata,”


“Kasihan juga si Gionvani,”


“Tapi bukannya bagus? Berarti Vina tipe orang yang setia dong,”


“Ah sayang banget, foto cowoknya ngak kelihatan?”


“Tapi itu benar cowoknya bukan sih? Apa asisten baru kali?”


Gosip mengenai artis rasanya sudah menjadi bahan makanannya setiap naik lift di saat jam makan siang. Tak jarang, perusahaan mereka yang merilis suatu artikel harus berdasarkan fakta, kalah cepat ketimbang media online yang lebih bebas mengupload foto dan menciptakan narasi yang bombastis; walau tak jarang diantaranya berujung pada kenyataan.


Penasaran dengan apa yang digosipkan barusan, dia kemudian membuka handphonenya dan mencari foto terbaru soal Vina di akun fanbase Vina yang diiuktinya; yang terkadang upload sangat cepat semua hal mengenai Vina. Tentu saja, itu juga karena dia fans Vina; sesuatu yang selama ini disembunyikannya dari teman-teman kantornya.


Betul saja, ada 2 foto baru yang diupload oleh akun fanbase Vina tersebut. Namun sayang sekali, foto pria yang berjalan di belakang bersama manajer Vina tersebut wajahnya tidak terungkap sama sekali. Tidak lupa, dia menscreenshot foto tersebut dan mengirimnya ke Evan; yang itu pun hanya centang satu.


Saat lift berehenti di lantai 5—bagian HRD—dirinya bertemu dengan orang yang paling ingin dia hindari; William. Pria yang dikenalnya saat masa magang tersebut bisa dibilang salah satu orang yang cukup licik karena gemar memanipulatif orang demi tujuannya dan juga terkenal karena suka menggoda cewek-cewek di kantor.


“Hai,” ucap William sambil tersenyum ke arah gadis-gadis yang sedang menggosip tadi di dalam di lift, baru setelahnya mendekati Kento yang berada di paoing belakang.


“Wah, ngak nyangka gua lu langsung disuruh masuk kerja, padahal kondisi lu dan Evan kan ngak beda jauh-jauh amat,”


Kento hanya bisa mendengus sambil tersenyum saat mendengar kalimat pertama untuknya yang keluar dari mulut orang ini; bukan salam atau sapaan, melainkan kalimat yang sifatnya bsia memecah belah hubungan pertemannya dan Evan.


“Just mind your own business,” dia membalas dengan seramah mungkin, karena menurutnya tidak ada gunanya bicara dengan orang seperti William.


“Eih, sensi amat lu. Masa lalu dilupain lah, waktu itu kita kan masih…”


“Tutup mulut lu,” perkataan William barusan membuat Kento tiba-tiba emosi. Dia menolak untuk melupakan perbuatan William kepadanya yang sempat membuat hidupnya di ambang kacau balau dulu.