Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 4 : SEBELUM BADAI MENERJANG (2)



Beranggapan kalau mungkin itu adalah sesuatu yang penting, Kamila mengambil handphone miliknya dan sedikit ragu saat melihat no asing yang memanggilnya. Setelah berpikir beberapa detik, dia memilih menjawab panggilan tersebut.


“Halo? Dengan siapa ya?” dia menjawab seperti biasa; diawali dengan bertanya identitas orang yang meneleponnya serama mungkin.


“Ah, sudah tersambung ya,” suara seorang pria terdengar dibarengi dengan suara noise lainnya seperti kursi yang bergerak dan bunyi musik yang kemudian dikecilkan, “Halo, ini Kamila kan? Manajernya mbak Vina?”pria tersebut kembali bertanya.


“Iya, dengan siapa ya? Dan ada urusan apa?”


“Ah, maaf. Nama saya Arnold Sentosa, CEO J Group,”


“Ah iya, sebentar ya pak,” dengan cepat, setelah mendengar nama J Group, dia mengulur sedikit waktu dan mencari tablet dalam tasnya lalu mengetikkan kata J Group di kolom pencarian. Baginya, memvalidasi dan mengetahui sedikit soal lawan bicaranya adalah sebuah keharusan agar pembicaraan bisa berjalan dengan lancar.


“Ah, maaf sudah membuat bapak menunggu. Ada perlu apa ya pak?” Kamila langsung berubah menjadi sangat ramah setelah mengetahui kalo J Group adalah salah satu perusahaan media yang cukup besar di tanah air. Dan berhubung CEO mereka langsung yang menelpon, maka ada kemungkinan tawaran kerja yang cukup bagus dan eksklusif menanti di belakangnya.


“Ah begini, salah satu anak perusahaan saya mau mengadakan semacam kontes menyanyi nasional. Nah, kami bermaksud mau mengundang Nona Vina untuk mengisi salah satu posisi juri. Dari kemarin karyawan saya menghubungi Agensi kalian, tapi kayanya kurang di respon. Makanya saya berinisiatif menelpon langsung ke manajernya saja. Bagaimana? Mungkin bisa dipertimbangkan?”


“Nanti saya tanyakan dulu ke Vina langsung. Karena kalo ke agensi memang untuk saat ini kami menyampaikan tidak menerima tawaran acara tv kecuali untuk sekedar wawancara saja,” ujar Kamila kembali.


“Ok, kalau begitu saya tunggu kabar baiknya,”


“Oke pak, nanti saya telpon balik,” jawab Kamila sebelum mengakhiri panggilan tersebut.


Dia sebenarnya bisa saja langsung menerima tawaran tersebut tanpa harus bertanya dahulu ke Vina. Apalagi, acara yang ditawarkan oleh Pak Arnold memang cukup bagus dan bisa jadi sarana promosi untuk Vina dan album barunya nanti. Akan tetapi, dengan kondisi Vina saat ini yang jadwalnya begitu padat, dia merasa lebih baik untuk bertanya dulu ke Vina.


“Itu semua kan cuma gosip sayang, ngak ada yang benar. Kamu kan tau posisiku, dan....”


“Ei, ei, ei, sudah dulu berantemnya okay. Berasa nonton drama korea secara live gua jadinya. Ada beberapa pekerjaan yang mau ku bahas,” Kamila yang sudah tak tahan lagi dengan pertengkaran sejoli di depannya ini, dia langsung menyela dan menghentikan Vina yang terdengar putus asa menjelaskan soal gosip kedekatannya dengan aktor bule tampan yang beredar belum lama ini.


“Ya sudahlah, nanti kita bahas lagi. Fokus aja dulu dengan pekerjaanmu,” Evan terdengar seperti kecewa, namun tetap tersenyum agar Vina tidak terlalu terbebani karena bagaimanapun juga, dunia hiburan memang penuh dengan godaan.


“Oke, nanti lu berdua bisa teleponan lagi sepuasnya, bye,” Kamila yang cukup bisa mengerti apa yang dirasakan Evan sekarang ini dari ekspresi wajahnya saja, langsung mengambil handphone milik Vina dan mengakhiri Video call dengan Evan, “Sekarang lu mengerti kan, kenapa gua suruh lu untuk menjelaskan secepat mungkin yang sebenarnya terjadi?” dia kemudian menegur Vina entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini.


Vina tidak memedulikan dengan perkataan Kamila dan hanya berjalan menuju sofa yang terlihat empuk dan nyaman tempat Kamila rebahan tadi. Meski hati kecilnya merasa kalau perkataan Kamila ada betulnya juga, namun pikirannya sedang pergi ke tempat lain. “Ah sudahlah, katanya mau bicarain soal pekerjaan,” ucapnya setelah duduk di atas sofa yang nyaman sambil meregangkan otot-otot di lehernya.


“Hah,” Kamila menghela nafas dan duduk di samping Vina seraya menyodorkan sebuah tablet, “Bagaimana kalau lu ikut acara ini? Mulainya sekitar 1 atau 2 bulan lagi. Lumayan kan? Lu bisa sekalian promosi album baru nantinya dan sekalian menjaga hype di Indo,” dia menjelaskan sambil melipat tangan di depan dada.


“Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak mengambil acara tv apapun itu,” protes Vina, karena memang semenjak Mini EP-nya rilis, dia sudah mengatakan kalau akan menolak semua tawaran kerja dari stasiun TV dalam bentuk apapun itu; kecuali interview menyangkut Mini EP-nya tentunya.


“I know, I know. Tapi bayangkan, kalau misalnya lu ikut acara kaya begini. Multiplier effect yang kita dapatkan akan sangat menguntungkan kita. Sudah lu digaji, lu bisa menjaga nama lu agar tetap menyeruak di media, dan kalo beruntung, bisa jadi sarana promosi gratis nantinya. Bagaimana?” Kamila berusaha meyakinkan Vina dengan semua hal postif yang bisa ia pikirkan saat itu juga.


Vina terdiam untuk beberapa saat; dia menatap langit-langit rumahnya dan kemudian pemandangan yang ada di luar. Pikirannya sekarang terbagi. Di satu sisi, dia ingin betul-betul fokus menggarap albumnya kali ini. Namun di sisi lain, perkataan Kamila tadi berhasil menggodanya. Dan jika dipikir-pikir kembali, tidak ada salahnya juga menjadi juri. Dia hanya perlu duduk-duduk, melatih peserta, dan memberikan komentar.


“Oke, tapi perhatikan dulu kontraknya baik-baik. Dan..” Vina mengelus dagunya untuk beberapa detik ketika sesuatu terlintas di pikirannya, “Dan jangan sampai ada orang yang pernah di gosipkan dengan gue jadi jurinya, terutama si Giovani kampret itu,” tambahnya.


“Loh, lu ternyata merhatiin gosip soal diri lu? Kirain lu masa bodoh soal kaya begituan,” Kamila sedikit terkejut karena Vina ternyata cukup update soal rumor yang beredar mengenai wawancara Giovani. Sebab pikirnya, selama ini Vina bersikap masa bodoh soal rumor percintaan dan tidak update soal rumor yang beredar.


“Ngak lah, gua ngikutin biar kalo wartawan tiba-tiba muncul depan gue dan bertanya soal yang kaya begituan, gua ngak bakal gelagapan. Tau sendiri lah senjatanya wartawan sekarang macam apa, muncul depan pintu saat lu keluar dan menyodori lu pertanyaan yang menjebak pula,” ucap Vina; yang sebenarnya lebih seperti curhatan soal kelakuan wartawan yang terkadang membuatnya kesal.


“Oke kalau begitu, besok gua telpon lagi Pak Arnold,” Kamila membalas dengan antusias, karena dengan setujunya Vina untuk mengikuti acara kontes menyanyi tersebut, maka mereka akan kembali ke Indonesia lebih cepat; karena ada beberapa urusan keluarga yang harus dia urus juga, “Ah, bicara soal rumor. Bagaimana kalo kita pakai Yunita sebagai model MV mu yang berikutnya?” imbuhnya kemudian.


“Yunita? Yang gosipnya pacarnya itu konglomerat?”


“Iya, karirnya sedang menanjak beberapa tahun belakangan ini. Dan tahun ini sedang cukup hype dia karena filmnya lagi sukses besar di Box Office. Bagaimana? Setuju?”


Vina sempat mengerutkan dahi mendengar usulan Kamila sebelum akhirnya dia menyetujui usulan Kamila tersebut, “Terus, kapan kita balik ke Indo kalau begitu?” tanyanya kemudian. Karena dengan menyetujui ikut acara TV tersebut, itu berarti mereka harus pulang lebih awal untuk menyelesaikan urusan kontrak dan lain-lainnya.


“Minggu depan, santai aja seminggu ini, kumpulkan tenaga buat kesibukan lu kedepannya nanti. Dan siapa tahu, lu bisa dapat 1 atau 2 lagu bagus selama bersantai,”


“Emangnya lu pikir bikin lagu segampang itu apa,”


“Lu kan termasuk jenius saat menciptakan lagu,” Kamila menggoda Vina dengan menggunakan kata ‘jenius’ seperti yang sering digunakan banyak artikel saat menggambarkan beberapa lagu ciptaan Vina.


“Ish,” jawab Vina dengan singkat sembari mengangkat sudut bibirnya beberapa kali.


Setelah puas menggoda Vina, Kamila pergi ke kamarnya dengan senyuman lebar di wajahnya.