Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 4 : SEBELUM BADAI MENERJANG (1)



1 Tahun yang lalu….


Saat itu, Vina sedang di sibukkan dengan persiapan untuk membuat album barunya; yang nantinya akan mengantarkan temannya ini menjadi pemenang Grammy. Padahal, saat itu, mini Album Vina baru diluncurkan sekitar 3 bulan sebelumnya dan sedang menjadi pembicaraan hangat baik di Indonesia dan di beberapa media di luar negeri.


Salah satu single Vina yang berjudul, “Still Love U” yang bernuansa ballad berhasil menyentuh hati banyak orang dan merangsek naik di berbagai tangga musik di berbagai negara; baik offline maupun stream. Hal itu sebenarnya tidak mengherankan, mengingat lagu tersebut sebenarnya merupakan isi hati Vina terhadap Evan yang saat itu mereka berdua sedikit bertengkar akibat rumor kedekatan Vina dengan seorang aktor; yang pada akhirnya adalah tidak benar.


“Sekarang, kita kemana ya bagusnya buat nyari ide untuk cerita kita?” ucap Vina sambil rebahan di kursi mobil yang sandarannya sudah dimiringkan sampai semiring mungkin.


“Lu yakin mau buat album baru? Min Album lu kan baru rilis,” Kamila kembali mengingatkan saat staf make up artist sedang memasukkan beberapa barang ke dalam mobil mereka.


“Justru itu, kita harus memanfaatkan hype yang ada sekarang untuk membuat satu album yang bisa dirilis begitu penjualan album yang sekarang agak merosot. Dan juga, pikiran gua sekarang sedang di penuhi dengan berbagai ide lirik dan nada yang cukup bagus. Jadi apa salahnya kan? Makin banyak stock lagu, makin bagus,” Vina menjawab dengan tatapan mata yang menyala-nyala dan penuh ambisi.


Kamila yang sudah tahu tujuan dari Vina bekerja keras seperti itu, tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mendukung Vina sebaik mungkin sembari menjaga temannya ini agar tidak jatuh sakit akibat kelelahan. Sudah 8 tahun, semenjak Vina memulai debutnya, ia tidak pernah melihat Vina bermalas-malasan seperti yang orang katakan.


Padahal, kalau mau dihitung, prestasi Vina di kancah musik domestic tidak lah sedikit. Albumnya banyak yang sukses, singlenya pun banyak yang berhasil mencapai No.1 di tangga musik dan bahkan pernah bertahan sampai 6 bulan lamanya. Namun, dengan semua pencapaian tersebut, Vina masih terus berusaha keras dengan melebarkan sayapnya ke dunia internasional. Semuanya demi satu hal, Grammy Awards; piala yang selalu dibicarakan Vina semenjak album pertamanya melejit.


Banyak orang yang menganggap kalo Vina terlalu halu. Bahkan, sampai membuat mereka berdua pindah hampir ke 3 agensi yang berbeda dalam 8 tahun terakhir. Dan sekarang, Vina hanya tinggal selangkah lagi—setelah tahun lalu sempat menjadi nominasi sebagai ‘best single of the year’—dari apa yang mereka berdua selalu bicarakan setiap ada waktu kosong atau sebelum tidur.


“Okay, but promise me. Sehabis dapat apa yang lu impikan, lu harus istirahat cukup panjang dan bicara dengan Evan,” Kamila menasehati Vina. Karena dia juga cukup tahu bagaimana kondisi percintaan Vina dan Evan yang untuk saat ini, bisa dikatakan sedikit mengalami pasang surut.


“Ngak usah khawatir kalau cuma soal itu. Ini hanya masalah kecil kk, ntar juga baikan sendiri,” Vina terdengar sangat pede ketika mengucapkan hal tersebut.


“Awas, cowok kaya dia jangan lu sia-siain. Nyeselnya dibelakang ntar loh,” Kamila sekali lagi mengingatkan Vina. Meski dia tahu kalo Vina dan Evan sudah berpacaran cukup lama, namun dia sudah pernah melihat pasangan yang menikah bertahun-tahun lamanya cerai hanya karena kurangnya komunikasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Apalagi kalau hanya pacaran semata, menurutnya akan lebih mudah keluar kata ‘putus’ karena tidak ada beban apapun yang mengikat hubungan tersebut.


“Sudah semua kak,” ucap salah satu staff agensi yang sedang menaikkan baju yang digantung di gantungan khusus—custom—di bagian belakang mobil Vina.


“Ok, kalian boleh balik aja ke hotel,” ujar Kamila; karena memang semua jadwal Vina yang membutuhkan make up artist dan staff dari agensi sudah selesai untuk hari ini.


“Ok kak kalau begitu,” ujar staff tadi sambil sedikit menundukkan kepalanya sebelum menutup pintu belakang.


Setelah pintu tertutup, Vina membuka matanya, menengakkan badannya, mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan berteriak, “Awas lu ya kalau pesta tanpa gue,”.


Para staff yang mendengar hal tersebut hanya tertawa dan tersenyum; karena Vina memang cukup dekat dengan semua staff yang bekerja dengannya dan juga sering bercanda gurau seperti tadi. Dari awal debut, Vina memang di nasehati oleh mentornya dulu untuk selalu bersikap ramah kepada semua orang.


Setelah temannya yang cerewet satu ini tidur, Kamila menyibukkan diri dengan melihat jadwal yang ada besok. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya, karena dengan jadwal Vina yang terkadang begitu padat, dia terkadang harus pandai mencuri waktu untuk Vina dan dirinya sendiri bisa beristirahat. Alasannya? Karena dia tidak mau Vina sampai jatuh sakit lagi akibat jadwal yang begitu padat seperti saat album pertamanya meroket.


Setelah menandai beberapa jadwal yang mungkin bisa dipersingkat, Kamila melanjutkan dengan mengecek email untuk melihat tawaran interview, endorse produk, sampai tawaran iklan dari beberapa perusahaan yang terkadang menumpuk sampai ratusan email. Di awal, dia sempat mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang dia hadapi. Akan tetapi, seseorang pernah menegurnya mengatakan kalau dirinya termasuk beruntung bisa bekerja dengan top star yang rendah hati meski sudah berada di puncak.


Setelah selesai dengan semua rutinitas-nya sebagai manajer, sebelum istirahat, Kamila memencet tombol intercom untuk berbicara ke sopir dan bodyguard yang berada di depan—karena mobil yang mereka sewa bagian tengahnya di pasang televisi seperti yang sering dipakai artis atau orang-orang kaya pada umumnya—mengingatkan mereka untuk berhati-hati dan tidak usah memaksakan diri kalau tidak sanggup.


Sambil rebahan, karena tidak bisa tertidur, dia memilih untuk mengambil handphone-nya dan mengecek apakah ada artikel baru soal Vina hari ini. Dan, seperti biasa, kebanyakan artikel yang populer hanyalah gosip yang tidak terlalu penting dan lebih banyak di dominasi oleh gosip murahan.


Merasa semuanya kurang menarik, Kamila kemudian langsung memasukkan kata Vina di kolom pencarian. Dan hasil yang ia dapatkan seperti biasa, hanyalah gosip murahan. Kecuali, soal artikel mengenai gosip Giovani yang seolah memberikan sinyal rasa suka terhadap Vina sempat ramai 1 minggu yang lalu. Cukup menarik, karena biasanya gosip murahan seperti ini hanya bertahan sekitar 1 atau 3 hari.


Namun untuk kali ini, bertahan cukup lama, sampai 2 minggu. Tidak heran saat itu, CEO Agensi-nya sempat menegurnya untuk menjaga Vina baik-baik. Sedikit penasaran, dia kemudian mencari informasi soal Giovani dan apa yang membuatnya menjadi populer. Hal yang dia temukan, membuatnya merasa jijik. Playboy, satu kata itu cukup untuk mewakili semua image yang melekat pada Giovani disamping kepopulerannya sebagai aktor yang genius dalam memainkan berbagai karakter.


“Dasar sampah,” ucapnya dalam hati sembari menaruh hpnya ke dalam tas kembali; padangannya terhadap laki-laki yang mempunyai sifat Playboy memang sangatlah buruk. Karena ia sendiri pernah berpacaran dengan pria seperti itu yang hasilnya hanyalah makan hati setiap hari dan pada akhirnya sempat mengganggu pekerjaannya.


***


“Wah, cantik banget. Coba di Indonesia juga ada salju, pasti bakal ada pemandangan yang cukup indah seperti ini juga kan?” ujar Vina dengan wajah yang berseri-seri saat melihat pegunungan salju yang terbentang dari jendela tempat penginapan mereka. Dia kemudian mengeluarkan handphone dari dalam saku jaketnya dan menelepon Evan meskipun dia sadar kalau di Jakarta sekarang ini sudah 11 malam lewat. Kamila yang melihat tingkah Vina tersebut hanya geleng-geleng kepala sembari melempar dirinya ke sofa yang nyaman, empuk, dan hangat.


“Halo?” suara Evan yang terdengar suntuk seperti baru habis bangun tidur terdengar beberapa menit kemudian setelah Vina mencoba Video call beberapa kali.


“Udah tidur ya?” Vina sedikit agak menyesal sudah membangunkan Evan tengah malam begini; karena pikirnya, Evan bisa saja lembur hari ini.


“Ngak, baru mau tidur,”


“Coba tebak aku lagi dimana?” Vina kemudian bertanya sembari mengarahkan kamera ke dirinya dan juga memperlihatkan pegunungan Alpen yang terlihat cantik di selimuti cahaya mentari di sore hari sebagai latar belakangnya.


“Swiss kan? Ngak bosan kamu hampir tiap tahun ke situ?” Evan merespon dengan kurang antusias; karena memang setiap mereka liburan, pasti akan singgah di swiss untuk melihat pemandangan pegunungan Alpen yang menjadi favorit Vina.


“Ish, kamu tuh ya…”


Mendengar Vina dan Evan yang malah berubah menjadi bertengkar, Kamila menjadi panas telinganya dan tidak bisa tidur. Namun, saat hendak menegur pasangan yang terlihat mesra meski sedang berantem tersebut, handphonenya yang bergetar mengalihkan perhatiannya.