Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 6 : KEBUSUKAN YANG TIDAK BISA DISEMBUNYIKAN (7)



Keesokan harinya, berhubung merupakan waktu istirahat bagi juri dan semua kru acara; Evan, Vina dan Kamila, mereka bertiga memutuskan untuk berkeliling kota Makassar dan menikmati makanan khas kota Makassar. Mulai dari Sop Konro, Palubasa, hingga Coto Makassar; kelompok makanan yang dikatakan oleh Vina dan Kamila sebagai penyiksa kolesterol, semua mereka coba satu persatu. Bahkan Vina sampai tambah lebih dari 2 kali ketika mencoba Coto Makassar.


Sore harinya, setelah puas mencoba makanan berat yang seperti kata Vina ‘cara yang bagus untuk membuat diri cepat gemuk’, mereka bertiga kemudian mecoba makanan pencuci mulut; pisang ijo dan beberapa minuman dingin lainnya.


“Lu ngak apa-apa kalo kami terpotret sedang duduk berduaan kaya begini?” Vina bertanya ketika mereka sedang menunggu pesanan mereka; karena dari tadi siang sampai sekarang ketika mereka berkeliling ke berbagai rumah makan, banyak orang yang memotret mereka bertiga, beberapa bahkan sampai meminta tanda tangan.


“Ngak apa-apa, biarkan mereka terus menduga-duga,” Kamila menjawab dengan agak cuek; matanya tidak bisa lepas dari tablet ketika ada waktu kosong, karena dia harus memantau artikel yang menyebutkan nama Vina dan juga mengatur jadwal Vina yang cukup padat bulan ini.


“Sudah, biarin aja orang-orang mau ngopong apa, yang penting kita tidak konfirmasi teori-teori para fansmu itu,” ujar Evan, dia kemudian teringat dengan rencananya soal Giovani dan memutuskan untuk memberitahukan apa yang terjadi kemarin di luar ruangan audisi.


“Bagus juga suh, setidaknya dia ngak bakalan  gangguin aku untuk beberapa waktu ke depan. Apalagi kan tuh orang memang ngak bisa main piano sama sekali. Tau sendiri lah bagaimana susahnya main piano,”


“Tapi kalo kecuirgaan lu memang benar, lu yakin mau melawan Joshua yang manusia licik itu? Lu udah liat kan bagaimana perbuatannya ke Vina dan diri lu sendiri. Dia ngak peduli orang lain mau  hancur atau ngak selama tujuannya bisa tercapai,”


“Gua cukup yakin sih kalo dia ngak bakal sampai ngacurin karir Vina, karena strategi pansos itu sudah biasa, dan juga dia butuh lepopuleran Vina sampai setidaknya 2 bulan ke depan,”


“Maksud kamu dia butuh aku apa?”


“Pinjam tablet lu sebentar,” pinta Evan sambil menjulurkan tangannya untuk meminjam tablet milik Kamila, “Nah,” dia kemudian menunjukkan sebuah artikel di salah satu website majalah gosip yang berisikan rumor film terbaru Sutrada Alberto.


“Terus?” Vina tampaknya belum mengerti; yah, cukup wajar sih, karena selama ini semua hal seperti ini selalu diurus oleh Kamila.


“Jadi maksud lu, semua ini dilakukan oleh pihak Giovani supaya dia bisa join ke film Sutradara Albert?” ujar Kamila.yang langsung mengerti setelah terdiam sejenak. Karena dia sudah cukup sering melihat cara-cara seperti ini di dunia entertaiment; menciptakan gimmick untuk bisa mendapatkan ketenaran dan tawaran sinetron atau film.


“Wait, jadi maksud kalian, Joshua manfaatin gue cuma biar Giovani bisa dapat job gitu?”


“Begitulah, sudah hal lumrah sih dalam dunia entertaiment sebenarnya soal gimmick-gimmick kaya begini. Hanya yang jadi masalah sekarang ini adalah, orang yang berada di balik semua ini sudah agak kelewatan dalam menutupi jejaknya,’ jelas Evan kembali. Padahal, menurutnya Joshua bisa saja memakai cara yang lebih bagus, yaitu dengan membuat perjanjian kontrak unutk hal seperti ini; walau dirinya sendiri tidak suka kalau Vina harus dekat dengan laki-laki lain walau hanya pura-pura.


“Dasar orang gila, ngak tahu malu. Kalau saja....”


“Pesanannya Kak” untung saja, Vina masih sempat mengerem mulutnya ketika pelayan datang membawakan es buah dan es pisang ijo pesanan mereka bertiga.


“Terima kasih ya,” ucap Evan sambil mengambil es teler dan es pisang ijo pesanannya yang di taruh di depan Vina.


“Ada perlu sesuatu mbak? Pesanan kamu sudah lengkap kok,” tanya Kamila karena pelayan yang mengantar mereka tidak langsung pergi setelah menaruh pesanan mereka di atas meja.


“Ehm, saya boleh foto bareng ngak dengan Kak Vina?”


***


Sementara Evan, Vina dan Kamila menimati wisata kiuliner mereka. Alfred dan Fahmi yang berada di jakarta, diminta Evan untuk mengikuti Joshua yang tidak ikut dengan Giovani ke makassar dan sedang berada di Jakarta.


“Memangnya orang seperti dia bisa berbuat sejahat itu?” tanya Fahmi saat dia dan Alfred sedang mengekor mobil Joshua di jalan tol menuju Bogor semenjak 1 jam yang lalu.


“Bisa saja. Jangan pernah tertipu dengan orang yang dari luar tampangnya baik. Dia itu sudah melakukan banyak hal licik yang kalau lu tau, bakalan muak dengarnya,” Alfred menjawab dengan sedikit emosi, karena dirinya sendiri memang muak ketika tadi pagi Evan menceritakan soal semua riwayat perbuatan licik yang pernah dilakukan oleh Joshua.


Meski begitu, dia menuruti keinginan Evan untuk tidak konrontasi langsung dengan Joshua karena mungkin saja bisa membuat rencana mereka terbongkar. Dan yang terpenting, mereka sampai saat ini seberapa jauh dan siapa saja yang terlibat dalam kecelakaan Evan yang terlihat direncanakan dengan matang.


Untungnya, Vina—yang awalnya menyuruhnya menyelidiki kecelakaan Evan—memfasilitasi mereka dengan perlengkapan terbaik. Mobil yang mereka pakai misalnya; sangat nyaman sampai membuat mereka berdua betah berlama-lama di dalam mobil dan yang paling penting, mempunyai kemampuan untuk mengejar mobil Joshua yang tergolong mewah dan punya tenaga mobil sport.


Soal uang pun, mereka berdua diberikan credit card perusahaan Vina yang bebas mereka pakai selama melakukan penyelidikan, sehingga mereka tidak perlu khawatir lagi akan menu makanan saat harus menguntit orang yang mereka curigai dari dalam mobil.


Sekitar 1 jam perjalanan, Joshua pergi ke sirkuit sentul dan terlihat bergabung dengan sekumpulan orang-orang dengan mobil mewah; semacam perkumpulan mobil sport. Dan di antara semua orang tersebut, ada satu orang yang Evan sempat sebutkan, Sutrada Alberto.


Apa yang dikatakan Evan soal job film Sutradara Alberto pun mulai terasa make sense baginya. Apalagi saat dia menyaksikan langsung bagaimana Joshua seperti berusaha untuk dekat dengan Sutradara Alberto. Saat mendengar perkataan Evan tadi pagi, dia sempat ragu dan menganggap pemikiran Evan tersebut terlalu dangkal dan hanyalah dugaan tak berdasar.


“Wah, liat semua orang-orang itu, semuanya pengusaha-pengusaha besar semua,” celetuk Fahmi ketika mereka memutuskan untuk mengamati dari kejauhan agar tidak ketahuan.


“Lu kenal orang-orang itu?”


“Tentu saja, semuanya bisa dibilang orang-orang kaya yang sudah terkenal di kalangan pebisnis. Contohnya saja itu—menunjuk laki-laki dan perempuan yang tampak mesra—Andre dan Yunita, pasangat pengusaha sekaligus aktris terkenal. Yang laki-laki merupakan pewaris dari perusahaan Teknologi terbesar dan Firma Hukum kelas atas. Sedangkan Yunita, yah lu mungkin sudah tau dia aktris beken.


Terus, yang itu—kali ni menunjuk seorang pria dengan perut tambun; memakai topi ala koboy, kaca mata hitam, dan sedang menghisap sebatang rokok—Pak Arnold, CEO dari salah satu perusahaan media terbesar, dan pemilik acara yang sedang diikuti Vina saat ini. Rest of all, ada anak pemilik bank, dan pengusaha muda lainnya,” Fahmi menjelaskan seolah dia mengenal semua orang yang sedang berkerumun dengan mobil mewahnya masong-masing.


“Lu tau yang kaya begituan dari mana?”


“Mungkin karena gua kurang kerjaan atau terlalu skepo dengan hal-hal yang berguna kali ya? Karena setiap hari, IG gua isinya ya kaya begituan, berita soal list orang terkaya, dunia hiburan sampai orang-orang yang gemar flexing,”


“Hmm, pantesan,”


Karena hanya bisa mengamati dari kejauhan, mereka berdua pun memutuskan untuk mengambil foto dengan kamera yang mereka bawa dari kejauhan. Dalam hatinya, Alfred sebenarnya ingin mendengar pembicaraan apa yang dilakukan oleh Joshua—orang yang saat ini paling mereka curigai—dengan Sutradara beken tersebut.


Hari itu, tidak ada yang istimewa mengenai kegiatan Joshua setelah dari sentul; hanya makan-makan sekaligus cengkrama antara member perkumpulan penggemar mobil sport tersebut. Joshua pun setelah itu hanya langsung kembali ke agensinya dan tidak keluar sampai menjelang pukul 8 malam, hingga akhirnya Alfred memutuskan untuk menyudahi hari ini dan mengantar Fahmi ke halte bus terdekat sesuai dengan permintaannya.