
Seminggu setelah artikel anonim yang dirilis oleh Evan tentang kelamnya dunia hiburan yang tidak seperti orang duga, tidak ada yang menyangka kalau artikel itu akan menjadi sebuah sensasi. Bahkan Evan, Linda, dan juga Raynold tidak menyangka kalau artikel itu bisa menjadi trending topic hanya dalam waktu sehari setelah perilisannya dan terus bertahan hingga sekarang.
Dan bagusnya lagi, artikel tersebut tidak menuliskan nama penulis—sesuai dengan kesepakatannya dengan Raynold setelah mempertimbangkan alasan keamanan—semuanya dibuat serba anonim. Isi yang tidak menyebutkan perusahaan ataupun orang secara spesifik, membuat orang semakin penasaran untuk siapa artikel tersebut dibuat. Berbagai teori dan spekulasi beredar di sosial media membuat isu tersebut semakin panas bagaikan menuang bensin ke dalam api.
Evan juga sengaja tidak menyindir secara gamblang Joshua dan sekongkolannya, melainkan hanya menyebut salah satu kasus yang pernah melibatkan Joshua di dalamnya; yang tentunya publik tidak tahu soal Joshua yang menjadi dalang di balik semua itu. Sehingga dengan adanya artikel tersebut, dia sedikit berharap kalau Joshua menjadi tidak tenang dan bertindak dengan gegabah karenanya.
“Can I ask both of you one more question please?” Linda bertanya kepada Vina dan Yunita dalam interview live mengenai proyek MV Vina yang akan segera di lauch dalam waktu dekat ini.
“Silahkan,” jawab Vina, diikuti dengan Yunita yang juga mengangguk setuju.
“It’s just simple question. Belakangan ini kan sedang heboh soal bagaimana industri hiburan kita yang katanya, punya sisi gelap. Seperti giimick untuk menaikkan popularitas contohnya. Sebagai artis yang sudah sama-sama berada di puncak, bagaimana tanggapan kalian berdua?” Linda mulai mengajukan pertanyaan; yang sebenarnya itu adalah pertanyaan titipan dari Evan pagi ini.
Vina sempat terdiam untuk sejenak. Sebagai artis yang sudah eksis untuk waktu yang cukup lama, dia menjadi sedikit tahu mana pertanyaan yang akan membuatnya dikritik atau tidak.
“Hmm, kalo menurut saya ya sebenarnya tidak ada salahnya, selama itu tidak merugikan orang lain. Karena yang namanya gimik itu hal lumrah, kaya pasangan di variety show, atau acara-acara yang populer,” dia menjawab setelah merenungkan segala kemungkinan yang bisa dia pikirkan dan tentu, diakhiri dengan senyuman
***
“Jadwal berikutnya?” Vina bertanya saat melihat Kamila yang sedang duduk di dalam ruang tunggu sembari membaca sesuatu di tabletnya.
“Lo pernah berpikir ngak kalau cowok Evan itu orang yang cukup jenius dalam menyindir seseorang?” ujar Kamila sementara Vina mengambil minuman ringan dari dalm kulkas.
“Semuanya itu karena pengalaman ibu, pe-nga-la-man,”
“Yang penting sih, kalau gue jadi Joshua, pastinya ngak akan bisa tenang setelah baca artikel kaya begini. Meski nama ngak disebut, tapi jelas-jelas ini kasus sewaktu dia jadi manajer artis yang terlibat. Dan sudah pasti, orang busuk itu punya andil besar di dalamnya,”
Sebagai teman sekaligus orang yang sudah lama bersama-sama dengan Kamila, dia sedikit heran bagaimana orang yang selalu sibuk dengan telepon seperti Kamila bisa mempunyai intuisi yang bagus dalam memecahkan sesuatu yang mencurigakan. Meski Kamila selalu menjawab kalau itu semua karena kebanyakan menonton film thriller, dia cukup yakin kalau Kamila pasti akan sukses seandainya menjadi detektif dengan instingnya yang hampir selalu benar.
“Duh ibu, mending liat jadwalku berikutnya apa. Supaya bisa cepat istirahat gue,” keluhnya sambil berjalan ke arah Kamila dan mengambil tablet yang ada di tangannya itu.
“Kosong, sengaja gua kosongin setiap pas hari lu syuting ni acara. Karena syutingnya juga kan terkadang molor sampai malam banget,”
“Nice, berarti gua bisa lebih cepat-cepat ketemu sama my fuhu deh,”
“Fuhu?”
“Future Husband,”
“Dahlah, capek gua ngeliat keuwuan lu berdua,” ujar Kamila sambil geleng-geleng kepala mendengar perkataan Vina tadi.
“Makanya, lu….”
“Permisi,” suara seorang laki-laki menyela Vina yang igin menyindir Kamila yang juga sudah lama pacaran tapi belum pernah sama sekali mengenalkannya kepadanya, diselingi dengan suara ketikan di pintu masuk ruang tunggu.
“Iya, kenapa?”
“Oke,” jawab Vina sambil berdiri dari sofa yang ia duduki, “Gua ke gabung ke ruang tunggu juri-juri dulu ya,” dia pamit kepada Kamila sebelum keluar dan meninggalkan Kamila sendirian.
Pekerjaannya sebagai juri lama kelamaan terasa menyenangkan bagi Vina, meski capek karena harus sering mengomentari para kontestan. Akan tetapi, ia juga mendapat pelajaran dan pengalaman baru disini. Contohnya saja, ada salah satu kontestan cewek yang memang alaminya sangat merdu, ia langsung merekam suara tersebut dan berusaha menirukannya. Terkadang, banyak orang yang memang mempunyai bakat alami dalam suatu hal, hanya saja orang tersebut tidak menyadarinya dan akhirnya bakat tersebut terpendam.
“Kira-kira, siapa yang kalian jagokan bisa masuk Top 3 kali ini?” Mrs. Rina bertanya ketika sedang menunggu panggung di tata ulang.
“Rios?” jawab Pak Afrianto,
“Wah curang banget lu ya, langsung ambil yang kita jagokan,” Pak Dodi langsung melayangkan protes; karena memang Rios merupakan jagoan semua juri, termasuk Vina sendiri.
“Jangan gitu lah pak, ganti yang lain aja, demi keadilan bersama,” Vina mencoba membujuk Pak Afrianto untuk mengganti jagoan favoritnya.
“Ya ngak bisa dong, kan kalian nyuruh milih, ya saya milih Rios,”
“Tes, tes. Tes, 1 2 3, boleh minta perhatiannya para juri yang saya hormati,” saat Vina dan para juri lainnya sedang memperdebatkan siapa jagoan mereka, Giovani yang sudah berdiri di tengah panggung dengan piano besar dibelakanya, menyela perdebatan para juri, “Dan khusunya tentu, Kak Vina,” tambah Giovani lagi dengan senyuman di wajahnya sebelum berjalan ke arah piano dan mulai terlihat melakukan pemanasan jari-jari.
Vina langsung mengerutkan dahi ketika melihat tingkah Giovani tersebut, dia langsung teringat soal perkataan Evan mengenai Giovani yang mulai belajar piano. Dan saat itu juga, ia langsung bisa menebak tujuan Giovani melakukan ini semua.
“Cie, kamu ngak tertarik Vin? Laki-laki pantang menyerah kaya dia susah di dapat sekarang,” ucap Mrs. Rina ketika Giovani mulai memainkan lagu someone like you sambil bernyanyi.
Berusaha bersikap ramah, ia hanya menanggapi perkataan Mrs. Rina tersebut dengan tersenyum. Suara yang bagus, permainan musik yang cukup bagus, seandainya bukan karena first impression antara ia dan Giovani yang buruk, mungkin saja ia akan sedikit gundah melihat penampilan Giovani tersebut.
Tidak lupa, dia juga mengambil foto Giovani sekarang ini dan mengirimkannya ke Evan; yang diikuti dengan pesan, “Gara-gara kamu ini,” tulisnya.
“Langsung tolak saja,” bunyi pesan dari Evan yang diluar dugaan, cukup cepat menjawab pesannya di jam kerja seperti saat ini.
Seperti yang diperkarakan olehnya, setelah selesai bermain piano, Giovani kembali bangkit dari kursinya dan langsung menyatakan cintanya saat itu juga. Respon orang-orang tentu saja sangat terkejut; entah karena itu memang sudah mereka rencanakan atau Giovani tidak memberitahu sama sekali kru soal bagian menyatakan perasaan saat ini.
Dengan tenang, Vina menekan tombol on mic di depannya, dan menarik nafas sebelum menjawab oernyataan cinta Giovani tersebut, “Saya rasa apa yang saya dan manajer saya katakan malam itu seharusnya sudah cukup buat anda kan? Kalo belum, biar saya katakan sekali lagi di depan semua orang disini, entah ini memang sudah kalian rencanakan atau tidak.
Pertama, saya tidak punya perasaan apapun terhadap anda. Kedua, tentu alasannya karena saya sudah mempunyai seseorang yang saya sukai semenjak lama, dan hubungan kami sangat baik sampai sekarang. Karena saya tidak pernah memperkenalkannya ke kalian, bukan berarti saya mengelak atau mencari alasan untuk menghindar, tapi karena kami menginginkan privasi soal hubungan kami berdua. Dan yang terakhir, saya harap ini tidak akan terulang lagi,”
Setelah mengatakan semua yang ingin dikatakannya, dia langsung bangkit setelah mematikan mic-nya dan berjalan meninggalkan panggung saat itu juga. Baginya, apa yang terjadi hari ini adalah tindakan yang sangat tidak profesional dari stasiun TV besar seperti TV J.
Tanpa memedulikan staf TV yang ikut berjalan di belakangnya dengan raut wajah bersalah, dia langsung masuk ke dalam ruangan tunggunya dan membantin pintu tanpa melihat ke belakang, “Ayo, kita pulang. Gua udah muak dengan ini stasiun TV,” ujarnya kepada Kamila yang tampak agak terkejut.
“Kenapa? Bukannya lu belum…”
“Lu liat aja sendiri,” dia memotong perkataan Kamila sambil melempar handphonenya kepada Kamila; berisikan kejadian tadi yang direkamnya secara diam-diam sebagai bukti.
“Oke, kita pulang. Biar gua yang urus dengan stasiun TV besok,” raut wajah Kamila tampak tenang saat mengiyakan permintaan Vina.
Meski Main Director langsung datang dan meminta maaf kepada Vina dan Kamila, mereka berdua tetap teguh pada keputusan mereka untuk meninggalkan tempat itu saat itu juga demi menunjukkan kemarahan mereka yang sebenarnya.