
Tidak peduli sebanyak apapun ia memikirkannya, tetap saja perkataan Silvia tadi malam membuat ia semakin penasaran denga napa yang di sembunyikan Silvia; karena menurutnya, Silvia bukanlah tipe orang yang akan berkata asal-asalan tanpa alasan yang jelas. Dan di samping itu semua, ia tidak punya siapapun saat ini untuk dijadikan tempat curhat atas kegelisahannya ini.
Ia kemudian menggelengkan kepalanya sejenak dan fokus dengan tujuan utamana hari ini, yaitu mengajak Kak Vina menjadi pasangan lombanya. Setelah menata ulang daftar prioritas dalam pikirannya dan menaruh kegelisahan soal perkataan Vina semalam di daftar paling bawah, ia kemudian berjalan menuju ruang musik; tempat dimana ia dan Kak Vina biasa janjian untuk bertemu.
Dengan penuh harap dalam pikirannya, ia kemudian memegang gagang pintu ruang musik di depannya dan mendorong pintu tersebut ke arah dalam ruangan hingga terbuka. Bersamaan dengan bunyi pintu yang berdenyit, jantungnya juga berdegup semakin kencang. Namun, meski begitu, ia sudah memutuskan dan membulatkan tekad sejak awal kalua hari ini, dia harus bisa mengajak Kak Vina menjadi pasangan lombanya nanti bagaimana pun caranya.
Walau ia sudah sering memasuki ruangan ini, entah kenapa kali ini dirinya terasa begitu gugup. Kakinya terasa begitu berat, jantungnya yang berdegup kencang setiap ia melagkah mendekati Kak Vina yang tampak keasikan bermain piano sampai-sampai tidak menyadari kehadirannya yang hanya berjarak sekitar 5 atau 10 langkah.
“Kak,” ia mencoba menyapa lebih dahulu. Namun tampaknya, suaranya tidak kedengaran akibat bunyi piano yang cukup keras menggaung di seluruh ruangan tersebut. “Kak,” ia Kembali mengulangi perkataannya, namun kali ini dengan suara yang lebih keras. Masih juga belum terdengar, ia melangkah maju dan menyentuh pundak Kak Vina.
“Eh elu Van, kenapa? Tumben datang tanpa kundang dulu,” ucap Kak Vina sembari tersenyum menatap dirinya setelah menghentikan permainan pianonya.
Saat menatap mata Kak Vina, pikirannya seketika itu juga menjadi kosong. Ia tidak bisa memikirkan apapun, semua kata-kata yang sudah ia persiapkan dan latih selama berkali-kali semalam hilang dari kepaanya. Sekarang ini, ia bisa merasakan keringatnya sudah mengucur deras di bagian belakang kepalanya dan juga bagian samping wajahnya. Namun, ia masih bisa menguasai dirinya untuk tetap tersenyum seolah dirinya baik-baik saja.
‘You can do it,’ dia menyemangati dirinya sendiri sambil memikirkan kata-kata apa yang akan dia ucapkan. “Kakak ingatkan soal janji kakak waktu di belakang panggung saat selesai pentas?” dia mulai mengatakan apapun yang terlintas di pikirannya. Dan sedikit berharap tidak ada kata-kata yang akan membuat suasana sekarang ini menjadi canggung.
“Pasti dong. Emang kamu udah mikir mau dipakai untuk apa?” Kak Vina yang bertanya dengan nada manja dan menggoda, membuat dirinya menjadi sedikit gerah. Ia juga bisa merasakan wajahnya menjadi sedikit panas. Ia hanya bisa mengangguk saat mendengar Kak Vina menjawab.
Melihat Kak Vina yang terus menatapnya, ia kemudian memberanikan diri untuk memerintahkan dirinya untuk mengutarakan pikirannya. Sempat beberapa kali ia mencoba, namun anehnya tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Kenapa? Terlalu berat ya untuk dikatakan?” Kak Vina kembali bertanya.
Sangat aneh, padahal ia sudah memikirkan betul kata-kata yang ingin ia ucapkan akan tetapi saat ini, tidak ada sekata patah pun yang bisa keluar dari mulutnya. Rasanya, seperti semua kalimat tersebut tertahan di tenggorokannya dan hanya nafasnya saja yang keluar dari mulutnya.
Tidak mau terlalu buang-buang waktu, ia menarik nafas dalam-dalam, dan memaksa dirinya untuk mengatakan sesuatu, “Kakak mau jadi…”
“Yow, Vin…” saat ia akan mengatakan sesuatu, seorang pria tiba-tiba masuk dan menginterupsinya. Spontan saja, ia langsung memberikan tatapan sinis kepada laki-laki tersebut, “Ops, gua menganggu ya?” ucap laki-laki tersebut kembali.
‘Off course idiot’ ingin rasanya ia mengatakan hal tersebut—jika saja tidak ada Kak Vina di depannya saat ini—dengan intonasi tinggi kepada pria tersebut.
Dengan emosi yang sudah agak kacau dia langsung mengucapkan sesuatu yang lain yang ia simpan jauh di dalam lubuk hatinya, “Kakak mau jadi pacarku ngak?”.
Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari apa yang dirinya ucapkan barusan. Matanya terbelalak, wajahnya terasa agak memanas, jantungnya berdegup cukup kencang, ia bahkan mengalihkan pandangannya dari Kak Vina saat ini karena tidak berani menatap mata Kak Vina secara langsung.
“W.. What? Kakak ngak salah dengar kan?” ujar Kak Vina dengan tersenyum. Meski begitu, ia bisa melihat wajah Kak Vina sedikit memerah saat ini.
Ia tidak mengatakan apapun, dan hanya terdiam saja. Saat ini, dalam dirinya, ia sedang menahan malu yang begitu besar dan mengatai dirinya sendiri karena bisa keceplosan menyatakan cinta ke Kak Vina. Namun, ia berpikir, kalau sampai dirinya tidak mengatakan apa-apa; Kak Vina mungkin akan mengganggap dipermainkan.
“Hmm…”
“Wait,” ia langsung menyela saat melihat Kak Vina membuka mulutnya. Rasa percaya dirinya yang awalnya begitu besar, sekarang runtuh. Dalam pikirannya sekarang lebih banyak dipenuhi oleh rasa khawatir kalau Kak Vina akan menolaknya.
Terdengar pengecut memang karena ia tidak berani menghadapi hal itu sekarang. Akan tetapi, setidaknya—hanya setidaknya—ia ingin menikmati kebersamaan dengan Kak Vina sampai lomba memasak usai.
Oleh karena itu, ia kemudian menghela nafas dan mulai mengatakan semua yang ada di dalam hatinya, “Benar, aku memang suka sama kakak. Dulu, kupikir semua itu cuma rasa kagum sementara saja. Namun, aku baru sadar kalau sebenarnya rasa kagum itu sudah berubah menjadi rasa suka. Saat dengar ada orang yang sedang menyatakan cinta di kelas kakak, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke kelas kakak.
Rasanya aku ngak rela kalau ada laki-laki lain yang menyatakan cinta ke kakak. Kakak boleh nolak perasaanku, tapi tunggu setelah lomba masak usai,” ia menghela nafas kembali. Rasanya, seperti ada beban berat yang baru saja terlepas dari dalam hatinya.
“Jadi, kamu ngajak kakak jadi pasanganmu untuk lomba memasak akhir tahun di sekolah kita? Begitu?” Tanya Kak Vina kembali sembari mengerutkan keningnya, memegang dahu, dan memasang wajah serius, seolah sedang mempertimbangkan dengan serius tawaran yang diajukannya tadi.
“I.. i.. iya,” ia sedikit terbatah-batah; karena dalam hatinya, ia sudah takut akan di tolak oleh Kak Vina sekarang ini. Dan sekarang ini, ia bahkan bisa merasakan bagian belakangnya yang terasa panas dan sudah mandi keringat; ia juga bisa mendengarkan bunyi detak jantungnya yang berdegup sangat kencang—yang ia harap Kak Vina tidak mendengarnya—saat ini.
“Hmm… Oke kalau begitu,” jawab Kak Vina kemudian dengan senyuman yang terlihat begitu cantik di matanya saat ini, “Tapi, awas ya kalau makanannya biasa-biasa saja,” ultimatum Kak Vina dengan wajah yang kembali terlihat serius.
“Hah?”
“Ya iya dong, kan masakan ini sekaligus pernyataan cintamu, jadi harus unik dan spesial dong,” goda Kak Vina dengan senyum jahil di wajahnya.