Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 7 : Everyone Have Their Own Problem (2)



(Sudut pandang Alfred)


Esoknya, setelah memberitahu Evan soal permasalahannya—yang mana dia malahan langsung menerima ucapan selamat dari Evan dan juga Vina—Alfred memutuskan untuk tidak mengikuti Joshua dan menyerahkannya kepada Fahmi,


Paginya, seperti biasa, dia bersama Nadya membuka toko terlebih dahulu dan menunggu sampai agak siangan; karena toko perhiasan langganannya memang baru buka sekitar jam 10-an ke atas. Untungnya, semenjak kejadian tadi malam, sikap Nadya masih sama seperti biasa; mungkin karena diam-diam Nadya juga menikmati apa yang terjadi tadi malam.


Setelah mengecek semuanya; mulai dari persediaan bahan-bahan di gudang, absensi pegawai, kebersihan dapur dan setiap meja yang ada di restorannya, Nadya dan Alfred kemudian menyerahkan tanggung jawab mereka ke salah satu karyawan kepercayaan mereka sebelum pergi.


***


“Ready?” di parkiran basemen hotel tempat orang tua mereka menginap, Alfred bertanya sekali lagi kepada Nadya sebelum mereka keluar dari mobil. Sebab, dia melihat wajah Nadya agak pucat saat mereka mendekati hotel tersebut.


Nadya hanya mengangguk dan terlihat memaksakan diri untuk tersenyum. Alfred yang sebenarnya sama gugupnya, dia meraih tangan Nadya dan kemudian memasangkan cincin berlian yang mereka pilih di salah satu toko perhiasan yang direkomendasikan Vina dan Evan.


Setelah keluar dari mobil, Alfred menggandeng tangan Nadya sedangkan tangan satunya lagi membawa bingkisan untuk kedua orang tua mereka masing-masing.


“It’s okay, semuanya akan baik-baik saja, tetap tenang,” dia berbicara dalam hati demi menenangkan dirinya yang sangat gugup; jantungnya sekarang ini bahkan berdetak cukup cepat, sama seperti ketika dirinya sedang lari pagi.


Aneh bukan? Padahal dia sudah cukup sering menemui orang tua Nadya dari semenjak mereka kuliah. Namun kali ini, dia seperti orang mati kutu. Dalam pikirannya sekarang ini hanyalah bagaimana agar imagenya tidak buruk di hadapan orang tua Nadya nanti.


Sampai di lantai 2; yang mana mereka janjian untuk bertemu di lounge hotel, Alfred semakin tidak bisa menahan rasa gugupnya. Kakinya bahkan juga sempat terasa lemas untuk sesaat sebelum memasuki area lounge. Untungnya, Nadya membantunya untuk berjalan dengan tegak agar tidak malu-maluin di depan orang tua mereka.


“Datang juga kamu, kenapa lama sekali,” ayahnya menjadi orang yang pertama menyapanya. Dan seperti biasa, wajah ayahnya masih saja cemberut setiap mereka bertemu. Berusaha untuk menjaga suasana tidak canggung, ia memaksa dirinya untuk tetap tersenyum dan menyapa kedua orang tua Nadya juga.


Ia sendiri sudah lupa kapan tepatnya Ayahnya mulai berubah. Mungkin semenjak dia memutuskan untuk mengambil Manajemen Bisnis untuk jurusan kuliahnya, dari pada mengikuti keinginan ayahnya yang memilih jurusan IT seperti kakak-kakaknya.


“Ayo duduk,” ibunya yang selalu menjadi penengah ketika ia dan ayahnya berselisih, menyuruhnya dan juga Nadya untuk duduk.


“Kita pesan saja dulu, bagaimana? Mumpung ini juga jam makan siang,” usul Ayahnya Nadya.


Meski ayahnya masih saja memasang wajah dingin, namun ia bersyukur karena ayahnya masih tahu batasan dan bersikap ramah ketika berbicara dengan orang tua Nadya. Dia tidak peduli kalo setelah ini Ayahnya  mungkin akan memarahinya atau apapun itu dengan mengungkit masa lalu yang dihubungkan dengan kehidupannya sekarang, yang tentu jauh dari keinginan ayahnya. Yang penting, dia hanya ingin pertemuan keluarga ini berlangsung kondusif.


“Jadi kapan kalian akan menikah?” orang tuanya Nadya langsung berbicara to the point setelah sedikit berbasa-basi singkat tadi.


“Tahun ini yang pasti om, tante,”


“Pah, mah,....”


“Kamu ngak usah ikut-ikutan Nad,” ibunya Nadya langsung menyela ketika Nadya hendak mengatakan sesuatu.


“Bukannya om, atau bapak kamu mau memaksa kalian ya. Tapi kita tahu sendiri kan kalian sudah dewasa. Kami cuma takut kalian nanti susah untuk punya anak kalau terus menunda-nunda karena terlena dengan bisnis kalian...” Ayahnya Nadya terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.


“Duh, langsung saja ke intinya kali pah,” Ibunya Nadya yang terlihat tidak sabaran dengan Ayahnya Nadya yang berbicara berbelit-belit, langsung memotong dan menatap Alfred dan juga Nadya, “Mama terus terang saja karena kita semua sudah cukup dekat, Nadya kan sudah mau kepala 3 umurnya, kami takut Nadya akan susah untuk mengandung nantinya,”


“Om, Tante, saya ngak pernah mencintai Nadya karena permasalahan seperti itu. Mempunyai keturunan memang penting, tapi kebahagiaan Nadya bagi saya yang paling penting sekarang ini. Jadi tolong jangan mengungkit hal seperti itu lagi,” ia menyela ketika melihat wajah Nadya berubah menjadi seperti orang yang sedang menahan malu. Sementara tangannya, saat ini sedang menggenggam dan mengelus tangan Nadya untuk menghiburnya.


Ia sendiri memang sedikit tahu mengenai hubungan Nadya dengan orang tuanya yang kurang baik sama seperti dirinya; sebab Nadya sendiri pernah cerita langsung, namun tidak terlalu dalam. Mungkin, itulah yang membuat mereka bisa sangat cocok, karena mereka mempunyai kesamaan; yakni sama-sama bermasalah dengan keluarga mereka.


Beruntung, meski sebenarnya perkataannya tadi menurut dia sendiri sedikit agak melewati batas, orang tua Nadya dan orang tuanya sendiri tampak tertegun. Dan juga, Tuhan seperti berpihak padanya kali ini. Karena setelah dia berbicara, tak berselang lama, makanan yang mereka pesan akhirnya datang dan orang tuanya adalah orang yang sangat menghargai makanan—karena mereka pernah susah dulu—sehingga walau semarah apapun, keluarga mereka tidak akan pernah bertengkar di depan makanan.


***


Selesai makan siang, sesuai dengan apa yang ia pikirkan, pembicaraan itu berlanjut di kamar hotel—yang dilengkapi ruang tamu pribadi—orang tua Nadya. Meski begitu, dia mulai sedikit agak santai, sebab tatapan dari orang tuanya maupun orang tua Nadya sudah tidak seserius saat mereka berada di lounge tadi.


“Bagaimana kondisi restoran kalian berdua?” Ayahnya menjadi orang yang pertama berbicara,


“Ba.. Baik. Cukup lancar saja belakangan ini, pemasukannya juga sudah mulai stabil,” dia menjawab dengan hati-hati,


“Syukurlah kalau begitu, tampaknya anak kita berdua cukup bisa menghidupi diri mereka masing-masing,” timpal ayahnya Nadya,


“Tapi mereka juga tidak bisa bersantai-santai, karena lengah sedikit saja usaha mereka bisa bangkrut kaya kebanyakan orang,”


Ia hanya bisa tersenyum masam saat mendengar perkataan Ayahnya yang tanpa basa basi seperti biasa dan langsung menusuk hati orang yang mendengarnya. Namun, dia juga sadar kalo perkataan Ayahnya itu memang ada benarnya.


“Tenang saja pah, om. Kami juga ngak akan sebodoh itu kok dan membiarkan usaha yang kami bangun susah payah sampai hancur,”


“Jadi kapan kamu mau lamaran sekarang? Ingat, kamu sudah bilang akan menikahi Nadya tahun ini,”


“Iya, pasti akan kulaksanakan tahun ini kok,”


“Ingat, laki-laki yang di pegang itu omongannya,”


“Iya pah, ngerti,”


Sejujurnya, dia tadinya sudah merasa sedikit lega karena berpikir ayahnya tidak akan pernah mengungkit soal pernikahan lagi.  Dan sebenarnya, perkataannya soal menikahi Nadya tahun ini juga hanya sebuah spontanitas saja. Dia tidak menyangka kalau perkataan asalnya tersebut akhirnya berbalik menempatkannya dalam posisi sulit.


“Oh iya, bagaimana kabarnya sih Evan?”


“Sudah keluar dari rumah sakit om, 3 hari yang lalu,”


“Sayang banget, om telat taunya, padahal kalian berempat teman akrab kan?”


“Ngak apa-apa om, dia juga ngak mau di jenguk, malu kelihatan kaya orang lemah katanya,”


“Kau ngak malu sama dia?”


“Kenapa lagi sih pah?”


“Yah, kau kan liat, dia sudah jadi calon-calon Direktur sekarang ayah dengar. Terus...”


“Please deh pah, dia punya hidupnya sendiri, aku juga punya kehidupannya sendiri. Dan kami ngak pernah iri dengan kehidupan masing-masing. Semua sudah ada jalannya masing-masing,”


“Ya tapi....”


“Kalo ngak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya permisi dulu, dari pada ujung-ujungnya kita hanya akan bertengkar,” ia yang sudah agak kesal kemudian berdiri dan memanggil Nadya dengan suara yang agak keras.


“DUDUK!!” Ayahnya membalas membentaknya dengan suara yang begitu keras.


“Saya pamit om,” ucapnya; dia menghiraukan perkataan ayahnya lalu menundukkan kepada Ayahnya dan juga Ayahnya Nadya kemudian meninggalkan ruangan tersebut tanpa menunggu Nadya.


Rasa kecewanya saat ini sudah tidak tertahankan lagi. Dan karena dia tidak mau bersikap tidak sopan di depan ayahnya Nadya—yang tadi tampaknya cukup terkejut—dia lebih memilih untuk meninggalkan ruangan tersebut saja dan menunggu Nadya di parkiran.


Ia tidak tahan dengan ayahnya yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan anak orang lain; yang kebanyakan merupakan teman atau relasi ayahnya. Hatinya terasa sakit, apalagi ketika dirinya dibandingkan dengan Evan yang merupakan sahabat terbaiknya.