
Mendengar cerita Evan, Vina hanya tersenyum sambil memandangi pemandangan kemacetan di jalan tol yang dilewatinya; yang sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Ia juga menjadi sedikit bernostalgia dengan masa-masa SMA-nya yang terbilang penuh warna.
“Ah, mengecewakan,” ujar Kamila, menyela Evan yang tengah bercerita soal pernyataan cinta mendadak di ruang musik, “Tapi, lu saat itu sudah jatuh cinta sama Evan atau belum Vin?” Kamila melanjutkan bertanya kepadanya.
“Hmm,” ia bergumam,
“Sudah, dia pernah cerita soalnya pas liburan kapan itu,” Evan menyela dan membeberkan fakta yang sebenarnya.
“Wah, dasar. Jadi lu berdua sebenarnya sama-sama malu-malu kucing ya,” ujar Kamila lagi setelah mendengar perkataan Evan barusan, “Jadi, kapan sebenarnya lu mulai jatuh cinta sama Evan?” Tanya Kamila kemudian.
Ia kemudian menatap Evan dan sedikit tersenyum sebelum menjawab, “Saat dengar dia main piano untuk pertama kalinya.”.
Dulu, waktu ia masih baru-baru berpacaran dengan Evan. Dirinya sangat malu untuk mengakui kalo sebenarnya ia sudah jatuh cinta lebih dulu kepada Evan.
***
Saat itu, dirinya merupakan salah satu fans Celine Dion; dan saat mendengar I am your Angel versi piano yang dimainkan oleh Evan, ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan semata-mata karena Evan memainkan lagu favoritnya, namun permainan Evan yang begitu mulus—mulai dari penekanan nada, kuat lembutnya setiap nada, permainan yang menggunakan feeling—yang membuat lagu yang dimainkan Evan bisa masuk ke dalam perasaannya saat itu dan langsung jatuh cinta dengannya.
Setelah menyetujui ajakan Evan soal kontes memasak, Evan secara mendadak mengundang untuk pergi ke rumahnya. Entah kenapa, ia merasakan hal itu terkesan seperti sudah di rencanakan. Namun yang lebih aneh lagi, rasa penasaran dalam dirinya—soal seperti apa kehidupan seorang pianis yang bertalenta seperti Evan—membuat ia mengiyakan ajakan Evan tersebut tanpa berpikir kembali.
“Hoi, gua dengar lu sedang berduaan sama cowok di ruang musik,” saat pikirannya sedang melayang kemana-mana, temannya yang bernama Christin, mengejutkannya dari belakang.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Christin, ia tidak terlalu terkejut dengan bagaimana cepatnya rumor apa yang terjadi di ruang musik tadi beredar; apalagi yang melihatnya tadi adalah Septian, salah satu laki-laki paling cerewet dan bermulut remes yang pernah ia kenal..
“Let me Guest, pasti dari Septian lagi kan? Dasar memang itu laki-laki satu….”
Belum selesai ia berbicara, Christin menggelitiknya dengan menusuk pinggangnya dengan menggunakan jari telunjuk, “Mau mengalihkan perhatian lu ya? Kagak penting infonya dari siapa, tapi yang lebih penting adalah siapa yang bersama lu tadi oneng,” ujar Christin kemudian.
Sadar kalau dirinya tidak bisa mengelak lagi, ia memilih untuk membuka mulut, “Tapi awas saja kalau lu comel,” sebelum mulai menceritakan soal Evan, terlebih dahulu ia mengancam Christin dengan tatapan paling galak dan mengintimidasi yang bisa ia ekspresikan.
“Iya, iya, jadi bagaimana? Siapa yang lagi berduaan dengan elu tadi?”
Meski agak tidak yakin apakah Christin akan betul-betul menepati janji atau tidak. Ia mulai bercerita soal bagaimana ia pertama kali melihat Evan di ruang musik saat itu. Saat itu, awalnya ia ingin ke kantin untuk makan siang. Namun, lantunan melodi piano yang sangat familiar di telinganya, membuat ia berhenti di depan ruang musik dan mengintip dari jendela kecil yang ada di pintu masuk.
Awalnya, ia berpikir kalau orang yang memainkan musik tersebut adalah salah satu anggota dari klub musik, sehingga ia masuk dengan niat untuk mengejutkan orang tersebut. Akan tetapi, saat dilihat semakin dekat dari belakang, ia tidak mengenal orang tersebut. Dan lagi, ia belum menjumpai permainan selembut dan sehalus orang tersebut.
Saat mengetahui nama pemain tersebut adalah Evan, ia langsung tertarik dengan laki-laki yang ada di depannya ini dan mengajak Evan untuk masuk ke dalam klub musik. Menurutnya, sangat disayangkan kalau bakat yang dimiliki Evan di sia-siakan tanpa diketahui oleh banyak orang banyak.
Dan sesudah itu, selama beberapa hari, layaknya seorang detektif, ia mencari semua info yang bisa ia dapatkan soal Evan. Seiring berjalannya waktu, ia semakin tertarik dengan Evan. Waktu yang mereka habiskan bersama; berlatih untuk pentas dan latihan rutin, membuat ia merasa nyaman dengan Evan dan mulai menyukai Evan secara diam-diam.
“What? Lu gila ya? Bisa-bisanya lu suka sama adek kelas,” ujar Christin yang tiba-tiba menyela di tengah cerita. Raut wajah yang terkejut, ia sudah menduga reaksi Chrstin tersebut. Yah, cukup wajar sih
“Tetap saja, lu ngak pikir gosip yang bakal beredar kalo lu berdua ketahuan? Ngak takut lu kalo diilang selera lu tuh rendahan?”
“Masa bodoh lah dengan mereka, hidup-hidup gua, kenapa mereka yang harus sewot coba?” ujarnya. Selama ini, ia menganggap kalau semua celotehan orang di sekitarnya yang bersifat negatif itu hanya sebagai angin lalu. Ia heran, kenapa orang yang asing baginya suka sekali mengomentari dirinya, padahal orang tuanya sendiri tidak pernah mempersalahkan soal dirinya mau dekat dengan siapa.
Tapi, ia berusaha terbiasa dengan hal itu; dengan membiarkan semua perkataan orang-orang yang dianggapnya tidak penting masuk telinga kanan dan keluar di telinga kirinya. Hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan, sebab ia tahu bahwa tidak ada gunanya menanggapi perkataan orang-orang seperti itu. Jika ditanggapi, yang ada malah akan menjadi perdebatan dan adu mulut tiada hujungnya.
Dan, ketika ia merasa dirinya sudah sangat stress dan tidak sanggup menahannya lagi, ia kerap kali membayangkan menonjok semua orang yang membuatnya kesal. Selain itu, ia juga sering pergi ke karaoke saat stress di kepalanya sudah memuncak dan tidak ada orang yang bisa ia tempati curhat.
“Yah, tapi tetap saja lu harus berpikir dua kali. Terutama soal bagaimana kondisi mentalnya Evan,”
“Kenapa malah mental Evan yang lu khawatirkan?” ia bertanya karena sedikit heran dengan perkataan Christin barusan.
“Simple saja, lu kan rebutan banyak orang. Dan ngak sedikit cowok yang sakit hati karena lu tolak. Harusnya lu pikirin bagaimana tertekannya dia menjadi omongan orang,”
Perkataan Christin tersebut menurutnya ada benarnya juga dan membuatnya sedikit tersadar soal bagaimana kepopulerannya selama ini bisa menjadi boomerang bagi orang yang ia cintai; meski sebenarnya ia sendiri suka dengan kepopuleran dirinya yang begitu bertahan lama. Namun, dia sendiri yakin akan satu hal: “Cinta sejati akan selalu menemukan jalannya di tengah berbagai kesulitan,”.
Sepulang sekolah, bagian drop off zone mendadak menjadi sangat ramai. Karena dirinya yang memang punya sifat penasaran, ia kemudian maju mendekat ke keramaian tersebut untuk melihat apa yang sedang terjadi. Beberapa penyababnya sebenarnya sudah terpikirkan di kepalanya; kalo bukan orang dengan paras luar biasa, maka pasti orang dengan kekayaan yang luar biasa.
Tebakannya pada akhirnya terbukti tidak salah, setelah sedikit bersusah payah menembus kerumunan—karena dirinya yang populer, beberapa orang memberinya ruang—sesosok Wanita dengan seragam sekolah yang bukan berasal dari sekolahnya sedang berdiri di depan mobil dengan kaca mata hitam yang membuat perempuan tersebut terlihat begitu menawan.
Saat dilihat dengan seksama, paras perempuan ini memang sangat rupawan dan sudah pasti menarik perhatian banyak lelaki. Meski begitu, ada beberapa bagian yang membuatnya menarik kembali penilaiannya tersebut. Salah satunya mungkin adalah penggunaan makeup yang terlalu berlebihan untuk seukuran anak SMA.
Baru saja ia berbalik hendak pergi setelah memuaskan rasa penasaran dalam dirinya, ia langsung menabrak seseorang saat akan melangkah menjauh dari kerumunan tersebut. “Kak Vina?” ia mendengar suara Evan memanggil namanya. Mengira itu cumalah fantasinya saja, ia berniat mengacuhkan khayalannya tersebut. Akan tetapi, seseorang kemudian menahannya. Dirinya terkejut ketika melihat kalo orang yang menahannya tersebut ternyata adalah Evan.
Karena terkejut, ia melangkah mundur dan hampir terjatuh karena tersandung sesuatu. Kejadian berikutnya, layaknya seperti di dalam drama-drama dimana tokoh laki-laki seolah terlihat tampan saat menangkap tokoh perempuan yang tersandung. Namun perbedaannya disini, tidak ada efek bunga-bunga atau efek aneh saat ia menatap Evan.
Jantungnya berdegup cukup kencang, karena meski wajah Evan tidak terlalu seperti pria tampan yang menyatakan cinta kepadanya selama ini, Evan tetap terlihat tampan di matanya. “Kakak ngak apa-apa kan?”.
‘Duh jangan panggil kakak dong’, ingin rasanya kata-kata tersebut terlontar keluar dari dalam mulutnya. Akan tetapi, akal sehat—atau mungkin bisa dibilang gengsinya sebenarnya—menahan dirinya untuk tidak membuat perasaannya saat ini terlalu kentara. Ia ingin kalau Evan yang menyatakan cinta lebih dulu.
“EVAN!” suara seorang perempuan juga memanggil Evan, dan ketika ia menengok. Dirinya cukup terkeut saat melihat kalo orang yang memanggil Evan sambi melambaikan tangan adalah perempuan yang sedang menjadi pusat perhatian saat ini.
“Kamu kenal sama perempuan itu?” spontan saja, ia langsung bertanya kepada Evan. Apalagi mobil yang ada di belakang perempuan tersebut adalah mobil mahal yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya.
“Ehm…”
“Hi honey,” sapa perempuan tersebut.
Ia terkejut bukan main dan tidak menyangka apa yang barusan di dengarnya, “What? Ho.. Honey?” ucapnya dalam hati. Saat ini, ia berusaha menahan dirinya untuk tidak meloncat ke dalam jurang kemarahan dan tetap pada akal sehatnya.