Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 2 : GETTING CLOSER (PART V)



Dengan penuh cemas, Evan menatap ponsel milik Nadya yang di layarnya menunjukkan sedang menghubungi Kak Vina. Dalam hatinya, ia terus berharap agar Kak Vina tidak mengangkat telepon tersebut. Dan lagi-lagi, semua tidak berjalan sesuai dengan harapannya; setelah 2 kali tidak di jawab, Kak Vina mengangkat telepon yang ketiga dari Nadya, bahkan sebelum dering pertama.


“Halo,” sapa Kak Vina lewat telepon yang di loudspeaker oleh Nadya; yang sepertinya sengaja di lakukannya untuk memanaskan suasana. Evan yang frustrasi, ingin langsung berteriak. Namun sayang, Alfred yang berada dibelakangnya, membekap mulutnya.


“Ngak kok? Kebetulan ngak ada guru juga, kenapa?”


Senyuman di wajah Nadya sekarang menjadi lebih lebar dari sebelumnya, tatapan matanya seakrang seperti sedang merencanakan sesuatu, “Ah, ini, saya mau tanya. Kakak liat Evan ngak? Soalnya saya cariin dari tadi dia belum kembali ke kelas sehabis dari lantai kelas 12.” Di saat seperti ini, ia hanya bisa pasrah dan berharap Kak Vina tidak membocorkan kalau mereka tadi berduaan di ruang musik.


“Oh, si Evan,” saat Kak Vina menyebut namanya, jantungnya menjadi berdegup kencang, ia terus berdoa agar Kak Vina tidak berkata jujur. Apalagi saat ini, Nadya yang begitu serius dengan tatapanny; sudah seperti wartawan yang siap untuk menulis berita yang akan menarik perhatian banyak orang. “Saya juga nga tahu, terakhir liat tadi kayanya di lantai 3 deh. Itu pun cuma liat sekilas,” jawaban Kak Vina tersebut membuatnya sangat lega.


Berbeda dengan Evan, Nadya yang terlihat kecewa langsung mematikan loudspeaker dan menjawab telepon dari Kak Vina agak jauh darinya. Alfred yang tadinya membekap mulut Evan sekarang sudah melepaskan tangan baunya tersebut dari mulut Evan. Bersamaan dengan itu, Nadya kembali dengan wajah yang terlihat bete karena rencananya tidak berjalan lancar.


Namun ditengah semua itu, Evan sendiri sangat bahagia, karena ternyata Kak Vina cukup pengertian dengan tidak membocorkan apa yang mereka berdua lakukan di ruang musik tadi. Meski bahagia karena Nadya dan Alfred yang tidak mendapatkan apa yang mereka berdua mau, dia tetap tidak mau memprovokasi kedua orang di depannya ini; dan lebih memilih untuk berjalan agak jauh di belakang mereka berdua.


***


Selama 3 hari berikutnya, pikirannya terbagi menjadi dua; antara memikirkan pelajaran, menggubah lagu dari kaK Vina. Soal pelajarannya, mungkin tidak terlalu banyak kesusahan yang dia hadapi, apalagi pelajarannya tergolong cukup gampang. Oleh karenanya, dirinya jadi bisa lebih memfokuskan diri ke menggubah lagu Kak Vina—yang memang tergolong cukup sulit, karena dia harus mengubah cukup banyak nada jika ingin terdengar bagus—setiap harinya.


Hari ini, sepulang sekolah, is singgah di sebuah kafe tempat dimana dia biasa singgah ketika mencari insipirasi ketika dia menemukan kebuntuan saat mengerjakan sesuatu. Sambil mendengarkan musik favoritnya dari era 90’an—terbilang jadul memang untuk anak seusianya, namun menurutnya lagu jaman dulu mempunyai musik yang lebih baik dalam menyentuh perasaan—dia memejamkan matanya dan mendengar lantunan melodi yang bisa menginspirasinya.


Tidak lama berselang—sekitar beberapa menit—dia merasakan telepon yang ditaruhnya diatas meja, bergetar. Dia awalnya ingin mengabaikan panggilan tersebut. Namun, saat matanya melirik dan melihat nama Kak Vina terpampang di layarnya, dia langsung melepas headset di telinganya dan mengangkat teleponnya, “Halo kak,” ucapnya.


Jantungnya berdetak sedikit kencang saat menunggu balasan dari Kak Vina; lututnya saat ini bergerak naik turun di bawah meja. Ia sendiri juga heran kenapa ia bersikap seperti ini, padahal dia dan Kak Vina hanya berbicara lewat telpon. Entah bagaimana kalau bertemu langsung di luar sekolah; ia tidak bisa membayangkan bagaimana gugup dirinya jika hal itu benar-benar kejadian.


“EVAN?” anehnya, entah karena ia terlalu memikirkan soal bertemu langsung dengan Kak Vina; ia sekarang sampai bisa mendengar suara Kak Vina di dalam kepalanya. Khayalan yang di rasanya agak berlebihan tersebut membuat dirinya sampai senyum-senyum sendiri dan menghela nafas. “Hei!” ia terkejut meja di depannya di gebrak oleh seseorang.


Ia kemudian menengok ke atas untuk melihat siapa yang sudah menggebrak mejanya sampai membuatnya terkejut. Namun, ia menjadi lebih terkejut saat melihat kalau yang menggebrak mejanya adalah Kak Vina, “K..Kak Vina,” keinginannya untuk mengeluarkan sumpah serapah, hilang dalam sekejap dan digantikan dengan perasaan gugup yang tiba-tiba ia rasakan sekarang.


“Loh, kebetulan banget? Kamu sering nongkrong di sini?”


“I..iya kak,” jawabnya dengan sedikit terbatah-batah; yang dia sendiri tidak tahu alasannya kenapa dia bisa sampai segugup ini saat menghadapi Kak Vina. Sementara Kak Vina mengambil tempat duduk di hadapannya, pikirannya sekarang sedang bercabang kemana-mana. Ia bingung harus mengangkat topik apa yang harus dia bicarakan.


“Wah, kebetulan banget kita berdua bisa ketemu kaya gini. Apa jangan-jangan kita ditakdirkan satu sama lain ya?”


***


Present Time


‘Takdir’, ia awalnya tidak mempercayai hal tersebut. Apalagi waktu itu  Vina merupakan orang yang cukup populer di sekolah. Bisa berada cukup dekat dengan Vina saja terasa seperti sebuah keajaiban baginya. Tidak peduli berapa kalipun ia memikirkan kata-kata Vina saat mereka hangout secara tidak sengaja untuk pertama kalinya; tetap saja masih terasa seperti sebuah keajaiban ia bisa berpacaran dan sekarang akan menikah dengan Vina.


“Wait, jadi selama ini elu yang mengungkapkan cinta duluan?” Kamila—teman kampus yang sekaligus menjadi assisten pribadi Vina saat ini—langsung menyodori pertanyaan tersebut begitu mereka bertiga masuk ke dalam mobil milik Vina sambil melirik ke arahnya dengan mengedipkan mata kanannya.


Hubungannya dengan Kamila bisa dibilang cukup unik; ia pada awalnya mengira Kamila ada seorang lesbian. Cukup gila bukan? Akan tetapi, dugaannya tersebut bukanlah tanpa alasan. Sebab, pertama kali ia bertemu dengan Kamila adalah pada saat Kamila dan Vina sedang melakukan pentas seni yang kebetulan saat itu Vina dan Kamila terlihat cukup menempel layaknya seorang sepasang kekasih; yang belakangan dia ketahui kalo saat itu sebenarnya mereka berdua sedang berperan sebagai saudari kembar.


Kesalahpahaman tersebut pun berlangsung cukup lama, sekitar 6 bulan lamanya sebelum akhirnya Vina menceritakan soal peran yang dia dan Kamila ambil. Salah satu yang paling berbekas mungkin adalah ketika mereka bertiga hangout untuk pertama kalinya; yang itupun karena terpaksa sampai akhirnya Kamila bisa ikut. Ia dengan teganya secara diam-diam meninggalkan Kamila sendirian saat mereka bertiga masuk ke dalam wahana rumah hantu. Beruntung, saat itu Vina menyadari hal tersebut dan membawa mereka bertiga ke restoran lalu berbicara cukup lama soal akar kesalahpahaman antara dirinya dan Kamila.


Dengan penuh cemas, Evan menatap ponsel milik Nadya yang di layarnya menunjukkan sedang menghubungi Kak Vina. Dalam hatinya, ia terus berharap agar Kak Vina tidak mengangkat telepon tersebut. Dan lagi-lagi, semua tidak berjalan sesuai dengan harapannya; setelah 2 kali tidak di jawab, Kak Vina mengangkat telepon yang ketiga dari Nadya, bahkan sebelum dering pertama.


“Halo,” sapa Kak Vina lewat telepon yang di loudspeaker oleh Nadya; yang sepertinya sengaja di lakukannya untuk memanaskan suasana. Evan yang frustrasi, ingin langsung berteriak. Namun sayang, Alfred yang berada dibelakangnya, membekap mulutnya.


“Ngak kok? Kebetulan ngak ada guru juga, kenapa?”


Senyuman di wajah Nadya sekarang menjadi lebih lebar dari sebelumnya, tatapan matanya seakrang seperti sedang merencanakan sesuatu, “Ah, ini, saya mau tanya. Kakak liat Evan ngak? Soalnya saya cariin dari tadi dia belum kembali ke kelas sehabis dari lantai kelas 12.” Di saat seperti ini, ia hanya bisa pasrah dan berharap Kak Vina tidak membocorkan kalau mereka tadi berduaan di ruang musik.


“Oh, si Evan,” saat Kak Vina menyebut namanya, jantungnya menjadi berdegup kencang, ia terus berdoa agar Kak Vina tidak berkata jujur. Apalagi saat ini, Nadya yang begitu serius dengan tatapanny; sudah seperti wartawan yang siap untuk menulis berita yang akan menarik perhatian banyak orang. “Saya juga nga tahu, terakhir liat tadi kayanya di lantai 3 deh. Itu pun cuma liat sekilas,” jawaban Kak Vina tersebut membuatnya sangat lega.


Berbeda dengan Evan, Nadya yang terlihat kecewa langsung mematikan loudspeaker dan menjawab telepon dari Kak Vina agak jauh darinya. Alfred yang tadinya membekap mulut Evan sekarang sudah melepaskan tangan baunya tersebut dari mulut Evan. Bersamaan dengan itu, Nadya kembali dengan wajah yang terlihat bete karena rencananya tidak berjalan lancar.


Namun ditengah semua itu, Evan sendiri sangat bahagia, karena ternyata Kak Vina cukup pengertian dengan tidak membocorkan apa yang mereka berdua lakukan di ruang musik tadi. Meski bahagia karena Nadya dan Alfred yang tidak mendapatkan apa yang mereka berdua mau, dia tetap tidak mau memprovokasi kedua orang di depannya ini; dan lebih memilih untuk berjalan agak jauh di belakang mereka berdua.


***


Selama 3 hari berikutnya, pikirannya terbagi menjadi dua; antara memikirkan pelajaran, menggubah lagu dari kaK Vina. Soal pelajarannya, mungkin tidak terlalu banyak kesusahan yang dia hadapi, apalagi pelajarannya tergolong cukup gampang. Oleh karenanya, dirinya jadi bisa lebih memfokuskan diri ke menggubah lagu Kak Vina—yang memang tergolong cukup sulit, karena dia harus mengubah cukup banyak nada jika ingin terdengar bagus—setiap harinya.


Hari ini, sepulang sekolah, is singgah di sebuah kafe tempat dimana dia biasa singgah ketika mencari insipirasi ketika dia menemukan kebuntuan saat mengerjakan sesuatu. Sambil mendengarkan musik favoritnya dari era 90’an—terbilang jadul memang untuk anak seusianya, namun menurutnya lagu jaman dulu mempunyai musik yang lebih baik dalam menyentuh perasaan—dia memejamkan matanya dan mendengar lantunan melodi yang bisa menginspirasinya.


Tidak lama berselang—sekitar beberapa menit—dia merasakan telepon yang ditaruhnya diatas meja, bergetar. Dia awalnya ingin mengabaikan panggilan tersebut. Namun, saat matanya melirik dan melihat nama Kak Vina terpampang di layarnya, dia langsung melepas headset di telinganya dan mengangkat teleponnya, “Halo kak,” ucapnya.


Jantungnya berdetak sedikit kencang saat menunggu balasan dari Kak Vina; lututnya saat ini bergerak naik turun di bawah meja. Ia sendiri juga heran kenapa ia bersikap seperti ini, padahal dia dan Kak Vina hanya berbicara lewat telpon. Entah bagaimana kalau bertemu langsung di luar sekolah; ia tidak bisa membayangkan bagaimana gugup dirinya jika hal itu benar-benar kejadian.


“EVAN?” anehnya, entah karena ia terlalu memikirkan soal bertemu langsung dengan Kak Vina; ia sekarang sampai bisa mendengar suara Kak Vina di dalam kepalanya. Khayalan yang di rasanya agak berlebihan tersebut membuat dirinya sampai senyum-senyum sendiri dan menghela nafas. “Hei!” ia terkejut meja di depannya di gebrak oleh seseorang.


Ia kemudian menengok ke atas untuk melihat siapa yang sudah menggebrak mejanya sampai membuatnya terkejut. Namun, ia menjadi lebih terkejut saat melihat kalau yang menggebrak mejanya adalah Kak Vina, “K..Kak Vina,” keinginannya untuk mengeluarkan sumpah serapah, hilang dalam sekejap dan digantikan dengan perasaan gugup yang tiba-tiba ia rasakan sekarang.


“Loh, kebetulan banget? Kamu sering nongkrong di sini?”


“I..iya kak,” jawabnya dengan sedikit terbatah-batah; yang dia sendiri tidak tahu alasannya kenapa dia bisa sampai segugup ini saat menghadapi Kak Vina. Sementara Kak Vina mengambil tempat duduk di hadapannya, pikirannya sekarang sedang bercabang kemana-mana. Ia bingung harus mengangkat topik apa yang harus dia bicarakan.


“Wah, kebetulan banget kita berdua bisa ketemu kaya gini. Apa jangan-jangan kita ditakdirkan satu sama lain ya?”


***


Present Time


‘Takdir’, ia awalnya tidak mempercayai hal tersebut. Apalagi waktu itu  Vina merupakan orang yang cukup populer di sekolah. Bisa berada cukup dekat dengan Vina saja terasa seperti sebuah keajaiban baginya. Tidak peduli berapa kalipun ia memikirkan kata-kata Vina saat mereka hangout secara tidak sengaja untuk pertama kalinya; tetap saja masih terasa seperti sebuah keajaiban ia bisa berpacaran dan sekarang akan menikah dengan Vina.


“Wait, jadi selama ini elu yang mengungkapkan cinta duluan?” Kamila—teman kampus yang sekaligus menjadi assisten pribadi Vina saat ini—langsung menyodori pertanyaan tersebut begitu mereka bertiga masuk ke dalam mobil milik Vina sambil melirik ke arahnya dengan mengedipkan mata kanannya.


Hubungannya dengan Kamila bisa dibilang cukup unik; ia pada awalnya mengira Kamila ada seorang lesbian. Cukup gila bukan? Akan tetapi, dugaannya tersebut bukanlah tanpa alasan. Sebab, pertama kali ia bertemu dengan Kamila adalah pada saat Kamila dan Vina sedang melakukan pentas seni yang kebetulan saat itu Vina dan Kamila terlihat cukup menempel layaknya seorang sepasang kekasih; yang belakangan dia ketahui kalo saat itu sebenarnya mereka berdua sedang berperan sebagai saudari kembar.


Kesalahpahaman tersebut pun berlangsung cukup lama, sekitar 6 bulan lamanya sebelum akhirnya Vina menceritakan soal peran yang dia dan Kamila ambil. Salah satu yang paling berbekas mungkin adalah ketika mereka bertiga hangout untuk pertama kalinya; yang itupun karena terpaksa sampai akhirnya Kamila bisa ikut. Ia dengan teganya secara diam-diam meninggalkan Kamila sendirian saat mereka bertiga masuk ke dalam wahana rumah hantu. Beruntung, saat itu Vina menyadari hal tersebut dan membawa mereka bertiga ke restoran lalu berbicara cukup lama soal akar kesalahpahaman antara dirinya dan Kamila.