Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 3 : JADIAN? (PART VII)



‘Dasar bucin’ pikiran Vina meneriaki jantungnya yang muai berdetak agak cepat hanya karena skinship singkat seperti itu. Ia bahkan bisa merasakan area sekitar wajahnya yang terasa agak panas. Pikirannya juga menjadi sedikit agak liar; kissing scene, dan adegan mesra di dapur yang biasa ada di dalam drama terlintas di pikirannya.


“Tant, liat itu,” Silvia yang melihat hal itu, berbisik kepada Tante Janet. Maksud hati dia ingin Tante Janet menegur dan memisahkan Evan dan Vina, namun Tante Janet malah memuji keserasian Vina dan Silvia. Hal itu malah membuat dirinya sedikit kesal. Dalam hatinya sekarang ini dia bertanya-tanya, ‘Apa yang disukai Evan dari Vina?’.


Kejadian skinship barusan, juga membuat Evan tampak agak canggung dan tidak seleluasa tadi dalam bergerak, Dia menjadi sedikit lebih berhati-hati agar tidak terjadi skinship seperti tadi; yang mungkin akan membuatnya melakukan sesuatu di luar keinginannya jika hal tersebut terjadi lagi. Dia tidak ingin dirinya di cap negatif oleh Vina sebagai laki-laki yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan.


“Jadi, setelah itu diapain?” tidak mau suasana terus berada dalam kecanggungan, Evan mencoba bertanya kepada Vina yang tampak sedang sibuk mencuci beberapa daun jeruk. Sementara dia sendiri sedang memblender merica dan beberapa bumbu lainnya seperti yang disuruhkan Vina sebelumnya.


“Ditumis, kamu bisa kan?”


Evan berpikir sejenak, dan dengan cepat mengambil tablet—yang memang selalu ada di meja dapur dan biasa digunakan oleh Ibunya ketika mencari resep—dan mencari panduan cara menumis di internet. “Bisa dong,” jawabnya dengan sepercaya diri mungkin; padahal dalam hatinya ia sedikit ragu-ragu, ‘prakteknya tidak akan sesulit itu kan?’


Beberapa saat berlalu, Vina yang sekarang ini sedang memotong ayam di depannya menjadi ukuran yang agak kecil, sesekali dia mengecek keadaan Evan untuk melihat apakah semuanya berjalan lancar atau tidak. Jika dilihat sekilas; cara Evan menggoyangkan spatula kayunya memang benar dan baunya sih juga memang harum, namun ada sedikit keraguan dalam hatinya apakah Evan melakukan step by step dari awal dengan benar.


“Ingat, jangan sampai gosong,” ia hanya bisa mengingatkan Evan, dan fokus dengan ayam di depannya.


“Tenang saja kak, Everything under my control,”


“Awas ya kalau hasilnya ngak enak ntar,”


“Ya ellah kak, namanya juga baru pertama kali. Pasti tidak akan langsung sempurna lah,”


Jawaban Evan membuatnya sedikit agak senang karena suasana diantara mereka berdua tidak secanggung tadi. Evan sekarang tidak hanya tampak lebih santai dan lebih bebas berbicara kepadanya, namun juga sudah berani sedikit lebih mendekat kepadanya.


“Memangnya kenapa kamu sampai ngajak kakak ikut lomba memasak?” merasa situasi sekarang sudah lebih baik; dimana dia dan juga Evan sudah tidak canggung lagi. Di samping itu, meski ia sedikit penasaran dengan rencana Evan. Karena sejujurnya, semua rencana Evan sekarang sudah dia ketahui; yang ujung-ujungnya pasti berujung dengan menyatakan perasaan.


“Kakak sudah tahu jawabannya kan? Kenapa masih bertanya?” suasana mendadak berubah menjadi hening setelah Evan menjawab pertanyaan Vina.


Dia berpikir sejenak soal apa yang harus diucapkannya, sebelum akhirnya mulai berbicara, “Kalo kakak jawab ‘iya’ bagaimana?” dia mengatakan hal itu sambil menutup matanya; karena ia malu mengakui perasaannya di momen yang seperti ini, rasanya seperti kurang pas saja mengakui perasaannya di tengah-tengah saat mereka sedang memasak.


Evan tampak terkejut dengan jawab Vina tersebut sampai-sampai dirinya bahkan menjatuhkan spatulanya ke dalam wajan. Dengan cepat, dia mengambil sendok dan berusaha menahan panasnya spatula tersebut ketika di angkat dari tumisan. “Maaf, tadi kakak bilang apa?” Meski dia sudah berusaha menenangkan pikirannya, akan tetapi alam bawah sadarnya tampak tidak berpihak kepadanya dan membuat dia tidak bisa menyembunyikan dirinya yang tersenyum.


“Ngak ada siaran ulang,” Vina tampak agak kesal; padahal yang sebenarnya, dia malu karena sudah menurunkan rasa gengsinya dan mengungkapkan perasaannya.


Evan sebenarnya tadi sudah mendengar apa yang dikatakan Vina, namun dia sengaja sedikit menjahili Vina sekaligus untuk meyakinkan dirinya tidak salah dengar, “Kalau begitu, mulai hari ini jadi hari pertama kita,” ujarnya kemudian namun tidak mendekat ke posisi Vina; karena dia tahu, kalau sekarnag ini mereka sedang diawasi oleh tukang gosip—Tante Janet dan Silvia—yang pasti akan langsung menelpon orang tuanya dan memberitahukan apa yang sedang terjadi sekarang.


Silvia, meski dirinya sedang berbicara dengan tante Janet. Matanya tidak bisa untuk tidak melirik ke arah Evan dan Vina yang sudah beberapa kali ia tangkap senyum-senyum sendiri sedari tadi. Dan di saat ini, dia semakin heran, ‘Apa yang Vina bisa, sedangkan dirinya tidak bisa?’.


“Hei, kenapa kamu bengong?” Tante Janet menangkap basah Silvia yang sedang melirik ke arah Evan dan Vina—dan ini bukan yang pertama kalinya—sembari memasang tatapan seperti orang yang sedang cemburu.


“Hah?” Silvia seperti orang yang baru tersadar dari lamunannya, “Ngak kok tante,” lanjutnya sambil memasang muka tersenyum—yang sebenarnya dipaksakan—untuk mengelak dari Tante Janet.


Akan tetapi; ‘Semakin tua seseotang, semakin tinggi pula pengalaman hidupnya’, Tante Janet tidak semudah itu untuk di kelabui. Sebagai seorang wanita, dia paham betul kalo tatapan tadi adalah tatapan cemburu. Namun, Tante Janet lebih memilih untuk tidak terlalu menggali terlalu dalam hal tersebut dengan serius. Sebaliknya, dia lebih memilih untuk menggoda Silvia, “Kenapa? Kamu nyesel selama ini nolak perjodohan dengan Evan kan?” ucapnya; alih-alih langsung to the point, dia memilih bercanda soal perjodohan yang selama ini Silvia dan Evan sama-sama menolak.


Reaksi Silvia yang hanya diam saja dan menatap kosong ke arah Evan dan Vina secara diam-diam sudah cukup bagi Tante Janet untuk menilai apa yang sedang terjadi di depannya saat ini. “Sudahlah, lupakan rasa cemburumu itu, ngak ada gunanya,” ujarnya, berusaha menasehati Silvia. Karena, dia sendiri sudah melihat banyak orang yang hancur karena rasa cemburu. Normal memang bagi semua orang untuk merasakan kecemburuan. Akan tetapi, jika perasaan itu sampai menguasai pikiran seseorang, maka orang itu pasti akan menghancurkan dirinya sendiri secara perlahan.


Silva merasa sedikit tidak terima dengan perkataan Tante Janet tersebut, dia kemudian mengepalkan tangannya seperti menahan emosi yang dia rasakan dan mulai meluapkan perasaannya, “Memangnya apa sih yang dipunyai Vina, tapi aku tidak punya? Padahal dari tadi aku liat, dia itu termasuk biasa-biasa saja, tidak ada yang terlihat spesial? Dan…”


Melihat mata Vina yang sudah mulai dikuasai oleh kecemburuan, Tante Janet langsung memegang tangan Vina yang sekarang dikepal cukup kuat sampai-sampai uratnya sedikit terlihat. “Enough, kamu akan hancur kalau begitu. Cinta itu bukan sesuatu yang diukur seperti itu. Cinta itu sesuatu yang kamu rasakan saat melihat orang lain. Kadang bisa menghancurkan, namun terkadang juga bisa memberikan kekuatan bagi orang lain,” ucapnya sembari mengelus tangan Silvia.


Meski hati kecilnya menyadari bahwa kata-kata Tante Janet memang betul adanya, emosi dan perasaan cemburu yang ada dalam diri Silvia tetap saja tidak bisa melepaskan rasa cemburunya untuk saat ini. Akan tetapi, dia juga tidak mau terlalu menunjukkannya dan malah mendengar ceramah dari Tante Janet. Oleh karena itu, ia pura-pura tersenyum dan mengiyakan nasehat Tante Janet tersebut dengan ramah. Padahal dalam pikirannya, dia sedang sibuk memikirkan bagaimana cara untuk memisahkan Evan dan Vina.