
“Wait, jadi maksudnya, lu duluan yang menyatakan cinta?” Kamila langsung memotong di sela-sela cerita dan bertanya langsung ke Vina ketika mereka sedang berjalan menuju apartemen milik Vina. Karena selama ini, Vina memang terkenal menjadi orang yang selalu diincar oleh banyak pria dari berbagai kalangan. Namun, semua lelaki tersebut selalu saja tidak digubris sama sekali oleh Vina; yah, selain bagus demi popularitas di mesin pencari, juga bagus untuk menjaga namanya agar tidak hilang dari ingatan penggemarnya.
“Ya begitulah, selama ini emang dia aja yang gengsi,” ujar Evan dengan cepat menjawab pertanyaan Kamila sebelum Vina membantahnya.
“Iya, tapi secara teknis kan kamu yang duluan kecoplosan di ruang musik,” meski apa yang dikatakan Evan memang benar—karena memang begitu adanya—dia tetap saja tidak mau mengakuinya terlalu terang-terangan walaupun hal itu sudah 11 tahun yang lalu.
Begitu mereka bertiga memasuki apartemen milik Vina, setelah pintu ditutup dan Evan akan menyalakan lampu. Mereka dikagetkan oleh suara terompet bersamaan dan sebuah suara letusan yang diiringi bersamaan dengan taburan pernak-pernik kertas warna warni di atas kepala mereka.
“WELCOME HOME,” suara dari beberapa orang yang cukup familiar di telinga Vina dan Evan menyambut mereka.
Dan betul saja, setelah Vina berhasil menjaga dirinya untuk tidak terjatuh saat mundur beberapa langkah karena kaget, dia bisa melihat semua wajah familiar dari teman-temannya dan juga Andre saat SMA; Christin, Angel, Liam, Nadya dan Alfred. Tak lupa juga, beberapa orang dari agensinya hadir disitu dengan wajah tersenyum lebar.
“Wah, makin tambah glowing saja superstar kita satu ini,” ucap Alfred yang terlihat agak lucu karena topi pesta di kepalanya yang bergambar hello kitty—yang memang karakter favoritnya Vina—sedangkan tangan kanannya memegang bungkusan kado yang luarnya juga berwarna pink dan mempunyai motif hello kitty.
“Ya iyalah, habis dapat Grammy pasti bakal bikin orang senang luar biasa lah. Makanya dia tambah cantik,” timpal Christin yang menatap Vina dengan senyum lebar di wajahnya. Matanya memancarkan kekaguman terhadap Vina sahabatnya yang berhasil menggapai impiannya untuk mendapatkan Grammy. Dia juga termasuk salah satu orang yang tahu betul bagaimana perjuangan keras Vina agar bisa mendapatkan penghargaan paling bergengsi untuk semua penyanyi di dunia.
“Ayolah, jangan biarkan bintang kita berdiri terlalu lama. Minggir lu semua,” canda Evan yang langsung mengangkat tangannya dan menyuruh semua orang yang berkumpul di depan jalan menuju ruang tamu untuk minggir.
Baru berjalan beberapa langkah, mood Evan sedikit berubah ketika matanya melihat seseorang yang kurang dia sukai; Giovani. Akan tetapi, demi menjaga suasana agar tidak ikut canggung, dia mengesampingkan perasaan pribadinya tersebut dan tetap berjalan ke arah Giovani; karena kebetulan orang itu berdiri di dekat sofa.
“Hai,” sapa Evan dengan singkat sementara matanya mengawasi bagaimana tatapan mata Giovani ke arah Vina yang sedang akan duduk di sofa.
Ketidaksenangannya terhadap Giovani sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang terdekat Evan dan Vina. Semuanya bermula ketika Giovani—yang juga seorang aktor yang cukup terkenal—secara terang-terangan memuji Vina dalam beberapa wawancaranya.
Tidak sampai disitu, pernah suatu waktu, Giovani melakukan semacam PDKT ke Vina di suatu acara penghargaan. Hal itu tentu saja membuatnya geram—ditambah lagi dengan hebohnya media yang terus memberitakan soal Vina dan Giovani—dan hampir membuat dirinya mengungkapkan hubungannya dengan Vina karena dibakar api cemburu.
“Tenang saja. Memangnya kamu pikir dia kaya kamu? Asal ceplas ceplos saja?” Nadya yang percaya sepenuhnya dengan Evan, menyuruh Alfred untuk tidak usah memikirkan hal tersebut. Apalagi, mengingat Evan termasuk orang yang cukup bijaksana dintara mereka bertiga. Dan juga, ada Vina yang menurutnya cukup mampu mengontrol Evan dalam keadaan apapun.
Orang-orang yang ada di ruangan itupun tampak tidak memperhatikan momen pertemuan Evan dan Giovani tersebut. Selain karena memang orang-orang di agensi Vina sudah tahu soal Evan dan Vina, sikap Vina yang ramah terhadap semua orang dan tahu membatasi diri dalam berinteraksi juga menjadi faktor orang-orang tidak terlalu menganggap serius rumor Giovani tersebut.
“Congrats ya, both of you,” ujar Giovani dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya; seolah seperti tidak ada masalah diantara mereka bertiga.
Vina yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Evan, sangat paham jika Evan bersikap seperti sekarang ini—begitu waspada seperti pemburu yang mengawasi hewan buruannya dengan seksama—karena kejadian yang melibatkan mereka bertiga memang cukup bisa memancing emosi seseorang. Dan jika dia berada dalam posisi Evan pun, ia mungkin tidak akan bisa menahan emosinya sebaik yang Evan lakukan selama ini.
“Thanks ya, mana pasangan lu yang sempat santer di beritakan?” tak mau suasana terus menerus tegang seperti sekarang, Vina mencoba mengalihkan topik dengan membicarakan aktris lain yang baru-baru ini sempat diberitakan dekat dengan Giovani.
“Oh, Julia? Ngak tahu juga tuh, banyak kesibukan dia. Dan juga, semua itu cuma rumor kali. Taulah media-media kampret sekarang kaya bagaimana. Terlalu kepo banget dengan urusan orang,” Giovani sedikit mengerutkan dahi dan memasang muka masam ketika menyebut kata ‘media’.
“Makanya, jadi orang tuh setia sama satu pasangan kaya gue. Jadi, fans dan public bakal nyerang wartawan yang nulis macam-macam,” tukas Vina sambil memegang tangan Evan sebelum menariknya untuk duduk dan tersenyum lebar ke arah Giovani.
Selama ini, dia bukannya tidak tahu soal perasaan Giovani yang terpendam dan diutarakan secara halus di setiap wawancara Giovani yang dibacanya. Akan tetapi, dia termasuk orang yang punya prinsip untuk tidak memusuhi atau menghindari seseorang secara terang-terangan, karena siapa yang tahu? Mungkin suatu saat dia akan membutuhkan bantuan Giovani di masa mendatang. Apalagi, status Giovani sebagai artis papan atas tidak boleh dipandang sebelah mata.
Namun sekarang, setelah keinginan terbesarnya tercapai—mendapatkan grammy—ia tidak peduli lagi dengan semua itu. Sekarang. Ia lebih ingin menjaga perasaan Evan yang selama ini ia sadari sudah cukup terluka dengan rumor-rumor yang beredar di media.
“Well, lo benar-benar beruntung Van, bisa dapat orangyang setia seperti dia,” ucap Giovani; wajahnya sekarang ini seperti habis menelan sesuatu yang begitu pahit. Memang terlihat seperti sedang tersenyum, tapi suaranya sedikit mengangdung suatu kekecewaan yang cukup besar.
Sementara Vina, Evan, dan Giovani terus bercengkarama dan terlihat akrab. Lain halnya dengan Kamila, dia dari tadi terus menatap Giovani dengan tatapan waspada. Terlebih lagi, selama ini dirinya menyimpan rapat-rapat bagaiamana Giovani mencoba mendekati Vina lewat dirinya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, beberapa di antaranya seperti mengandung ancaman tersembunyi.