
Setelah Kamila dan kedua orang tua Evan pergi, kini hanya tinggal Vina dan Evan saja berdua dalam kamar tersebut. Vina tidak langsung meluapkan isi hatinya dan membantu Evan yang meminta menurukan sandaran kepala tempat tidurnya.
“So, sudah berapa lama gua tertidur?” Evan bertanya saat Vina baru saja kembali dari toilet.
“Seminggu maybe,”
“Wah gila juga, entah seberapa banyak dokumen yang sudah menunggu aku di kantor sekarang,”
Evan sedikit memijat kepalanya yang agak pusing saat membayangkan tumpukan dokumen yang harus dia tangani dan tanda-tangani setelah ia masuk kantor nanti.
“Fokus aja dengan penyembuhanmu, ngak usah mikir yang lain-lain dulu,” Vina menasehati Evan yang memang cukup terkenal dengan sikap workaholic dan perfeksionisnya saat menyangkut dengan urusan pekerjaannya. Bahkan, pernah sekali Evan sampai jatuh sakit gara-gara mengejar kesempurnaan dalam mengerjakan artikel tentang perselngkuhan artis terkenal; yang ternyata adalah simpanan dari salah satu pengusaha kaya raya yang cukup terkenal karena image baiknya.
“Yah ngak bisa kaya gitu juga kali, karena bagaimanapun juga itu adalah tanggung jawabku sayang,”
“Yang nyuruh kamu buat mengabaikan itu siapa? Aku cuma bilang lebih baik kamu fokus dengan penyembuhanmu dulu. Baru setelah itu fokus kembali ke pekerjaan, itu aja kok. Kamu tau kan, ba....”
“Iya, iya. Aku paham kok,” Evan menyela, sebab dia sudah tau kemana arah pembicaraan dari Vina tersebut, dia kemudian mulai menanyakan soal kondisi Kento, dan pelaku yang tabrak lari yang menabrak mobilnya.
Sambil beres-beres kamar—mengingat besok atau lusa Evan sudah bisa pulang—Kamila mulai menjawab pertanyaan Evan satu persatu dan juga menceritakan bagaimana kecelakaan itu terkesan seperti sudah di rencanakan sebelumnya dengn teliti; setidaknya seperti itulah yang dilaporkan Alfred, yang sampai sekarang juga masih menemukan kebuntuan.
Dia memilih tidak menceritakan kalau semua informasinya itu berasal dari Alfred mengingat bagaimana carenya Evan terhadap orang-orang terdekatnya. Di samping itu, Alfred sendiri juga yang meminta semua keterlibatannya dirahasiakan; mungkin karena mereka bedua sudah tahu bagaimana reaksi Evan nantinya yang akan lebih memilih untuk tidak mencari dalang di balik semua ini.
“Dasar polisi-polisi payah itu, entah kenapa wartawan terkadang lebih punya banyak informasi daripada polisi,” Evan mengutarakan kekesalannya. Perkataannya tersebut didasarkan pada kenyataan, dimana polisi di negara mereka itu baru bertindak ketika suatu masalah sudah menjadi hal yang gawat atau viral di sosial media.
“Sudah, makanya lebih baik kamu istirahat dulu, supaya kamu bisa selidiki sendiri kalau mau,” ujar Kamila.
Mengapa dia tidak melarang Evan untuk menyelidiki hal berbahaya itu? Karena dia sudah cukup tahu dengan sifat Evan yang sulit untuk dilarang. Memang sih, dia tidak bisa memungkiri kalau kenekatan Evan karena pekerjaan sebagai wartawan terkadang berbuah artikel eksklusif yang sangat sukses. Akan tetapi, dia selalu cemas dengan keselamatan Evan—yang pada akhirnya sekarang terjadi juga—yang sangat keras kepala jika sudah teguh terhadap keputusannya.
“Awas aja kalau tuh orang sampi ku tangkap, bakl ku kasih pelajaran dia,”
Mendengar Evan yang sudah berapi-api seperti itu, Kamila hanya bisa geleng-geleng kepala. Namun, ada alasan dia tidak pernah melaran Evan terlalu banyak, karena Evan sudah berkorban begitu banyak untuk dirinya dan diam-diam mensupportnya saat masa-masa awal debutnya.
“Sudah istirahat aja pak detektif,” ujarnya sambil memperbaiki selimut Evan, “Bagaimana kamu mau nangkap penjahatnya kalau fisikmu aja lemah kaya begini,” tambahnya.
“Tapi thanks ya,”
“Buat apa?”
“Karena sudah meluangkan waktu untuk berada di sampingku selama ini,”
“Apaan sih, gombal lagi?”
“Kamu tuh ya, bisa ngak sih oura-pura tersipu atau feminim sedikit kek,”
“Entahlah, malahan aku merasa geli kalo kamu ngegombal kaya gitu. Mungkin karena kita sudah old couple kali ya?,” ucap Vina sembari berjalan mengambil laptopnya dan kembali duduk di samping kursi yang ada di tempat tidur Evan.
Kamila hanya terkekeh sejenak saat mendengar ucapaan Evan sebelum dia menjawabnya, “Minta izin sana sama Kamila,”
“Hah?”
“Sehabis kamu keluar dari rumah sakit, jadwalku bakal super padat karena aku absen semiggu,”
“Ya udah, bagaimana kalau kita umumkan aja hubungan kita. Lebih bagus kan? Gosipmu bakal langsung selesai, kita juga bisa show off di depan banyak orang,” Evan mengusulkan rencana terakhirnya; yang sebenarnya sudah terpikirkan semenjak dia memutuskan untuk menyelediki dalang dibalik goisp Giovani dan Vina.
“Duh, jangan nambah runyam dah, bisa-bisa ada rumor cinta segitiga lagi,”
“Hmm, iya juga sih,”
“Dan lagi pula, aku juga memang mau mengumumkan hubungan kita selepas album terakhirku, terserah mau dapat Grammy atau ngak,”
“Oh, jadi ada yang sudah nyerah?”
“Ngak, hanya saja aku sekarang lebih pengen menikmati hidup dari pada harus terlalu fokus dengan pekerjaan dan impianku saja,”
“Berarti kita sepemikiran, sekarang aku juga lebih pengen menikmati hidup, pengen fokus dengan bisnis restoranku sama Alfred dan Nadya,” Evan mengutarakan niatnya untuk resign dengan dalih berfokus berbisnis.
“Kalau begitu bersabarlah sedikit lagi, kalau kali ini juga masih gagal. Ya sudah, aku bakal ambil rehat panjang sekalian mencari isnpirasi,”
Walau agak senang mendengar Vina yang hendak rehat panjang, ada sedikit rasa kasihan dalam diri Evan ketika melihat Vina yang sudah bekerja begitu keras namun tetap saja belum mendapatkan apa yang dia idam-idamkan. Dan sayangnya lagi, apa yang diinginkan Vina tersebut begitu sulit untuk dia wujudkan karena berada jauh di luar kendalinya.
“Ya sudah, kamu fokus aja dulu dengan albummu sekarang, ngak usah mikirin yang lain dulu,” ucap Evan yang saat ini dalam dirinya sebenarnya sangan ingin memeluk Vina.
“Terima kasih ya sudah mau bersabar denganku selama ini,”
“Kalau begitu hadiahnya mana?” ujar Evan sambil memiringkan kepalanya sedikit; yang sebenarnya dia sengaja, karena meminta Vina untuk memberikan kecupan di pipi sebelah kanannya.
“Dasar,”
Vina, dengan senyuman seperti melihat anak kecil yang sedang ingin dimanja, berdiri sambil menaruh laptopnya di atas kursi tempat dia duduk dan berjalan menghampiri Evan untuk memberikan kecupan sesuai dengan permintaan Evan.
Akan tetapi, Evan yang sudah punya rencana terselubung, langsung memiringkan kepalanya kembali ketika bibir Vina sudah berada dalam jangkauannya. Dengan cepat dia menahan kepala Vina dengan tangannya dari belakang dan mengangkat kepalanya unutk mencium bibir Vina.
Vina yang kaget, langsung melangkah mundur beberapa langkah. Walau mereka sudah tergolong old couple, akan tetapi tindakan spontanitas Evan seperti ini saja masih bisa membuatnya sedikit tersipu.
“Thanks ya,” Evan menggoda dengan memasang senyuman jahil di wajahnya
“What?”
Tidak menyangka dirinya masih bisa tertipu dengan trick jadul itu, terbesit niat di pikirannya untuk memukul Evan yang langsung membelakanginya setelah ciuman tadi, namun masih sempat dihentikan oleh pikiran warasnya yang mengingatkan dirinya kalau Evan baru saja habis kecelakaan. Pada akhirnya, dia membiarkan kejadian itu berlalu dan kembali fokus dengan laptopnya; mendengarkan beberapa track yang dikirimkan oleh orang di agensinya sambil memikirkan lirik yang bagus.