
‘Apa yang harus gua katakan? Ayolah otak, pikirkan ide yang bagus sedikit kek’ ia bergumam dalam hati. Setidaknya, alasan yang ia katakan nanti harus bisa meyakinkan duo cerewet Alfred dan Nadya. Alfred mungkin bisa dibohongi dengan alasan simple dan cerita yang terdengar meyakinkan, namun Nadya tidak. Nadya, entah kenapa rasanya berbeda, orang itu seperti membaca pikiran orang lain hanya dengan tatapan mata saja. Entah dia memang pernah belajar ilmu psikologi atau sejenisnya, yang jelas Nadya cukup susah untuk dibohongi.
“Woah, tumben banget lu datang paling pagi,” Alfred yang baru saja datang langsung menyapanya begitu melewati pintu kelas.
‘Ah sial, kenapa harus cepat banget sih datangnya’ gumamnya kembali dalam hati saat melirik ke jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 06.30. Padahal ia sudah sengaja datang jam 6 pagi agar bisa dengan tenang memikirkan alasan yang bagus.
“Menghindari macet,” ia memakai kemacetan kota jakarta di pagi hari untuk menjawab pertanyaan Alfred. Sementara otaknya, masih terus memikirkan alasan saat dirinya ketahuan mengambil klub musik yang mana ada Kak Vina di dalamnya.
“Eh, lu mau ikutan Ekskull OSN Matematika ngak? Kemarin gua liat pendaftarannya sudah dibuka tuh,”
“Boleh. Masukin nama gua, lu dan Nadya, kalo dianya mau,” beruntung, Alfred tampaknya tidak curiga sedikit pun; atau mungkin belum curiga. Tapi, apapun itu, yang penting untuk saat ini, ia bisa sedikit bernafas lega.
“Lu yakin dia mau? Jangan ampe ngak, terus gua lagi yang kena getahnya. Tau sendiri kan dia kalo lagi marah kayak bagaimana? Bisa encok ini tulang semua dalam badan gue,” keluh Alfred.
Yah, meski ia sendiri memang belum pernah merasakan tendangan atau pukulan Nadya. Namun, sabuk hitam taekwondo yang di posting di akun FB-nya sudah bisa sebagai gambaran soal bagaimana sakitnya pukulan Nadya; meskipun ia yakin, kalau Nadya pasti hanya akan memukul tempat-tempat yang aman.
“Sudah, kasih masuk aja. Pasti tertarik lah. Orang dia cuma pintar di matematika kok. Pasti mau lah,” ia mengucapkan kata-kata tersebut dengan pedenya. Padahal, ia juga tidak tahu, apakah Nadya akan setuju nantinya atau tidak.
“Oke, gua pergi daftar sekarang. Awas aja lu kalo misalnya dia ngamuk,” ancam Alfred; yang ia tanggapi dengan anggukan dan menyuruh Alfred pergi dengan tangannya.
‘Ah, akhirnya pergi juga tuh satu cerewet’ ucapnya dalam hati sambil menghela nafasnya. Sementara menunggu bel tanda masuk berbunyi. Dia mengambil buku catatan yang biasa dipakainya untuk mencatat jadwal pelajarannya, tugas-tugas yang diberikan beserta deadlinenya, dan beberapa hal penting lainnya yang berhubungan dengan sekolah.
10 menit sebelum jam pelajaran pertama, kelas mulai ramai. Setiap orang yang melewati pintu pasti menyapanya dan juga Alfred. Ada satu kebaisaan unik Alfred yang selalu dilakukannya 3 hari belakangan secara berturut-turut; yakni meminum satu yakult setiap pagi. Entah apa maksudnya, namun ia tidak pernah menanyakan langsung kepada Alfred.
“HEEE!!” Nadya yang baru saja datang, sudah langsung menggebrak mejanya dan juga Alfred. Sorot mata yang siap melancarkan pukulan, sudah bisa membuat ia menabak apa yang di permasalahkan Nadya kali ini. “Lo berdua pasti yang nempel nama gua di pendaftaran anggota OSN kan? Ngaku ngak lo?!”
Yap, sudah sangat jelas, dugaannya cukup tepat. Ia juga tidak menyangka sih kalo Nadya yang top 3 OSN Matematika SMP tahun lalu menolak untuk masuk OSN lagi. Padahal, Nadya sendiri, menurutnya bisa meraih juara 1 tahun lalu jika waktu perngerjaan waktu itu ditambah 10 atau 20 menit; karena saat mereka bertiga berkumpul, waktu yang kurang banyak memang menjadi keluahan utamanya.
“I.. itu..”
“Tuh, si Alfred yang daftarin,” terpaksa, ia mengkhianati Alfred dengan menuduhnya. Alfred sempat menengok ke arahnya dan mempertanyakan tindakannya barusan. Namun saat ini, baginya bertahan hidup dengan menghindari emosi Nadya adalah segalanya. “Kalau begitu, kalian selesaikan saja urusan kalian, gue mau ke toilet dulu sebentar,” imbuhnya sembari beranjak dari kursinya hendak kabur dari situ. Sebelum pergi, ia sempat menepuk pundak Alfred untuk memberinya semangat.
“V.. Va.. Van,” dengan gelagapan; atau mungkin sebenarnya karena takut, Alfred memanggil namanya. Namun, ia memilih untuk pura-pura tidak mendengar dan mempercepat langkahnya meninggalkan kelas dan terus berjalan ke arah toilet yang berada di ujung koridor.
Ia sih sebenarnya agak sedikit kasihan dengan Alfred. Akan tetapi, tadi itu tidak ada jalan lain lagi selain mengorbankan temannya itu dan pergi meninggalkan calon TKP pembantaian. Demi mengulur waktu, dia sengaja sedikit berlama-lama beberapa menit sampai bel tanda masuk berbunyi. Saat berjalan kembali ke kelas pun, dia melambatkan langkahnya saat melihat teman-teman kelasnya; yang kebetulan bisa terlihat dari arah toilet, masih berada di luar ruangan.
Baru setelah melihat Pak Alves, guru fisika untuk kelas X; yang kebetulan masuk pertama di kelasnya hari ini sedang berjalan mendekati kelas mereka, ia mempercepat langkahnya dan tiba lebih dahulu dari Pak Alves.
“Wah, liat sih pengkhianat ini. Enak banget lu ya, habis ngorbanin gua kaya begitu terus langsung kabur seenaknya kaya ngak punya dosa,” Alfred; yang terlihat sedang mengelus-ngelus pingggang, menggerutu kepadanya saat ia akan duduk.
“Ya maaf, gua pikir dia bakal setuju. Lagian kan dia ngak punya keahlian lain seharusnya selain matematika. Alasannya apa ke lu sampai dia ngak mau ikut OSN?” Ia bertanya kepada Alfred. Selain memang karena dia cukup heran dengan keputusan Nadya, ia juga berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar Alfred berhenti mengeluh.
“Ngak tahulah, aneh alasannya,”
“Apaan memangnya?”
“Apa jangan-jangan di sudah punya pacar baru lagi?”
Sejujurnya, alasan Nadya sebenarnya cukup mengherankan dia sendiri. Hidup yang baru? Ia masih ingat apa yang dikatakan Nadya tahun lalu: ‘yaitu ingin masuk ke MIT University dengan prestas’. Dan satu-satunya cara untuk bisa melakukan itu, tentu dengan memenangkan setidaknya sekali saja kompetisi tingkat internasional agar namanya sedikit dikenal. Itulah kenapa ia sampai mencurigai kalo Nadya sedang menyukai seseorang, atau mungkin sudah berpacaran dengan seseorang.
“Dia? Dengan sifatnya yang menakutkan seperti itu? Ngak mungkinlah, kecuali itu cowok agak kurang waras atau memang juga atlet bela diri kaya dia,” Alfred mencibir saat menyelesaikan kalimatnya/
“Ta…”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Pak Alves sudah memasuki ruangan kelas.
“Stand Up!” Ia langsung berseru; karena sudah tugas ketua kelas untuk memimpin kelas memberi salam kepada guru sebelum dan sesudah pelajaran.
“Gregetings” serunya kembali setelah semua teman-temannya berdiri,
“Selamat pagi pak,” ucap semua orang di kelas serentak dan cukup keras.
“Sit Down!” Ucapnya kembali begitu Pak Alves melambaikan tangan menyuruh mereka untuk duduk.
Ia sebenarnya tidak mengerti dengan penilaian Alfred soal wanita, apa yang salah dengan Nadya. Menurutnya, Nadya sebenarnya cukup cantik. Tidak ada yang salah dengan Nadya. Yah, meski apa yang dikatakan Alfred juga tidak salah sih. Tapi, ia pernah membaca sebuah artikel: kalau segalak apapun wanita, di depan orang yang dia sukai, pasti akan luluh juga dan bersikap feminim.
Entahlah, saat ini, ia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan orang lain. Karena hari ini, ia harus bersikap tidak terlalu mencurigakan agar tidak menarik perhatian kedua teman cerewetnya ini; Alfred dan Nadya.
***
Di saat jam istirahat kedua, ia melarikan diri dari Nadya dan Alfred menggunakan alasan ingin boker; karena pada jam istirahat pertama tadi, Nadya dan Alfred terus menempelinya. Seolah mereka berdua tahu kalo ia ingin menemui Kak Vina, kedua temannya tersebut terus mengikutinya kemanapun ia pergi.
Saat mendekati ruangan musik tempat dimana ia dan Kak Vina janjian untuk memberi tahu jawabannya. Alfred dan Nadya lagi-lagi menghalanginya dengan berjaga di sekitar pintu ruangan musik.
‘Wah dasar para lintah itu’ ia mengumpat dalam hatinya karena sudah agak eneg dengan tingkah kedua temannya tersebut. Saat ini, ia tidak punya ide lain lagi untuk bisa masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ketika sedang berusaha memutar otak berpikir bagaimana untuk bisa masuk ke dalam ruangan musik, ia dikagetkan dengan sesosok tangan yang menyentuh bahunya. Hampir saja ia berteriak karena terkejut. Akan tetapi, saat melihat Kak Vina lah yang menyentuh pundaknya dari belakang tadi, ia malah menjadi gugup.
“Kenapa? Takut ketahuan temanmu kalo kamu masuk klub musik ya?” Kak Vina bertanya tanpa berbasa-basi sambil terlihat sesekali mengintip ke arah pintu masuk ruang musik.
“Ngak kak, hanya malas saja kalo duo cerewet itu (menunjuk ke belakang dengan jempolnya) sampai tahu. Berisiknya bisa sampai seminggu-an soalnya,” ia memutar matanya saat menjelaskan bagaimana menganggunya Alfred dan Nadya kalo sampai mendapatinya sekarang ini sedang mengobrol dengan kak Vina.
Kak Vina sempat kelepasan tertawa sebentar sebelum melanjutkan. “Tapi itu lah indahnya pertemanan kalian, terlalu care sampai akhirnya jadi kepo begitu,” ucap Kak Vina sambil tersenyum tipis. Ia sempat tertegun melihat kecantikan Kak Vina di depannya saat tersenyum tadi, “Jadi bagaimana? Kamu setuju mau gabung ke klub musik nih?” Kak Vina kemudian bertanya.
“Iya kak,” jawabnya tanpa berpikir panjang kembali.
“Oke, kalau begitu, selamat datang di Klub Musik,” Kak Vina, sembari tersenyum, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan; yang langsung ia sambut tanpa menunda sedikit pun. Tangannya begitu lembut dan halus, itulah yang ia rasakan saat memegang tangan Kak Vina