Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 4 : SEBELUM BADAI MENERJANG (4)



Lusanya, sesuai dengan schedule yang Kamila katakan; press confrence mengenai ajang pencarian penyanyi dilaksanakan agak siang di gedung TV J. Mrs.Rina, Pak Afrianto, sampai Mr. Dodi Sudandi yang menjadi partner jurinya, membuatnya begitu gugup; karena diantara semua orang-orang tersebut, dialah yang paling junior.


“Wah, bukankah ini juri utama kita?” Mrs.Rina langsung menyapanya ketika mereka berada di ruang tunggu khusus juri sebelum press conference dimulai.


“Jangan gitu ah, malahan saya cuma peramai suasana aja disini,” ucap Vina berusaha untuk merendahkan dirinya. Meski secara internasional dia cukup sukses, akan tetapi senior-senior yang ada di depannya ini sudah menelurkan album dan lagu lebih banyak darinya.


Dan juga, mereka bertahan di dunia hiburan tanah air sampai sekarang juga pencapaian luar biasa; yang dia tidak tahu apakah dirinya akan bisa bernasib sama seperti senior-senior di depannya sekarang. Karena 8 tahun ini saja dia sebenarnya sudah cukup letih dan sempat beberapa kali kepikiran untuk menyerah saja di tengah jalan.


Sembari menunggu, dia mencoba mengakrabkan diri dengan para juri lainnya dan juga para kru—yang tentunya akan ia temui setiap hari selama beberapa bulan ke depan—yang terlibat di acara ini seperti yang biasa ia lakukan ketika bertemu tim yang baru.


Ditengah-tengah sesi bercengkrama itu, ponselnya bergetar.


‘Sudah di ruangan Conference, Good Luck’, isi pesan WA dari Evan. Vina sedikit tersentuh; karena kemarin, dia memang meminta Evan untuk datang namun Evan tidak mengatakan tidak berjanji akan datang karena kesibukan lainnya.


‘Ok, awas aja kalau orang-orang dari perusahaanmu kasih pertanyaan yang ngak-ngak’ Vina membalas dengan menambahkan emot wajah yang seperti orang sedang marah dan kemudian disusul dengan emot hati yang dikirim terpisah.


***


Sementara itu, di ruang Press Conference. Evan senyum-senyum sendiri ketika melihat isi Whatsapp yang dikirimkan oleh Vina barusan.


“Kenapa lu senyum-senyum hah?” ucap Julian—pegawai yang kali ini ditugaskan perusahaan Evan untuk meliput Press Conference hari ini—yang secara tidak sengaja menangkap Evan yang sedang senyum-senyum sendiri.


“Hah? Ngak ada, cuma ngeliat meme-meme aja,” ujar Evan sembari cepat-cepat menyimpan hpnya kembali ke dalam saku celananya.


“Rame benar kali ini. Tumben lu mau ikut,” ujar Kento yang baru saja kembali dari toilet. Seperti biasa, setiap ada pekerjaan penting seperti ini, Kento selalu saja bolak-balik ke toilet beberapa kali. Evan masih ngat betul ketka perusahaan mereka berkesempatan meliput live piala dunia dulu, Kento sampai pernah melewatkan beberapa Press Confrence yang cukup penting. Dan semenjak saat itu, temannya satu ini tidak pernah ditugaskan sendirian lagi seperti kebanyakan wartawan senior lainnya.


“Yah, sekalian lah refreshing dari pekerjaan yang bikin mumet,” balas Evan. Awalnya dia tidak ingin datang. Akan tetapi, saat melihat setumpuk dokumen yang ada di atas meja, dia langsung keluar dari kantornya dan pergi ke tempat Press Conference Vina berlangsung.


Bukannya malas sih, tapi untuk hari ini dia kurang mood untuk mengotak-ngatik setumpuk dokumen yang ada di atas mejanya. Apalagi kebanyakan isinya juga cuma sekedar LTBP yang perlu ditinjau ulang dan tidak terlalu bersifat urgen; bisa ditunda 1 atau 2 hari.


Jujur saja, dia tidak bisa tenang setiap mendengar nama Giovani. Bukan karena kepopulerannya atau ketampanannya. Namun karena fansnya yang begitu supportif menjodohkan bintang mereka dan Vina. Imbasnya, majalah gosip dan acara gosip semakin mengangkat berita tersebut; bahkan sampai menyematkan kata-kata ‘pasangan teromantis’, ‘Visual Couple’, ‘King and Queen’. Setiap membaca gosip-gosip tersebut, dia rasanya ingin muntah.


“Duh lama amat sih,” ujar Kento yang sekarang ini masih saja memegang perut, bahkan wajahnya sampai terlihat pucat dan pelipisnya terlihat berkeringat.


“Udah dengar belum soal MC-nya?”, bisik salah satu wartawan kepada wartawan lainnya yang tepat berada di depan Evan saat ini. Hal itu tentu menarik perhatian Evan, karena setiap informasi yang ada sangat berharga ketika tidak ada infromasi pasti; seperti menyetok segudang informasi agar nanti tidak terlalu terkejut dengan informasi yang resmi.


“Itulah, cukup aneh juga tahun ini MC-nya baru akan di kasitahu pas Press Conference. Padahal tahun lalu biasanya diumumin lewat IG seminggu sebelum press conference,”


“Mereka mau kasih kejutan kali. Kaya Vina yang baru di posting kemarin lusa di IG mereka,”


“Memangnya siapa lagi bintang yang mereka mau undang untuk MC? Giovani?”


“Bisa jadi kan?”


“Agak susah mungkin, apalagi jadwalnya sudah betul-betul padat. Kalo Vina kan lebih flexibel jadwalnya,”


Mendengar nama Giovani disebut-sebut, Evan mengigit bibir bagian bawahnya. Ada rasa khawatir dalam pikirannya jika Giovani betul-betul menjadi MC untuk acara ini. Tidak bisa dibayangkan bagaimana media gosip yang tidak akan berhenti mengangkat rumor-rumor tidak berdasar yang hanya berdasarkan postingan fanbase Giovani yang begitu banyak. Padahal, setaunya, fanbase Vina tidak ada yang memposting apapun soal Giovani.


Sementara Evan sedang tenggelam dalam pikirannya yang sedang membayangkan apa yang akan terjadi ke depan, para wartawan kemudian berdiri dan mulai mengambil gambar saat para Juri dan Pak Arnold masuk ke dalam ruangan press conference. Kilatan flash kamera dan bunyi kamera yang mengambil mengambil gambar para juri dan beberapa petinggi TV memenuhi ruangan tersebut untuk beberapa menit awal sebelum akhirnya semua kembali duduk.


Selama sesi tanya jawab, Evan tidak mengalihkan pandangannya dari Vina yang terlihat cantik saat tersenyum. Tidak bisa dipungkiri, press conference tersebut untuk beberapa saat seperti press conference Vina, karena para wartawan lebih banyak menanyai soal Vina dan Mini EP yang beberapa bulan lalu dirilis dan masih bisa bertahan di banyak tanggal lagu di berbagai negara.


Seperti biasa, Vina menanggapi hal tersebut dengan rendah hati dan menyebut semua itu hanyalah ‘keberuntungan dan berkat dukungan fansnya’. Dan, memang tidak banyak juga yang terlalu bisa dibahas dari juri lainnya selain sekedar pertanyaan umum yang banyak diajukan saat event seperti ini.


Setelah sesi tanya jawab dengan para juri dan juga beberapa petinggi stasiun TV, salah satu wartawan kemudian dengan berani menanyakan soal siapa MC untuk kontes tahun ini. Ruangan seketika menjadi diam; hanya ada suara klik dari kamera yang sesekali mengambil gambar.


Salah satu orang yang berada di dekat para juri—yang merupakan salah satu production crew—tersenyum dan memberi kode kepada pria berjas hitam yang ada di dekat pintu sebuah anggukan. Pria berjas hitam tersebut kemudian membuka pintu yang ada di belakangnya dan membuat semua orang terkejut saat melihat orang yang berdiri di balik pintu tersebut; Giovani dan Yunita!