
Selama audisi berlangsung, untungnya situasi tidak berubah menjadi canggung diantara para juri. Semuanya berjalan lancar, candaan yang terlontar selama audisi pun cukup lancar, dan setidaknya cukup membuat Kamila bisa bernafas lega. Sebab untuk saat ini, sedikit saja ada kesalahan yang terekam kamera. Maka hal itu bisa membuat karir Vina semakin terpuruk.
Begitu pula saat jeda istirahat, atmosfer ketika Vina berkumpul di ruang tunggu dengan juri-juri terasa ceria. Seolah kejadian tadi pagi hanyalah pertengkaran biasa. Memang sih, Vina tampak tidak terlalu menggubris apapun yang keluar dari mulut Giovani; paling, dia hanya ikut tersenyum ringan hanya untuk membuat suasana tidak canggung.
“Wah, lu ngak tertarik untuk masuk dunia akting dengan kemampuan lu itu?” ujar Kamila, karena melihat bagaimana pembawaan Vina yang mampu memisahkan antara pekerjaan dan emosi pribadi dengan Giovani, Vina sebenarnya cukup mumpuni untuk belajar menjadi aktris top.
“Ngak lah, malas. Harus syuting dari pagi sampai sore. Lagian karirku sebagai musisi juga sudah lebih dari bayaran artis-artis lokal kali,” Vina membalas usulan Kamila dengan agak ogah-ogahan.
“Kak...”
Baru saja moodnya sudah cukup membaik saat dalam perjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkir, Giovani yang muncul di depannya sekarang ini membuat moodnya kembali menjadi down; padahal, dia sebenarnya harus mampir ke suatu tempat untuk pemotretan iklan.
Vina menghela nafas, menatap Giovani sebentar dengan perasaan jengkel dan bete sebelum akhirnya berjalan melewatinya. Baginya, menyimpan tenaga saat ini untuk jadwalnya berikutnya lebih penting, ketimbang dia harus meladeni Giovani kembali.
“Kak, tolong dengarkan dulu penjelasanku. KAK!!”
Giovani yang sudah terlihat sangat putus asa sampai akhirnya berteriak seperti itu, berhasil membuat Vina berhenti dan berbalik. “Apa? Jelaskan saja langsung to the point,” Vina berbicara dengan ogah-ogahan; karena dia memang sudah sangat malas untuk berurusan dengan Giovani saat ini.
“Aku sama sekali tidak tahu soal apa yang menyebar di internet sekarang. Waktu itu aku cuma pengen kasih kakak beberapa cemilan tanpa maksud apapun, betulan,” Giovani menjelaskan sembari membuat isyarat peace dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Melihat Giovani yang sampai seperti itu, Vina sempat sedikit reda emosinya dan juga goyah untuk tidak mengacuhkan Giovani sama sekali. Apalagi, seperti kata orang-orang; mata tidak akan mungkin berbohong’. Pandangan Giovani juga seperti itu, menunjukkan ketulusan dan tidak ada kebohongan dalam setiap ucapannya.
“Terus, gua harus percaya gitu dengan omonganmu? Kalo memang benar seperti yang lu bilang, seharusnya dari tadi agensimu atau manajermu ngebantah rumor itu dong. Tapi apa? Malah agensiku kan yang bantah rumornya?”
“Ta..”
“Kenapa kau tidak coba tanya manajermu sana?” Kamila langsung maju dan menyela sebelum Giovani berbicara; karena dia sedikit khawatir Vina akan meledak emosinya seperti di ruang tunggu tadi pagi.
“Maksudnya?” Giovani tampaknya tidak mengetahui apapun jika dilihat dari ekspresinya sekarang ini; seperti orang yang sedang kebingungan.
“Wah, kau memperkerjakan dia sebagai manajermu tanpa tahu track recordnya? Hebat sekali,”
“Kak Joshua? Dia manajer yang disewa perusahaan, bukan aku pribadi,”
Kamila langsung tersenyum sinis, “Pantas saja,” dia langsung mengerti apa yang terjadi sekarang ini. Semuanya mulai masuk akal baginya. Karena taktik rendahan seperti itu biasanya hanya dilakukan oleh perusahaan rendahan yang ingin jalan pintas untuk menaikkan nama artis mereka.
“Just forget about that,” Vina dengan tegas langsung menolak dan menyuruh Giovani untuk tidak melanjutkan perkataannya.
“Tapi kenapa? Bukannya kakak juga....”
“Dasar bocah, itu artinya dia sudah ada yang punya bodoh,” Kamila terdengar sedikit kesal ketika membalas Giovani, “Lagian lu juga udah di kasih kode tadi pagi, masih aja nekat,” gerutu Kamila kembali.
“Sudahlah, kita sudah telat untuk pemotretan,”
Vina yang sudah merasa cukup lelah dan hanya ingin menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, mengajak Kamila untuk segera pergi saja meninggalkan Giovani dari pada harus terus meladeninya; yang menurutnya hanya buang-buang waktu dan tenaga saja. Pada akhirnya, Kamila yang sebenarnya masih ingin melampiaskan kekesalannya terhadap Joshua kepada Giovani, akhirnya berbalik dan mengikuti Vina yang sudah berjalan agak jauh.
***
Esoknya, Evan bersama dengan Kento sama-sama izin dari kantor sehari demi menyelediki alamat IP penyebar foto yang menyebabkan rumor Vina dan Giovani memanas kembali kemarin. Penyebabnya karena Evan merasa semuanya cukup janggal, apalagi untuk seukuran stasiun TV yang cukup besar seperti Group J, tidak mungkin sembarang orang atau wartawan bisa masuk ke belakang panggung; menguntit artis dan memotret dengan bebas tanpa ketahuan orang lain.
Dia curiga kalau ada pihak tertentu yang ingin menjatuhkan Vina atau Giovani, atau bahkan ingin menaikkan nama Giovani dengan menjatuhkan Vina secara tidak langsung. Meski dalam pikirannya sudah punya satu nama yang dia cukup curigai; Joshua. Namun, tanpa bukti yang kuat, dia tidak bisa muncul seenaknya di depan Joshua atau Giovani dan menuduh mereka.
Oleh karena itulah, dia terpaksa memakai cara ilegal dengan mendatangi seorang hacker kenalannya dan meminta mencari alamat IP yang menyebarkan rumor kemarin.
“Lu yakin ngak akan menyesali keputusan lu?”
Kento bertanya ketika mereka berdua sedang bersantai di warung makan di pinggir jalan. Evan dengan ayam krepesnya dan cah kangkung, sedangkan Kento lebih memilih sepaket kompilt ayam lalapan ditambah dengan sop konro sebagai kuah-kuahnya untuk menu makan siang.
“Ngak. Lagian, kalo lu pake cara legal, yang mana itu harus lewat polisi, bakal lama dan ribet prosesnya,” jelas Evan.
Dia bukannya meremehkan, hanya saja saat ini dia membutuhkan hasil secepat mungkin dan tanpa menarik perhatian banyak orang. Sedangkan jika dia melapor polisi, tentu akan banyak rumor liar yang semakin beredar. Sehingga dia lebih memilih untuk tetap menyelidiki hal ini secara diam-diam; bahkan, dia tidak memberitahu Vina sama sekali soal tindakannya kali ini.
“Tapi, apa gunanya sih lu nyeledikin hal kaya ginian?”
“Gua lumayan kenal baik dengan Kamila, manajernya Vina. Dan dia minta tolong cari siapa yang nyebar rumor kemarin. Lumayan kan, gua bisa minta balasannya suatu saat nanti kalo perlu wawancara eksklusif misalnya,” dengan terpaksa, Evan berbohong dan membawa-bawa nama Kamila. Karena tidak mungkin dia mengungkapkan identitasnya sebagai pacar Vina; setidaknya tidak untuk saat ini.
“Wah, gua masih harus lebih banyak belajar ama lu kalau begitu,” ucap Kento yang sedikit takjub dengan pemikiran Evan.
Memang sih, Evan sudah cukup terkenal di perusahaan mereka sebagai orang dengan segudang koneksi dengan berbagai orang penting di dunia hiburan; walau sebenarnya itu semua harus meminta tolong Kamila dulu. Salah satu yang membuktikan status Evan tersebut, adalah saat perusahaannya berhasil mendapatkan wawancara eksklusif satu-satunya dengan artis luar negeri yang sempat konser di Indonesia. Itupun sebenarnya dia cukup beruntung, karena Vina kenal dengan artis tersebut.