
Melihat Giovani yang muncul ketika pintu dibuka, Vina sangat terkejut. Namun, isntingnya sebagai artis berhasil membuat dirinya untuk tetap tersenyum dan menyembunyikan perasaan terkejutnya sekarang ini. Diam-diam, dia melirik ke arah Kamila dan bertukar tatapan menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang ini.
Kamila yang juga tampaknya tidak tahu, hanya menggelengkan kepala, ekspresinya wajahnya juga sama terkejutnya dengan dirinya saat ini. Tapi, lebih dari semua itu, adalah Evan. Dengan cepat, di tengah semua kilatan flash yang bersinar terang di ruangan tersebut, Vina mencari Evan. Sambil terus tersenyum dan mengikuti suasana, ia terus mencari Evan, hingga beberapa menit kemudian menemukan Evan yang hanya tersenyum dan mengedipkan mata sekali begitu mata mereka saling bertatapan.
Perasaannya cukup tenang melihat Evan hanya tersenyum, ia tidak ingin apa yang terjadi hari ini lagsung memicu pertengkaran; mengingat mereka baru saja berbaikan 2 hari yang laiu. Sementara Pak Arnold terus berbicara, moodnya semakin buruk seiring waktu berjalan. Dan puncaknya adalah ketika di belakang panggung, sesudah press conference, dia langsung meledak di ruang tunggu saat ada Pak Arnold disitu.
Tanpa menghiraukan semua orang yang ada disitu—termasuk Kamila yang berusaha menenangkannya—dia langsung mengeluarkan uneg-unegnya dan mengungkit-ngungkit soal klausul yang ada di dalam kontraknya secara halus yang dia tanda tangani kemarin yang jelas-jelas berbunyi, ‘tidak ingin satu meja dengan orang yang pernah terlibat rumor kencan dengannya’. Jawaban dari Pak Arnold yang terkesan berbelit-belit dan lebih seperti mementingkan public atention, membuat dia dengan kesal meninggalkan ruangan tersebut setelah meminta maaf kepada juri-juri yang lainnya.
“Wah, dasar tua bangka sialan,” ucap Vina dengan suara yang agak keras sampai-sampai menarik perhatian orang yang lewat di depannya. Kamila yang menyusul di belakangnya berdeham beberapa kali untuk memberi kode kepada Vina agar tetap tenang. Sebab, jika kedengaran wartawan, entah berita apa yang akan mungkin keluar.
“Vin,” baru saja Vina berusaha ingin menenangkan emosinya, suara Giovani yang memanggil namanya membuatnya tambah badmood. Akan tetapi, ekspresi wajah Kamila yang terlihat cukup serius membuat dirinya kembali tersadar soal posisinya saat ini.
Dengan ramah dan sedikit memaksakan dirinya untuk tidak memasang wajah jutek, dia berbalik dan menyapa Giovani, “Kenapa?” ucap Vina dengan sedikit agak dingin. Meski memang pikirannya menyuruhnya untuk tetap ramah, akan tetapi hatinya tidak bisa seperti itu. Apalagi, Giovani memang ada tadi di dalam ruang tunggu saat dia marah-marah, sehingga rasanya tidak perlu ada lagi yang di sembunyikan.
“Look, gua tahu lu kecewa dan marah. But, gua juga sama sekali ngak tahu soal semua ini,” ucap Giovani.
Mendengar ucapan Giovani tersebut, ada sedikit perasaan iba dalam diri Vina. Namun, alam bawah sadarnya seolah langsung menamparnya, menyadarkan dirinya kalo itu semua pastilah omong kosong. “Did you think i’m stupid? Gua tahu semua ini rencana lu kan? Kenapa? Lu mau balas dendam karena gua tolak hah?”, ucap Vina.
“Wait, what? Dia pernah nembak lu?” perkataan Vina barusan membuat Kamila terkejut dan keheranan, karena selama ini dia tidak tahu tentang apa yang dikatakan Vina barusan. Padahal, selama ini dia merasa sudah mengawasi Vina cukup ketat. Melihat Vina yang kemudian mengangguk, dia kemudian menatap Giovani, “Hah, ternyata semua gosip soal lu itu benar ya?” dia berhenti sejenak dan menatap Giovani dari atas sampai bawah. “Ngak gua sangka, ternyata lu seburuk itu. Remember this, kalo lu berani mencari masalah dengan menyebarkan rumor aneh lagi dan merugikan pihak kami, just see what i can do,” tambahnya lagi; mengancam Giovani untuk tidak melakukan apapun yang bisa menghancurkan karir Vina.
“Hati-hati loh, kata-kata lu itu termasuk ancaman ke artis gue,” ucap seorang laki-laki yang suaranya sangat Kamila kenal; Joshua. Bukan rahasia lagi, kalau Joshua merupakan salah satu manager yang mempunyai repurtasi menakutkan; dikenal sebagai manajer yang melakukan segala macam kelicikan untuk memastikan artis binaannya sukses. “Apa kata media nanti kalo mereka dengar kata-kata itu,” tambah orang licik tersebut lagi dengan santai dan kemudian tersenyum licik.
“Oalah, pantas saja. Lu toh ternyata manajernya. Ngak heran lah gua kalau begitu,” Kamila langsung balas menyindir sambil tertawa sinis. Sementara itu, Vina yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa terdiam dan melihat Kamila mengatasinya sendirian. “Ayo kita pulang Vin,” ujar Kamila sembari mundur sedikit lalu memegang tangan Vina, “Ngak ada gunanya berdebat dengan orang kaya mereka,” imbuh Kamila sebelum menarik Vina untuk beranjak pergi dari situ.
Vina yang tidak mengerti apa-apa semenjak orang baru yang tampangnya terlihat lumayan bagus, hanya bisa mengikuti apa kata Kamila ketika dirinya ditarik pergi dari situ. Dan yang mengherankan lagi, sekarang malah Kamila yang terlihat emosi.
Saat di perjalanan pulang kembali ke apartemen pun, mereka tidak saling berbicara karena Kamila hanya sibuk memantau sosial media dan trending topik di mesin pencari saat ini. Sedangkan Vina sendiri menyibukkan dirinya dengan beberapa lagu untuk menenangkan dirinya.
“Pak kita Taman yang biasa dulu ya pak,” ujar Kamila ketika mereka sudah mendekati apartemen Vina. Tanpa berlu bertanya, Vina sudah langsung paham dengan perasaan Kamila sekarang; yang pastinya campur aduk akibat kejadian tadi.
Vina dan Kamila bisa dibilang punya kesamaan dalam beberapa hal. Contohnya saja, jika mereka berdua sedag kesal akan sesuatu hal, berjalan-jalan di taman, pantai atau berdiam diri di tengah alam terbuka pasti akan menjadi pilihan mereka untuk merendam stress dan emosi mereka.
Bahkan, mereka berdua juga punya kebaisaan absurd yang terkadang Evan dan beberapa orang terdekat mereka berdua sampai malu. Yaitu, mengungah foto yang terkesan sangat jelek, seperti foto selfie mereka dengan wajah yang dibuat seaneh mungkin, atau mengambil foto acak dari google dan menguploadnya ke sosmed; yang keeseokan harinya baru dihapus.
“Lah, kenapa gara-gara elu? Kan gara-gara si Giovani kampret itu,” ucap Vina sembari menertawakan pemikiran Kamila yang menurutnya sudah agak ngaur.
“Tapi kan...”
“Oh c’mon, ini juga termasuk kesalahan gua kali. Kalo seandainya gua nolak kerjaan itu, apa yang terjadi hari ini mungkin ndak akan pernah terjadi,” Vina langsung memotong perkataan Kamila yang sudah pasti akan menyalahkan diri sendiri kembali atas semua kejadian hari ini.
“Terus, bagaimana dengan Evan? Marah-marah pasti kan?”
“Marah-marah? Malahan dia ngajak kita buat makan malam di apartemenku sekarang,”
Perkataan Vina membuat Kamila menjadi terkejut, “Wah, lu berdua emang benar pacaran kan?” dia cukup tekejut dengan reaksi Evan yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Entah kedua orang ini memang betul-betul pacaran, atau cuma sekedar pura-pura pacaran.
“Mau gua getok kepala lu?” ucap Vina sembari melayangkan tangannya ke atas dan bersiap memukul bagian belakang kepala Kamila.
“Lagian, bisa-bisanya dia ngak cemburu sama sekali pacarnya di godain sama orang lain. Padahal kalau gue jadi dia, udah gua gebukin mungkin tuh si Giovani kunyuk itu,”
“Yah, mungkin karena gua sudah pacaran 10 tahun lebih mungkin. Jadi, mungkin sudah saling percaya aja. Dan bagi gue, kepercayaan yang dikasih Evan itu sangat penting. Lo pernah dengar kan, kalo....”
“Mendapatkan kepercayaan itu sulit, namun mempertahankannya lebih sulit lagi,” potong Kamila; karena dia sudah mendengar perkataan itu dari mulut Vina cukup sering sampai ia menghafalnya di luar kepala. “Hah, ayolah kalau begitu,” ucapnya sembari berdiri dari tempat duduknya.
“Kemana?”
“Ke tempatnya Evan. Bukannya dia ngajakin makan lu bilang,”
“Kalo soal makan aja lu cepat banget ya?”
“Ya iyalah, ini udah jam makan malam kali,” Kamila membalas sembari memeperlihatkan jam di handphonenya sebelum kembali berjalan.
Melihat tingkah sahabatnya satu ini, Vina hanya geleng-geleng kepala dan sedikit bertanya dalam hatinya sambil tersenyum, ‘Apa sebenarnya yang membuat pertemanannya dengan Kamila bisa bertahan begitu lama?’.