Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 7 : Everyone Have Their Own Problem (5)



Flashback


Awal pertama kali dirinya masuk ke dalam perusahaan tersebut bukan karena dia memang keinginannya, melainkan karena memang dia mujur bisa lolos sampai tahap wawancara setelah harus melewati 2 tes tertulis dan seleksi berkas akhir. Padahal saat itu dirinya terbilang tidak mengetahui apapun soal dunia jurnalistik.


Saat menunggu di lorong yang sudah cukup banyak orang yang juga senasib seperti dirinya dan menunggu untuk di wawancara, dia cukup gugup. Jujur saja, saat itu dirinya rela meninggalkan salah satu perusahaan yang juga jadwal wawancaranya kebetulan dijadwalkan di hari yang sama. Hanya saja, ketika melihat reputasi perusahaan keduanya di internet, dia memilih untuk meninggalkan perusahaan yang satu karena pernah terkena kasus penggelapan dana.


“Pak Kento?” begitu mendengar namanya dipanggil, ia langsung berdiri dan berjalan menuju perempuan yang memanggilnya, “Silahkan,” imbuh perempuan tersebut mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan interview dengan senyuman yang menawan dan sempat membuatnya tertegun untuk sesaat.


Sebelum masuk, dia menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu dan tak lupa mengucapkan doa singkat sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut, ‘You can do this’ ucapnya dalam hati sembari memasang senyuman terbaiknya.


“Bisa diceritakan kenapa memilih perusahaan kami?” tanya salah satu pewawancara—hampir semua pewawancara dalam ruangan tersebut--memberinya tatapan mengintimidasi begitu ia memasuki ruangan tersebut.


Ia terdiam untuk beberapa saat sebelum kemudian memberikan jawabannya, “Clickbait,”


“Maaf?”


“Clickbait, salah satu budaya beberapa media cetak atau online yang merilis suatu berita demi menarik antusias masyarakat. Saya melihat perusahaan ini tidak memakai cara yang terbilang kurang etis seperti itu, dan karena itulah saya merasa cocok dengan perusahaan ini,” dia menghela nafas sejenak, “Untung gua sudah sedikit research semalam,” ucapnya dalam hati.


Jawabannya tersebut tampaknya tidak membuat orang-orang di hadapannya ini terkesan sama sekali. Apalagi pria—yang di papan di meja tertulis HRD—yang memberinya pertanyaan tadi, raut wajahnya begitu serius; tidak ada senyuman sama sekali.


“Saya liat kamu menganggur 3 tahun ya?”


“Iya bu, sambil mengirim CV saya ke berbagai perusahaan, saya juga mengisi waktu luang dengan mengikuti beberapa seminar, dan juga mengerjakan beberapa project sebagai freelancer. Dan alasan saya melakukan itu, karena saya sebenarnya harus merawat ibu saya,” dia sebenarnya bisa saja tidak menyebutkan kalimat terakhir soal ibunya tadi, akan tetapi untuk kali ini dia lebih memilih jujur saja.


Entah memang semua pewawancaranya ini punya empati atau tidak, wajah mereka semua masih sama seperti semenjak dirinya memasuki ruangan tersebut; begitu dingin, bahkan perempuan yang menanyainya tadi juga sama sekarang, seperti tidak tersentuh dengan kejujurannya tadi.


Perasaan yang gugup, pikiran yang sudah lari kemana-mana karena menganggap jawabannya tadi tidak memuaskan, ditambah lagi tatapan para pewawancara yang begitu dingin membuat ia semakin tidak konsen dan beberapa kali hampir salah mengeluarkan kata-kata di pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Jika saja tadi malam dia tidak membaca semua kemungkinan pertanyaan dan jawaban yang dicatatnya, mungkin tadi lidahnya akan terselip dan salah berbicara.


“Semoga saja lolos,” dia menyemangati dirinya sendiri sambil mengelus-ngelus dada begitu keluar dari ruangan yang atmosfernya begitu mencekam baginya. Selain itu, dia sendiri kurang puas dengan dirinya di dalam sana tadi. Apalagi jika mengingat effort yang sudah di keluarkannya tadi malam hanya demi hari ini.


Akan tetapi, kegelisahannya tersebut cuma berlangsung sebentar saja, karena teringat dengan project dari klien barunya yang harus dia selesaikan secepatnya mengingat kemungkinan tidak akan ada cukup waktu saat jikalau dirinya di terima dalam perusahaan ini.


Setelah diterima di perusahaan tersebut, semua awalanya berjalan dengan baik. Semua pekerjaannya berjalan baik-baik saja, pekerjaannya sebagai copywirter freelancer bisa dibilang membantunya dalam menulis artikel yang ditugaskan kepadanya. Selama masa percobaannya tersebut, salah satu yang membuat pikirannya terbuka soal menjalin pertemanan di antara rekan kerja adalah ketika berteman dengan orang yang bernama William.


Perkenalannya dengan William berawal saat mereka ditugaskan di saat mereka berada di tim kerja yang sama. Semuanya berjalan baik pada awalnya, kerjasama mereka juga terbilang cukup baik, karena semua artikel yang ditugaskan kepada mereka bisa rilis sebelum dateline secara teratur. Akan tetapi, sifat asli William yang membuat pertemanan mereka berakhir muncul di masa-masa terakhir sebelum mereka diangkat menjadi pegawai tetap.


“Hah, ngak terasa sudah 5 bulan aja kita bekerja disini,” ujar William ketika mereka berdua sedang menyunting ulang beberapa artikel yang harus dirilis besok siang.


“Yoi, gua juga ngak nyangka kita bisa bertahan sampai selama ini. Padahal dulu sempat gua pengen nyerah karena harus nyunting puluhan artikel dalam sehari,”


“Terus, lu bakal nulis artikel apaan untuk syarat promosi?” William bertanya.


Sebelum mengakhiri masa percobaan, mereka diberikan kesempatan untuk menulis artikel pribadi mereka sebagai tambahan penilaian kemampuan akhir mereka. Kabarnya, menurut senior-senior mereka, artikel tersebut nanti bisa menentukan ke tim editor yang mana nantinya mereka akan ditempatkan.


“Hmm, belum tau juga, besok gua baru mau research apa yang bagusnya gua tulis,” jawabnya; sebab dia memang belum membuat sketsa mengenai apa yang ingin dia tulis, “Lebih baik selesaiin dulu saja apa yang ada di depan kita saat ini, supaya ngak ada kesalahan besoknya,” imbuhnya.


“Heleh, pasti lu udah mikirin bahan yang lu mau tulis kan?”


Dia mendengus saat mendengar ucapan william yang tidak percaya kepadanya, “Terserah lu deh,” balasnya sembari memfokuskan perhatiannya kepada artikel yang ada di layar komputernya.


Sebagai orang yang sangat berdedikasi dengan pekerjaannya, ia tidak pernah mengerjakan 2 atau 3 pekerjaan dalam satu waktu seperti kebanyakan pegawai magang sepertinya demi cepat selesai. Menurutnya, hal itu cukup berisiko karena konsentrasi akan terbagi dan membuat kemungkinan akan human error semakin tinggi. Setidaknya, itu yang ia pelajari saat mencoba nekat mengambil 4 project freelancer sekaligus. Hasilnya? Banyak kesalahan, baik itu yang besar maupun kecil.


Selama seharian penuh, karena mereka dibebaskan dari tugas menyunting artikel, ia memanfaatkan watu untuk mencari apa yang sedang trend saat ini. Kebetulan, saat itu artis bernama Vina sedang naik daun karena album terbarunya sukses di pasaran dan membuat namanya menempati hampir setengah dari top 10 popular keywords di search engine.


Dia kemudian memutuskan untuk membuat artikel mengenai perjuangan soal perjuangan sang artis sebelum akhirnya bisa seterkenal sekarang. Karena, beberapa artikel di internet hanya menyorot soal kesuksesan Vina dan albumnya saja. Tidak ada satupun yang mengulik bagaimana perjuangannya sebelum bisa menjadi terkenal seperti sekarang ini.


Melakukan research, wawancara dengan manager dan orang-orang yang pernah mengenal Vina—termasuk dengan bertemu Evan, salah satu Editor yang ternyata adalah teman Vina—sampai melakukan penyuntingan, dia mencurahkan tenaga dan konsentrasimya selama 4 hari lebih demi artikel tersebut. Akan tetapi, dia tidak menyangka, saat hari penyerahan, artikel yang dibuatnya bisa sama dengan milik William.


“Kenapa artikel kalian bisa sama hah!? Baru jadi pegawai baru saja kalian sudah berani plagiat? Jelaskan semua ini, kalau tidak, kalian saya pecat!!!”


Suara lantang atasan mereka menggaung di dalam ruangan yang dikelilingi kaca tersebut; yang mana ia yakin orang di luar pasti juga mendengarnya, karena ruangan ini tidak seratus persen kedap suara.


“Saya tidak menyalin pak,” William menjawab kemudian menatapnya dengan dingin, “Mungkin saja dia yang menyalin artikel saya pak dan merubahnya,”.


“Jadi kamu yang menyalin hah?”


“Tidak pak, saya tidak pernah menyalin semua itu, saya betul-betul menulis artikel itu tanpa mencontek ide orang lain, itu murni ide saya,”


Setelah ia membela dirinya, William kemudian dengan begitu angkuh dan percaya diri menyudutkannya, “Terus lo berpikir gua yang plagiat ide lu gitu? Jangan hanya karena gu….”


Ditengah-tengah situasi yang tegang tersebut, suara ketukan di pintu kaca ruangan atasannya tersebut, membuat pertengkarannya dan William terhenti. Dirinya cukup tekejut ketika menengok dan melihat Evan berdiri di jalan masuk sembari mengawasi mereka.


“Mau apa lagi lu kesini?”


Atasan mereka yang tadinya bersikap galak, tampak melunak ketika berbicara di depan Evan. Padahal, jika dipikirkan kembali, jabatan Evan tentu lebih rendah, yakni Asisten salah satu Editor.


“Lu ngak liat kalo orang di luar merhatiin?”


Evan  menunjuk orang-orang di luar yang menatap ke dalam ruangan Pak Tamrin, atasannya saat ini. Sedari tadi, sebelum Evan mengingatkan hal itu, ia sendiri sudah menaydarinya. Dan karena itulah ia tidak bisa menahan emosinya terhadap perlakuan tidak adil yang diterimanya.


“Terus, menurut lu gua harus mengabaikan tindakan mereka?”


“Lu taukan bukan itu yang gua maksud?”


“Mending lu sana deh, ngak usah ikut campur urusan gua. Lu ngak punya kegiatan lain apa?”


“Hmm, lu ingatkan kalo lu masih berhutang sesuatu kan?”


“Terus, mau lu apa? Ngelepasin mereka berdua?”


“Nope, hanya kasih masuk dia ke tim gua, dan yang satunya, terserah lu mau kasih masuk ke tim mana,”


“What?” Pak Tamrin tampak terkejut dengan permintaan Evan tersebut, begitu pula dirinya. Ia tidak mengerti kenapa Evan sampai melakukan hal tersebut.


Pak Tamrin tampak terdiam untuk sejeanak, menatap dirinya dan juga William secara bergantian untuk beberapa saat sebelum akhirnya menyetujui usulan Evan tersebut.


Sorenya, saat jam pulang kantor, Evan membawanya untuk makan di sebuah warteg yang letaknya tidak jauh dari kantor mereka. Ia tidak bisa dan tdak tahu ingin berkata apa kepada Evan karena sudah menyelamatkannya dari perlakuan yang sangat tidak adil tersebut, sehingga pada saat memesan menu, Evan kemudian memesankan sup kacang merah untuk mereka berdua.


“Anu… Kenapa bapak melakukan itu ya?” dia mulai membuka mulutnya, dan bertanya alasan orang di depannya ini mau menyelamatkannya tadi.


“Eih, ndak usah panggil bapak, kita cuma beda 2 tahun, panggil kak aja,”


“Iya kak,”


“Kenapa gua melakukan itu? Karena hasilnya sudah jelas, pasti temanmu itu yang akan dibela oleh si Tamrin itu,”


“Teman apanya,” dia berbicara sendiri dengan pelan saat Evan menyebut William sebagai temannya.


“Terkadang, orang-orang seperti kita itu sangat mudah di korbankan oleh orang yang punya kekuasaan lebih tinggi. Ngak di negara ini, atau di lingkungan pekerjaan, semua itu sudah biasa,”


“Maksudnya?”


“Nanti lu bakal tau sendiri lah, yang penting sekarang, adalah bagaimana lu akan menghadapi pendapat orang-orang di kantor nantinya. Gua sudah menyelamatkan lu, jadi jangan sia-siakan itu dan bertahanlah meski orang mencomooh lu nantinya,”


“Ba.. Baik kak,” ucapnya.


(flashback over)


“Sup kacang merah?”


“Ah iya, terima kasih ya mbak,”


Semenjak hari itu, setiap kali dirinya merasa terlalu penat dengan permasalahan kantor. Ia selalu pergi ke warteg tersebut, selain karena memang masakan rumahan yang disajikan cukup enak, restoran tersebut juga menjadi pengingat baginya soal perkataan Evan soal persaingan di kantor yang mau tidak mau harus dihadapi setiap orang.