Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 8 : Musuh Yang Tidak Bisa Dianggap Remeh (4)



“Gimana kalau kamu bantuin Nadya nyiapin makan malam hon,” ucapnya sambil memberi kode kepada Nadya untuk membantunya mengalihkan perhatian Vina.


“Ayo,” Nadya yang mengangguk pelan langsung menggandeng tangan Vina sebelum sempat mengatakan apapun dan langsung menariknya pergi dari ruang tamu.


Begitu Vina terlihat sibuk dengan Nadya di dapur, ia langsung menarik Alfred dan mengajaknya ke teras.


“Kenapa? Apa yang sangat penting sampai lu nekat ganggu momen gua sama Vina hah?” ujarnya, ia masih sedikit kesal dengan Alfred yang mengacaukan rencananya untuk beradegan romantis di dalam mobil tadi.


Tanpa banyak omong, Alfred menyalakan tablet yang dipegangnya dari tadi dan menunjukkan sebuah email dari Kento yang berisikan sebuah draft artikel; yang pada saat membaca judulnya saja, sudah bisa membuat Evan merasa jijik. Bagaimana tidak, headline dari berita tersebut seolah mengindikasikan kalau Vina dan Giovani seolah adalah pasangan yang berkencan secara diam-diam.


Tidak sampai disitu, foto yang ia dan Alfred kirimkan ke Joshua pun tampak disunting agar sesuai dengan postur dari Giovani sehingga foto tersebut mendukung headline ngak jelas tersebut.


“Only this?” dia langsung bertanya setelah melihat foto yang disunting tersebut, tanpa perlu melihat isi dari artikel tersebut, ia sudah bisa menebak konteksnya seperti apa. Dan ia juga cukup yakin, kalau isinya tidak akan beda jauh dengan apa yang ia tebak.


Alfred kemudian memutar video di malam hari yang menunjukkan Joshua sedang masuk ke restoran dengan orang yang dari pertama kali muncul, Evan sudah langsung tahu siapa orang tersebut; Bos agensi dari Giovani, Jovri. Orang yang gayanya nyentrik di setiap penampilannya itu dari dulu memang seperti sangat ingin dikenali setiap kali tersorot kamera. Mungkin, karena alasan itulah orang ini melakukan apa saja agar artis agensinya begitu terkenal, karena ingin dirinya sendiri juga terkenal.


“Dan orang ini, lu pasti kenal kan?”


Begitu melihat foto selanjutnya, ia tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa untuk sejenak. “Wah, gila. I.. I.. Ini seriusan?” ia bertanya kepada Alfred, yang hanya memberikan anggukan kepadanya.


“Tapi belum ada yang pasti, baru sekedar pertemuan saja, kita juga ngak tahu apa yang dibicarakan orang-orang ini. Makanya gua nanya ke lu, karena Kento bilang lu ahlinya kalau soal kaya beginian,” ia hanya tersenyum ketika mendengar perkataan temannya ini. Yah, sebenarnya tidak mengherankan juga sih, karena hanya dirinya dan Kento lah yang tau apa maksud dari kata ‘ahli’ tersebut.


“Lu mau berbuat sesuatu yang gila ngak?” ucapnya dengan senyuman jahil,


“Maksud lu?”


“Gua bakal kasitahu kalo lu bersedia ngak kasitahu Nadya atau Vina, you know lah. Mereka itu agak over reactive kalo dengar ide-ide gua,”


“Ya itu karena ide lu emang gila geblek. Btw, ide lu apaan emangnya? Awaslu kalau aneh-aneh,”


“Sini gua kasitahu,” ia kemudian mendekatkan diri dan berbisik kepada Alfred soal rencananya.


“What? Jadi ternyata begitu cara lu jadi sukses?” ucap Alfred sambil memberinya tatapan seperti baru mendengar sesuatu yang memalukan.


“Ye, itu mah masih mending, yang lebih lama dari pada gua malah lebih parah, bahkan…” saat ia akan menceritakan pengalaman seniornya yang lebih lama di lapangan, Alfred langsung menyela,


“Ah bodoh amat. Jadi kapan lu mau melakukan itu?”


“Sehabis tanggal 14 atau 15 an lah, biarin gua ama Vina dapat quality time berduaan. Jarang-jarang kan gua bisa liburan sekaligus kencan kaya begini, Udah ah, balik ke dalam lah, dingin njir di luar,”


“Tapi kan lu udah harus masuk kerja pas saat itu,”


“Udah, lu tenang aja. Yang penting gua mau lu fokus selama sebulan ke depan. Karena akan banyak hal seru yang terjadi,” ujarnya sambil tersenyum.


Walau sebenarnya dia belum memiliki ide apapun mengenai bagaimana menjalankan rencananya, ia percaya diri ide itu akan datang dengan sendirinya nanti. Dan kalau tidak ada juga, ia bisa menggunakan cara-cara lamanya saat bertugas di lapangan dulu yang dicatatnya di buku kecilnya.


“Ngomongin apaan lu berdua di luar? Soal cewek ya?” Nadya bertanya begitu ia dan Alfred mendekati meja makan.  TNadya juga melempar tatapan curiga kepada dirinya dan juga Alfred.


“Iya, ngomomgin soal bagaimana beruntungnya kami berdua bisa dapat wanita secantik kalian berdua,” jawaban Alfred tersebut membuat bulu kuduknya berdiri dan melempar tatapan iwfill dengan tingkah sahabatnya ini. Reaksi Nadya dan Vina pun tampak tidak jauh berbeda dengan dirinya.


“Nad, cowok lu emang kaya gitu ya tiap hari?” Vina bertanya, tangannya terlihat menyenggol lengan Nadya. Nadya sendiri pun hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Nadya balik.


Semua candaan tersebut, semua momen berharga seperti ini lah yang membuatnya ngotot untuk membongkar semua kedok busuk Joshua dan orang-orang yang mempunyai niat buruk ke mereka berempat. Karena orang-orang seperti mereka, kalau terus dibiarkan, akan terus berbuat seenak udel mereka tanpa memedulikan dampaknya bagi orang yang mereka targetkan.


***


5 Hari Kemudian


Aneh rasanya, setelah lama tidak melakukan cara yang dianggapnya sebagai salah satu aksi terkeren yang pernah ia lakukan, ia merasa selalu ada yang kurang dari semua rencananya yang entah sudah berapa kali ia revisi. Padahal, semua catatan yang dulu ia tuliskan di buku kecilnya, sudah dia ikuti dengan sekesama. Mulai dari bagaimana cara menyelinap, menyamar, sampai memantau targetnya, semuanya sudah ia pelajari ulang dan berkali-kali juga menemui sesuatu yang terasa janggal.


Namun, karena terbentur dengan permasalahan waktu, dengan terpaksa ia bersama dengan Alfred, Fahmi, dan juga, Linda—salah satu partner in crimenya dahulu saat masih menjadi jurnalis di lapangan—akhirnya memulai rencananya untuk menyelinap ke restoran tempat Joshua dan orang-orang yang mereka curigai ada sangkut pautnya dengan semua hal yang terjadi belakangan ini.


“Lu yakin kan kalau ini semua ngak akan ketahuan sama sekali?” Alfred bertanya ketika Evan dan dia sedang memantau Fahmi yang sedang berpura-pura jadi pelayan dari dalam mobil di parkiran mobil restoran tersebut.


“Ini mah belum ada apa-apanya, dulu kami pernah ngelakuin hal yang lebih parah. Kalau lu takut, mending pulang aja sana. Dari pada lu cuma jadi penonton doang,” Linda membalas dengan sedikit menyindir Alfred yang dari tadi terlihat gugup ketika mereka berempat membahas semua rencana mereka.


“Bukannya itu, gua cuma khawatir aja kalau Joshua dan komplotannya sampai tau soal apa yang kita rencanakan. Siapa tahu aja kan dia sewa mata-mata juga untuk mengawasi kita. Ya kan?”


“Terlalu parnoan lu,” kamera yang dibawa Fahmi yang berpura-pura menjadi pelayan—yang disembunyikan secara diam-diam di sebuah teko—berhasil menampilkan video dan audio dari dalam ruangan tempat Joshua berkumpul.


Fahmi bisa dibilang mampu menjalankan tugasnya dengan sangat baik, Entah itu karena memang pekerjaannya sebagai seorang detektif swasta atau mungkin sering melakukan perbuatan ilegal ini, yang jelas rencananya menjadi lebih gampang untuk dilaksanakan dibandingkan harus melakukan semuanya sendirian.


Terima kasih berkat teknologi yang begitu canggih, mereka bisa mendapat gambar yang cukup jernih memperlihatkan Joshua dan Jovri sedang duduk makan bersama. Dan tampaknya mereka masih menunggu seseorang; karena Jovri sempat menelpon seseorang dan mengatakan lokasi restoran sekarang ini kepada orang yang dia telpon.


“Jadi, bagaimana perkembangan rencana untuk membuat superstar gue bisa menjadi bintang internasional? Lu ngak lupa dengan perjanjian kita kan? Soal tenggat waktunya,” Jovri memulai pembicaraan setelah keduanya memesan makanan terlebih dahulu.


“Tentu saja. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, apa yang gua perkirakan berjalan dengan mulus. Yah, kecuali dengan kemunculan sosok orang yang di gosipkan sebagai pacarnya si Vina,”


“Yang rame di sosmed itu? Yang pas di bandara?”


“Yap,”


“Dengar-dengar parasnya katanya lumayan tampan,”


“Tampan dari mana. Kalo memang betul, sudah pasti si Vina itu bakal mamerin cowoknya kemana-mana. Tapi sampai sekarang? Ngak pernah juga kan? Itu artinya dia masih single. Cuma emang kebiasaan cewek cantik aja, suka jual mahal,”


“Sayang sekali, padahal kalo dia mau sama Giovani, mereka berdua bisa jadi ladang uang yang melimpah. Bayangkan aja berapa banyak tawaran iklan dan film yang bakal masuk. Belum pacaran aja tawaran yang masuk udah lumayan bikin repot, apalagi kalo pacaran. Tapi, soal orang yang di gosipkan pacar asli Vina, lu ngak tahu orangnya siapa?”


“Nope, dan gua juga ngak mau terlalu ambil pusing. Toh Exposure yang kita dapat saat ini cukup bagus juga sampai-sampai sutradara Alberto mau masukin Giovani ke dalam kandidat pemeran utama film terbarunya,”


“Seandainya saja tunangannya Yunita bukan pengusaha kaya raya itu, lebih bagus pasti kalo kita menjodohkan Giovani dengan si Yunita,”


“Ngak usah dipikirkan yang kaya begitu, lebih baik kita fokus dengan apa yang sudah terjadi sekarang,”


“Hah, semoga saja semuanya berjalan lancar kali ini,” ucap Jovri.


Mendengar pembicaraan kedua orang ini, Evan merasa sangat emosi. Dia sampai membayangkan bagaimana rasanya jika dirinya masuk ke dalam restoran tersebut dan melabrak keuda orang tersebut dan mendaratkan pukulan di wajah Joshua dan Jovri secara bergantian.


“Wah, sudah nunggu lama ya?” suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar dibarengi dengan suara pintu di geser, pertanda ada orang baru yang memasuki ruangan tersebut dan menyapa Joshua dan Jovri. Spontan saja, Evan langsung menatap monitor tersebut dengan mata terbuka lebar-lebar.


Beberapa detik kemudian, dia dibuat terkejut begitu melihat wajah orang yang baru saja datang tersebut. Orang yang sangat ia tidak duga-duga akan muncul malam ini.