Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 8 : Musuh Yang Tidak Bisa Dianggap Remeh (8)



Dalam perjalanan pulang menuju apartemennya, ia sedikit agak khawatir dengan apa yang akan muncul di berita besok. Meski tidak menyesali keputusannya tadi untuk melayangkan protes dengan cara seperti itu. Namun ketika memikirkan dampaknya kepada agensinya, ia tidak bisa meremehkan konsekuensi dari setiap tindakannya yang bisa saja berdampak negatif.


“Mulai besok sampai beberapa hari ke depan, lu istirahat aja di apart lu. Soal media dan yang lainnya ntar gua handle, semua kegiatan lu untuk seminggu juga akan gua postpone dulu sebagai antisipasi kalau saja artikel yang keluar besok berdampak negatif,” ujar Kamila.


“Oke,” ia menjawab dengan lesu saat melihat Kamila yang mulai sibuk dengan handphonenya lagi. Tentu saja, dalam pikirannya seperti sudah menebak kalau seminggu ini akan menjadi minggu yang berat baginya, Kamila, dan semua orang agensinya, “Maaf ya,”


“Ngapain lu minta maaf, sudah seharusnya mereka kasi tahu ke kita kalau ada kejutan mendadak kaya begitu. Seandainya gua yang ada di sana, mungkin udah gua cabik-cabik tuh orang semua, terutama si Giovani itu. Ngak ada nyerahnya juga dia, padahal waktu itu udah lu tolak mentah-mentah. Ngak habis pikir lagi gua sama itu orang satu,”


Mendengar Kamila yang malah menggerutu seperti ini, ia malah merasa sedikit lega. Karena itu artinya, apa yang terjadi saat ini sama sekali tidak mempengaruhi Kamila, orang yang akan paling sibuk seminggu ke depan.


Berhubung sudah malam, Kamila hanya mendropnya di basement sebelum kemudian pergi meninggalkannya.


Di dalam lift, dia tetap tidak bisa melepaskan pikirannya dari apa yang akan terjadi besok. Pikiran yang dilanda kekhawatiran, badan yang terasa lemas, rasanya dia hanya ingin segera melempar badannya ke sofa yang empuk dan menikmati mandi busa untuk menenangkan pikirannya.


“Welcome Home,” Evan langsung menyambutnya begitu ia memasuki ruang tengah, sementara Jacline, tampak sedang asik menonton film di ruang tengah. Mencium aroma masakan yang sangat menggoda, ia tidak bisa menahan dirinya selain mengikuti otaknya yang menuntunnya ke dapur.


“Masak apa kamu? Dari baunya kayanya enak nih,” ia bertanya,


“Ayam gulai,”


“Duh, bisa gemuk aku kalau kamu masakin kaya beginian tiap hari,”


“Bagus juga, bagaimana kalau aku pindah ke sini saja?”


“Setuju,” tanpa diduga, pendengaran Jacline yang memang agak tajam dibanding kebayakan orang mendengar perkataan Evan barusan dan langsung setuju dengan usulan tersebut.


“Giliran kaya gituan aja kamu cepat banget ya,” Evan langsung menggerutu.


“Ya bagus juga kan? Jadi apartemen kakak buat aku aja, kebetulan kan sekolahku ngak terlalu jauh dari sini. Di kos-kosan ngak enak, sempit,” keluh Jacline


“Iya, kamu pindah aja kesini. Lagian kita kan emang rencananya udah mau married,” menjadi calon kakak ipar yang baik, ia mendukung keinginan Jacline tersebut dengan ikut memojokkan


Evan tampak tersenyum dan hanya menggelengkan kepala menanggapinya dan juga Jacline, “Nanti ku pikirkan dulu. Dek, kamu tolong ambilin anabulku di apartemen di bawah dong, belum ku kasih makan malam soalnya,”


“Ok,” jawab Jacline yang langsung beranjak dari sofa.


“Jadi, bagaimana?” Evan yang masih sibuk dengan ayam gulainya kembali berbicara ketika suara pintu depan berbunyi, pertanda kalau Jacline sudah pergi.


“Bagaimana apanya?”


“Soal Giovani, bagaimana reaksinya pas kamu tolak?”


“Yah, seperti orang pada umumnya, terlihat kecewa. Tapi kan itu salahnya juga, dulu pas dia nembak aku di parkiran juga sudah kutolak baik-baik. Jadi bukan salahku dong. Dan gara-gara itu, aku sampai milih pergi duluan sebelum syuting selesai. You know, sebagai tindakan protes ke Stasiun TV kampret itu,”


“Oh, gara-gara itu makanya kamu terlihat agak muram dan lesu pas masuk tadi,”


“Kelihatan ya?”


“Kita udah pacaran belasan tahun lamanya, hampir semua kebiasaan dan sikapmu sudah kuingat seperti di luar kepala,”


“Ada bagusnya juga ternyata punya calon suami yang begitu peka, pikiranku jadi agak lega karena ngak perlu sembunyi-sembunyi kalo ketemu kamu,” ungkapnya.


Mungkin karena mereka sudah bersama cukup lama, setiap kali ia bercerita kepada Evan—yang memang sangat pintar mengorek isi hatinya—dia merasa nyaman dan lega. Rasanya, beban yang ada dikepalanya seperti terangkat ketika curhat kepada Evan.


“Harus begitu dong, karena kita sudah mau married, jadinya harus mulai saling jujur tentang permasalahan yang kita hadapi. Karena yang bisa membantu kamu atau aku pada akhirnya ya mulai dari diri masing-masing. Percuma punya support dari luar kalau belum bisa mengatasi konflik batin dalam diri sendiri. But anyway, soal artikel yang akan keluar besok ngak usah kamu pikirin,”


“Bodo amat lah dengan gosip sampah itu. Tapi, speaking about married, bukannya seharusnya kita sudah mulai planning dari sekarang ya?”


“Awas panas,” dengan secepat kilat, Evan mematikan kompor dan memindahkan panci panas berisi ayam gulai ke atas meja di depan Vina. Evan kemudian memegang kedua telinganya sambil meniup-niup ujung jemarinya.


“Makanya pake serbet,” ucap Vina sambil menunjuk ke arah gantungan serbet yang letaknya tidak terlalu jauh dari kompor.


“Ngak liat tadi. Emangnya kamu mau pernikahan kaya bagaimana?”


“Yang agak mewah?”


“Ngak sayang duitnya? Lebih baik dipake honeymoon yang lebih exclusive,”


“Iya juga ya,”


“Udah, nanti aja dibahas lagi kalau masalah yang kita hadapi sekarang sudah ngak terlalu ribet lagi, setuju?”


“Ok,”


***


Esoknya, seperti apa yang dikatakan Evan semalam, berita negatif mengenai keputusannya untuk meninggalkan lokasi syuting secara tiba-tiba semalam sangat sedikit. Malah kebanyakan berita lebih menyorot perlakuan pihak stasiun TV—setelah agensinya mengeluarkan statement pagi ini—yang terkesan kurang profesional dalam menghormati privasi orang lain.


Dan tidak sedikit juga yang menyorot Giovani dan fans garis keras Giovani yang kali ini dianggap oleh netizen sebagai tindakan yang sudah melewati batas sewajarnya. Walau sebenarnya ia sedikit empati melihat bagaimana Giovani diserang karena kejadian semalam, namun dalam hal ini ia juga tidak bisa membiarkan Giovani terus melakukan ‘PDKT’ yang terkesan dipaksakan seperti semalam.


“Itulah yang namanya senjata makan tuan. Gua rasa si Joshua itu kagak bakal berani lagi untuk memaksakan gosip asmara lu sama si Giovani,” ujar Nadya sambil membawakan cemilan di atas nampan dan menaruhnya di meja yang ada di depan mereka berdua.


Berhubung jadwalnya yang memang kosong kali ini, ia memilih berkunjung ke restoran Nadya dari pada harus sendirian di apartemennya yang luas itu.


“Ya baguslah kalau begitu, setidaknya satu masalah sudah mulai teratasi. Capek juga gua harus berakting bersikap baik ke Giovani saat di depan banyak orang,” merasa agak lapar, ia tanpa sadar sudah mengambil potongan buah apel yang keempatnya lalu memasukannya ke dalam mulutnya utuh dan menguyahnya dengan cepat


“Laper neng?”


“Tau aja lu,” ia tertawa masam saat Nadya menangkap basah dirinya yang rakus, “Buka layanan pesanan khusus?” tambahnya.


“Mau apa?”


“Chiken katsu dan mie udon kayanya boleh tuh,” jawabnya saat teringat dengan menu baru restoran Nadya yang ala-ala japanese.


“Tunggu ya, baginda ratu,” ejek Nadya yang sebelum pergi meninggalkannya.


Sambil menunggu, ia membuka salah satu akun gosip yang kebetulan memosting video singkat dengan thumbail yang memasang fotonya bersama Giovani dan dibumbuhi dengan tulisan ‘Respect for this woman, bisa menolak bintang terpopuler saat ini sampai 2 kali’ yang terdengar biasa baginya.


Akan tetapi, video berdurasi singkat—yang tentu seperti kebanyakan akun gosip, sudah diedit dan dicut semedikian rupa untuk menarik penonton—tersebut ternyata mampu menarik 1,5 juta view dalam waktu kurang dari 24 jam.


Dan reaksinya? Tidak seperti yang ia pikirkan, perkiraan Evan ternyata terbukti betul. Kebanyakan orang mendukung tindakannya menolak Giovani dan meninggalkan lokasi syuting saat itu. Hal itu tentu menjadi kredit tersendiri bagi Evan di mata orang-orang agensinya dan juga Kamila. Bahkan Kamila sampai menyebut Evan sebagai suami idaman setiap wanita.


Ketika tengah serius menscroll dan membaca komentar positif yang mendukungnya. Kesenangannya tersebut diinterupsi oleh pesan WA yang masuk ke dalam hp-nya. Namun, ia cukup terkejut ketika melihat isi pesan tersebut yang ternyata adalah sebuah ancaman dari orang yang tidak ia kenal sama sekali:


“Semua ini baru permulaan, konsekuensinya ada pada orang-orang terdekatmu. Just prepare yourself for it,”


Meski tercenang karena pesan yang berisi ancaman seperti itu, ia dengan cepat langsung mencapture pesan tersebut sebelum dihapus oleh pengirimnya, seperti yang Evan dan Kamila selalu katakan kepadanya, ‘Siapkan bukti, apapun itu untuk berjaga-jaga’.


Tangannya agak bergetar setelah melakukan semua itu. Meski isi pesannya hanya mengatakan ‘konsekuensi’, mengingat apa yang terjadi pada Evan waktu itu, pikirannya menjadi takut kalau pesan ini adalah ancaman untuk mencelakai orang-orang disekitarnya seperti yang mereka lakukan pada Evan.