Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 4 : SEBELUM BADAI MENERJANG (6)



‘Joshua, salah satu manajer yang cukup terkenal ambisius dan bisa melakukan apapun untuk membuat artis yang dia manajeri menjadi sangat terkenal.’


Kata-kata itu selalu terngiang setiap kali Evan mendengar nama Joshua. Nama orang tersebut sudah begitu terkenal di kalangan wartawan semenjak dia bertugas 7 tahun yang lalu. Tak jarang, perusahaan majalah gosip akan menempatkan satu atau dua wartawan untuk memantau; baik itu untuk Joshua atau artis yang dia kelola.


Alasannya? Karena setiap kali ada berita soal artis yang dia kelola, pasti akan menjadi headline di majalah-majalah paling kurang seminggu lamanya. Tidak heran kalau Joshua terkadang di gadang-gadang sebagai manajer dengan bayaran termahal, karena tidak banyak artis yang bisa membayarnya lebih dari 2 tahun. Selain karena kemampuannya membuat artis yang dia kelola mendapatkan cukup banyak spotlight. Mengeluarkan artisnya dari sebuah permasalahan tanpa terlalu menarik perhatian juga salah satu kelebihannya.


Salah satu yang paling dia ingat, adalah ketika Joshua menangani salah satu artis yang terkenal skandal pelecehan seksual. Saat itu, ketika sidang sudah berjalan cukup lama dan penuh degan lika-liku, korban secara tiba-tiba membatalkan gugatannya dan kasus pun ditutup. Bahkan artis tersebut, sekarang masih bebas wara-wiri di dunia hiburan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan korban sendiri? Tidak pernah terdengar lagi kabarnya hingga saat ini, seolah semua yang terjadi adalah settingan untuk mendongkrak nama si artis.


“Hei, mikirin apaan kamu? Tuh piring perasaan udah kamu gosok hampir 5 menit. Lagi banyak kerjaan ya?” Vina yang sedikit khawatir karena melihat Evan yang terdiam dan mencuci piring yang sama dalam waktu cukup lama, memutuskan untuk menghampiri Evan dan menepuk pundaknya.


“Hah?” Evan yang baru saja tersadar dari lamunannnya, langsung mengendalikan dirinya dan mengelak dengan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Namun, tatapan Vina yang terlihat masih curiga memaksanya untuk terbuka, “Kamu tau kan soal Joshua?”. Vina membalas mengangguk, “Aku cuma kepikiran aja soal orang itu,” jelasnya kepada Vina yang terlihat penasaran.


“Emangnya itu orang kenapa sih?” Vina kembali bertanya, dirinya sudah cukup penasaran dengan orang yang bernama Joshua ini. Sebab kalau Kamila dan Evan terus membicarakan orang tersebut, pasti ada sesuatu yang perlu ia waspadai dari orang tersebut.


“Nanti ya sesudah kedua orang itu tidur,” ucap Evan sambil menunjuk ke arah Kamila dan Jacline yang sedang menonton TV di ruang tengah. Kebetulan, lokasi dapur dan ruang tengah di penthose milik Vina agak berdekatan, sehingga apapun yang mereka bicarakan pasti akan terdengar oleh Kamila dan Jacline. Dan Evan sendiri juga sudah berjanji kepada Kamila untuk tidak menceritakan apapun soal Joshua kepada Vina.


***


Sekitar jam 11 malam, ketika semuanya sudah mulai lelah. Jacline dan Kamila memilih pergi ke apartemen Evan untuk melanjutkan drama korea yang mereka berdua belum selesai nonton, dan juga memberi kesempatan kepada Vina dan juga Evan untuk berduaan.


“Hebat juga dua manusia itu bisa seklop itu dari pertama ketemu dulu. Padahal beda usianya 10 tahun lebih loh,” omel Evan sembari merapihkan meja tengah yang terlihat berantakan lalu mengambil sebotol wine yang sudah dia siapkan secara khusus dari dalam lemari paling atas yang ada di dapur; yang tidak bisa digapai oleh Vina, Kamila ataupun Jacline.


“Wajar lah, dia pasti terinspirasi oleh kakak iparnya yang cantik kaya begini. Dia pasti pengen jadi artis juga mungkin,”


“Kepedean kamu,” ucap Evan yang kembali dengan sepiring cemilan, sebotol wine, dan dua buah gelas lalu menaruh semuanya di atas meja.


“Woah, niat juga kamu ya kalau mau romantisan,” Vina sedikit takjub dengan persiapan Evan, apalagi saat matanya tidak sengaja melihat angka tahun wine yang di bawa Andre ternyata dari tahun 1945. Yang mana dia sendiri pernah membeli yang 1980an sebagai hadiah untuk salah satu composer lagunya dan harganya sendiri mencapai puluhan juta.


“Ya iyalah, udah 3 bulan ngak ketemu. Harus yang spesial dong, masa yang biasa-biasa aja,” ujar Evan sembari mengambil pembuka botol dan membuka botol wine yang sudah dia persiapkan tanpa banyak kesusahan sama sekali.


Evan yang sedang mencari remot tv—yang entah ditaruh dimana oleh Jacline atau Kamila—sudah menduga kalau Vina akan langsung to the point. Karena memang, Vina bukanlah tipe orang yang gemar bertele-tele.


Dia kemudian menghela nafas setelah mendapatkan remote TV yang dia cari-cari. Setelah menyalakan TV namun dalam keadaan mute, dia mengambil tablet yang ada di atas meja; membuka penyimpanan cloud miliknya lalu membuka sebuah file yang berisikan penyelidikannya soal Joshua dan menunjukkannya kepada Vina.


Mulai dari artikel dari beberapa tahun lalu sampai sekarang, semuanya cukup lengkap ada di dalam file tersebut. Semenjak mendengar soal nama Giovani dan Vina disangkutpautkan, Evan melakukan sedikit research soal Giovani dan orang-orang di seklilingnya. Hasilnya, dia cukup terkejut saat melihat nama Joshua sebagai manager Giovani. Hal tersebut akhirnya mengubah fokusnya dengan mencari informasi soal Joshua; apalagi mengingat semua sepak terjang Joshua sebagai manajer yang penuh dengan kabar tidak sedap dan kejadian mencurigakan. Ada sedikit kecurigaan dalam dirinya, kalau gosip soal Giovani dan Vina adalah perbuatan Joshua.


“Wah, gilak juga ternyata orangnya. Kok bisa orang kaya dia bertahan begitu lama,” Vina merasa sedikit ngeri dan juga ada perasaan jijik saat membaca beberapa artikel yang berkaitan dengan Joshua. Dia bahkan langsung melempar tablet yang diberikan Evan ke sofa dan meneguk habis wine yang ada dalam gelasnya, “Apa aku mundur aja ya?” tanyanya kemudian kepada Evan setelah berpikir sejenak.


“Ngak usah, malah itu akan membuat orang semakin yakin kalau kamu sama Giovani pernah ada something,” nasehat Evan, dia cukup paham betul bagaimana otak paparazi yang gemar menulis sesuatu yang penuh dengan asumsi namun dirubah menjadi sebuah fakta. Bahkan menurutnya, imajinasi paparazi seperti itu lebih hebat dari kebanyakan novelis pada umumnya. Karena tulisan mereka bisa memancing opini netizen; yang jumlahnya tentu tidak sedikit yang percaya dengan berita sampah itu.


“Memanglah, tunanganku yang paling ganteng dan bijaksana, hehe...”


Mendengar Vina yang mulai ngelantur, dia cukup kaget ketika tersadar kalau botol winenya terasa begitu ringan. Dan betul saja, Vina ternyata sudah menghabiskan hampir ¾ wine tersebut. “Dasar kamu ya, bisa-bisanya....”


“Ihhh, galak amat kamu, le.. lembut dikit d.. dong,” ucap Vina dengan wajah seperti anak kecil yang sedang dimarahi, begitu imut sampai membuat Evan tidak bisa berkata-kata sama sekali.


Tidak tahan dengan tingkah imut Vina yang sedang mabuk di depannya ini, terlintas pikiran iseng untuk merekam Vina dan menggodanya besok pagi dengan video tersebut. “Ke kamar sana gih, tidur sana,” ucapnya sembari terus merekam Vina.


“Gendong..” pinta Vina sembari menangkat kedua tangannya dan bertingkah seperti anak kecil yang meminta untuk digendong. Evan sempat menolak untuk memenacing reaksi Vina demi mendapatkan beberapa momen lagi sebelum akhirnya menggendong Vina ke dalam kamarnya.


Namun, saat menaruh Vina di atas tempat tidur. Dia lupa untuk menarik tangannya dengan cepat dan cukup sulit untuk melepaskan tangannya yang menjadi bantal kepala Vina. Beberapa kali dia mencoba untuk menarik tangannya, namun malah membuat Vina bergerak liar dan malah menariknya sampai bibir mereka bersentuhan.


Untuk sesaat, Evan menikmati momen tersebut. Bibir Vina yang terasa begitu lembut, wajah Vina yang terlihat begitu menggoda saat sedang tidur seperti ini, hingga nafas Vina yang berbau alkohol, seperti mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih lagi. Namun, pikirannya yang waras langsung menampar dirinya sampai tersadar. Dengan refleks, dia langsung menarik tangannya secepat mungkin; yang untungnya tidak membangunkan Vina sama sekali.


Dia berusaha mengendalikan dirinya dan memakaikan Vina selimut sebelum kemudian keluar dari kamar Vina. Wajahnya terasa begitu panas, jantungnya berdetak begitu cepat. Meski mereka berdua sebenarnya sudah tergolong old couple, hal-hal seperti masih saja selalu membuat jantungnya berdetak begitu cepat dan salah tingkah.