
1
‘Indonesia, negara dengan jumlah penduduk 200 juta lebih. Namun, mempunyai jumlah penduduk terbanyak ke 4 di dunia, tampaknya tidak membuat Indonesia seperti Amerika ataupun China yang juga mempunyai penduduk banyak. Tingkat pengangguran yang cukup tinggi, kesejahtraan penduduk rendah, sampai angka pendidikan yang rendah menjadi momok bagi Indonesia. Tidak sampai disitu, bagi tamatan S1 pun juga tidak menjamin akan langsung sejahtera. Banyak dari mereka yang terpaksa menganggur bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapat pekerjaan; yang itu pun terkadang gajinya tidak seberapa.’
Setiap kali membaca artikel tersebut; terkhususnya di bagian ‘tamatan S1 yang belum tentu langsung sejahtera’, membuat Evan selalu bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan tidak terlalu lama setelah dia lulus dari kampusnya. Hanya sekitar sebulan setelah lulus, dia cukup beruntung karena bisa langsung mendapatkan pekerjaan di tempatnya sekarang, salah satu media online terbesar di Indonesia.
“Hei, makan di restoran biasa yuk,” ajak Kento, salah satu rekan kerja sekaligus temannya yang dari namanya saja sudah menunjukkan kalo dia adalah orang Jepang.
“Oke, a minute,” dia menyanggupi dan kemudian merapikan dokumen di atas mejanya dengan ditumpuk dengan rapi di sisi kiri meja kerjanya; menutup laptopnya dan mematikan monitornya; mengambil jaket yang seperti sweter berwarna coklat beserta ID cardnya dari tempat dia biasa menggantungnya dan kemudian menyusul Kento.
Mereka berdua sebenarnya adalah senior dan junior; karena dia masuk kantor lebih dulu setahun dari pada Kento. Namun, persahabatan mereka bisa dibilang cukup erat layaknya saudara. Ditambah lagi dengan kento yang cukup fasih berbahasa Indonesia, juga menjadi salah satu alasan kenapa mereka bisa berteman akrab; karena mudah berkomunikasi. Alasan Kento ke Indonesia pun simpel, karena jatuh cinta dengan keindahan alam di Indonesia.
...***...
Kento pun bisa dibilang membawa pengaruh positif bagi Evan. Contohnya saja, pada masa awal-awal mereka mulai berteman akrab. Mereka yang biasanya naik taksi hanya untuk ke restoran yang berjarak sekitar 1 kilo dari kantor mereka—karena Evan yang tidak mau ribet dan ingin cepat sampai—perlahan berubah.
Sekarang, mereka lebih memilih jalan kaki sekalian membicarakan beberapa masalah pekerjaan, bertukar informasi tentang gosip terbaru, atau bahkan membicarakan tentang bagaimana cantiknya Wakil Direktur Dept Keuangan yang sudah hampir kepala 4 tapi masih punya body yang aduhai.
Sesampainya mereka di restoran yang sudah menjadi langganan mereka selama 4 tahun. Pelayan restoran yang sepertinya sudah hafal dengan wajah mereka berdua, langsung mengantar mereka ke meja dekat jendela; tempat favorit mereka berdua. Ada salah satu alasan kenapa dia; Evan, sangat menyukai restoran tersebut. Yakni, oseng-oseng cah kangkung dan Ayam Rica-Rica yang sudah menjadi favoritnya semenjak pertama kali restoran tersebut di buka. Dia selalu memesan kedua menu tersebut setiap kali datang ke tempat itu.
“So, bagaimana dengan kisah cinta pertamamu,” Kento bertanya ketika mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.
“Kenapa lu tertarik banget dengan kisah gua sih?” dia menggerutu.
“Are you crazy? Semua orang pasti bakal tertarik lah dengan kisah lu berdua. Bayangkan, seorang junior yang suka dengan seniornya yang cantik. Menyimpan perasaan sampai 15 tahun lamanya. Bahkan junior tersebut sampai rela masuk ke dunia jurnalis demi bisa mengikuti update senior tersebut. Semua orang pasti akan sangat tertarik tentunya bukan?”
“Lu ngak tertarik jadi novelis? Imajinasi lu lumayan bagus, mau gua bantuin bikin surat pengunduran diri?”
“Gila ya? Ngak bakal gua ngelepasin pekerjaan dengan gaji 10 juta demi apa yang belum pasti. Gua cuma penasaran dengan kisah lu karena it’s like a movie, dan penasaran banget bagaimana endingnya kalian nanti,”
‘...kembalinya Vina, salah satu penyanyi Indonesia yang bertalenta, dan menjadi penyanyi Indonesia pertama yang meraih Grammy awards untuk Best Pop Vocal Performance, menjadikan dirinya salah satu penyanyi papan atas dunia. Semenjak...’
Kento, dari awal memang adalah penggemar fanatik dari Vina. Hal itu bahkan sampai membuat Evan sedikit agak sangsi saat berteman dengannya. Pernah suatu kali, ketika mereka pergi hiking dengan beberapa teman kantor mereka berdua. Evan secara tak sengaja melihat playlist Kento yang isinya, semua adalah lagu-lagu Vina dan tidak ada satupun lagu lain.
“Dah, makan saja dulu makanan lu,” ucap Evan.
Setiap kali mengingat kejadian tersebut, ia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan temannya satu ini. Seandainya saja temannya ini mengarahkan semua tekadnya tersebut ke artikelnya, mungkin saja dia sudah menjadi manajer saat ini.
Tidak berapa lama berselang, saat mereka sedang menikmati makanannya masing-masing. Suasana di luar restoran tiba-tiba menjadi riuh. Banyak orang yang berkumpul di depan restoran ketika sebuah mobil SUV mewah berhenti tepat di depan restoran diikuti oleh sedan hitam di belakangnya. Orang-orang terlihat mengeremuni van tersebut sampai akhirnya 4 orang berbaju hitam datang, menghalau kerumunan tersebut agar menjauh dari badan mobil, dan membuka jalan.
“Wah, buat apa orang terkenal kaya begitu datang ke restoran seperti ini?” Kento terlihat tertarik untuk meski hanya sesaat sebelum akhirnya lebih memilih kembali menikmati makanannya. Akan tetapi, reaksinya berubah setelah melirik kembali dan melihat orang yang turun dari mobil tersebut,
“Wah, itu kan, v.. vi.. Vina,”
Kento terlihat kegirangan dan gugup bukan main, apalagi saat Vina melangkah masuk ke dalam restoran. Dia langsung meraih sesuatu di dalam jaketnya; yang Evan sudah bisa tebak dari awal kalau itu adalah note dan polpen.
Evan hanya geleng-geleng kepala saat melihat Kento yang dengan tergesa-gesa berdiri dan langsung berlari menghampiri Vina untuk meminta tanda tangan. Dia hanya bisa menghela nafas saat melihat tingkah temannya tersebut. Setelahnya, dia kemudian memanggil pelayan untuk membayar makanan mereka.
Sementara Kento terlihat sedang mengantri dan bersaing dengan beberapa orang di sesi acara jumpa fans tiba-tiba tersebut. Evan membayar makanan mereka, dan sebelum beranjak pergi, dia mengatakan kepada pelayan untuk tidak langsung merapikan makanan di atas mejanya. Dia kemudian memakai sweternya dan berjalan menghampiri Vina dengan senyuman di wajahnya,
Evan langsung menyerobot ketika melihat celah di antara beberapa orang yang berdesakan dan menyapa Vina dengan agak keras agar bisa terdengar oleh Vina, “Hai, boleh minta tanda tangannya ngak?” dia sedikit berteriak.
Apa yang terjadi berikutnya membuat semua orang di restoran itu terdiam. Vina tidak membalasnya dengan perkataan, melainkan menyuruh pengawalnya untuk membuka jalan, menghampiri Evan dan kemudian mencium pipi Evan di depan semua orang tanpa malu-malu sedikit pun. Kento yang melihat hal itu, hanya bisa menganga. Seolah baru saja melihat sesuatu yang menakjubkan.
“Finally, we got it, Honey,” perkataan Vina langsung membuat semua orang disitu terkejut dan terlihat seperti bertanya-tanya siapa Evan sebenarnya.
Evan dan Vina saling menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama dengan senyuman lebar di wajah mereka, seperti mereka baru saja bertemu setelah sekian tahun lamanya.
Ada satu hal yang dia tidak pernah cerita ke Kento selama ini, kalau senior cantik yang dia bicarakan selama ini sebenarnya adalah Vina. Dan juga, cintanya bukan tidak terbalaskan, melainkan karena mereka berdua lebih memilih untuk menggapai impian mereka bersama-sama.