Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 2 : GETTING CLOSER (PART I)



“Tunggu dulu, saya jeda sedikit ya,” sela pembawa acara yang mewawancarai mereka berdua, “Jadi, sebenarnya siapa yang mempunyai rasa suka pertama?” tanya si pewawancara.


Evan dan Vina saling menatap, dan tersenyum. Ketika Evan melirik, ia bisa melihat raut wajah pewawancara mereka yang terlihat sangat excited sekali.


“Sejujurnya, kami tidak pernah tahu siapa yang suka duluan, Karena memang tidak pernah kami bahas sekali pun. Tapi..,” sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Vina sudah mulai berbicara, namun sedikit melakukan penekanan di kata ‘tapi’. seperti sedang menceritakan perbuatan baik seseorang namun seolah orang tersebut mempunyai plot twist. “Kalo soal siapa yang nembak duluan, itu tetap dia,” imbuh Vina; yang seolah ingin menegaskan kalau tetap dirinya lah yang dikejar-kejar oleh Evan.


“Ah, begitu,” ucap si pewawancara itu.


Yah, apa yang dikatakan Vina memang tidak salah juga sih tentang Evan yang menyatakan perasaan lebih dahulu. Namun bagi Evan, semua itu hanyalah proses. Mulai dari bagaimana dia memanggil Vina dari Kak menjadi nama biasa saja.


***


Back to teenager age


Selama sebulan lebih, dia mengambil dua kegiatan yang mungkin bagi orang lain melelahkan; OSN dan Klub Musik. Berkat manajemen waktu yang cukup efesien yang berhasil di lakukannya, kedua kegiatan tersebut tidak mempengaruhi akademiknya sama sekali.


Alfred bahkan sampai menyebutnya dengan sebutan ‘monster’ karena masih bisa senyum-senyum meski digembleng dengan soal OSN yang begitu memutar otak sampai pusing. Yap, sampai sekarang, selama sebulan lebih, ia tidak memberitahu Nadya dan Alfred soal dirinya yang bergabung dengan klub musik.


Bisa dibilang, ia cukup beruntung. Karena setelah tes kemampuan, orang-prang di klub musik langsung mengakui kemampuannya, sehingga latihan khusus untuknya tidak terlalu di perlukan. Akibatnya, ia hanya perlu hadir sekali seminggu; tidak seperti OSN, yang mewajibkan 2 kali dalam seminggu.


Selain itu, karena sudah cukup tersiksa di OSN. Sifat Nadya dan Alfred yang begitu kepo dengan urusannya, menjadi hilang.


“Wah, gua ngak tahan lagi. Boleh resign ngak sih?” Alfred mengeluh saat mereka sedang bersantai di perpustakaan; ini mungkin sudah yang ke 5 kalinya dari 8 pertemuan yang mereka ikuti, sehingga saat ini sudah bukan hal yang mengejutkan lagi baginya ataupun Nadya. Mereka berdua tahu, kalo keluhan dari Alfred itu hanyalah sekedar bullshit saja. Sebab setiap pertemuan, Alfred tidak pernah mengeluh dan hanya mengeluh setelah selesai saja.


Bingung? Tidak juga, karena dia sendiri juga pernah melakukan hal yang sama; walau tidak seintens yang dilakukan Alfred.


“Ah, dasar bullshit. Tadi saja lu selesai paling pertama. Mana benar semua pula. Kan ******,” omel Nadya yang sedang sibuk membolak-balik halaman buku yang sedang di bacanya. Entah ini sudah yang  keberapakalinya ia melihat Nadya membaca buku tersebut dengan begitu rajinnya. Dan melihat buku tersebut tidak terlalu tebal, seharusnya setidaknya Nadya sudah menghabiskan buku tersebut dua kali.


“Itu namanya power of kepepet tahu, ngerti ngak?” Alfred membalas sembari memukul meja di depannya agak keras dengan tangan yang dikepal. Hal itu, sempat membuat mereka bertiga mendapatkan teguran dari pihak penjaga perpus, “Kalo tahu susahnya kaya gini, mending gua daftar ekskul lain saja sudah,” sambung Alfred kembali setelah penjaga perpus tadi pergi.


“Whatever..” Nadya membalas dengan acuh tak acuh.


Alfred yang tampak kesal, kemudian bersikap usil dengan menutupi buku yang sedang Nadya baca sebelum Nadya sempat menandai halamannya; yang tentu merupakan salah satu kejengkelan terbesar bagi pembaca novel. Nadya yang tidak terima kemudian membalas dengan melakukan sesuatu di bawah meja sampai membuat Alfred tampak kesakitan.


Sementara kedua temannya tersebut bertengkar, pikiran Evan sekarang ini sedang melayang saat dia bertemu dengan Kak Vina secara sembunyi-sembunyi hari ini layaknya orang yang sedang menjalin hubungan terlarang.


Kalau diingat-ingat kembali, Kak Vina memang terlihat cukup cantik; dengan tubuh yang terbilang sangat berisi untuk anak-anak SMA, dan didukung dengan suara yang merdu, semua pria pasti akan mendesir darahnya saat mengobrol dengan jarak yang begitu dekat dengan dia.


Hanya saja, membayangkan reaksi Alfred dan Nadya yang akan menertawakannya jika ia mengatakan soal perasaannya kepada Kak Vina; yang mungkin akan membuat dirinya menjadi bahan olok-olakan duo gosip ini untuk seumur hidupnya. Ia memilih untuk menyukai Kak Vina dan mendekati dia secara diam-diam saja tanpa sepengatahuan Alfred ataupun Nadya—walau agak mustahil sih—demi kenyamanan dan harga dirinya.


“Heh, kenapa lo senyum-senyum,” karena terlalu keasyikan tenggelam di imajinasi liarnya, dia sampai lupa kalau di sampingnya saat ini sedang ada Alfred dan Nadya yang pasti akan menangkap setiap gerakan mencurigakan darinya.


“Hah? Ngak, cuma merenung saja. Apa gua perlu mundur dari OSN juga ya? Lagian kan gua selesainya hampir belakangan mulu,” ia menjawab setelah terdiam sesaat karena memikirkan alasan apa yang tidak akan membuatnya di curigai.


“Nah kan? Bagaimana kalo kita mundur saja? Biarin saja sih Nadya yang tinggal sendirian,” sahut Alfred dengan mata yang berbinar-binar.


“Ngak bisa begitu lah, kan lu berdua yang ngajak gua. Sekarang lu harus bertanggung jawab dong, ngak boleh mundur. Mau di taruh mana muka kita bertiga sebagai top 3 Olimpiade Matematika?” Nadya menggerutu namun juga terlihat menakutkan.


Menurutnya, sudah bukan rahasia lagi kalo pemimpin di antara mereka bertiga adalah Nadya yang paling menakutkan saat marah. Alfred pernah memberi julukan Nadya sebagai macan betina yang kelaparan kalau sedang marah. Hal itu tidak salah sih, karena ketika Nadya marah, ia dan Alfred hanya bisa diam seribu bahasa dan baru hanya bicara setelah amarah Nadya sedikit mereda.


“Tanggung jawab lu, gara-gara ide lu ini kita kena apes kaya gini,” Alfred berbisik mengomel kepadanya.


“Sudah, yang penting kita diam saja untuk seakrang, biar ngak runyem urusan kali ini,”


“Tapi….”


“BISIK-BISIK APA LU BERDUA?!!” Nadya mengancam ketika mereka berdua—Evan dan Alfred—sedang berbisik memikirkan cara untuk keluar dari situasi sekarang ini. Baru digertak seperti itu, Evan dan Alfred sudah meneguk ludah karena gugupnya. Sorot mata Nadya ketika marah, memang tidak main-main, seperti macan yang siap menerkam mangsanya.


“Ng.. Ngak, ngak ngapa-apa kok kanjeng ratu,” Andre mengelak; juga sedikit memuji Nadya agar bisa sedikit bersikap lunak kepada dirinya dan juga Alfred.


Trik tersebut tampaknya berhasil, karena sorot mata Nadya mendadak berubah menjadi sedikit lebih tenang; tidak melotot lagi seperti tadi, “Ok, awas saja lu berdua kalo mundur dan ninggalin gua sendirian,” ujar Nadya sembari kembali duduk dan bersikap anggun dengan merapikan rambutnya seolah ingin menarik perhatian seseorang.


Untuk kali ini, sebagai teman, ia cukup terkejut saat melihat perubahan sikap dari Nadya seperti tadi. Ia juga menengok ke kanan, kiri dan belakangnya dengan segera untuk melihat siapa yang disukai Nadya. Namun hasilnya? Nihil, tidak ada siapapun di sepanjang deretan meja yang mereka duduki; kosong, hanya ada mereka bertiga saja. Yang artinya, hanya ia atau Alfred yang kemungkinan besar disukai oleh Nadya.


Menyadari fakta tersebut, ia sedikit tercengang dan menelan ludah. Bukannya apa, ia hanya takut hubungan pertemanan mereka bertiga berubah menjadi canggung jika ada hubungan lebih dari pada teman diantara mereka bertiga.


Meski begitu, untuk saat ini ia lebih memilih untuk diam saja dan melihat bagaimana perkembangan ke depannya; karena bisa saja tebakannya salah. Mungkin, tadi ada orang yang lewat di balik rak buku; karena setiap deret meja dipisahkan oleh rak buku besar.


“Ngak kok, mungkin kami berdua cuma sekedar jenuh sesaat saja,” dia kembali beralasan untuk meyakinkan Nadya.


“Hai,” mendengar suara Kak Vina yang sangat dihafalnya—akibat sering latihan bersama—ia sedikit tersentak dan hampir saja melompat berdiri dari kursinya, namun berhasil ditahannya demi tidak menimbulkan kecurigaan apapun di depan Alfred dan juga Nadya.