
Terjebak dalam kemacetan saat perjalan pulang ke rumahnya, Alfred memutar musik K-Pop yang ceria supaya dirinya tidak mengantuk. Mempunyai apartement yang berada di pusat kota dan dekat dengan restorannya memang adalah sebuah ide bagus. Akan tetapi, itu juga bisa menjadi bencana, karena dirinya harus selalu menahan amarah setiap kali terkena kemacetan di jalan tol dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Dia dan Nadya bahkan sempat bertengkar mengenai pemilihan tempat tinggal mereka berdua gara-gara kemacetan ini. Nadya yang memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan bolak balik ke restoran saja setiap harinya memang diuntungkan, namun tidak baginya. Sebab, dia lebih senang menghabiskan waktu di luar untuk refreshing setelah restoran tutup pukul 8 atau 9 malam, dan baru kembali ke apartement menjelang jam 11 malam.
Di tengah kegalutan yang sedang melandanya, handphonenya tiba-tiba berdering. Melihat nama Nadya ‘sayang’ terpampang di layarnya, dengan cepat dia mengangkat telponnya; yang langsung terhubung dengan audio mobilnya.
“Halo, kenapa yang?”
“Sudah di mana kamu?”
“Masih di tol,”
“Masih jauh?”
“2 Kiloan lagi, kenapa?” ujarnya setelah memastikannya di google map. Suara Nadya yang seperti sedang berbisik di telepon membuatnya sedikit penasaran alasan Nadya menelepon. Apalagi saat dia menyadari kalo jam di dashboard mobil sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam; yang mana di jam segini, Nadya biasanya sudah tertidur pulas demi bisa membuka toko agak pagian esoknya.
“Orang tua kita datang,”
“Oh begitu, kir....” dia terdiam sejenak untuk beberapa saat, “WHAT?!!” serunya ketika berhasil mencerna kata-kata Nadya dengan baik. Sebab tadi, dia hanya mendengar kata Orang tua dan pikirnya hanya orang tua Vina saja yang datang.
“Makanya...”
“Te.. Terus mereka tinggal di apartement sekarang?”
“Ngak, balik ke hotel,”
“Aduh sial,” dia mengumpat dan memukul agak pelan stir mobilnya, “Mereka nyariin aku pasti ya? Buruk lagi dong kesan ortumu ke aku, mana ada orang tuaku juga pula,” imbuhnya.
“Ngak, nanti aja kita bicarakan kalo kamu sudah sampai. Fokus nyetir aja dulu,”
“Oke, love u,”
“Love u too,” balas Nadya sebelum panggilan mereka berakhir.
Setelah panggilan tersebut berakhir, pikirannya menjadi tidak tenang. Karena dia sudah bisa menebak apa yang akan di permasalahkan orang tua mereka berdua; “Pernikahan”. Yap, masalah tersebut setidaknya sudah muali diungkit-ungkit setidaknya semenjak bisnis mereka mulai sukses 3 tahun lalu.
Dan selama 3 tahun itu pula, dia dan Nadya selalu berdalih ingin membuka cabang ke 2 dulu sebelum mereka merencanakan pernikahan; walau sebenarnya mereka sudah bisa membuka cabang ke 2 dari setahun yang lalu. Tampaknya, kali ini masalah ‘Pernikahan’ ini sudah tidak bisa dia hindari lagi. Alasan sebenarnya dia masih ragu-ragu untuk melanjutkan hubungannya dengan Nadya ke jenjang pernikahan, adalah karena masih ada sesuatu yang mengganjal hatinya selama ini, dan cukup susah untuk di jelaskan.
Di samping itu, dia sedikit takut akan kehidupan pernikahan, yang kata orang-orang seusinya, punya kesan yang cukup buruk di tahun-tahun awal. Pikirnya, jika selama ini—saat masih pacaran—dia dan Nadya saja sudah cukup sering bertengkar, apalagi saat mereka menikah. Dan di satu sisi, dia juga sangat takut kehilangan Nadya, sehingga dia takut kalau pertengkaran mereka sesudah mereka menikah akan berhujung dengan perceraian.
Namun, kali ini, mau tidak mau dia sudah harus membuat keputusan. Dia sadar kalau ancaman ayah dan ibunya beberapa bulan yang lalu sekarang ini mulai terlihat begitu jelas di matanya. Dan, dia juga tidak mau terjebak dengan perasaan takutnya tersebut.
***
“I’m home beb,” ucapnya setiap kali dia melewati pintu masuk unit apartemennya.
“Sudah makan?”
“Ya sudah, kamu makan dulu baru kita ngobrol,”
“Oh iya, kenapa orang tua ngak kamu ajak nginap disini aja. Kan kamar banyak yang kosong,” dia kembali bertanya, sebab dia dan Nadya memang sengaja mengambil apartement yang punya 4 kamar tidur demi bisa mengakomodir keluarga besar mereka kalau datang ke Jakarta.
“Papa sama mama yang ngak mau, orang tua kamu juga sama, lebih milih nginap di hotel,” Nadya menyahut dengan suara agak keras karena sedang menaruh jaket kotor Alfred di mesin cuci langsung; karena kebetulan dia memang rencananya akan menuci pakaian kotor besok pagi sebelum pergi ke restoran.
“Begitu toh, padahal sayang banget kita punya banyak kamar kosong,”
“Yah kamu tau sendiri lah mereka tuh kaya bagaimana,”
“Iya juga sih,”
Sesudah makan malam; atau yang lebih bisa dibilang makan tengah malam\, sesuai kebiasaannya sebagai calon suami yang baik\, dia mencuci piringnya sendiri sebelum kembali ke ruang keluarga dan mendapati Nadya yang sedang mengupas apel sambil menonton film di N***ix.
“Bagaimana penyeledikanmu, dapat bukti kalau si kampret itu yang merencanakan kecelakaan Evan?” Nadya langsung bertanya soal kegiatan Alred hari ini, dia sekarang ini memang begitu membenci orang yang bernama Joshua tersebut, bahkan sampai enggan menyebut namanya.
“Sudah, ngak usah pikirin dia. Jadi apa yang orang tua kita katakan lagi kali ini. Soal pernikahan lagi?”
Nadya kemudian mengangguk sebelum menjawab, “Well, kali ini mereka tampaknya sangat serius dan berencana membuat acara pernikahan untuk kita berdua kalo kita ngak langsung bertindak,” ujar Nadya menceritakan bagaimana suasana tadi siang saat kedua keluarga mereka datang.
Memang, kedua belah pihak seperti berbicara dengan santai. Namun sebenarnya, dengan tidak adanya Alfred, pembicaraan disitu berubah menjadi sesi interogasi 4 vs 1. Orang tua mereka berdua memang berbicara sambil tersenyum, namut tetap mengandung tuntutan yang masih sama dengan yang sudah-sudah, ‘Pernikahan’. Bahkan, kedua belah keluarga—tanpa membicarakan dengannya ataupun Alred dahulu—sudah berencana memilih tanggal; yang akhirnya inilah mungkin yang juga menjadi alasan orang tua mereka lebih memilih menginap di hotel.
“Hah, tampaknya ngak ada pilihan lain lagi, besok kita harus ketemu dengan orang tua dan menuruti kemauan mereka,” ucap Alfred setelah mendengus sekali.
“Bagaimana kalo kita kabur ke luar negeri aja dulu?”
Alfred tersenyum mendengar ide Nadya tersebut sebelum menedekati Nadya dan menyentil jidat calon istrinya ini dengan manja, “Terus restoran kita siapa yang kelola?” jawabnya dan kemudian geleng-geleng kepala karena ide konyol Nadya tersebut.
“Berarti uang untuk buka cabang bakal dipakai buat nikahan dong?”
“Ya iyalah, apalagi kamu tau kan Ibumu sama Ibuku tuh pasti banyak maunya,”
“Tapi bagus juga sih, setidaknya orang tua kita tidak akan menganggu lagi kaya begini setelah kita turuti permintaan mereka kali ini,” perkataan Nadya tersebut membuat Alfred terkekeh, “Kenapa kamu ketawa?” tanya Nadya.
Alred kemudian berubah 180 derajat dan masuk ke dalam mode serius. Dia kemudian mendekati Nadya secara perlahan, sedangkan Nadya malah terus mundur sampai akhirnya terpojok di ujung sofa. Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan Alfred untuk sedikit mengangkat piyama Nadya dan membelai pinggangnya. Sementara itu, di saat yang bersamaan, dia mendekatkan kepala mereka berdua.
“Kamu tau apa yang bakal mereka minta selanjutnya?” bisiknya di telinga Nadya sembari meniupkan pelan. Sekarang ini, dia bisa merasakan nafas Nadya yang mulai sedikit agak cepat dari sebelumnya.
“A.. Apa?”
“Cucu,”
Nadya yang tadinya sudah pasrah, langsung tersadar dan mendorong Alfred menjauh. Meski begitu, Alfred hanya tersenyum ketika melihat wajah Nadya yang sudah sangat memerah akibat permainannya tadi. Namun, dia juga bersyukur karena Nadya langsung mendorongnya, karena dia sendiri hampir melanjutkannya dengan serius tadi.
“WHAT?!!”