
Besoknya, sesuai dengan rencana, ia dan Vina pergi ke mall bersama dengan Alfred dan juga Nadya. Dari pertama mereka berangkat dari apartemen, Vina masih bersikap dingin kepadanya dan hanya menjawab seperlunya, itupun dengan nada yang agak ketus. Bahkan saat mereka berjalan di mall, Vina terus menempel dengan Nadya dan menjaga jarak dengan dirinya dan juga Alfred.
“Lu berdua kenapa sih? Lagi ada masalah ya?” ujar Alfred saat mereka sedang menunggu Vina dan Nadya—yang sekarang ini entah sedang berbelanja di mana—di salah satu cafe.
“Biasalah, cuma masalah sepele,” ia mencoba mengelak,
“Masalah biasa biji mata lu,”
“Ketahuan ya?”
“Ya iyalah bego, apalagi Vina terang-terangan ndak mau bicara ama elu. Semua orang sudah pasti taulah,”
“Hmm, ternyata peka juga lu,”
“Jadi, ada masalah apa?”
Andre menghela nafas dan menyeruput minuman yang ada di depannya sebelum menjawab, “Vina tau soal rencana gua untuk menjatuhkan Joshua,”
“Lah, seperti itu doang?”
“Dia ngak mau gua terlibat langsung, takut gua masuk RS lagi gara-gara si kampret itu. Tapi ya masa gua ngak terlibat saat melihat lu sama orang yang namanya Fahmi itu sampai terjun langsung. Kan ngak enak aja,”
“Ya wajarlah kalau dia sampai bersikap seperti itu. Makanya dia nyewa Fahmi dan beberapa orang lain buat menyelidiki Joshua,”
“Wait, dia yang nyewa Fahmi? Gua kira itu kerjaannya si Kamila,” ujar Evan.
Dirinya agak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Alfred. Sebab sampai sekarang, baik Kamila atau Vina hanya menyebutkan kalau Fahmi adalah teman mereka, bukan seseorang yang dibayar.
“Ah, ******. Padahal Vina ngak mau ketahuan soal itu,” Alfred terlihat menggigit bibirya karena kecoplosan soal apa yang dilakukan Vina, “But anyway, what’s important, dia hanya ngak mau gua atau lu terlibat langsung, apalagi setelah kecelakaan lu yang sampai begitu parahnya. Makanya dia nyewa orang lain, itu aja. She’s really care about us,”
“Yeah, I know that,”
Meski terkejut, tetap ada perasaan senang yang tidak bisa ia jelaskan begitu mengetahui sebagaimana perhatiannya Vina terhadap dirinya sampai rela menyewa orang lain; yang mana itu cukup beresiko jika sampai bocor ke seorang jurnalis.
“Ngomong-ngomong sekarang udah tanggal 11 ya? Lu mau ngasih apa ke Vina buat Valentine nanti?”
“Kenapa lu nanya? Mau nyontek hadiah gua?”
“Yah, lu kan terkenal paling romantis diantara kita berempat. Nadya aja terkadang iri dengan hadiah lu ke Vina. Sampai mumet gua dengarnya,”
“Makanya, kreatif dikit lah. Dan, tiap orang itu beda-beda keles. Hadiah gua ke Vina tuh selalu ada maknanya,”
“Heleh, bilang aja lu pelit,”
“Kan, lu aja ngak mau percaya apa yang gua bilang,”
Meski dia dengan percaya diri menyindir temannya satu ini, ia sendiri sebenarnya juga belum kepikiran untuk memberikan hadiah apa kepada Vina. Sejujurnya, ia bingung hadiah apa yang cocok untuk memperingati Valentine tahun ini.
“Ah sudahlah, forget about that. Soal Joshua, bagaimana rencana lu kedepannya?” Alfred kemudian menyela ketika ia sedang memikirkan hadiah apa yang kira-kira cocok untuk Vina.
“Hmm? Gua rencananya mau melaporkan itu orang ke kantor polisi begitu bukti yang kita dapat ada yang bersangkutan dengan kecelakaan gua,”
“Lu taukan kalo itu hal yang sulit, dia pasti sudah memikirkan semua jalan keluar dan menghapus semua bukti yang ada,”
“Setiap kejahatan pasti akan mempunyai celah, there’s no perfect crime. Remember?”
“Iya sih, cuma sekarang ini kita ngak punya bukti sama sekali. Yang ada cuma menunjukkan kalo si kampret itu sedang melobi untuk film Sutradara Alberto,”
“Berarti main lu kurang jauh,” ucapnya sambil tersenyum tipis,
“Maksudnya?”
“Jadikan ini sebagai awal yang baru, sisanya pasti akan muncul dengan sendirinya,”
“I.. I.. Ini lu dapat dari mana?”
“Da…”
“Dasar ya lu berdua, gua cariin kemana-mana malah disini enak-enak bersantai!!!” suara Nadya yang begitu keras membuat dirinya dan Alfred terkejut. Beberapa orang bahkan sampai melirik ke arah mereka dengan senyuman seperti menertawakan mereka.
Namun tatapan itu berubah ketika orang-orang menyadari kehadiran Vina yang datang tak lama setelah Nadya dengan tas belanjaan yang tampak begitu banyak. Ia mencoba untuk tersenyum menyambut Vina dan berusaha untuk membantu Vina dengan barang-barang bawaannya. Akan tetapi, hal itu tidak berdampak apapun. Vina malah langsung menjatuhkan tas belanjaan tersebut dan berjalan melewati Evan begitu saja lalu duduk di samping Nadya.
Merasa pertengkaran ini tidak dapat di toleransi lagi, setelah menaruh barang-barang belanjaan yang dibawa Vina di dekat meja tempat mereka duduk, Evan langsung menghampiri Vina, memegang pergelangan tangannya dan langsung memaksa dia untuk mengikutinya. Bagi Evan, dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan menjadi headline besok di majalah gosip. “Pokoknya yang penting hari ini masalah kita beres,” itulah yang terngiang di kepalanya saat ini.
Untungnya, Vina juga tidak melawan dan pasrah mengikutinya.
***
“Kita mau kemana sih?” Vina bertanya dengan nada ketus ketika mereka memasuki tol jagorawi,.
“Kemana saja yang jauh dari hiruk pikuk kota,”
“What? Tanpa prepare sama sekali, kamu ngak mikir besok mau pakai apa, ya kali pakai baju ini terus seharian. Putar balik sekarang,”
“Nope, kita harus refreshing hari ini biar emosimu hilang,”
“Oh c’mon, did you really doesn’t know why I’m angry like this?”
“I know,”
“Nah, terus seharusnya kamu tau kan harus bagaimana supaya aku ngak marah?”
“I can’t do what you want,”
“Why? Tell me one reason why I should let you do that risky thing,”
“Karena aku ngak mau orang kaya dia bisa terus melakukan apa yang dia inginkan. Mungkin selama ini dia hanya melakukan hal semacam gosip seperti yang dia lakukan ke kamu. But, he make one mistake, he trying to kill me because what I know about him. Dan kamu mau melepaskan orang seperti itu begitu saja? Entah apa yang akan terjadi berikunya kalo orang gila kaya dia dibiarkan terus seperti itu,”
“Tapi, kamu kan bisa minta tolong orang lain, sewa detektif atau orang yang lebih professional,”
“Like what you do? Itu terlalu beresiko,”
“Wait, dari mana kamu tau soal aku nyewa orang?”
“Alfred,”
Vina sempat berbicara sendiri dengan suara yang pelan dan tidak bisa ia dengar karena terlalu fokus mengemudi untuk sesaat sebelum membalas, “Udahlah, putar balik mobilnya. Aku ngak prepare apapun loh, ngak ada pakaian, perlengkapan sehari-hari juga ngak ada,”
“Gampang, bawa Credit Card sama ATM kan? Tinggal beli aja nanti di minimarket kalo cuma kebutuhan buat sehari dua hari. Baju juga nanti beli di tengah jalan aja. Pasti banyak kok yang bagus-bagus. Atau jangan-jangan kamu gengsi lagi,”
“Ya bukan gitu, tapi kan gua belum izin sama Kamila,”
“Jadwalmu kan kosong, jadi ngak apa-apalah,”
Vina kemudian memajukan badannya sampai begitu dekat dengan Evan dan menatapnya dengan tatapan curiga dibarengi dengan senyuman yang menggoda sampai-sampai membuat Evan menelan ludah, “Jujur saja, kamu sudah merencanakan ini semua kan?”
“Hah?” Evan agak terkejut, pikirannya sempat melayang kemana-mana saat Vina begitu dekat dengannya saat ini, “Duduk yang benar napa, bisa-bisa kita kecelakaan tau kalo kamu ngeganggu kaya gitu. Bikin buyar konsetrasi,” sambungnya.
Ia bisa merasakan wajahnya yang terasa panas dan juga bermandikan keringat karena pikiran mesumnya akibat di pancing oleh Vina. Namun, disamping itu semua, dia cukup senang karena Vina sepertinya sudah tidak marah lagi dengannya saat ini.