Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 3 : JADIAN? (PART VI)



“Ah, tapi semua itu sudah jadi masa lalu kok Kak. Sekarang, kami lebih seperti saudara aja,” Silvia memecah keheningan. Evan terlihat mengangguk setuju dengan perkataan Slvia.


Entahlah, mungkin karena dirinya yang terlalu curigaan, perkataan Silvia barusan seperti terdengar berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya. Sesekali—saat ia pura-pura tidur--ia menangkap basah Silvia diam-diam melirik ke arah Evan.


Tidak mau membuat kesalahan kembali dan memperburuk imagenya di depan Evan, ia memilih untuk tetap menutup matanya dan memikirkan hal yang positif untuk menenangkan keraguan daam dirinya.


“Kak, bangun kak,”


“Hmm?”


“Sudah sampai,”


Ia tidak menyangka, niatnya yang awalnya hanya ingin pura-pura tertidur dengan memejamkan mata sejenak malah berubah menjad itertidur betulan. ‘Sangat memalukan’ ucapnya dalam hati sembari merapikan pemnampilannya.


Setelah selesai merapikan diri, ia berjalan turun dari mobil. Ia cukup terkejut, karena rumah Evan terlihat sangat bagus dari depan, dua pilar yang tinggi di depan pintu utama memberikan kesan mewah dan megah. Padahal, kalau dilihat sekilas, lahan rumah Evan sebenarnya tidak terlalu luas, namun halaman depan yang tampak lega memberikan kesan ruang yang luas.


Tidak cukup sampai disitu, begitu masuk ke dalam rumah Evan. Interiornya pun ternyata tidak kalah bagus dibandingkan dengan bagian luar. Langit-langit yang terlihat begitu tinggi, tangga spiral besar yang menganga meyambut mereka di ruang tamu membuat rumah tersebut terasa seperti rumah-rumah orang-orang kaya.


“Sudah pulang?” Tak lama, mereka kemudian di sambut oleh perempuan dengan pakaian santai yang mungkin berusia akhir 30-an kalau ia harus menebak.


“Iya tante,” Evan menjawab, “Perkenalkan, ini tante Janet, kebetulan lagi berlibur dari Surabaya dan nginep disini. Tante, ini Vina,” sambung Evan memperkenalkan mereka berdua.


“Siapa? Gebetanmu? Atau cinta sepihak?”


“Tante…..” Evan terlihat agak salah tingkah ketika tante Janet mengucapkan status hubungannya dengan Evan saat ini tanpa ada filter sedikit pun, “Bagaimana kalo kita ke taman belakang?” Ajak Evan kemudian; yang langsung disetujui oleh Silvia dan juga dirinya sendiri.


Saat berjalan ke Taman, ia sempat memikirkan perkataan Tante Janet barusan. Sambil menatap Evan yang kebetulan berjalan disamping kanannya—namun sedikit agak di depan—ada perasaan berharap dalam dirinya yang berandai-andai jika dirinya sudah menjadi pacar Evan saat ini. Dengan kemampuan musik Evan dan suara yang ia miliki, mereka berdua pasti akan menjadi sangat sukses di dunia musik.


Akan tetapi, sebagian dirinya masih merasa gengsi untuk mengakui lebih dulu soal perasaannya; karena ia merupakan salah satu orang yang merasa kalau ‘cewek yang menyatakan lebih dulu’ akan menurunkan harga diri perempuan. Namun di satu sisi, ia juga merasa insecure dengan Silvia yang terlihat begitu akrab dengan Evan sehingga membuat hati dan pikirannya menjadi dilema.


Masuk ke dalam rumah kaca yang sudah terlihat dari semenjak mereka keluar lewat pintu belakang rumah, ia menjadi lupa sejenak dengan dilemanya tadi. Rumah kaca yang berada di tengah-tengah taman belakang rumah Evan tersebut sudah bak ruang musik lengkap dengan berbagai alat musik yang umumnya dipakai. Mulai dari piano, keyboard, drum, sampai biola pun ada di dalam ruangan tersebut.


“Kamu bisa mainin semuanya?” Ia bertanya karena penasaran apakah Evan sekedar mengoleksi atau memang bisa memainkan semua alat musik yang ada dalam ruangan tersebut.


“Kecuali biola yang baru aku pelajari, yang lainnya bisa,” Evan terlihat sangat pede saat menjawab pertanyaannya barusan. Dirinya yang memang sudah sangat mencintai musik, semakin menyukai Evan yang mampu menguasai semua alat musik meski harus dihadapkan dengan kesibukan sekolah; yang ia tahu tugas-tugasnya pasti sangat menumpuk.


“Coba dong mainin biolanya,” pintanya dengan suara yang berusaha ia buat agak imut—seperti yang sering ia lihat di drama-drama—karena penasaran dengan permainan biola Evan. Karena ia tahu, kalo memainkan biola itu sangat sulit dan ia sendiri sudah berusaha mempelajari biola selama 1 tahun, namun tetap sangat buruk.


“Jangan di ketawai ya kalau jelek,” ucap Evan, yang sekarang ini terlihat begitu gugup dengan wajah yang terlihat tegang dan bermandikan keringat, tangannya juga bahkan terlihat gemetar seperti orang yang sedang demam panggung.


Akan tetapi, beberapa menit selanjutnya, ia malah dibuat kagum dengan Evan yang ternyata sangat mahir bermain biola. Dari caranya menggesek senar, posturnya saat memegang biola, sampai penguasaan ekspresi wajah tidak menunjukkan kalo Evan adalah orang yang ‘baru belajar’ biola. Saat ia menengok ke arah Silvia, moodnya menjadi sedikit kacau karena Silvia terlihat begitu terpaku dengan Evan saat ini.


Namun ia tidak bisa menyalahkan Silvia yang begitu terpesona seperti dirinya, kharisma Evan saat memainkan alat musik memang begitu menggoda. Walaupun tidak mempunyai wajah yang wow, namun pesonanya saat memainkan musik tidak bisa dibantah.


“Bagaimana? Jelek ya?” Evan dengan polosnya bertanya.


“Ngak kok, bagus banget. Malah sudah kaya orang mau latihan konser solo saja”, jawabnya, padahal dalam hatinya ia tidak habis pikir dengan perkataan Evan yang bagian ‘baru belajar’.


Berbeda dengan dirinya, Silvia terlihat hanya diam saja, tidak menetapkan apa-apa dan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan memukul lengan Evan sampai Evan meringis kesakitan dan mengelus lengannya. “Baru belajar mata lu pitek, itu sudah level professional kampret. Youtuber saja mungkin kalah,” ujar Silvia; yang untuk pertama kalinya, ia setuju dengan perkataan Silvia.


Mereka masih mengobrol beberapa lama sebelum akhirnya kembali ke rumah Evan karena dipanggil makan seperti anak kecil. Di meja makan, Evan dan Silvia tampak tidak berbicara sama sekali dan makan dengan tenang.


Baru saat mereka bertiga Bersama dengan tante Janet bersantai di ruang tamu, Evan kemudian mengajaknya menuju pantry, sementara Silvia terlihat menemani tante Janet; yang menurutnya lebih ke arah bergosip.


“So, kenapa kamu manggil aku ke sini?” ia bertanya ketika Evan sedang sibuk mengotak-atik salah satu lemari yang ada di pantry dan kemudian mengeluarkan sebuah wajan.


“Untuk Latihan memasak,” Evan menjawab sembari berjalan ke kulkas.


“Emangnya kamu udah tahu mau masak apa?”


“Sudah, ayam rica-rica,”


“Emang kamu tahu cara bikinnya?”


“Bukannya tinggal lihat di dinternet saja kan?” jawab Evan yang kembali dengan ayam yang sudah di potong-potong dan beberapa bahan masakan.


Dalam hatinya, ia geleng-geleng kepala melihat kelakuan Evan yang terlihat asal mengambil bahan masakan, seperti daun bawang dan daun seledri yang entah untuk apa. Bukannya menyombongkan diri, kebetulan ia memang cukup tahu bagaimana memasak ayam rica-rica, “Dimana tempat bumbu dapur?” ia langsung bertanya setelah menghela nafas.


“Disana kak,” jawab Evan sembari menunjuk ke arah rak yang berada beberapa langkah dari tempat mereka berdiri dan terletak di pojok ruangan. Seolah sudah di luar kepala, ia mengambil bahan-bahan yang biasa dipakainya.


Setelah merasa semua bahan-bahan yang ia butuhkan sudah lengkap, ia kemudian menyuruh Evan untuk memblender merica dan juga beberapa bahan lainnya untuk ditumis nanti. Dan, momen yang membuat jantungnya berdebar begitu kencang pun terjadi. Tepat saat ia akan mengambil daun jeruk untuk di cuci dan Evan yang akan mengambil merica, tangan mereka secara tak sengaja saling bersentuhan dan malah seperti sedang berpegangan tangan.


Seketika itu juga, ia merasakan sebuah sentakan di sekujur tubuhnya. Dengan cepat ia menarik tangannya yang sudah memegang daun jeruk yang dicarinya. Perasaannya saat ini? Tidak karuan.