Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 1 : FALLING IN LOVE (PART III)



Semua berawal dari 15 tahun lalu.


Saat itu, dirinya masih bocah yang baru puber. Kehidupan yang dia pikirkan saat itu hanyalah belajar dan belajar. Dia sadar kalau dirinya bukan lah orang yang diberkati dengan kelebihan wajah ‘good looking’, sehingga yang bisa dia andalkan ke depannya hanyalah kepintarannya saja. Dia tidak peduli diejek punya kehidupan yang membosankan dan tidak berwarna, culun, kutu buku, dan lain sebagainya. Tujuannya hanya satu, bisa masuk ke perusahaan IT ternama seperti Google, Facebook atau Apple.


Terdorong oleh motivasinya tersebut, dia belajar sangat keras demi bisa membangun protofolio pendidikan yang bagus. Karena, dia mendengar sesumbar info, kalau latar belakang pendidikan menjadi salah satu faktor penting untuk bisa bersaing di luar negeri. Dan karena itu, dia mengikuti banyak lomba, mulai dari OSN Matematika saat SD—walau gagal lolos ke level nasional—sampai lomba MIPA setingkat Nasional; yang hasilnya cukup bagus, karena berhasil mendapat juara 2. Tidak hanya itu saja, dia selalu mempertahankan ranking juara 1 umumnya semenjak kelas 1 SMP sampai tamat SMP.


Menyadari bakatnya tersebut, kedua orang tuanya yang memang berkecukupan, memasukkannya ke sekolah elite yang terkenal mencetuskan orang-orang hebat dan yang paling spesialnya, karena mempunyai afiliasi dengan kampus Top di dunia.


Malam sebelum hari orientasi, atau biasa di sebut ospek, dia baru tertidur jam 2 malam saking gugupnya dan mengakibatkan dirinya hampir telat. Dia tidak sabar ingin mengetahui sesulit apa tantangan yang akan di hadapinya di SMA-nya nanti. Tujuannya hanya satu, yakni menjadi yang terpintar.


“WOW”,


Itulah kata pertama yang keluar dari dalam mulutnya begitu melihat gerbang besar yang diatasnya tertulis ‘Welcome to Ruhm und Erfolg High School’ dengan huruf yang cukup besar dan terlihat megah dengan warna keemasan di pinggir setiap hurufnya. Pintu tersebut juga menjadi pintu masuk kawasan yang akan menjadi sekolahnya untuk 3 tahun ke depan.


“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Ayahnya.


Dia tidak bisa memberikan jawaban apapun dan hanya mengangguk, kegirangannya tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Apalagi, khusus untuk hari ini, Ibunya bahkan sampai mengambil cuti hanya untuk mengantarnya di hari pertama.


“Berusaha yang maksimal kalau kamu suka. Buktikan, kalau otak adalah No. 1,” ujar Ibunya ketika mereka sedang mengantri menuju dropzone yang antrian mobil begitu agak padat.


***


Tiba di dropzone, Ayah dan Ibunya tidak bisa berlama-lama, karena antrian yang begitu panjang. Hanya mengucapkan sepatah-kata untuk menyemangati dan setelahnya langsung pergi. Perasaan gugup menyelimuti dirinya ketika berjalan melewati pintu masuk menuju bagian dalam lingkungan sekolah. Bagian depan sekolah yang begitu megah; lingkungan yang betul-betul asing; dan tidak punya satupun orang dia kenal , membuat dirinya menjadi pesimis bisa mengawali hari pertamanya dengan baik; padahal tadi di mobil, dirinya merasa begitu bersemangat optimis.


Namun, saat tiba di lapangan tempat semua siswa baru diarahkan untuk berkumpul. Rasa gugupnya sedikit berkurang ketika melihat pemandangan begitu banyak orang yang berkumpul di lapangan dan tampak tidak saling mengenal juga; membuat dirinya merasa tidak sendirian. Dia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya, menenangkan dirinya terlebih dahulu, memotivasi dirinya sendiri, dan melangkah maju mendekati pria yang memegang papan klip dan memakai rompi berwarna biru; yang pikirnya adalah senior yang bertugas.


“Permisi kak, barisan kelas X-1 yang mana ya?” dia bertanya kepada kakak tersebut.


“X-1 ya. Diujung sana dek, ke kakak pembina yang paling ujung sana,” jawab kakak senior tersebut sambil menunjuk seseorang di kejauhan.


“Terima kasih kak,” ucapnya sebelum berjalan pergi.


Mengikuti petunjuk kakak tadi, dia terus berjalan hingga barisan paling ujung. Tapi, untuk memastikan sekali lagi, dia bertanya ke kakak senior yang berada di depan barisan tersebut; yang kali ini adalah seorang perempuan. Senyumannya terlihat begitu menawan, suaranya pun terdengar sangat lembut saat berbicara. Setelah memastikan kalo dirinya berada di barisan yang benar, dia berjalan memasuki barisan tersebut dan berbaur di antara siswa di barisan tersebut.


Suasananya cukup canggung, beberapa orang melirik ke arahnya, dan membuatnya agak sedikit risih. Dia memilih untuk tidak memedulikan semua perhatian tersebut, dan menunggu saat waktunya berkenalan saja untuk saling berkenalan. Kecuali, jika ada yang mengajaknya berkenalan lebih dulu, dia tentu akan membalasnya.


“Permisi, Evan?” suara seorang perempuan dari belakang memanggil namanya dibarengi dengan sentuhan di bagian pundaknya.


Mendengar namanya disebut, otomatis dia langsung berbalik dan menyapa balik perempuan tersebut, “Iya, siapa ya?” dia bertanya, karena memang tidak mengenal perempuan di depannya sekarang ini.


“Wah, lu sudah lupa sama gue. Kejam banget,” wajah perempuan tersebut memang terasa agak familiar, namun dia tidak bisa mengingat pernah bertemu dengan perempuan ini kapan dan dimana. “Ini gue, Nadya, Olimpiade MIPA tahun lalu,”


“Ah,” mendengar namanya dan kata Olimpiade MIPA, dia langsung teringat dengan perempuan yang tersenyum begitu ceria saat mengangkat piala juara 1 setahun lalu, “Nadya toh. Sorry, gua lupa gara-gara kebanyakan belajar,” ucapnya.


“Parah lu,” balas Nadya dengan salah satu ujung bibirnya yang terangkat sedikit untuk sesaat seperti orang yang sedang kecewa akan sesuatu hal.


“Alfred, lo disini juga ternyata,” dia tidak menyangka kalau akan bertemu lawan sekaligus sahabatnya di Olimpiade kemarin.


Namun, ada satu hal yang menarik. Yakni orang-orang di sekitar mereka bertiga setelah Alfred menyebutkan soal juara Olimpiade. Semua orang berbisik, melirik ke arah mereka bertiga; namun berbalik saat dia membalas melirik. Alfred kemudian menyentuh bahunya dan berbisik, “Ngak usah ditanggepin.” Tampaknya, Alfred juga menyadari perhatian orang ke mereka bertiga.


“Wah, lu berdua masih saling kontak-kontakan ya? Kurang asam ngak ngajak-ngajak gue, padahal No. Kontak gue kan ada di lu berdua,” Nadya mengomel sambil membuka sesuatu di handphonenya lalu menunjukkan kontak dirinya dan juga Alfred, “Nih, masih sama kan? Belum berubah?”


“Ngak etis kali neng kalau anak cewek ikut nimbrung pembicaraan pria dewasa,” Alfred mendekatkan diri mereka bertiga dan berbicara agak pelan.


“Pft, pria dewasa? Oh, jadi kejadian waktu itu dibilang sebagai tingkah pria dewasa? Yang.....” Evan yang merasa Nadya akan membongkar rahasia yang bisa membuat dirinya dan juga Alfred malu, spontan langsung menutup mulut Nadya dengan tangannya. Sedetik kemudian, Alfred terlihat membelalakkan mata dan ikut menyuruh Nadya untuk diam.


Alasan kenapa mereka bisa begitu akrab, karena pada saat perlombaan dulu, kamar mereka bertiga bisa dibilang saling berdekatan. Dan secara tidak sengaja, mereka juga berada di satu ruang tunggu saat olimpiade berlangsung. Namun, kedekatan mereka bertiga baru mulai menjadi lebih akrab setelah olimpiade usai, tepatnya ketika mereka mendapatkan waktu refreshing 3 hari. Banyak waktu mereka habiskan bersama, mulai dari jalan-jalan, mencicipi kuliner, sampai bermain wahan ekstrem, mereka bertiga selalu bersama.


Sayangnya, karena mereka berasal dari provinsi berbeda dan pulau yang berbeda pula, mereka tidak sempat saling bertemu lagi setelah pulang ke tempat masing-masing dan hanya saling berkabar lewat sosmed.


“Ada apa itu ribut-ribut di belakang?”


Karena Nadya yang terus berusaha untuk mengoceh meski dengan keadaan mulut tertutup rapat, kakak pembimbing barisan mereka kemudian menegur mereka bertiga.


“Ngak apa-apa kok kak, cuma permasalahan antara teman lama saja,” Evan berusaha untuk menutupi semuanya, menyuruh Nadya untuk diam dan tidak mengatakan apapun sebelum mereka bertiga terkena masalah di hari pertama mereka.


***


Sekitar pukul 9 lewat 15 menit, setelah semua proses absensi, dan sedikit kegiatan awal untuk lebih mengakrabkan setiap orang dalam barisan kelas masing-masing. Mereka lalu diajak untuk mengelilingi sekolah, atau apa yang biasa disebut pengenalan lingkungan. Cukup wajar sih menurutnya, karena di internet sendiri, luas SMA ini mencapai sekitar 10 ha.


Jadi tidak heran kalau SMA  Ruhm und Erfolg mempunyai fasilitas yang sangat lengkap; mulai dari lapangan sepak bola dengan ukuran standar internasional lengkap dengan arena lari dan bangku penonton yang bisa mengakomodir sampai 1000 orang; gymnastik sendiri yang cukup lengkap; swimming pool outdoor yang cukup luas; lapangan basker, voli, badminton, dan beberapa olahraga lainnya. Dan ada satu hal yang baru baginya, yaitu loker pribadi; tempat dimana para siswa bisa menyimpan barang-barang mereka.


Tidak sampai disitu, semua jalan-jalan di dalam lingkungan sekolah yang terhubung ke semua fasilitas mewah tersebut, juga di buat agar seperti sedang melewati taman. Di setiap sisinya ditanami pohon-pohon tertentu, bunga-bunga yang cukup berwarna-warni, dan beberapa bangku juga di taruh di sisi kanan atau kiri yang ada pohon untuk berteduh.


Berkat semua hal istimewa tersebut, ketika kembali ke lapangan tempat mereka berkumpul pertama untuk mengambil tas mereka masing-masing, dia bahkan sampai tidak menyadari kalo sudah berjalan hampir selama 2 jam lebih tadi.


“Oke, sekarang kita akan kelas kalian. Soal loker, nanti sepulang sekolah nanti akan di bagikan lokasinya sepulang sekolah nanti,” ujar kakak pembimbing mereka.


Saking luasnya sekolah ini, kelas X, XI, dan XII pun sampai di pisah per lantai; kelas X menempati lantai paling bawah, kelas XI di lantai 2, dan kelas XII menempati lantai paling atas. Sedangkan untuk ruang guru, perpustakaan, Lab Komputer, Lab Sains dan beberapa fasilitas sejenisnya yang non athletik digabungkan menjadi satu gedung terpisah.


Di dalam kelas, saat pembagian tempat duduk, dia dan Alfred tampaknya memiliki sedikit kesamaan karena sama-sama memilih untuk duduk bersama di barisan tengah dan deretan paling depan. Yah, bagus juga sih, selain karena dia sudah mengenal Alfred. Juga, karena mereka sudah pernah bersaing di Olimpiade, sehingga dia berpikir akan cukup mudah bekerja sama dengan Alfred karena sudah saling mengetahui kemampuan masing-masing.


“Sorry, gua telat,”


Seisi kelas di buat terkejut ketika seorang perempuan yang terlihat tersengal-sengal; seperti habis di kejar setan, menabrak pintu. Parasnya cukup cantik; wajahnya agak tirus dengan dagu yang kecil dan pendek, warna kulitnya bisa dibilang putih namun tidak putih-putih amat, tinggi badannya—kalo dia menebak—jika dilihat sekilas mungkin sekitar 140 sampai 150an, badannya juga terbilang proposional; tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk.


“Ah, lu mah memang selalu telat mulu,”


Mendengar kakak pembina kelasnya berbicara dengan santai dengan perempuan tersebut, dia langsung bisa menebak kalau perempuan tersebut sudah pasti adalah seniornya.