Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 4 : SEBELUM BADAI MENERJANG (3)



Seminggu Kemudian..


“Gila juga ya ternyata kalo kita belanja. Mulai sekarang stop lah bawa kartu kredit no limit, kebablasan mulu,” Kamila mengomel sambil geleng-geleng kepala setiap kali melirik dan melihat 5 koper yang di tumpuk di belakangnya dan Vina; yang isinya adalah semua belanjaan mereka berdua.


“Ya maklumlah, namanya juga oleh-oleh untuk orang rumah. Itu titipannya Evan aja ada sekoper,” jawab Yunita. Dia masih ingat bagaimana repotnya harus belanja sambil video call dengan Evan untuk memperlihatkan katalog dalam toko.


“Tapi dia bakal gantikan nanti?”


“Ya iyalah,” jawab Vina sambil memakai kaca mata hitamnya ketika mereka berhenti tidak jauh dari pintu keluar kedatangan, menunggu kabar dari sopir yang menjemput mereka, “Tapi dicicil,” tambahnya kemudian sambil tersenyum tipis.


“Hadeh, dasar pasangan bucin. Emangnya bisnisnya belum lancar?” Kamila bertanya; karena dia ingat kalau Vina, Evan, dan juga Alfred mendirikan restoran beberapa bulan lalu sebagai usaha sampingan.


“Itu masih agak lama baru bisa menghasilkan banget, apalagi mereka juga mau ekspansi ke berbagai wilayah kan. Jadi harus agak ekstra ketat dalam hal finance,” Vina menjelaskan; dia teringat ketika bagaimana Evan yang orangnya begitu mendetail, menjelaskan soal rencananya dan Alfred dalam memperlebar restoran mereka bertiga, “Sudah sampai belum?” dia menambahkan; menanyakan apakah sopir yang menjemput mereka sudah stanby atau belum.


“Sudah,” jawab Kamila yang sekarang ini sedang melihat ke belakang; untuk mengecek apakah semua staff yang ikut bersama mereka lengkap atau tidak. Karena begitu keluar dari gerbang kedatangan—yang sudah di penuhi para wartawan—mereka tidak akan bisa melihat ke belakang lagi, hanya bisa fokus melihat ke depan untuk menerobos kerumunan wartawan.


Sebelum menggerakkan kaki kanannya, Vina menarik nafas terlebih dahulu dan melemaskan otot-otot di wajahnya. Walaupun sudah berkali-kali dia mengalami situasi seperti ini—situasi di mana dirinya di kelilingi oleh wartawan; harus memasang wajah tersenyum agar berita yang keluar tidak ada yang negatif; dan bersikap ramah walaupun harus berdesakan akibat wartawan yang saling mendorong sambil mengajukan pertanyaan—tetap saja masih membuatnya sedikit gugup.


“Wah mengerikan juga para wartawan ini, bisa loh mereka tau kalo kita pulang hari ini. Padahal gue ngak upload postingan apapun 2 hari sebelum berangkat,” ujar Vina yang keheranan bagaimana wartawan bisa selalu mengetahui kapan ia akan muncul di bandara. Seolah para wartawan tersebut sudah menanamkan pelacak di dirinya, selalu saja ramai setiap ia menginjakkan kaki di bandara.


“Say hello to the power of internet,” Kamila kemudian memutar layar laptopnya 360 derajat sampai menjadi sebuah tablet dan menyodorkannya kepada Vina, “Akun fanbasemu bisa dibilang sangat mengerikan, sampai fotomu pas boarding aja mereka bisa dapat. Luar biasa memang para fansmu, sangat niat,” imbuh Kamila sambil menunjukkan beberapa foto Vina sebelum boarding yang beredari di sosial media. Vina sendiri, bahkan sampai mengeryitkan dahi dan geleng-geleng kepala melihat apa yang ditunjukkan oleh Kamila.


“Jadi sekarang, kita mau kemana?”


“Lo maunya pulang dulu atau ke perusahaan dulu?”


“Pulang dulu deh. Acara press conference soal acara kontes menyanyi itu kapan?”


“Lusa. Tanda-tangan kontrak besok,”


“Daftar juri?”


“Tenang saja, ngak ada Giovani,”


“Mc-nya?” Vina terus bertanya, karena memang dia sangat ingin menghindari orang yang bernama Giovani tersebut. Sebisa mungkin, dia tidak ingin ada kerjasama apapun dengan orang tersebut selama beberapa bulan ke depan.


“Belum ada kepastian,”


“Aneh banget, harusnya nama MC-nya sudah ada dong,”


“Yah mana gua tau, pihak TV bilang belum ada kepastian. Untuk sementara MC-nya belum ada yang permanen, masih berubah-berubah di setiap lokasi audisi,” jelas Kamila; dirinya juga sebenarnya merasa aneh, karena tahun lalu seingatnya MC dan Juri sudah diumumkan jauh hari sebelum press conference diadakan.


“Ya sudahlah, pulang dulu,” ujar Vina dengan mood yang mulai agak bete.


Namun, demi rating, pihak TV kemudian dengan liciknya mengacuhkan kata-katanya tersebut. Acara tersebut memang cukup menjadi sukses. Akan tetapi, hal itu malah memicu rumor yang semakin kuat; sampai-sampai fans mereka berdua sempat menjodoh-jodohkan mereka berdua. Imbasnya? Tentu saja, pertengkaran dengan Evan yang sempat berlangsung selama seminggu lamanya; tidak ada komunikasi dan saling mengisolasi diri.


***


“Kalian langsung ke apartemen gua aja, gua mau ke temp...” ucap Vina ketika mereka sedang menunggu lift di lobi basement.


“iya, iya, semuanya pada paham kok,” Kamila langsung memotong perkataan Vina tersebut, sedangkan 2 orang staff yang mengkuti mereka untuk membantu membawa barang-barang hanya tersenyum menahan tawa.


“Apa lu berdua senyum-senyum,” ucap Vina saat melirik kebelakang dan mendapati kedua staff dari agensi yang ikut bersama mereka seperti ingin menertawakannya. Memang terdengar seperti sedang marah, namun sebenarnya lebih seperti menutupi rasa malunya akibat perkataan Kamila yang seperti mengatai dirinya ‘bucin’.


Menjadi seorang penyanyi terkenal dan top star dalam dunia musik, bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan bagi kebanyakan orang. Selain harus hidup dalam bayang-bayang kamera dan selalu menjadi perhatian orang, kehidupan privasinya juga menjadi taruhan. Bahkan, untuk bertemu dengan Evan saja, mereka berdua sampai harus menyewa 2 apartemen di lokasi yang sama namun berbeda lantai untuk menghindari perhatian orang.


“Tapi, kalo mau dipikir-pikir lagi, Evan cukup hebat juga ya,” ujar Kamila ketika mereka semua sedang berada dalam lift dan sedang menuju lantai 20, tempat dimana Evan tinggal; sedangkan Vina tinggal di lantai 25 yang merupakan 1 dari 2 penthouse yang ada di tower tempat Vina dan Kamila tinggal.


“Maksudnya?”


“Coba aja lu bayangin, satu unit di apartemen sini kan mahalnya minta ampun. Gaji seorang Wakil Direktur di Bagian Marketing belum tentu mampu buat beli satu unit disini,” jelas Kamila; karena kompleks apartemen tempat Evan dan Vina tinggal memang cukup mahal karena mempunyai segudang fasilitas elit dan dihuni oleh orang-orang elit pula.


“Kayanya lu terlalu ngeremehin calon suami gua dah,” Vina membalas sambil menyeringai saat mendengar kata-kata Kamila; yang tidak tahu kalau Evan sebenarnya punya segudang investasi yang begitu besar nilainya. Dan bahkan, bisa membeii 10 unit penthouse seharaga penthouse miliknya saat ini.


“Wah, kalian dengar kan? Memang dasar pasangan bucin sejati,” ucap Kamila bersamaan dengan pintu lift yang terbuka ketika sudah sampai di lantai 20.


Vina—yang saat ini pikirannya berada di tempat lain—hanya berbalik sebentar dan membalas dengan menjulurkan lidahnya sedikit sebelum kemudian kembali berjalan menjauh dari lift. ‘Ah, koper hadiahnya Evan’, ucapnya dalam hati ketika teringat dengan koper milik Evan yang dibawa Kamila tadi. Namun terlambat, pintu lift sudah tertutup ketika dia menyadari hal tersebut.


Sampai di depan pintu apartemen Evan, Vina langsung menekan tombol belnya berulang kali dengan irama yang cukup cepat sambil tersenyum sendiri. Meski mereka memang sering bertengkar, adakalanya semua itu langsung terlupakan begitu saja karena lama tidak berjumpa. Dan begitu pintu terbuka, Vina tanpa berpikir panjang langsung melompat dan memeluk Evan saat itu juga.


“Dasar, perasaan kemarin kamu baru aja ngambek karena dititip belanjaan begitu banyak,” ujar Evan yang sekarang ini sedang tersenyum melihat Vina yang bermanja-manja seperti sekarang ini, “Lepas dulu sebentar, biar kututup pintunya dulu. Biar anak-anakku ndak keluar,” ucap Evan kemudian.


Vina yang kaget mendengar apa yang Evan katakan, langsung melepas pelukannya dan menatap Evan dengan tatapan heran, “Anak-anak? Maks....” belum saja dia selesai berkata-kata, suara gonggongan anak anjing terdengar dari arah ruang tamu yang kemudian disusul dengan kemunculan dua anak anjing yang begitu imut menghampirinya saat Evan sedang menutup pintu.


“Hayo,  mikir apa kamu tadi,” ucap Evan,


“Ih, lucunya. Golden Retriever ya?” tanya Vina—yang tidak mendengarkan perkataan Evan barusan—ketika memegang kedua anak anjing tersebut.


“Hmm, satu untuk kamu, satu untukku,” jawab Evan. Dia sengaja membeli anjing Golden Retriever setelah membaca artikel yang mengatakan kalo memelihara binatang bisa meringankan stress dan membuat mood menjadi lebih ceria.


“Berarti aku harus sedikit renovasi penthouseku lagi dan beli perlengkapan anjing,” Evan terkekeh saat mendengar perkataan Vina tersebut, “Kenapa kamu ketawa?” tanya Vina saat mendengar Evan tertawa.


“Ngak perlu repot-repot, udah ku beli,” ucap Evan sambil berjalan menuju ruang tamu yang kemudian disusul oleh kedua anak anjing tadi, “Ayok, aku sudah masak makan malam,” ajak Evan.