
Keesokan paginya, sesuai dengan rencananya; saat sedang berada dalam lift, Evan mengirim video lucu tadi malam ke Vina. Akan tetapi, setelah mengirimkan video tersebut, pikirannya malah teringat dengan momen saat dia dan Vina berciuman secara tidak sengaja.
“Hoi, bengong mulu. Mikirin apaan lu? Soal cewek pasti kan? Atau soal snior cantik yang lu bilang itu?” Kento yang baru saja masuk ke dalam lift yang sama dengan yang dinaiki Evan, langsung menyenggol lengan sahabatnya itu ketika sapaannya tidak dibalas sama sekali.
“Sstt, pelan-pelan dikit napa. Comel amat sih tuh mulut kayak emak-emak tukang gosip,” Evan yang tersadar dan sempat mendengar kalimat terakhir Kento tersebut, langsung menyumpal mulut temannya yang comel ini dengan gelas kopi kosong yang ada di tangannya. Namun terlambat, seisi lift tampaknya mendengar perkataan tadi dan mulai saling bergosip. Beberapa dari perempuan yang ada dalam lift tersebut sekarang ini mulai menahan tawa mereka dan sesekali melirik ke arah Evan.
***
Meninggalkan Evan dengan segudang rasa malu karena perbuatan Kento, Vina saat ini tengah dimarahi habis-habisan oleh Kamila karena wajahnya yang agak melebar karena terlalu banyak makan dan minum alkohol tadi malam. Namun, sesudah adegan marah-marah tidak jelas tersebut. Kamila tetaplah Kamila; orang yang sangat penasaran dengan kehidupan romantis orang lain, langsung bertanya kepada Vina apa yang terjadi antara dia dan Evan semalam.
“Lu yakin ngak pernah mau jadi wartawan awalnya?” tanya Vina dengan perasaan sedikit agak kesal dan bete. Karena semenjak tadi pagi—ketika mendapati botol anggur di ruang tengah—Kamila terus-terusan saja bertanya soal apa yang terjadi dengan dirinya dan Evan semalam.
“Ya lu berdua kan udah sama-sama dewasa. Mana tahu kan, Evan orangnya agak wild kayak gitu,” goda Kamila dengan senyuman mesum terpampang di wajahnya. Vina yang merasa sedikit ngeri dengan kelakuan temannya ini, langsung melempar bolpen yang dia arahkan ke badan Kamila, “Dasar lu ya, ngak nyangka gue kalo otak lu ngeres juga ya,” ujar Vina.
“Makanya, siapa suruh lu berdua ngak ngajak-ngajak gua minum wine mahal kaya tadi malam,” protes Kamila.
“Ya itu kan.....”
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan di pintu menyela Vina yang sedang berbicara. Dalam sekejap, Vina merubah posisi duduknya dan bersikap kalem dan elegan seperti artis besar pada umumnya. “Masuk aja,” ucap Kamila setelah Vina memberikan kode dengan jarinya. Beberapa detik kemudian, orang yang masuk lewat pintu itu membuat mereka berdua sedikit terkejut.
“Ngapain lu kesini?” Kamila langsung bersikap agak sinis ketika melihat Giovani masuk.
Semenjak konferensi pers kemarin, Giovani seakan sudah masuk dalam ban list Kamila untuk orang-orang yang bisa berinteraksi dengan Vina. Sebab, dengan rumor yang beredar luas sekarang, jika ada orang yang melihat Giovani masuk ke ruang tunggu Vina, pasti akan membuat majalah dan akun gosip di dunia maya semakin heboh lagi.
“Galak amat bu manager,” sebaliknya, Vina mencoba untuk bersikap netral dan seramah yang dia bisa. Karena alasan dia cukup kesal dengan Giovani kemarin adalah karena sedikit cemas dengan reaksi Evan. Setelah Evan mengatakan tidak apa-apa, ia baru bisa lega. Tapi, dia juga mengerti soal alasan Kamila bersikap seperti itu. Karena bagaimana pun juga, pemberitaan di luar sana cukup sensitif soal dirinya dan juga Giovani.
“Saya dengar kakak suka makan cemilan sebelum ke naik ke panggung. Kebetulan saya keingat soal kakak tadi, makanya saya beli beberapa cemilan. Sekalian mau minta maaf untuk yang kemarin,” ujar Giovani sembari menaruh beberapa kantong plastik yang dia bawa di atas meja terdekat dari tempat dia berdiri.
Melihat Giovani yang sampai seperti ini untuk minta maaf, hati nurhani Vina menjadi sedikit tidak tegaan. “Saya bukan marah sama kamu kok, tapi lebih ke Pak Arnold aja kemarin yang tidak mematuhi perjanjian kontrak yang kami bikin bersama. Jadi, jangan di masukkan ke dalam hati ya,” ucap Vina dengan senyuman tipis di wajahnya.
“Terima kasih kak,” melihat Giovani yang sudah bisa lebih santai, Vina menjadi sedikit lega. Karena suka atau tidak, dia dan Giovani memang akan jadi partner kerja selama 6 bulan ke depan. Sehingga, dia memang perlu mencairkan suasana dengan Giovani dan juga rekan kerja yang lainnya selepas apa yang terjadi kemarin.
“Sudah ngak ada lagi kan?” meski begitu, Kamila tetap saja masih bersikap galak dan menatap Giovani dengan sinis sambil mengayunkan tangannya; menyuruh Giovani untuk pergi. Tapi, Kamila ya tetaplah Kamila; sebagai manajer, sangat serius ketika menangani orang yang bisa mengganggu karir Vina.
Saat awal bertemu Evan pun, sempat curiga cukup lama dan menganggap Evan sebagai ancaman untuk karir Vina. Butuh waktu beberapa bulan bagi Kamila untuk bisa mempercayai Evan sepenuhnya. Titik balik dia mempercayai Evan sebenarnya cukup simple, yakni ketika Vina merilis album, namun sangat sedikit media yang mempromosikannya. Hanya Evan yang cukup gigih menaikkan artikel cukup banyak dalam seminggu, hingga akhirnya Vina mendapatkan tawaran manggung dan mulai dilirik banyak orang.
“Ah, dasar Evan kurang asem,”
“Sini HP lu,”
“Apaan sih?” Kamila yang penasaran, langsung membuka handphonenya dan memeriksa group whatsapp khusus mereka bertiga; karena setiap Vina meminta hpnya, pasti ada hubungannya dengan group tersebut.
“STOP!!!” Vina dengan secepat yang dia bisa berusaha menghentikan Kamila melihat apa yang baru saja dikirimkan Evan di group mereka bertiga.
“Wow, ternyata superstar kita punya sifat konyol kaya gini juga ya?” ejek Kamila ketika melihat video yang dikirimkan Evan dengan tag ‘Seorang artis terkenal juga seorang manusia’ diikuti dengan emot tertawa.
Di tengah-tengah momen lucu tersebut, Kamila menerima telepon dari salah satu staff agensinya. Tanpa banyak menunda, dia langsung menjawab telepon tersebut, “Halo?”
“Halo bu, kami harus bagaimana bu?”, mendengar pertanyaan orang dari agensinya yang seperti itu, Kamila dibuat kebingungan; walau dalam pikirannya sebenarnya sudah bisa sedikit menerka apa yang mungkin saja terjadi. Karena dari suara gugup orang yang menelponnya, telepon kantor yang terdengar terus berbunyi di belakang staff yang menelponnya, dan semua kegaduhan yang terdengar lewat telepon membuat Kamila bisa sedikit menilai kalo situasi sekarang cukup genting.
Dengan cepat, dia mengambil tablet dari dalam tasnya dan mengetikkan kata ‘Vina’ di mesin pencari. Hasilnya sesuai dengan yang dia perkirakan, rumor soal Vina dan Giovani. Namun yang membuat dia terkejut adalah foto yang ada di artikel tersebut; foto saat Giovani memasuki ruangan tunggu Vina dengan beberapa kantongan belanja di tangannya.
Sadar kalau semakin lama dia menunda, semakin banyak kerugian yang perusahaannya dan Vina akan tanggung. Kamila langsung memberikan arahan, “Bantah semua rumor yang ada, nanti saya akan kirimkan bukti rekaman yang sebenarnya terjadi. Edit seperlunya dan kasih masuk ke dalam artikel pernyataan dari kita.”
Tanpa banyak bicara, setelah panggilan berakhir. Kamila langsung mengirimkan video yang dia rekam secara diam-diam saat Giovani masuk sampai keluar dari ruang tunggu Vina tadi. Dia cukup bersyukur karena kebiasaan yang baru dia lakukan 2 tahun belakangan ini akhirnya berguna juga.
Bahkan, ada beberapa video Vina dan Evan juga yang dia simpan; yang mungkin berguna sebagai senjata terakhir suatu saat jika ada skandal asmara yang sudah tidak ada jalan keluarnya lagi. Tentu, Evan sendiri sudah menyetujui hal tersebut jika memang terpaksa; yang membuatnya bersyukur karena ada sosok Evan yang begitu mensupport Vina tanpa pamrih.
“Dasar anak itu,” Vina yang agak emosi saat membaca artikel tentang dirinya yang baru saja keluar, sedikit terpancing emosi. Dia kemudian berdiri dari kursinya; mengambil kantongan yang dibawa Giovani tadi dan berniat mencari orang tersebut untuk menanyakan apa maksud dari semua ini.
Dia sangat tidak menyangka kalau Giovani akan tega melakukan semua ini, padahal tadi dia baru saja akan memaafkannya dan menjalin hubungan yang baik sebagai rekan kerja.
“Mau ke mana lu,” Kamila bertanya saat Vina sudah hendak memutar gagang pintu ruang tunggu mereka, “Jangan buat masalah, entar...”
“Enough with that bullshit, sekali-kali kita harus bersikap tegas juga terhadap orang-orang seperti mereka,” Vina yang sudah tidak bisa berpikir jernih, tidak peduli dengan kata-kata Kamila dan langsung keluar dari ruang tunggu mereka berdua. Tanpa banyak bicara, dia langsung menuju ke ruang tunggu Giovani—yang kebetulan semua ruang tunggu artis berada dalam satu lorong—disusul Kamila dari belakang.
Meski sudah emosi, tidak lupa dia tetap melempar senyuman tipis ketika berpapasan dengan orang-orang yang menyapanya. Begitu sampai di depan ruang tunggu Giovani, tanpa peduli dengan apa yang akan dikatakan orang, dia langsung menerobos masuk.
“Apa maksudnya ini? Sengaja lu hah? Biar ada artikel baru? Biar kita terlihat seperti orang yang sedang pacaran? Begitu?” ucapnya saat melihat Giovani tanpa mempedulikan kalo ada banyak orang di dalam ruangan tersebut, “Atau jangan-jangan ini idelu sama manajer lu yang busuk ini hah?” Joshua tampaknya tersinggung, namun ia sudah tidak peduli lagi. Baginya, apa yang ia harus lakukan sekarang adalah mempertegas kalau dirinya bukan orang yang bisa di permainkan oleh siapa pun.
“Kak, i can explain what happen...”
“Ngak usah sok baik lagi mulai sekarang, ngak usah berharap banyak gua akan balas perasaan yang sudah lu gembar-gemborkan di media. Ngak akan mempan, dan gua ngak pernah tertarik sedikit pun sama lo.Paham?” ungkap Vina yang kemudian melempar kantongan Giovani yang dibawanya dengan agak emosi ke lantai.
Kamila yang dari tadi menonton semua itu dari belakang, cukup terkejut melihat Vina yang ternyata bisa marah juga. Karena selama ini, dia mengira Vina adalah orang yang cukup simple dan tidak mau terlibat dalam masalah apapun; cenderung masa bodoh dengan semua gosip yang ada di luar sana. Bahkan, dia tidak menduga kalau Vina akan membanting pintu ruang tunggu Giovani setelah semua pelampiasan emosi tersebut.