Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 9 : KOFRONTASI (1)



“Bagaimana kalau kamu pergi liburan? Mumpung jadwalmu kosong selama seminggu?” reaksi Evan ketika mendengar soal sms mencurigakan yang ia terima tadi pagi tidak seperti yang ia duga. Wajah Evan tampak begitu tenang, seolah sudah memperkirakan kalau hal itu akan terjadi.


“Kamu ngak merencanakan sesuatu yang berbahaya lagi kan?” ia langsung bertanya karena mencium sesuatu yang tidak beres dengan gelagat Evan.


“Ngak. Lagian juga pesan kaya begitu ngak terlalu mengejutkan buatku. Apalagi artikel yang menyudutkan Giovani kan baru keluar. Jadi, pasti ada lah beberapa fans phsyco yang menyalahkan kamu. Aku sendiri juga cukup sering dapat ancaman kaya begitu dulu saat menulis artikel yang menyudutkan public figure,”


“Kalau begitu kamu ikut liburan juga, only both of us,”


“Ngak bisa lah sayang, belum sebulan semenjak sejak aku kembali masuk kantor, masa mau cuti lagi? Entah apa kata orang-orang kantor nanti?”


“Ya sudah, kalau begitu aku juga ngak pergi liburan kalau begitu,”


Meski Evan sudah menjelaskannya dengan cukup panjang, ia tetap saja masih sedikit khawatir. Apalagi jika mengingat sifat Evan yang keras kepala dan sangat teguh dengan pendiriannya, ia tidak bisa untuk tidak khawatir dengan apa yang mungkin direncanakan oleh Evan sekarang ini.


Evan kemudian terdengar membuang nafas cukup panjang dan meneguk habis coca-cola miliknya sebelum akhirnya berbicara, “Sejujurnya, aku memang merencanakan sesuautu,”


“Nah betulkan dugaanku,” ia dengan percaya diri langsung memotong Evan yang sedang berbicara,


“Karena Joshua terlihat tidak melakukan pergerakan sama sekali, aku sengaja merilis artikel anonim seperti saran Nadya, demi memancing manusia kampret itu untuk keluar dari kandangnya dan berbuat satu kesalahan. Hanya satu kesalahan, supaya aku bisa mengakhiri rencana busuknya.


“Tapi, tampaknya kita terlalu meremehkan si kampret itu. Dia kaya ngak bergeming sama sekali. Dan jujur saja, pesan yang kamu terima sebenarnya bikin aku sedikit khawatir juga. Mungkin saja, si Johsua itu sudah tahu soal kita berdua, mengingat bagaimana licik dan cekatan orang kaya dia dalam merencanakan kejahatannya selama ini,”


“Bagaimana kalau kita lapor polisi aja?”


“Ngak akan gunanya, liat kan bagaimana kasus kecelakaanku kaya menemui jalan buntu?  Orang-orang seperti Joshua pasti sudah memikirkan segalanya. Dia sudah pasti punya backingan kuat di belakangnya,”


“Apa aku vakum aja jadi artis ya?”


Ide yang sudah lama ia pikirkan dan sempat di lupakannya, kembali muncul dari dasar pikirannya. Akhir-akhir ini, keinginannya untuk meraih grammy juga sudah mulai sirna. Apa yang diinginkannya sekarang hanyalah bisa menikmati kehidupannya bersama orang-orang yang berharga baginya dengan tenang.


Mendengar idenya untuk vakum, Evan sempat mendengus dan kemudian tersenyum, “Ngak usah sampai seperti itu, Walaupun memang terlihat seperti malah aku yang terpojok dan blunder, semuanya masih tetap berjalan sesuai keinginanku. Dan terkadang, untuk bisa menang, kita harus mundur selangkah dulu. Jadi, aku mau tenang saja. Ngak usah terlalu pusingin ancaman ngak jelas tersebut. Yang penting kamu kasih tau aku aja seperti sekarang. Ok?”


Meski memasang wajah yang mengatakan kalau semuanya baik-baik saja, setelah cukup lama bersama dengan Evan, ia bisa tau dengan jelas kalau orang yang sangat ia cintai ini sebenarnya sedang banyak pikiran.


Tidak tahan hanya seminggu berada di rumah dan tidak mendapatkan inspirasi apa-apa untuk lagunya, ia memutuskan untuk menjalani kembali rutinitasnya yang padat setelah 3 hari beristirahat; yang kebetulan hari itu bertepatan syuting untuk kontes menyanyi dimana ia menjadi juri dan juga banyak memberikannya masalah semenjak mengikuti acara tersebut.


“Lu emang ngak takut kenapa-kenapa ya? Pesan ancaman kaya begini lu baru kasih tau sekarang?” Kamila mengomel setelah membaca 2 pesan ancaman yang ia terima. Untung saja, yang ada di dalam ruang tunggu hanyalah staf dari agensinya; yang tentunya sudah menandatangani perjanjian untuk merahasiakan semua yang mereka dengar seperti sekarang ini.


“Bisa ngak sih lu berhenti mondar-mandir, bikin pusing ngeliatnya,” tegurnya, karena semenjak ia mulai makeup—yang terkadang butuh waktu lama—sampai sekarang, sudah beberapa kali Kamila hanya mondar-mandir seperti cacing kepanasan.


“Terus apa rencananya si Evan sekarang?”


“Dia sudah mulai melacak pesan tersebut sekarang. Jadi lu tenang saja, dia juga sebenarnya banyak beban pikiran. Dan tolong, jangan tambah beban pikirannya untuk sekarang ini, oke?”


“Kapan gua begitu coba?”


“Buset dah, ngak nyadar diri banget. Kagak ingat lu..,”


“Ingat apa maksud lu?” suara Kamila menyadarkan dirinya yang sempat melamun untuk sejenak karena mencemaskan Evan.


“Ngak ada. Pokoknya, lu jangan ganggu Evan untuk sementara. Kalau ada perlu, lu bisa tanya langsung ke gua dulu,”


“Ow, mentang-mentang udah mau married gitu ya,”


“Hah? Betulan lu mau married?” tanya salah satu MUA yang sedang meriasnya.


“Sudah seharusnya dong, pacaran sudah lama banget seharusnya sudah mikir ke arah sana,” timpal make up artist yang lainnya.


“Asik, berarti bakal ada pesta nih dalam waktu dekat,”


“Pesta apaan, kami berdua sebenarnya pengen yang sederhana aja. Cuma orang-orang terdekat aja yang diundang,” ia sempat tersenyum sebelum menepis perkataan salah satu MUA-nya tersebut.


“Tapi bukannya lebih bagus kalau rame ya? Bisa aja kan, albummu akan sedikit meledak kembali. Apalagi lagu-lagu lu kan emang kebanyakan tentang love story dan ballad. Tapi ya balik lagi ke kalian berdua sih,”


“Gua dulu berpikiran begitu. Cuma, setelah apa yang terjadi belakangan ini, gua pengen kehidupan gua sama Evan lebih private aja. Gua bahkan pengen pensi dulu sejenak setelah album terakhir nanti,”


“Betul juga sih, apalagi kalo di perhatikan, akhir-akhir ini lo emang agak kurus,”


“Nah, betul kan. Cuma, ibu manajer kita yang baik hati ini tidak mengizinkan gua untuk rehat sejenak,”


“Wah, bisa-bisanya lu ya, ka…”


“Permisi,”


“What?” Kamila terdengar seperti akan membentak salah satu kru tv yang datang dan menyela perkataannya, “Ah, maaf. Ada apa? Sudah harus siap-siap ya?” dalam sekejap, Kamila langsung merubah cara bicaranya menjadi lebih ramah.


“I.. Iya kak,” wajah kru tv tersebut terlihat agak pucat setelah sebelumnya dibentak secara tidak sengaja oleh Kamila.


Setelah kejadian beberapa hari lalu, semua orang di stasiun tv yang ia temui tersenyum canggung saat bertemu dengannya. Ditambah lagi dengan Kamila yang mengikutinya dari belakang sekarang ini, seolah menambah kesan kalau agensinya mengganggap serius kejadian pernyataan cinta Giovani tersebut.


Meski begitu, para juri lainnya yang sudah senior tampak mensupport tindakan tegasnya tersebut. Sedangkan Giovani sendiri, orang tersebut tampak menjaga jarak dengannya sepanjang hari ini; hanya menyapa seperlunya, tidak ada lagi senyuman di wajahnya ketika mereka berdua bertemu.


Walau terasa canggung, jika dipikirkan lagi, hal itu sebenarnya ada bagusnya. Image yang ia bangun selama ini, yang penuh dengan keramahan dan terkesan sangat baik—sampai sering dijuluki artis paling murah hati dan senyum—membuat beberapa orang kurang menghormatinya. Namun dengan kejadian dengan Giovani kemarin, ia seperti menambahkan kesan tegas dan tidak gampang untuk diajak melakukan gimmick ke dalam karakternya di mata orang lain, yang mana itu membuatnya bisa bernafas lega.


Refeknya, selama syuting berlangsung, ia bisa dengan tenang dan fokus menilai para kontestan yang tampil. Tak lupa, ia juga menjaga profesionalitasnya dengan tetap tersenyum saat MC Giovani dan Yunita mengajaknya bercanda.


***


“Hai,” orang yang sangat ia tidak duga-duga menyambutnya begitu ia keluar dari studio tempat acaranya syuting, “Punya waktu sebentar?”


“Who?” Kamila langsung bertanya sambil menatapnya dengan wajah kebingungan. Wajar saja, selama ini ia tidak pernah menceritakan perempuan yang ada di hadapan mereka sekarang ini semenjak ia debut jadi penyanyi.


“Maaf, ini temanku dan Evan, Silvia,” ia memperkenalkan Silvia kepada Kamila sambil memaksakan dirinya untuk menyentuh pundak Silvia dan berpura-pura bersikap akrab.