
Setelah 6 jam perjalanan dari surabaya sampai ke rumah sakit tempat Evan dirawat—karena harus menunggu flight permission selama 3 jam—Vina, meski dalam keadaan yang cukup lelah, langsung berlarian menuju resepsionis di UGD dan menanyakan keberadaan Evan. Di saat seperti ini, dia sudah tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai seorang artis dan kemungkinan hubungannya dengan Evan akan terungkap.
Para perawat yang melihat Vina dengan penampilan lusuh, ditambah lagi mencari seorang pria, sempat terlihat kebingungan dan sedikit penasaran untuk beberapa detik sebelum mulai mencari nama Evan di database mereka.
“Bisa pelan-pelan ngak sih lu,” Kamila mengomel begitu mendapati Vina yang sedang berdiri di depan meja resepsionis, sebab orang satu ini meninggalkannya saat sedang membayar taksi dan langsung berlari masuk ke UGD tanpa memakai penyamaran sedikit pun.
“Pasien atas nama Evannya sedang berada di ruangan operasi mbak, mungkin...”
“Dimana ruangan operasinya?” sebelum perawat tersebut selesai berbicara, Vina langsung menyela. Perawat tersebut terlihat sedikit terkejut, namun tetap menunjukkan arah ruangan operasi dengan senyuman tipis, “Terima kasih ya,” ucap Vina kemudian.
Tanpa memedulikan sekelilingnya, bahkan Kamila sekalipun, dia langsung berjalan dengan agak cepat sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh perawat tadi, sampai akhirnya dia menuman Silvia, Alfred dan Nadya sedang duduk di tempat duduk yang ada di koridor rumah sakit.
Air matanya mulai membasahi pipinya saat melihat nama Evan yang terpampang di monitor yang menunjukkan status Evan di ruangan operasi saat ini. Semua rasa sedih, cemas, dan takut yang dia tahan selama perjalanan akhirnya tidak bisa ia bendung lagi. Kakinya yang dari tadi terasa sangat lemas, tidak bisa menahan badannya lagi. Ia hanya bisa tertunduk lemas. Lorong rumah sakit yang dingin, nama Evan yang terpampang di layar ruangan operasi, dan perasaan yang campur aduk; ia tidak pernah berpikir kalo mimpi buruknya--yang ia selalu harapkan tidak akan pernah terjadi--akan terasa sangat menakutkan seperti ini.
“Vin...” Nadya yang menyadari keberadaan Vina, dia langsung berdiri tempat duduknya dan menghampiri Vina di susul oleh Alfred. Mereka berdua kemudian berusaha menenangkan Vina yang terus menangis tanpa henti.
Lain halnya dengan Silvia, dia sampai detik ini masih menyimpan rasa tidak suka dengan kenyataan kalo Evan lebih memilih Vina dari pada dirinya. Sambil menatap ke arah ruang operasi, dia kembali teringat dengan apa yang terjadi 8 tahun yang lalu ketika Vina baru saja debut, dan saat dimana dia harus menerima kenyataan yang betul-betul pahit, yaitu penolakan penuh dari Evan.
***
Saat itu, ketika Vina baru saja debut, dia secara tidak sengaja mendengar percakapan Evan dan Vina di salah satu ruangan kuliah saat tidak ada orang sama sekali. Vina yang baru saja debut di larang oleh manajemennya untuk punya hubungan asmara apapun untuk beberapa tahun pertama dengan alasan menjaga daya tarik masyarakat agar lebih menjual. Padahal saat itu, Evan sudah sempat menyatakan keinginan untuk mengungkapkan hubungannya dengan Vina.
Merasa saat itu adalah kesempatannya, dia kemudian menyatakan perasaannya kepada Evan dengan serius. Namun apa yang terjadi berikutnya membuatnya syok,
“Ndak usah buang-buang waktumu Sil, kita tidak akan pernah bisa bersama,” dengan tatapan dingin, Evan mengucapkan kalimat tersebut dan membuat hatinya terasa bergitu perih.
“APA YANG ISTIMEWA DARI DIA?!! SAMPAI LO RELA UNTUK MENYEMBUNYIKAN HUBUNGAN LO BERDUA DEMI KARIRNYA?” dengan emosi yang sudah tidak bisa dibendungnya, dia mengeluarkan semua isi kepalanya dan menyebutkan soal pembicaraan yang didengarnya waktu itu.
“Pertama, gua ngak pernah menganggap lo lebih dari sekedar teman. Kedua, apa yang istimewa dari dia? Apa mencintai seseorang itu harus ada istimewa dulu? Gua mencintai dia, just it. Ngak perlu sesuatu yang spesial, semua hanya perlu di rasakan saja. Jadi, stop buang-buang waktumu. Lu pasti dapat orang yang lebih baik dari pada gua suatu saat nanti,”
Semenjak saat itu, walau dirinya sudah berusaha melepaskan semua perasaannya terhadap Evan. Tetap saja, ada sedikit rasa sakit hati dan tidak suka terhadap Vina yang pada akhirnya terus di pertahankan Evan sampai sekarang. Melihat hubungan mereka yang begitu awet, ada kalanya dia sering bertanya-tanya dalam hati, ‘Kenapa harus Vina? Apa yang Vina punya namun dirinya tidak?’.
***
Baginya, yang terpenting saat ini adalah Evan, apalagi setelah dia mendengar apa yang terjadi sebenarnya dari Alfred. Setidaknya, dia ingin ada saat Evan membuka matanya lagi saat sadar nanti.
“Lu yakin mau absen dari syuting sampai Evan sadar?” Kamila bertanya; dia paham dengan bagaimana perasaan Vina yang sudah seperti seorang istri takut kehilangan suaminya.
Akan tetapi, mempertimbangkan posisi Vina sebagai publik figur yang saat ini sudah menandatangani kontrak acara, absen karena permasalahan seperti ini bisa menjadi gunjingan banyak orang. Terlebih lagi, jika media mengetahui Vina yang absen karena pergi ke rumah sakit untuk menjenguk seorang pria.
“Sampaikan saja permintaan maaf gue ke juri, stafff acara, dan stasiun TV. Setelah semua yang terjadi hari ini, gua lebih baik memilih rehat sampai Evan pulih, atau setidaknya sadar,” Vina menjawab tanpa memalingkan mukanya. Dia terus menggenggam tangan Evan. Pikirannya saat ini juga sedang memikirkan siapa yang tega melakukan semua ini hanya demi menjatukan dirinya.
Yang jelasnya, kejadian hari ini mengajarkannya satu hal, kalo dunia yang selama ini dikenalnya ternyata jauh lebih kejam dari pada yang pernah dia bayangkan.
“Kasih 1 kredit perusahaan ke Alfred atau Nadya,” pintanya kepada Kamila.
Entah kejadian ini bertujuan untuk menjatuhkannya atau Evan, hal itu sudah bukan masalah lagi; karena jika salah satu dari mereka sampai kenapa-kenapa itu berarti sama saja menantangnya atau Evan. Dan, ia tidak akan bisa memaafkan siapapun orang dibalik rencana kotor seperti ini. Dia juga yakin Evan pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya saat ini.
“Oke, tapi lo tetap harus balik jadi juri 1 hari setelah Evan sadar. Deal?” Kamila mencoba bernegoisasi; karena dia sedikit agak khawatir Vina akan berubah pikiran ketika Evan sudah sadar dan malah menghentikan seluruh kegiatan di dunia entertaiment.
“Iya, tenang aja. Gua ngak bakal abai dengan tanggung jawab gue,” Vina menjawab dengan nada sedikit kesal. Dari dulu hingga sekarang ini, dia tidak pernah mengabaikan tanggung jawabnya untuk hal pekerjaan walau ada hal segenting apapun yang terjadi. Selama itu masih bisa di tolerir, dia pasti akan menyelesaikan pekerjaannya setelah mehgrusi masalahnya.
“Oke, gua juga akan sewa detektif swasta. Hust in case kalau kecurigaan lu dan Alfred emang benar. Tapi, kalo semuanya sudah terlalu berbahaya, lu musti serahin ini ke polisi, Oke?”
“Iya, cerewet amat sih,” gerutu Vina.
“Wajar lah, karena ini pertama kalinya kita menghadapi situasi sampai seperti ini. Ngak gua sangka, sekalinya dapat skandal heboh, langsung sampai yang super parah dan rumit kayak begini,” ujar Kamila yang dia sendiri memang juga cukup syok dengan apa yang menimpa Evan setelah mendengar penjelasan Alfred.
Dia dulu memang pernah diingatkan oleh rekan sesama manajernya, kalau hal seperti itu mungkin saja terjadi kalo mereka lagi apes. Namun, seiring waktu berlalu, dia tmelupakan hal tersebut dan menganggap hal tersebut hanyalah sebuah kisah isapan jempol belaka.