
Drttt... Drtt...
Handphone miliknya bergetar ketika dia sedang menikmati angin sepoi-sepoi yang membasuh mukanya. Pikirannya yang semula penuh dengan berbagai pergumulan, rasanya menjadi sedikit lebih lega ketika dia bisa meluangkan 5 atau 10 menit untuk berpikir, merenung, memejamkan matanya, dan juga membuat semua negatif mind yang membebaninya.
Tidak lama, berselang sekitar semenitan, handphonenya kembali bergetar lagi.
“Ah, menganggu aja,” dia berucap dalam hati, apalagi saat ini dia sedang berusaha melepaskan semua kegelisahannya. Namun, dia memilih untuk mengambil handphonenya dari dalam saku sweternya. Karena dia menganggap, kalo sudah sampai 2 kali dan dalam waktu yang sangat cepat, mungkin saja ada hal yang penting. Apalagi, yang mengetahui no.nya yang ada di handphone pribadinya hanya orang-orang terdekatnya saja.
‘Mertua lu datang’, bunyi pesan singkat dari Kamila; yang ternyata tadi sempat menelponnya semnit yang lalu.
“Shit,” dia mengumpat tanpa sadar saat teringat kalo tadi pagi Ibunya Evan memang mengirimkan pesan kalau beliau beserta Ayahnya Evan akan datang menjenguk ke rumah sakit; karena masalah faktor usia, Ayah dan Ibunya Evan tidak diizinkan oleh dokter untuk tinggal berlama-lama di rumah sakit.
Dengan tergesa-gesa, dia berlari menuju lift dan menekan dengan cepat tombol lift—walau sebenarnya hal itu tidak akan berpengaruh sama sekali dengan kecepatan lift saat naik atau turun—sambil mengecek handphonenya untuk melihat sudah berapa lama waktu yang terlewat semenjak pesan terakhir Kamila yang masuk.
Untung saja, lantai dimana kamar VVIP berada dan rooftop tidak terlalu berjauhan, sehingga tidak memakan waktu lama baginya untuk berada dalam lift yang biasa berhenti setiap lantai. Begitu tiba di lantai 25—tempat dimana kamar Evan berada—dia mempercepat langkahnya tanpa memedulikan pegawai rumah sakit atau orang-orang yang melihatnya; karena Kamila sempat menegurnya untuk memakai masker agar tidak ada gosip lain lagi yang beredar.
Ketika dia tinggal berjarak 3 atau 5 meter dari pintu kamar Evan, dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, merapikan penampilannya—karena dia ingin tampil rapi di depan orang tua Evan—dan menyeka keringatnya dengan ujung dari lengan sweternya sebelum kemudian berjalan kembali menuju kamar Evan. Perasaannya sedikit berdebar, karena takut kalau orang tua Evan mungkin akan menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Evan.
Akan tetapi, semua kecemasannya lenyap ketika ibunya Evan malah memeluknya, “Thanks, kamu sudah menemani Evan selama ini. Kamu ngak usah menyalahkan dirimu sendiri lagi, semua yang kamu perbuat sudah lebih dari cukup,” perkataan ibunya Evan yang seperti menembus kegelisahannya saat ini, membuat hatinya menjadi goyah dan ingin menangis, namun tetap ditahannya.
Dia kemudian menatap Kamila yang tampak tersenyum tipis; dan menduga kalau ini pasti karena Kamila sudah mengatakan sesuatu ke Ibunya Evan. Ia kemudian mengajak Ibunya Evan untuk duduk terlebih dahulu di sofa; mengingat sekarang sudah jam 7 malam dan tentunya orang tua Evan pasti capek dalam perjalanan dari hotel ke rumah sakit.
Dan, dugaannya soal Kamila yang mengatakan sesuatu terbukti benar adanya saat Ibunya Evan menanyakan soal kondisi hubungannya dan Evan dengan begitu banyaknya rumor yang beredar di luar sana.
“Ngak apa-apa kok ma, yang penting aku sama Evan baik-baik aja. Biarkan saja orang di luar mau ngomong apa, dan ngak usah di dengarkan,” ujarnya. Hatinya cukup tersentuh dengan perhatian orang tua Evan.
“Bagaimana kalau kalian umumkan saja hubungan kalian berdua? Supaya kamu ndak stress mikirin jalan keluarnya, karena om liat kamu agak kurusan kayaknya dari beberapa bulan lalu,” celetuk Ayahnya Evan, yang ia sendiri memang sempat memikirkan ide tersebut juga.
“Ehm...” begitu dia akan membuka mulutnya, dia menyempatkan untuk melirik ke arah Kamila. Dan betul saja, Kamila saat ini memberinya tatapan tajam seolah menyuruhnya untuk menolak ide dari Ayahnya Evan tersebut, “Nanti aku bicarakan dulu sama Evan, karena ini berhubungan dengan karir kami berdua,” jawabnya.
“Biarkan aja mereka berdua, mungkin ada yang mereka mau lakukan dulu sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius,” seperti biasa, Ibunya Evan selalu menjadi penengah ketika berada dalam situasi dimana Ayahnya Evan mulai memaksa. Itulah kenapa dia sangat suka dengan Ibunya Evan yang selalu begitu pengertian.
“Tapi...”
“Udah deh pa, ngak usah ikut campur urusan anak muda. Gara-gara itu makanya kamu dulu sering dijulukin kudet ama anak-anak kantor,” Ibunya Evan menyela ketika Ayahnya Evan masih tidak menyerah dengan ide ‘mengungkapkan hubungannya dan Evan ke publik’, “Orang yang namanya Giovani itu kenapa mama liat dia ngak pernah satu kali pun menolak rumor kalian berdua ya,” ucap Ibunya Evan yang tiba-tiba menanyakan soal Giovani yang sampai sekarang ini memang masih diam saja.
“Karena orangnya emang punya rasa sama Vina,” Kamila langsung menjawab tanpa ada jeda yang cukup panjang; seperti memang sudah menantikan pertanyaan tersebut.
“Hmm, pantas saja,”
“Ya wajarlah ma, kan sebagai artis, pasti banyak yang suka sama aku. Cuma kebetulan aja ketemu orang yang agak keras kepala kaya dia. Sudah ditolak tapi masih juga keras kepala. Jadi, aku anggap orang numpang lewat aja lah,” dia mencoba menjelaskan—lebih ke mencari alasan sih sebenarnya—kenapa sampai saat ini Giovani ataupun agensinya masih tetap diam saja dan tidak mengatakan apapun.
“Ah, sudahlah, ngak usah bicarain orang itu lagi. Kalian sudah makan?” Ayahnya Evan menyela,
“Belum pa, ini saya rencananya baru mau nyuruh Kamila buat beli makanan. Papa sama Mama mau apa? Sekalian di pesankan juga,”
“Ngak usah, papa sama mama sudah tadi sebelum kesini. Sekarang kita gantian aja, kalian makan dulu di luar, kami berdua yang jaga Evan sampai kalian kembali,” ujar Ayahnya Evan dengan begitu perhatian menyuruhnya berdiri; bahkan sampai mengambilkan tasnya. Sementara Ibunya Evan juga mengangguk pertanda setuju dengan perkataan Ayahnya Evan.
Sebagai calon menantu yang baik, dia sebenarnya merasa sungkan. Namun, berhubung Ayah dan Ibunya Evan memaksa, dia akhirnya pergi bersama Kamila unutk makan di restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit. Akan tetapi, pikirannya tetap saja tidak bisa tenang dan membuatnya terus menatap layar handphonenya ketika sedang menunggu pesanannya dan juga Kamila.
Mungkin karena kesal, Kamila kemudian mengetuk meja mereka berdua untuk membuat pandangan Vina teralih. “Sudah, lu ngak usah terlalu mikirin soal Evan dulu, lagian dokter kan sudah bilang kalau dia sudah tidak dalam kondisi kritis lagi. Lu juga harus merhatiin kondisi lu sendiri. Jangan sampai pas Evan sembuh, malah lu yang gantian sakit,” ucapnya sembari menjulurkan tangannya meminta handphone milik Vina. Dia hanya tidak ingin sahabatnya ini melupakan kesehatannya sendiri, karena setelah momen kelam ini, jadwal yang begitu padat sudah menunggu mereka berdua.
Mendengar nasihat Kamila, Vina menjadi berpikir kalau semua perkataan sahabatnya itu ada benarnya. Dia juga teringat dengan semua orang yang sudah kerepotan karena dirinya; Evan dan Kento yang sampai harus kecelakaan sehingga membuat Alfred harus ikut mencari dalang di balik semua ini, temannya Nadya yang akhirnya terpaksa harus kerepotan menghandle bisnis mereka berempat sendirian, dan juga karyawan agensinya yang harus direpotkan dengan telepon yang terus berdering.
Sadar dengan semua itu, dia memejamkan matanya dan mengglengkan kepalanya beberapa kali untuk menjernihkan pikirannya yang sudah terlalu terlena dengan Evan saja. Dia sadar, kalau cara untuk menebus semua ini adalah dengan menemukan orang yang menyebabkan semua rumor tentang dirinya dan Giovani.