
(Sudut Pandang Nadya)
“Loh, Alfred kemana?” Nadya yang bergegas setelah Alfred memanggilnya, kebingungan karena mendapati hanya ada Ayahnya dan juga Ayahnya Alfred di ruang tamu.
Ia memang sempat mendengar suara keras dari Ayahnya Alfred tadi yang terdengar seperti sedang marah-marah. Akan tetapi, ia merasa lebih baik untuk pura-pura tidak tahu ketika di depan kedua orang tua mereka, karena Alfred menyuruhnya untuk bersikap seperti itu.
“Nak Nadya, kamu susul saja Alred duluan, mungkin dia sedang menunggu di parkiran,” ujar Ibunya Afred.
Tidak ingin terlibat dalam kekacauan keluarga yang menurutnya hanya akan memberikannya sakit kepala, dia mengikuti saran dari Ibunya Alfred; itupun setelah ia melihat ayahnya memberinya kode untuk mengikuti saran Ibunya Alfred. Setelah pamit hanya kepada Ayahnya—karena dirinya sendiri masih sedikit kesal dengan ibunya yang membahas soal masalah sensitif saat makan siang tadi—dia keluar dari ruangan itu dan bergegas menyusul Alfred.
Dalam perjalanan menuju restoran mereka, Alfred tidak berbicara sama sekali dan hanya fokus mengemudi saja. Entah apa yang terjadi sampai terdengar Ayahnya Alfred berteriak, yang jelasnya itu pasti bukanlah pertanda baik. Ia sendiri bisa dibilang cukup paham bagaimana kondisi Alfred yang begitu terbuka kepadanya soal permasalahannya dengan orang tuanya.
Mungkin, itu jugalah yang bisa membuat mereka lebih peka ketika dihadapkan dengan permasalahan yang berkaitan dengan orang tua mereka, karena mereka berbagi nasib yang sama.
“Yang,”
“Hmm?”
“Soal perkataan ibuku tadi...”
“Tenang saja, kita memang akan menikah tahun ini,”
“Hah?” dia agak terkejut, karena sebenarnya dia hanya ingin meringankan beban pikiran Alfred dengan menyuruhnya untuk melupakan soal masalah ‘kesuburan’ itu.
“Yah, mungkin memang perkataan orang tuaku dan orang tuamu ada benarnya. Kita harus berkomitmen dalam menjalani hubungan kita. Meski memang akan ada tantangan tersendiri nantinya, kita tetap memang harus melewati semua itu, ya kan? Sebagai pembelajaran soal kehidupan,”
Dia sedikit terkesima saat mendengar Alfred yang sangat jarang bisa berpikir bijak seperti sekarang ini. Sebab, dari pertama kali ia mengenal Alfred, hanya sifat jahil dan kekanak-kanakannya lah yang menjadi dominan di kehidupan mereka sehari-hari.
“Yang penting aku ngak mau kamu terlalu memaksakan diri dengan keinginan orang tua kita, karena kita yang akan menjalaninya. Dan tidak ada gunanya jika kita ngak bahagia,”
“Iya ibu bos yang cantik. Telpon anak-anak di restoran, suruh siapin makanan yang paling enak, makanan di hotel tadi kurang enak,”
Meski Alfred berbicara dengan wajah tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, ia tetap saja tidak bisa untuk tidak khawatir. Karena Alfred adalah orang yang terkadang lebih menyimpan masalah dalam hatinya sendiri dari pada menunjukkan kesusahannya.
Hal itu juga membuat dirinya sedikit takut kalo Alfred menjadi stres dan mentalnya menjadi drop seperti apa yang terjadi saat mereka kuliah. Alfred bahkan sampai harus cuti 1 semester untuk berobat ke psikolog demi melepaskan tekanan batinnya; yang sebagian besar memang di sebabkan oleh permasalahan keluarga seperti yang terjadi hari ini.
Baru saja dirinya memikirkan soal permasalahan keluarga, ibunya Alfred menelepon.
“Yang,” ucapnya sembari menunjukkan handphone miliknya yang mendapat panggilan masuk dari Ibunya Alfred.
“Angkat saja,”
Setelah mendapat izin—karena saat ini yang terbaik menurutnya adalah mendiskusikan semuanya dengan Alfred—ia kemudian menjawab panggilan tersebut dan memasangnya di audio mobil, “Halo Tante,” dia menyapa dengan ramah. Sedangkan Alfred tidak bereaksi sama sekali, hanya terus fokus mengemudi.
“Kalian masih di jalan ya?”
“Iya tante, Alfred juga lagi menyetir,”
“Oh pantas handphonenya tidak diangkat. Kamu sekarang pakai loudspeaker atau tidak?”
“Tante minta maaf ya, karena hari ini membuat kalian merasa tidak nyaman,”
“Ah, ngak apa-apa kok tante, saya juga paham perasaan om dan keluarga saya,”
“Tetap saja, tante merasa ngak enak karena kalian sudah seperti sangat di paksa untuk melakukan keinginan kami yang egois, tanpa mempertimbangkan pendapat kalian. Dan juga tante mau minta tolong ke kamu,”
“Minta tolong apa?”
“Tolong jaga Alfred,” ia kembali melirik ke arah Alfred yang kali ini ada air mata yang membasahi pipinya, “Dia mungkin sangat marah saat ini, dan tante ngak mau apa yang terjadi dulu terulang lagi. Jadi tante minta tolong ke kamu untuk tetap di sampingnya, memperhatikan dia, walau mungkin emosinya tidak stabil dan marah ke kamu, tolong tetap di sampingnya ya?”
Mendengar kata-kata Ibunya Alfred yang begitu perhatian dengan kondisi Alfred, hatinya tersentuh dan tidak bisa menahan rasa harunya, “I.. Iya tante, itu sudah pasti, aku ngak akan pernah meninggalkan dia, meski apapun yang terjadi. Apa yang kami lewati, kami lihat, dan kami rasakan selama ini, semuanya selalu punya makna tersendiri, dan menyatukan kami sampai saat ini. Jadi, tante ngak perlu khawatir soal Alfred,” ujarnya.
“Terima kasih ya, semoga kalian bisa langgeng dan terus saling support seperti ini,”
“Pasti tante, pasti,”
Setelah panggilan tersebut berakhir, ia menatap langit sore hari yang berwarna jingga, Tidak terasa, hari ini berlalu begitu cepat. Waktu yang ia habiskan bersama Alfred memang bagi orang lain begitu lama dan sudah banyak juga temannya yang bertanya soal perihal pernikahan. Namun baginya, momen konyol dimana Alfred menyatakan cinta secara spontan di momen yang banyak orang mungkin tidak akan menduganya, rasanya itu belum terlalu lama berlalu.
Kesusahan, kesenangan, duka, dan sukacita yang terjadi dalam hidup mereka, beberapa masih tertanam jelas di pikirannya. Momen pertama kali mereka kencan, first anniv pertama, sampai first kiss pertama mereka juga rasanya masih seperti terjadi kemarin sore.
“Bagaimana kalo kita menikah bulan depan?”
“Excuse me? Seriusan?”
“Iya. Kalo kamu ngak keberatan tentunya,”
“Y.. Y.. Ya aku ngak masalah sih,” dia sedikit gelagapan dan menahan dirinya untuk tidak tersenyum lebar. Meski sebenarnya lamaran Alfred tersebut jauh dari apa yang ia impi-impikan selama ini.
Makan malam yang romantis di pinggir kolam atau di sebuah restoran, diiringi oleh lentunan piano; momen seperti sebenarnya adalah sesuatu yang ia impi-impikan soal bagaimana Alfred akan melamarnya. Akan tetapi, melihat keseriusan Alfred saja rasanya sudah menjadi cukup baginya, karena yang terpenting baginya iyalah komitmen.
“Berarti mulai besok kita harus mempersiapkan pernikahan kita,”
“Terus, soal kecelakaan Evan?”
“Nantilah aku bagi tugas sama Fahmi,”
“Memangnya dia mau sendirian?”
“Seharusnya sih, karena kan dia dibayar sama Kamila. Dan itu kan memang pekerjaannya,”
“Ya tapi kamu juga harus sering bantu dia,”
“Pastilah, hanya saja pernikahan kita jadi number one priority dulu. Kamu mau konspenya kaya bagaimana? Kaya sesuatu yang sangat kamu mau begitu?”
“Kalo sekarang sih, belum ada tema yang spesial. Hanya saja, aku kepengen pernikahan kita nanti ada rasa-rasa sentimentalnya, ada unsur-unsur nostalgianya,”
Ia sendiri sebenarnya memang bingung bagaimana cara menjelaskannya, ide itu juga sebenarnya terinspirasi dari video pernikahan yang pernah di lihatnya di instagram.