Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 8 : Musuh Yang Tidak Bisa Dianggap Remeh



“Nah kan, gua bilang juga apa, Netizen kita tuh ngeri-ngeri sedap, cuma selang beberapa jam loh, bukan sehari, Foto kalian berdua udah kesebar di IG,”


Seperti biasa, Kamila—yang biasanya langsung membuka tablet dan mencari update terbaru sial Vina—langsung mengomel begitu mereka berada dalam mobil Vina setelah semua koper sudah masuk ke dalam mobil lainnya dari agensi Vina yang memang dikhususkan untuk mengangkut bagasi dan tamu jika kru, jika ada.


“Duh, itu kan cuma foto aja, dan ngak ada yang tahu kok kalau itu adalah Evan. Ya kan?” Vina berusaha membela dirinya dan Evan di depan Kamila.


“Lu berdua ngak mikir bagaimana reaksi fansnya si kampret itu kalau mereka tau soal kalian berdua yang pacaran diam-diam?”


“Ngapain takut juga, lagian kan rencananya memang untuk membalikkan gosipnya si Vina dan Giovani, jadi kalau ketahuan lebih cepat juga ngak ada masalah sih seharusnya. Ya kan?”


“Betul tuh, lagian juga masih ada kartu AS andalan kalau mau balikin tuduhan fansnya Giovani nantinya kan?”


“Kartu AS? Maksudnya? Lu berdua punya rencana lain dibelakang gua gitu?” Kamila terlihat bingung dengan perkataan Vina tadi.


“Foto-foto gua sama Vina dari awal pacaran sampai sekarang,” ujar Evan, yang sebenarnya merasa Vina agak terlalu cepat mengungkapkan rahasia mereka berdua, padahal dia ingin hal itu tetap tersembunyi.


“Oke, berarti itu bisa jadi senjata terakhir kalo fans Giovani melontarkan hate yang macam-macam dan berlebihan,”


“Sudahlah, itu dibahas lain waktu aja, ngak usah terlalu pusing mikirin soal si kampret itu dulu. Lebih baik prioritaskan waktu istirahat artis lu noh. Minggu depan kan jadwalnya masih padat. Belum lagi soal bikin album,”


“Iya betul juga sih. Pak, langsung ke apartemen Vina aja,” ujar Kamila yang setuju dengan perkataan Evan.


***


“Hah, anabul gua gimana ya?” ujar Andre saat mereka berdua berada dalam lift menuju penthouse milik Vina. Dia sedikit mencemaskan anjing-anjingnya yang ia titipkan kepada adiknya.


Sedangkan Kamila, dia lebih memilih untuk pulang untuk beristirahat; karena kebetulan,  Evan dan Vina juga ingin jalan-jalan menemani Nadya dan Alfred untuk mempersiapkan mempersiapkan pernikahan dua insan tersebut.


“Eh tapi gua masih ngak percaya kalo Giovani bisa melakukan hal yang kamu curigain deh hon. Because, why he would do that? Karirnya kan sudah cemerlang, tanpa film dari studradara Alberto pun seharusnya dia bisa sukses kan?”


“Yah memang sih, tapi siapa yang ngak akan tertarik dengan film dari Sutradara terkenal yang seperti menjadi semacam jaminan untuk bisa langsung lebih tenar lagi. Apalagi beliau kan memang jarang banget keluarin film, yang terakhir saja mungkin 3 tahun yang lalu,” jelasnya.


“Yah, tapi terserah kamu aja sih, aku ngak mau permasalahan ini berdampak buruk ke kita atau orang-orang di sekitar kita,”


“Tenang aja, aku ngak bakal terlalu terang-terangan kok,”


“Awas kamu kalo sampai kejadian lagi kaya kemarin,”


“Janji. Tapi kalo emang keadaannya sudah terlalu di luar kendali atau membahayakan kamu, aku ngan tinggal diam,”


4 tahun berada di lapangan menjadi pengalaman berharga baginya. Ia sudah melihat cukup banyak artis yang banyak di puja orang namun ternyata juga menyembunyikan sisi lain dari diri mereka yang tidak akan pernah orang bayangkan; prostitusi dan narkoba adalah salah satu contohnya. Itulah kenapa dia tidak semerta-merta menarik rasa curiganya atas diri Giovani dan memilih untuk mengamati orang tersebut terlebih dahulu.


Baru saja mereka melewati pintu masuk penthouse, Evan dikejutkan oleh kedua anjing mereka yang berlarian menyambut mereka berdua dan mengajak untuk bermain dengan riangnya. Dia sedikit heran kenapa anjungnya bisa berada di penthouse milik Vina.


“Eh, kakak udah pulang toh ternyata, pantas aja mereka langsung lari,” ujar adiknya yang muncul tak lama kemudian.


“Loh, kenapa lu ada disini?”


“Kak Vina yang nyuruh aku tinggal disini aja,”


“Udah, biairn aja, kan mubazir juga kalau apart segede ini kosong terus. Lagian bagus juga kan, aku ada teman ngobrol kalo pas aku di rumah seharian,”


“Ya kan ada aku,”


“Kalo kamu kerja?”


“Y.. Y..”


“Ada, tapi belum di masak,”


Mendengar perkataan Jacline, Evan mendengus sambil tersenyum tipis, “Pasti selalu pesan antar terus kan setiap hari selama kamu sendirian?” ucapnya sambil berjalan langsung ke dapur setelah meletakkan barang bawaannya di sofa. Ada kalanya dia heran, kenapa kemampuan ibu mereka yang jago masak malah menurun ke dirinya bukan ke adiknya


Berhubung dia sudah agak lelah, dan tau kalau alasan lapar Vina hanyalah basa-basi belaka agar Jacline tidak kena marah. Ia memutuskan untuk memasak omlet saja, karena memang cukup mudah.


“Kak,”


“Hmm?


“Kakak ngak pernah cemburu apa soal kak Vina yang digosipkan sama Giovani setiap hari?”


“Why I should jealous?”


“Yah, kan ada yang bilang, terkadang cinta bisa menjadi cinta. Kakak ngak khawatir gitu kalo Kak Vina bisa kecantol juga sama Giovani nantinya?”


“Hmm, bagaimana ya? Susah dijelasin sih. Kalo kamu sudah merasakan berhubungan sama seseorang cukup lama seperti Kakak sama Vina, mungkin kamu akan mengerti sendiri, kalo rasa saling percaya itu bisa mengalahkan apapun,”


“Yah tapi kan..”


“Udah, kamu ngak usah khawatirin soal itu, mending fokus dengan tugas sekolahmu kalo mau masik kampus yang kamu ngebet banget itu,”


Ia cukup paham sebenarnya dengan kekhawatiran Jacline adiknya, karena memang perkataan adiknya tersebut tidak ada salahnya juga. Menurutnya apapun memang bisa terjadi dalam hubungannya dengan Vina. Akan tetapi, terkadang ada saatnya dia harus mampu mengesampingkan kekhawatiran seperti itu. Karena pada akhirnya, pikiran negatif seperti itulah yang akan membuat hubungan mereka retak.


“Hon, ini apaan?!”


Ketika sedang menaruh omlet buatannya di atas meja, ia dikejutkan oleh Vina yang datang-datang sudah dalam keadaan marah. Dirinya juga terkejut saat melihat Vina memegang handphonenya yang di layar sedang memperlihatkan foto dari Alfred yang menunjukkan kegiatan Joshua seharian ini.


'


“Pertama, tenangkan dulu dirimu,


“Kamu ngak kapok hah dirawat di rumah sakit karena mengejar iblis ini?”


“I know, but…”


“Jadi ini yang kamu maksud soal rencana untuk menjebak Joshua kemarin?”


“Tenang dulu,”


“TENANG BAGAIMANA?!! Kamu ngak tahu hah, bagaimana khawatirnya aku pas ngeliat kamu di rawat di rumah sakit dalam keadaan koma? Dan sekarang? Kamu malah mau melawan si iblis ini? Kamu mikirin perasaan aku ngak sih?”


Melihat Vina yang matanya mulai berkaca-kaca, ia berjalan mendekati Vina dan memeluknya dengan erat. Dirinya sangat mengerti bagaimana perasaan Vina saat ini dan kekhawatirannya tersebut.


“Aku sebenarnya mau kasih tau kamu besok di depan Alfred dan juga Nadya.”


“Please, biarin ajalah orang itu, aku ngak sanggup kalo harus sampai kehilangan kamu. Lebih baik karirku hancur karena gosip yang iblis itu bikin dari pada harus kehilangan kamu,”


“Aku minta maaf ya. But, cuma ini jalan keluarnya, aku ngak mau orang kaya dia bisa terus bernafas lega karena rencana liciknya berjalan mulus. Aku janji, ini yang terakhir kalinya, oke?” ucapnya saat Vina sudah mulai agak tenang sedikit.


Setelah itu, Vina melepas pelukannya dan berjalan kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apapun. Ekspresinya seperti orang yang tidak senang dengan apa yang diucapkan oleh Evan barusan.


Meski Evan paham dengan apa yang dirasakan Vina saat ini, Ia tetap tidak bisa membatalkan apa yang sudah ia rencanakan. Karena kali ini, dirinya sudah bertekad penuh untuk membongkar kebusukan Joshua ke publik. Ia merasa orang seperti Joshua tidak layak untuk menjadi manager seorang artis, apalagi sampai rela menjatuhkan orang lain dan mencelakai orang lain.