Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 9 : KOFRONTASI (2)



Tanpa ditemani managernya—yang ia suruh untuk menunggu di mobil saja—ia meladeni permintaan Silvia, karena dirinya cukup penasaran dengan alasan Silvia sampai mendatanginya ke tempat kerjanya; yang mana itu sangat mencurigakan, terlebih lagi karena mereka tidak sedekat itu sampai saling mengunjungi satu sama lain.


“Sudah lama ya? Semenjak terakhir kali kita berdua ngumpul kaya gini,” Silvia mengucapkan kalimat tersebut dengan senyuman sok polosnya tersebut.


“Ngak usah basa-basi lagi, ada urusan apa lu sampai nyamperin gua ke tempat kerja gua?” mengingat masa lalu mereka yang cukup buruk, apalagi setelah ia mengetahui kalo perempuan di depannya ini pernah beberapa kali menyatakan cinta kepada Evan.


“Ngak ada, gua cuma pengen nyapa aja, sekaligus mau minta maaf atas nama Stasiun  TV,”


“Excuse me, what you say? Stasiun TV?” ia sedikit terkejut dan agak heran dengan maksud dari pekataan Silvia barusan.


“Yap, gua salah satu manajer bagian HR di Stasiun J,”


“Oke kalau begitu? Itu saja kan?” ia menjawab sambil berusaha menyembenyikan rasa terkejutnya dengan mempertahankan poker face-nya.


“Bagaimana kabar Evan?” pertanyaan yang keluar dari mulut Silvia tersebut membuat sesuatu dalam dirinya memaksanya kembali duduk ketika ia sudah hendak berdiri dari kursinya.


“Baik-baik saja. Kenapa? Mau kutelpon sekarang?” jawabnya dengan agak nyolot.


Entah kenapa ia selalu saja merasa emosi tiap kali Silvia menyebut nama Evan. Entah itu karena rasa cemburu? Atau mungkin rasa insecure? Ia tidak pernah bisa menemukan alasan yang jelas untuk sikapnya yang satu ini.


“Memang ya, sifat orang itu susah dirubah. Lu masih aja sama kayak dulu,”


“Itu semua gara-gara lu, ngak nyadar? Sudah ngak ada lagi kan yang harus kita bicarakan? Kalo begitu gua pergi,” tanpa mendengar balasan dari Silvia, ia langsung bangkit berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan perempuan licik itu.


Meski begitu, selama sisa jadwalnya hari ini, senyuman licik Silvia, dan perbuatan perempuan tersebut di masa lalu masih membayang-bayanginya hingga saat ini. Jika saja bukan karena hubungan Silvia dan keluarga Evan yang sudah terjalin baik, ia sudah pasti akan menghancurkan nama Silvia di depan Evan dan keluarganya.


Namun, ia sangat bersyukur Evan yang begitu pengertian hingga akhirnya memutus semua hubungan dengan Silvia sebisa mungkin; walau dalam beberapa acara keluarga, mereka memang tidak bisa menghindar dan harus tetap bertatap wajah dengan Silvia.


“Ah, akhirnya selesai juga semua jadwalmu hari ini, besok lu bisa beristirahat sehari. Gunakan untuk menyelesaikan albummu,”


“Iya bawel,” tanpa sadar ia meluapkan kekesalannya kepada Kamila.


“Ternyata orang kaya lu cukup rese juga kalo merasa insecure ya?”


“What? Insecure apanya? Sama siapa?”


“Cewek yang tadi, siapa lagi namanya?”


“Silvia?” salah satu dari kedua mua-nya ikut nimbrung,


“Ah, Silvia. Betul. Pasti dia salah satu saingan cinta lu di masa lalu kan?”


“Yang betul aja lah lu kalau mau nyari bandingan. Masa gua lu samain sama wanita licik kaya dia? Ngak level kali. Dan lagian, Evan juga…” karena merasa kesal dibandingkan dengan Silvia, ia tanpa sadar mengucapkan nama Evan; yang sekaligus membenarkan dugaan Kamila sebelumnya.


“Nah betulkan. Jadi orang kaya lu juga pernah terlibat cinta segitiga. Ngak nyangka gue, ternyata wanita yang jadi rebutan semua pria bisa juga merebutkan seorang pria,”


“Berisik ah,” karena kesal sekaligus malu, ia balik membentak dan kemudian memejamkan matanya sambil bersandar di kursinya.


Setelah di drop off di apartemennya, ia masih mengutuki Silvia dengan menebutnya ‘wanita ular’ di dalam pikirannya. ‘Kenapa wanita itu harus kembali sekarang? Saat ia dan Evan sedang di landa banyak persoalan?’ pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan apa rencana Silvia kedepannya saat ini. Ia juga curiga kalau merekrut dirinya sebagai juri juga merupakan rencana wanita licik tersebut.


“I’m home,” ucapnya saat mendengar suara TV yang menyala dan suara Jacline dari tempat rak sepatu, “Nonton apaan l…” begitu mendekati ruang tamu, ia terkejut dan bingung melihat kehadiran orang yang seharusnya tidak boleh masuk sama sekali apartemennya, Giovani.


“Hai,” sapa Giovani dengan senyuman kaku di wajahnya,


“Wah, sampai segitunya ya lu jatuh cinta sama gua? Bahkan sampai ngikutin ke…”


Sebelum Evan sempat menyelesaikan kalimatnya, ia berjalan mendekati Evan dan menarik lengannya serta menyeretnya ke dalam kamar, “Maksudmu apa ngizinin dia masuk? Ngak takut kamu apa yang mungkin terjadi kedepannya?” ia bertanya dengan suara yang tidak terlalu keras.


“Tenang saja, dia bakal jadi senjataku untuk memancing Joshua berbuat kesalahan,”


“Maksudnya?”


“Dia dipaksa diam oleh Joshua,”


“Hah?”


“Aku juga baru tau tadi pas singgah nyariin kamu ke Stasiun TV, tapi kamunya ngak ada. But intinya, hubungan mereka berdua tidak sebaik apa yang kita duga. You know, semacam konflik internal,”


“Terus?”


“Yah kita bisa menggunakan dia untuk menggali lebih dalam soal Joshua dan komplotannya. Masa kaya gitu aja kamu ngak ngerti?”


“Bukan itu yang kutanyakan, kamu yakin dia bisa di percaya?”


Evan tersenyum seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, yang ternyata adalah semacam perekam suara, “Setidaknya kita punya kartu AS untuk membuatnya tetap di sisi kita,”


“Wah, kamu licik juga ya ternyata,”


“Sudah ah, lebih baik kita keluar sekarang, ntar dikira kita lagi berbuat sesuatu yang mesum,” untuk sesaat, dirinya sempat merasa gerah diikuti dengan pikiran yang melayang kemana-mana hanya dengan perkataan Evan tersebut.


“M.. Me.. Memang kenapa?”


Lagi-lagi, Evan tersenyum seraya mendekatinya sampai ia bisa merasakan hembusan nafas yang terasa hangat saat Evan bernafas, “Yakin mau dilanjutkan?” Evan menggodanya.


Tak ingin jatuh terlalu dalam, ia langsung meninggalkan Evan terlebih dahulu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan menyuruh Evan keluar duluan.


Di dalam kamar mandi, hal pertama yang dilakukannya adalah menyumbat wastafel, kemudian mengisi airnya sampai agak penuh, lalu merendam wajahnya ke dalam wastafel untuk mendinginkan wajahnya yang terasa gerah akibat tindakan Evan tadi. Tidak berhasil, ia kemudian membuka penyumbat wastafelnya dan memutuskan untuk mandi saja sekalian, agar rasa gerah di tubuhnya hilang semua.


Saat makan malam bersama, ia memilih utnuk tidak terlalu banyak berbicara, hanya mendengarkan percakapan Evan dan Giovani sambil sesekali ikut berbicara ketika Evan menanyai pendapatnya. Dari percakapan tersebut, ia sedikit bersimpati saat mendengar kebenaran soal Giovani yang sebenarnya menjadi artis untuk melunasi utangnya demi operasi ibunya, dan bagaimana hal itu dimanfaatkan Joshua dan Jovri untuk memanfaatkan Giovani agar menuruti rencana dua orang licik tersebut.


“Berapa utangmu kepada orang-orang busuk itu? Dan berapa sisa yang lu butuhkan untuk operasi ibumu?” Evan langsung bertanya setelah Giovani selesai bercerita soal nasib buruknya.


“Masih ada 3 M mungkin,” Giovani terlihat agak malu saat menjawab pertanyaan Evan barusan.


“Ok, lu mulai sekarang jadi mata-mata gua. Ikuti semua apa yang mereka suruh dan kasitahu gua soal rencana mereka. Dan kalau mereka mengancam menggunakan utang dan biaya operasi lagi, tenang aja. Gua yang bayarin semua. Kamu setuju kan sayang?” Evan yang bertanya kepadanya di akhir-akhir sedikit membuatnya terkejut. Karena rasa iba, ia akhirnya hanya mengangguk saja.


Lagipula, tanpa bantuan darinya pun, Evan dengan sifatnya yang memang baik hati begitu pasti akan tetap membantu Giovani. Di samping itu, jumlah yang disebutkan Giovani pun memang tidak seberapa jika dibandingkan kekayaan yang dimiliki oleh Evan lewat investasinya selama ini.


“Kalau tiba-tiba dia diputus kontraknya bagaimana? Kakak ngak mikir kesana?” celetuk Jacline.


“Gampang, agensi kakak iparmu ini yang akan mengurusnya,” jawab Evan lagi dengan tersenyum mengejek. Ia sudah tau kalo ujung-ujungnya pasti akan melibatkan agensinya juga.


“Lah, memang bisa?” Jacline kembali bertanya,


“Ah kamu belum tau ya? Agensi yang ditempati dia itu sebenarnya punyanya sendiri, hanya saja orang lain lah yang menjadi CEO-nya. Supaya ngak terlalu menarik perhatian. Kakak juga invest di sana lumayan banyak,”


“What?!! Seriusan kak?” Jacline tampaknya sedikit terkejut mendengar fakta yang diucapkan oleh Evan barusan. Giovani pun tampak sama; menatapnya seolah tidak percaya.


“Semacam itulah,” ia hanya menanggapi hal tersebut dengan santai dan tersenyum tipis. Ia juga agak kesal karena Evan membawa agensi yang mereka bangun bersama dengan susah payah ke dalam permasalahan ini, karena ia takut hasil kerja keras mereka berdua akan kenapa-kenapa.