Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 6 : KEBUSUKAN YANG TIDAK BISA DISEMBUNYIKAN (2)



Di perjalanan kembali ke rumah sakit--dimana mereka memilih untuk berjalan kaki demi menikmati udara malam yang cukup bagus untuk menyejukkan kepala yang penat, dan juga karena kebetulan jalanan agak sepi dari hiruk pikuk lalu lintas—dia dan Kamila berbincang bagaimana sendainya mereka berdua memutuskan untuk langsung membantah rumor tersebut dengan tegas dan mengancam akan menuntut orang yang menyebarkan rumor itu.


Karena mungkin saja hasilnya akan berbeda, mungkin saja tidak akan ada rumor lanjutan soal Giovani dan dirinya yang pada akhirnya Evan mungkin tidak harus mengalami kecelakaan dan terbaring di rumah sakit saat ini.


“Hmm, Tidak akan ada yang tahu rencana Tuhan seperti apa kedepannya. Bisa saja lebih buruk namun bisa juga lebih baik,”


“Wow,” perkataan Kamila membuatnya agak tercenang untuk beberapa saat, “Bisa juga lu jadi orang yang super bijak ya,” ucapnya. Sebab baru kali ini dia melihat sosok Kamila yang begitu relgius seperti ini. Bahkan setelah mengenal dia setelah 8 tahun mereka bekerja sama, tidak pernah dia melihat sahabatnya satu ini begitu bijaksana dan relgius di waktu yang bersamaan.


“Ya iyalah, lu pikir dengan semua gosip lu yang super duper memusingkan, semua bisa ditangani oleh orang yang ceroboh? Udah ancur karirmu dari dulu kali kalo kaya begitu mah,” Kamila mencibir sambil menyilangkan tangan di depan dada; karena semakin lama mereka berjalan, udara yang menyentuh kulit mereka memang terasa semakin dingin dan membuat mereka berdua agak mengigil.


Dia hanya bisa tersenyum masam saat mendengar jawaban Kamila; dan sekaligus tersadar bagaimana gosip-gosipnya memang sempat membuat teman sekaligus manajernya ini kewalahan beberapa kali, termasuk gosip dengan Giovani kali ini. Sekaligus bisa dibilang dia bersyukur mempunyai teman seperti Kamila, yang selalu pengertian dan setia menemaninya; di samping Evan tentunya.


“Iya deh iya, ibu bos yang paling hebat, sabar dan cantik,” ujarnya sambil bersikap manja dengan menggandeng lengan Kamila.


“Ngapain sih lu,”


“Dingin mom, numpang ngangetin dong,”


“Sana lu jauh-jauh, enak banget numpang,” jurus imut-imut manja andalannya tampaknya tidak berhasil karena alih-alih di balas dengan baik, Kamila malah langsung melepaskan lengannya, sedikit mendorongnya dan kemudian berlari meninggalkannya.


***


Saat berjalan di lorong menuju kamar Evan yang sunyi dan sepi—karena semua lorong tersebut adalah kamar VVIP yang tidak bisa dimasuki sembarang orang—pikirannya kembali melantur. Sekarang, di pikirannya malah terbesit keinginan untuk pensiun atau setidaknya hiatus untuk waktu yang cukup lama.


Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Dia tersadar dari pikiran melamunnya saat melihat sekumpulan dokter keluar dari kamar Evan. Sedikit panik, dia mempercepat langkahnya sampai dia mendahului Kamlla yang berjalan sambil memegang tablet menuju kamar Evan; malahan, dia hampir saja berlari jika saja dirinya tidak ingat kalau sekarang sudah hampir jam 10 malam.


Saat melihat raut wajah perawat yang malahan tampak lebih terkejut dari dirinya, dia baru tersadar kalau saat ini dia tidak memakai masker untuk menyembunyikan identitasnya.


“Ngak usah khawatir, mereka sudah tanda tangan perjanjian kerahasiaan,” ujar Kamila,


Dia menjadi sedikit tenang sekaligus sangat berterima kasih untuk sikap jaga-jaga Kamila tersebut. Dengan tenang, dia meladeni beberapa perawat yang meminta untuk foto bareng, tidak terkecuali dokter yang awalnya seperti tidak tertarik namun malah ikut nyelip di antara para perawat.


“Bagaimana keadaannya dok?” dia bertanya setelah semua perawat tadi pergi.


“Untuk sekarang ini, masih perlu menjalani beberapa tes untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Kalo tidak ada masalah, baru kami akan menyatakan dia boleh pulang,”


“Berapa lama kira-kira ya dok?”


“Mungkin 2 sampai 3 hari,”


“Kalau begitu saya permisi,” ucap dokter tersebut sebelum meninggalkannya dan juga Kamila.


Saat masuk ke dalam kamar, begitu melihat Evan yang sudah sadar dan sedang mengbrol dengan kedua orang tuanya, Vina menahan dirinya untuk tidak cengeng walau sebenarnya matanya sudah serasa akan mengeluarkan air mata.


“Lihat tuh, Vina saja sampai rela ngak kerja demi ngerawat kamu. Seharusnya kamu berterima kasih bisa dapat perempuan sebaik dia,”


“Iya ma, tau kok,” Evan menjawab dengan wajah tersenyum sambil menatap Vina yang sedang berjalan ke kasurnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


“Jadi kapan kalian akan nikah, atau ngak lamaran dulu deh,” Ayahnya Evan mulai menekankan lagi soal pernikahan yang padahal tadi sudah diputuskan untuk tidak dibahas lagi.


“Hmm, bulan depan?”


“Hah?”


Semua orang yang ada dalam ruangan itu, termasuk Vina yang pada saat itu sudah akan menangis, terkejut saat mendengar perkataan Evan. Dia tidak tahu mau berkata apa; ada perasaan senang, namun juga ada perasaan bimbang soal karirnya.


“Boleh kan bu manajer Kamila?” Evan bertanya sambil menatap Kamila dengan senyuman jahilnya.


“Ehm boleh-boleh saja, asalkan lu berani jamin dunia luar ngak akan tahu soal pertunangan lu berdua....”


“Yang mana itu impossible,” Evan memotong,


“Bilang aja kalau lu kagak ngasih izin. Simple,” Vina yang sudah berhasil mengendalikan dirinya, langsung menimpali perkataan Evan untuk memojokkan Kamila. Orang tua Evan juga ikut menatap Kamila dengan tatapan berisikan pesan, ‘Jangan Merusak Momen deh’ terpampang jelas di wajah mereka.


“Oke, oke, setelah album terbarunya rilis, bagaimana om, tante? Lagian nih orang satu (menunjuk Vina) juga ngak akan peduli dengan larangan saya setelah momen itu,” terpojok, Kamila akhirnya mengalah. Padahal, perjanjian awalnya dengan Vina adalah setelah penghargaan Grammy.


“Walaupun itu masih terlalu lama, but okay lah, lumayan bisa diterima,” Evan masih mengompori situasi; karena reaski ayahnya atas jawaban Kamila tadi masih kurang bagus, wajahnya masih menunjukkan sedikit reaksi kekecewaan, bahkan sempat berdecik setelah Kamila selesai berbicara.


“Sudah, sudah, walaupun kami berdua ingin kalian cepat-cepat menikah. Tapi kami juga mengerti soal status Vina sebagai publik figur. Saran Kamila juga kan sudah cukup bagus, ya kan pah?” Ibunya Evan yang lebih pengertian, menengahi suasana.


Ayahnya Evan sempat masih memasang muka masamnya setelah Ibunya Evan berbicara. Akan tetapi, Ayahnya Evan—yang termasuk suami-suami takut istri—langsung patuh setelah Ibunya Evan mencubit pinggangnya. “Urus sajalah bagaimana bagusnya,” ujar ayahnya Evan setelah ditekan oleh istrinya yang lebih tegas ketimbang dirinya.


Pemandangan tersebut membuat Evan dan Vina senyum-senyum sendiri. Bagi Evan, tidak peduli berapa kali dia melihat momen seperti ini, dia tidak bisa ridak senyum-senyum sendiri dengan perilaku ayahnya yang selalu pura-pura tegas, namun selalu keok ketika ibunya mulai mengintervensi. Sedangkan Vina sendiri, melihat pemandangan itu membuat dirinya membayangkan akan seperti apa saat dirinya dan Evan sudah seusia orang tuanya Evan.


“Oke kalau begitu kami pamit dulu  karena kamu sudah kembali, dan berhubung ini sudah jam 10 malam juga. Ngak enak nanti kalau sampai kalian kena tegur perawat,”


“Ah, kalau begitu nanti papa sama mama diantar sama Kamila saja kembali ke hotel. Atau kalau mau ke apartemen saya atau Andre juga boleh, karena kebetulan apartemen kami satu tower kan,” usul Vina; yang mendapatkan respon gelengan kepala diikuti dengan decikan dari mulut Kamila; karena kebetulan, hari ini Kamila membawa mobil Van yang biasa mereka pakai pergi syuting.