
Selama perjalanan pulang menuju apartemen mereka, suasana di dalam mobil menjadi hening; hanya ada suara rintikan air hujan yang jatuh mengenai atap mobil yang menjadi peramai suasana. Evan hanya fokus menyetir dan Vina juga hanya menatap ke luar jendela mobil.
Curah hujan yang agak lebat sepanjang seolah mengatakan agar suasananya tetap hening saja, karena Evan yang sudah cukup lelah—akibat emosi saat melihat galih di restoran, ditambah dengan perdebatan dengan Vina di restoran tadi—hanya bisa fokus sepenuhnya untuk menyetir. Sama halnya dengan Vina, yang memang jadwalnya seharian ini begitu sibuk dengan acara tv, pemotretan untuk iklan, dan ditambah lagi dengan memikirkan permasalahan gosipnya dengan Giovani yang masih menjadi buah bibir setiap orang yang ia jumpai; meski sebenarnya di media sudah tidak terlalu sehangat saat rumor itu pertama muncul.
Evan sebenarnya mengerti soal keinginan Vina untuk menyeret Galih dan menanyai soal hubungan Joshua dengan Galih. Akan tetapi, instingnya menolak untuk melakukan itu karena merasa ancaman yang sebenarnya belum keluar saat ini. Ibarat permainan catur, ada kemungkinan yang mereka hadapi sekarang hanyalah pion-pionnya saja. Sedangkan untuk menghentikan semua ini, mereka harus mencari sang raja dan menskakmat-nya, dan tindakan gegabah hanya akan membuat raja tersebut sadar dengan bahaya yang mengancam.
“Maaf ya karena aku sempat marah-marah dan sedikit ngebentak kamu di depan Linda dan yang lainnya tadi,” Evan memilih untuk meminta maaf duluan demi mencairkan suasana yang tegang dan sunyi seperti ini.
Kenapa? Karena dia lebih memilih untuk mengikuti anggapan ‘prempuan selalu benar’ untuk saat ini, dan menurutnya, amarah tidak akan menyelesaikan apapun. Intinya, ketika sepasang kekasih sedang bertengkar, harus ada yang mengalah agar konflik mereka bisa selesai. Dan kata ‘maaf’ yang tulus, simpel, namun susah diucapkan bisa meluluhkan hati seseorang yang sedang berapi-api karena kemarahan.
“Aku juga minta maaf, karena ngak mendengarkan nasihatmu dan terlalu cepat menyimpulkan. Yang kamu bilang memang benar, ngak seharusnya aku menilai orang hanya karena orang di sekelilingnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Vina.
“Berarti kita baikan dong,” Evan melepas satu tangannya dari stir dan menjulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda baikan,
“Apaan sih, fokus nyetir sana,” Vina menjawab sambil tersenyum ingin tertawa melihat tingkah Evan tersebut, “Dan lagi pula, yang kaya gini mah bukan namanya bertengkar,” imbuh Vina.
“Oh begitu, jadi yang bertengkar itu kaya bagaimana?”
“Hmm, kalau sampai aku ngak mau ketemu sebulan mungkin?”
“Idih, jangan lah. Bisa mati lemas gara-gara rindu aku nanti,”
“Kamu mulai belajar gombali dari mana sih? Dari Alfred ya?”
“What?!! Orang yang ngak bisa romantis kaya dia? Ngak mungkin lah,” Evan menolak dirinya disamakan atau dibandingkan dengan Alfred. Karena selama ini, Alfred lah yang selalu meminta saran soal bagaimana agar hubungannya dengan Nadya bisa awet.
“Jadi, rencanamu selanjutnya soal Joshua dan para komlotannya itu bagaimana?” Vina kembali mengungkit soal pengintaian yang dilakukan Evan hari ini. Karena meski Evan sudah menjelaskan untuk tidak mencurigai Galih lebih jauh, hal itu tetap saja menganggunya. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya dan membuatnya cemas.
Evan tidak menjawab dan hening untuk sejenak, bertepatan dengan saat mobil mereka berhenti di lampu merah. Dia berpikir sejenak jawaban apa yang bisa membuat Vina berhenti untuk curiga terus menerus. Karena jujur saja, kecemasan seperti itu tidak akan bagus untuk pikiran dan kesehatan, terutama untuk orang seperti Vina, yang punya jadwal super padat dan mempunyai tekanan sebagai publik figur.
“Untuk saat ini, aku bakal suruh Fahmi ngawasin Joshua, nanti Linda ku suruh ngawasin Galih. Kalau memang ada hal yang mencurigakan atau memang terbukti Galih melakukan sesuatu yang akan merugikan kita, aku dan Alfred bakal langsung nyamperin dia, setuju?” jawab Evan.
“Tapi janji ya, jangan ada lagi yang kamu sembunyikan dari aku seperti tadi,” Vina berbicara kepada Evan dengan nada sedikit mengancam.
“Iya sayang,” setelah mengucapkan kalimat tersebut, Evan kemudian bergerak mendekati Vina.
“Mending kamu jalan sekarang deh,” ucap Vina, sambil menaruh tangannya di dada Evan untuk menahannya ketika bibir mereka hanya tinggal berjarak beberapa centi saja, dan menunjuk ke depan; ke arah lampu merah yang sudah berubah menjadi hijau beberapa detik sebelumnya.
“Ah,” ucap Evan dengan agak canggung karena keinginannya yang tidak terpuaskan, “Kita lanjutkan nanti di apart ya,” imbuhnya sambil menggoda Vina dengan tersenyum nakal.
***
“Morning,”
Tok..Tok..,
Suara pintu ruangannya di ketuk ketika dia sedang merapikan beberapa tumpukan dokumen yang lupa dirapukannya kemarin.
“Come in,” ucapnya tanpa melihat ke arah pintu,
“Sibuk?” sapa suara yang sangat dikenal oleh Evan; Kento.
“Nope, kenapa?” dia menengok setelah mengatur dokumen yang harus diselesaikannya dalam minggu ini dan ditumpuknya di sebelah kanan. Sedangkan yang masih belum terlalu urgent, ditaruh di sebelah kiri.
“Sibuk juga lu ternyata ya, ngak minat deh gua jadi direktur,” ucap Kento saat melihat papan whiteboard yang berisikan jadwal Evan selama satu bulan begitu penuh dengan agenda penting.
“Lu cuma mau bilang itu doang?”
“Ah, lu belum liat gosip terbaru?”
“Maksudnya?”
Kento kemudian mengeluarkan handphone dari dalam saku bajunya, dan kemudian memperlihatkan gosip yang baru saja dirilis pagi ini, “Nih. Gua kan sudah peringatkan elu,”
“Dasar orang-orang tolol,” dengan emosi yang langsung memuncak, Evan kemudian mengambil telepon Kento yang masih terpampang gosip terbaru tersebut; yang menurutnya sangatlah mengada-ngada. Tujuannya sekarang hanya satu, melabrak bagian editorial; karena kebetulan, ia mengenal Chief Editornya.
Kedatangannya ke bagian editorial setelah sekian lama, tentu menjadi perhatian tersendiri bagi orang-orang yang ada di situ. Terlebih lagi, dengan statusnya yang sudah terkenal akan wawancara eksklusifnya dengan artis dan beberapa pejabat terkenal, bisa diilang dia sudah bak artis di antara jurnalis di ruangan tersebut.
Setelah sampai di depan ruangan Naden, Chief Editor yang bertanggunug jawab atas semua hal mengenai entertaiment yang di terbitkan, tanpa banyak berpikir dia langsung masuk ke dalam ruangan Naden dan memperlihatkan artikel soal Vina di handphone Kento.
“Ini maksudnya apa?!!”
“Lu buta, ya jelas-jelas artikel soal Vina lah,”
“Ya gua tau itu. Tapi sejak kapan kita jadi menerbitkan artikel murahan seperti ini? Ini baru sekedar rumor mentah dongo, memangnya agensi Vina membenarkan hubunga asmaranya dengan Giovani hah? Pake otak dong, ini namanya pansos,”
“Grow up lah bro, kalau kita mau ngikutin pinsip lu yang idealis seperti itu, bisnis kita ngak akan jalan. Lo mau tanggung jawab kalau kalau perusahaan ini bangkrut? Sebagai seorang eksekutif, seharusnya lu juga sudah tau itu kan?”
Mendengar perkataan Naden barusan, Evan langsung menarik kerah Naden dan membentaknya dengan suara keras sebelum Kento sempat melerai keduanya, “Ngak usah lu ajarin gua soal jurnalistik. Orang kaya lu ngak pantas jadi Chief Editor, orang yang cuma nyalin dan revisi artikel orang lain untuk diterbitkan? Ngak usah mimpi kau berlama-lama jadi Chief kampret!!!”
“Ckck, lu berdua ngak punya malu ya bertengkar di depan bawahan lu semua?” Linda seolah datang di waktu yang tepat ketika Evan sudah berniat melayangkan tinjunya ke wajah Naden saat ini.
“Lu.. Tunggu saja, akan gua bikin lu di pecat, just wait for it,” Evan mengancam Naden dengan mata yang melotot seakan-akan hendak membunuhnya. Hal itu sengaja ia lakukan, setidaknya untuk menakut-nakuti Naden dan memberinya satu pelajaran untuk tidak meremehkan orang lain.