Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 6 : KEBUSUKAN YANG TIDAK BISA DISEMBUNYIKAN (4)



Esok lusanya, sehari setelah Evan dinyatakan sudah boleh pulang oleh dokter yang merawatnya. Sesuai dengan apa yang dikatakan Kamila, Vina lagsung disibukkan dengan segudang kegiatan yang sudah menunggunya. Setelah isitrahat sehari di apartemennya yang luas dan nyaman bersama dengan Evan dan kedua orang tuanya—karena dia memaksa—esoknya dia langsung terbang ke Makassar; tempat dimana audisi berikutnya berlangsung.


Sementara Evan sendiri, dia langsung kembali ke kantor—walau sebenarnya beberapa bagian tubuhnya masih terasa sakit ketika berjalan—dengan maksud untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang sudah pasti menumpuk. Akan tetapi, alih-alih langsung bekerja, atasannya malah menyuruhnya untuk istirahat seminggu terlebih dahulu sedangkan pekerjaannya akan dikerjakan oleh orang lain dulu untuk sementara.


“Wah, beruntung amat lu ya, padahal kita kan sama-sama kecelakaan. Walau cedera gua emang ngak lebih parah dari pada lu sih, tapi kan tetap saja cedera yang gua dapat juga ngak ringan-ringan amat,” kabar mengenai ia yang disuruh untuk cuti langsung membuat Kento mengomel ketika mereka berdua sedang makan siang di restoran yang letaknya tak jauh dari perusahaan. Bahkan beberapa butir nasi sempat keluar dari mulut teman di depannya ini.


“Berarti gua dianggap sebagai karyawan berharga kali,”


“Eh tapi ngomong-ngomong lu punya cewek baru ya?”


Pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabatnya tersebut sedikit mengejutkan dirinya hingga hampir tersedak. “Hah, maksud lu apa?” dia dengan hati-hati bertanya, karena dia tidak ingin identitas dirinya sebagai pacar dari mega star harus terungkap sekarang.


“Itu loh, kemarin pas gua mau jenguk lu, gua liat dalam ruangan lu ada cewek berambut panjang duduk di sofa,”


“Terus?”


“Yah gua ngak masuklah, bisa canggung sendiri gua ntar,” pernyataan Kento tersebut membuatnya bisa bernafas lega.


“Ah, itu, temanku, kebetulan emang lagi dekat dengan gue beberapa waktu belakangan ini,”


“Wah, benar-benar perfect yah hidup lu, pas dirumah sakit ada doi yang setia merawat lu, di kantor lu juga diisrimewakan,” Kento mulai mengomel mengutarakan rasa tidak senangnya kembali.


“Makanya lu juga berusahalah supaya bisa jadi kaya gue. Tapi, btw, buku coklat yang gua kasih ke lu waktu sebelum kecelakaan mana?”


“Di temanlu yang namanya Alfred,”


“Hah? Alfred? Untuk apa?”


“Dia katanya mau nyeledikin siapa yang sudah mencelakai kita berdua,”


“Terus, lu cerita semua ke dia?”


“Maybe, seingat gua sih kayaknya mulai dari kecurigaan lu soal ada orang yang sengaja menyebarkan rumor Giovani dan Vina, sampai ke saat hari dimana kita kecelakaan. Kenapa memangnya?”


“Ngak, ngak apa-apa, gua cuma penasaran aja dimana buku coklat itu. Soalnya beberapa kontak penting ada di dalam buku tersebut,” dia berbohong.


Sebenarnya, dia sedikit agak khawatir dengan Alfred, karena orang yang berada di balik semua ini sepertinya cukup sadis dan tidak akan segan-segan untuk melenyapkan orang yang berusaha mengungkap kebenaran yang sesungguhnya. Buktinya, ketika dia baru bergerak sedikit saja, orang yang kemungkinan berada di balik semua ini langsung berniat mencelakainya. Dia hanya tidak mau Alfred harus bernasib sial seperti dirinya kelak.


Setelah berpisah dengan kento, dia memutuskan untuk mengunjungi restoran yang dia buka bersama dengan Nadya dan Alfred—dan dengan bantuan modal dari Vina juga tentunya—sekedar iseng untuk mencari tahu sudah sampai mana penyelidikan Alfred selama seminggu saat dirinya tidak sadarkan diri.


Harus dia akui, Nadya memiliki pengamatan yang cukup bagus dalam memilih lokasi; berada di pusat kota dan juga berada di pinggir jalan, membuat lebih gampang bagi mereka bertiga untuk melakukan promosi untuk menarik pelanggan. Walau pada awalnya biaya lahannya cukup mahal—karena Vina dan Nadya menginginkan ada tempat parkir mobil—akan tetapi itu terbayar setelah setahun berlalu karena semua modal tersebut bisa langsung kembali dan mereka mulai menikmati keuntungan; walau tidak terlalu banyak.


“Selamat datang, ada y....” Nadya berhenti berbicara untuk sesaat saat menyadari orang yang melewati pintu masuk adalah Evan, “Ah, elu ternyata,” nada yang bicara ramah tadi kini berubah menjadi haya bicara sehari-sehari ketika berbicara dengan Alfred, Vina atau Kamila.


“Wah, mengecewakan sekali, gua datang sebagai pelanggan loh,” dia sedikit menggoda Nadya.


Keadaan di restoran seperti biasa, cukup ramai, dimana mungkin 75% meja terisi semua. Yah, tidak heran sih. Karena Vina dan beberapa artis lainnya—yang juga merupakan teman Vina—pernah mempromosikan restoran ini.


“Pelanggan apanya, lu setiap datang kesini juga selalu akhirnya di kasih gratis sama Alfred,” ujar Nadya sembari melepas celemeknya dan kemudian mengode seorang pegawai untuk menggantikannya jadi kasir, “Ayo duduk dulu, udah lama lu ngak kesini. Padahal lu kan owner juga,” tambahnya sembari mengajak Evan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di pojokan jendela; tempat mereka berlima biasa berkumpul.


“Ye, kalau dia mah di maklumi karena banyak kesibukan dan juga statusnya sebagai publik figur,”


“Ngomong-ngomong sih Alfred mana?” dia iseng bertanya sambil melihat ke sekeliling restoran; karena biasanya Alfred seringkali menjadi pelayan ketika dia datang.


“Dia lagi keluar ke suatu tempat katanya, nanti malam baru balik. Kenapa? Ada sesuatu yang penting?”


“Ah ngak, cuma pengen nyapa aja, soalnya kata Vina kalian yang ngurusin gue pas di rumah sakit. Sampai nugguin gue di depan ruang operasi, Dan gua belum sempat bilang terima kasih,” dia kembali berbohong soal kekhawatirannya terhadap Alfred yang mungkin saja menghadapi bahaya yang tidak dia dan Nadya tidak akan pernah bayangkan.


Hal itu terpaksa dilakukannya, karena takut Nadya akan menjadi khawatir. Dan dengan sikap keras kepala Alfred—yang hampir 11 12 dengan dirinya—ia takut kalau peringatannya akan memicu pertengkaran diantara 2 sahabatnya ini; yang juga merupakan sepasang kekasih.


“Apaan sih lu, sudah biasa kali. Lagipula, apa yang lu dan Vina lakuin selama ini lebih besar dari pada kami berdua,”


“Ah, karena lu nyebut Vina, lu tau ngak cara melamar yang bisa bikin wanita klepek-klepek,”


“Lu serius bertanya kaya begituan ke gue?”


“Ya iyalah, lu kan sahabat dekatnya. Pastinya ada lah yang hanya women to women talk yang dia ngak ngomong ke gue,”


“C’mon, lu udah pacaran dengan dia lebih dari satu dasawarsa loh, masa lu ngak tahu bagaimana dia? Apa kesukaannya?”


“Justru karena itu gua malah jadi bingung konsepnya mau kaya gimana,”


Nadya mendengus mendengar perkataan Evan, “Saran gua ya, lu coba ingat momen lu kebalakang pacaran sama dia, momen yang paling bahagia kadang bisa menjadi insipirasi lu. Karena kalau gua mau kasih masukan, bisa saja apa yang gua suka ngak sama dengan apa yang dia suka. Ya kan?”


Menelah perkataan Nadya yang terdengar bijaksana, dia menjadi tersadar kalau perkataan temannya ini ada benarnya dan sekaligus sedikit merasa malu. Karena setelah bersama selama 8 tahun, dia seharusnya paling tahu apa yang disukai dan tidak disuaki oleh Vina.


“Oke deh kalau begitu, gua pamit ya,”


“Hah? Cepat banget, lu mau ngapain emangnya?”


“Mau nyusul Vina lah, gua kebetulan diizinin cuti seminggu, gokil ngak bos gue tuh?” ujarnya sambil tersenyum.


“Enak banget sih kalo pegawai kesayangan, pasti di manja banget,”


“Iya dong, dah ya, gua pamit,”


“Oke, titip salam ya buat Vina, bilangin no.nya jangan sok sibuk terus,”


Dia hanya menjawab perkataan Nadya dengan menggunakan tangannya sebelum keluar dari restoran lewat pintu yang dilewatinya saat masuk tadi.


Tanpa membawa koper, dan hanya bermodalkan sleeve bag berisikan Notebook, Tablet, dan handphone saja, dia langsung berangkat ke bandara menggunakan taksi; karena dia masih dilarang oleh dokternya untuk mengemudi sendirian.


Dia sengaja tidak memberitahu Vina langsung soal kedatangannya ke Makassar kali ini dan hanya berkomunikasi dengan Kamila dengan maksud untuk memberikan Vina kejutan. Meski sebenarnya apa yang dia lakukan ini cukup beresiko membongkar status hubungan mereka ke banyak orang, dia tetap nekat melakukannya karena juga ada yang ingin di lakukan; yaitu untuk mendekati Giovani. Mengingat Joshua—orang yang super licik itu—adalah manajer dari Giovani, dia tidak bisa untuk tidak menganggap orang itu mencurigakan. Dan siapa yang tahu? Giovani mugkin saja terlibat dalam semua kejadian yang baru-baru menimpanya dan juga Vina belakangan ini.


“Your Attention please..”


Setelah menunggu sekitar 2 jam sembari mencatat beberapa hal penting yang menyangkut kecurigaannya soal dalang dari kecelakaannya ke dalam notebook miliknya, panggilan boarding pesawatnya akhirnya diumumkan. Tidak lupa, dia mengabarkan Kamila.