Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 6 : KEBUSUKAN YANG TIDAK BISA DISEMBUNYIKAN (5)



Malamnya, sekitar jam 8 malam, karena begitu banyak orang yang mendaftar, Vina beserta para juri dan juga kru stasiun TV terpaksa harus lembur untuk menyelesaikan antrian yang sudah diterima demi menghargai semua pendaftar yang rela menunggu sampai larut malam.


“Ah, kenapa si Evan ngak angkat telponku sih,” ujar Vina mengungkapkan kekesalannya sambil berusaha memanggil ulang Evan untuk yang kesekian kalinya semenjak tadi sore. Kamila yang berada di belakang Vina, merasa sedikit gugup karena takut kejutan yang direncanakan oleh Evan akan terbongkar.


“Biasa lah, mungkin dia lagi sibuk ngehandle pekerjaannya. Tau sendiri kan jabatan seorang eksekutif itu bukanlah pekerjaan yang ringan.”


“Iya juga sih, tapi kan seharusnya kasih kabar dong,” sementara Vina terus mengomel, Kamila berjalan ke meja yang ada di sisi samping kanannya dan mengambil beberapa snack dan minuman bersoda dari dalam kulkas yang letaknya bersampingan dengan meja tadi.


“Sudahlah, ntar juga dia bakalan nelpon kok. Dari pada lu buang-buang tenaga untuk ngomel-ngomel ngak jelas, lebih baik lu simpan tenaga lu, karena mungkin audisi hari ini bakal sedikit agak malam selesainya,” ujar Kamila sembari menyodorkan makanan ringan dan minuman kaleng yang diambilnya dari dalam kulkasi tadi.


Vina melempar tatapan tidak percaya ketika melihat Kamila menyodorkan minuman bersoda kepadanya. “Lu bercanda ya?” ujarnya.


“Why?”


“Lu mau pita suara gua rusak?”


“Ah, sorry,” ujar Kamila yang kemudian dengan cepat menggantinya dengan sebotoh air mineral.


“Lu agak aneh hari ini, lagi ada masalah?”


“Ngak, mungkin gara-gara gua sedikit kewalahan saja ngurusin semua jadwal lu yang agak padat,” Kamila mencoba ¬ngeles¬ untuk menghindari kecurigaan Vina. Tentu saja, alasan itu tak membuat Vina menghilangkan tatapan curiga dari wajahnya. “Aih, ngapain lu liat-liat pake muka kaya gitu?” tambah Kamila lagi.


Beruntung bagi Kamila, walau Vina sebenarnya masih mencurigainya, dia tidak menanya-nanyai Kamila lebih lanjut karena dirinya juga cukup lelah. Melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah 9—yang artinya dia masih punya 30 menitan untuk istirahat sebelum harus kembali ke meja juri—dia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke salah satu sofa untuk berbaring sejenak.


“Kasih bangun gua 5 menit sebelum syuting berikutnya,” pintanya.


“Ok,” ucap Kamila yang juga ikut rebahan di sofa yang lain, tak lupa dia juga memasang alarm in case kalau dia juga ketiduran.


Sambil bersantai, dia memutuskan untuk browsing soal gosip Giovano dan Vona yang saat itu masih sangat hangat di media; bahkan nama Vina dan Giovani masih menempati posisi 8 dan 10 dalam pencarian terpopuler walau sudah hampir 2 minggu lamanya. Yah tidak mengejutkan sih dengan kepopuleran Vina ditambah lagi dengan status Giovani sebagai artis yang sedang naik daun.


Ketika tengah membaca salah satu artikel omong kosong yang membahas soal hubungan Giovani dan Vina yang dibalut dengan bumbu percintaan backstreet, pesan dari Evan muncul di bagian atas layar handphonenya.


“Gua sudah di depan pintu masuk, tapi dihalangin penjaga. Help!!” bunyi pesan dari Evan yang diakhiri dengan emote sedang sedih. Bahkan, Evan juga sampai mengunggah foto yang memperlihatkan dia sedang berada di pintu masuk khusus para kru dan artis.


Melihat masih ada sisa waktu 15 menit sebelum waktunya membangunkan Vina, Kamila bangkit dari sofa yang dia tiduri dan berjalan dengan agak pelan supaya tidak mengganggu Vina yang tampak tidur cukup pulas. Sama halnya dengan saat dia membuka dan menutup pintu ruang tunggu Vina, sangat pelan dan lembut.


Butuh waktu sekitar 10 menit baginya untuk bolak-balik menjemput Evan yang ditahan oleh petugas di pintu masuk; karena gedung yang mereka pakai sebagai tempat audisi ini memang cukup luas dan mampu menampung hingga 5000 orang.


Seperti biasa, sifat Evan yang ringan tangan menjadi kegembiraan sendiri setiap kali dia datang, makanan dan minuman kesukaan Vina, Evan membawanya setiap mengunjungi Vina di tempat kerjanya.


“Be quiet, kalo ngak gua yang kena amukannya entar,” ujar Kamila memperingatkan Evan yang sudah sumringah semenjak mereka mendekati ruang tunggu Vina. Evan hanya mengangguk dan memberi jawaban ‘oke’ menggunakan tangan kanannya.


Dan sesuai dugaan Kamila, Vina masih tertidur pulas di sofanya. Bahkan posisi badanya, ataupun selimutnya tidak berubah, masih sama persis seperti saat Kamila meninggalkannya. Evan kemudian dengan diam-diam masuk ke dalam ruangan tersebut; mengangkat kursi yang biasa diduduki Vina dengan hati-hati dan kemudian meletakkannya selembut mungkin di samping sofa tempat Vina tidur.


“Lu gantiin gua temanin Vina sampai schedule hari ini selesai,” pesan dari Kamila tiba-tiba muncul di bagian atas layarnya.


Mereka berdua kemudian saling menatap dalam bisu dan saling berbicara menggunakan gerakan tangan, Evan awalnya menolak ide tersebut, namun akhirnya setuju setelah Kamila menjelaskan kalau dirinya ingin istirahat dan mengurus beberapa jadwal Vina kedepannya.


Tidak berselang lama, sekitar beberapa menitan, alarm dari handphone Kamila berbunyi. Evan yang sedang membaca isi ruang obrolan kantornya langsung menutup laptonya; menaruhnya di atas meja yang ada di dekatnya dan kemudian mulai membangunkan Vina dengan lembut.


“Honey, bangun,” percobaan pertama Evan untuk membangunkan Vina tidal langsung berhasil; cukup dimaklumi, karena Vina memang cukup susah dibangunkan ketika tertidur pulas karena kecapekan. Baru pada di percobaan ke tiga, Vina akhirnya mulai bergerak dan mengingau.


“Hmm, kamu kenapa bisa ada disini?” ucap Vina dengan mata yang terlihat masih mengantuk dan sedang mengucek mata sebelah kanannya.


Sudah biasa melihat wajah Vina yang baru bangun tidur seperti apa, dia meraih tangan Vina—karena tau saat ini Vina pasti tidur dengan make up yang masih menempel—yang sedang mengucek-ngucek mata karena khawatir sisa-sisa makeup akan masuk kedalam matanya.


“Dikasih cuti sama atasanku,” jawabnya sambil mengambil sebotol air mineral lalu menyodorkannya ke Vina, “Nih, minum dulu,” ucapnya.


“Thanks,”


“Duh, bisa ngak sih lu berdua jangan bucin-bucinan di depan orang yang ngak punya pasangan?” Kamila yang sedari tadi sedikit iwfil melihat keromantisan Evan dan Vina, langsung melayangkan protes keras.


“Makanya, cari pasangan juga dong, jangan kelamaan menjomblo terus. Makanya lu jadi cerewet banget belakangan ini,” Vina membalas dengan perkataan yang cukup menusuk. Sedangkan Evan, dia hanya tersenyum menyaksikan pertengkaran antara 2 sahabat di depannya sekarang.


“Wah, perfect sekali. Satunya menyindri, yang satunya lagi hanya senyum-senyum tanpa menegur pacarnya sedikit pun,” Kamila menghela nafas sambil menggelengkan kepala dengan pelan setelah menyindir Evan, “Untuk sisa schedule lu hari ini, Evan yang bakal jadi manajer lu untuk sementar,” imbuh Kamila kepada Vina.


“Hah? Lu ngak takut bakal ada rumor soal kami berdua?” tanya Vina.


“Biarkan saja, untuk sementara bilang saja teman, anggap aja sekalian buat nge-counter rumor soal lu sama Giovani. Dan juga, sebagai cara untuk naikin hype lu yang positif sebelum rilis album nanti. Satu lagi, lu harus ada satu lagu yang story telling tentang perjalanan cinta lu berdua,”


Mendengar penjelasan Kamila, Evan sedikit menganggukkan kepala karena dirinya paham sekaligus agak kagum dengan ide Kamila tersebut. Dia menjadi tidak heran kenapa banyak media menyebut Kamila sebagai salah satu manajer artis terbaik yang ada di dunia entertaiment.


“Oke lah kalau begitu, kebetulan memang sudah ada satu lagu yang sebagian liriknya sudah selesai,” Vina menjawab sembari bangkir dari sofa; berjalan ke meja riasnya dan menyemprotkan pelemban wajah lalu memakai kaca mata untuk menyembunyikan matanya yang terlihat mengangtuk; lalu menggandeng tangan Evan yang masih duduk di kursi, “Let’s go honey. Sudah dapar izin dari mak lampir, jadi kita bebas pamer kemesraan,”


“Heh, bukan bebas ya, tapi buat kalian seperti terlihat dekat aja,” Kamila menegur Vina yang sudah seperti sangat semangat untuk memamerkan hubungannya dengan Evan.


“Iya, bawel ah,” Vina membantah seperti biasa sebelum dia dan Evan meninggalkan Kamila sendirian di ruang tunggu. Evan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana tingkah antara artis dan manajernya yang di depan umum sangat menjaga image namun dibelakang layar, sangat kocak seperti tom dan jerry; yang tentunya sangat jarang di ketahui oleh orang luar.


Seperti apa yang di katakan oleh Kamila, begitu Evan dan Vina berjalan berdampingan, orang-orang langsung melirik ke arah mereka berdua. Vina yang sudah biasa menjadi pusat perhatian, dia bisa berjalan dengan santai dan menyapa orang-orang yang lewat dengan senyuman. Sedangkan Evan, meski dia memang sudah mewawancarai beberapa orang hebat mulai dari artis hingga pejabat, akan tetapi di perhatikan oleh banyak orang setiap dia melangkah membuatnya sedikit gugup. Meski begitu, dia tetap beerusaha untuk tersenyum dan bersikap biasa saja.


“Halo.... kak?” dan orang yang ditunggu tunggu oleh Evan pun akhirnya muncul, Giovani; yang langsung membuatnya menarik Vina ke belakangnya.


“Maaf, tolong jaga jarak sedikit supaya tidak ada rumor kurang mengenakkan lagi,” ujar Evan dengan cukup cetus. Bahkan, wajahnya terkesan seperti seorang bodyguard yang menganggap Giovani adalah ancaman bagi Vina; yang mana untuk sekarang itu memang sebuah fakta.


Melihat bagaimana perangai Giovani, Evan meragukan kalo orang yang ada di depannya ini sampai bisa memikirkan ide untuk mencelakai sampai bisa membunuh orang lain. Namun, dia teringat soal bagaimana orang yang lugu bisa saja sebenarnya sangat licik seperti beberapa penjilat di kantornya; pura-pura polos tapi sebenarnya punya pikiran yang begitu licik.