
“I.. Ini siapa kak?” Giovani yang tampak agak ciut nyalinya, bertanya dengan terbatah-batah kepada Vina.
Vina berusaha untuk tidak tertawa melihat Evan yang ternyata bisa juga mengintimidasi seseorang dengan suara yang begitu manly; agak ngebass, dan terdengar seperti penjahat dalam film ketika berbicara lewat telpon.
“Ah, dia? Hmm...” Vina berpikir sejenak ingin memperkenalkan Evan sebagai apa, rasanya mulutnya sangat gatal ingin mengatakan kalo Evan adalah tunangannya. “Calon suami?” ujarnya dengan suara yang agak melengking di akhir kalimat.
“Hah?” Giovani tampak terkejut dan cukup syok dengan jawaban Vina, “Kakak bercanda kan? Pasti gara-gara yang waktu itu ya?” imbuh Giovani dengan senyuman tidak percaya.
“Betulan lah, siapa coba yang ngak mau punya suami kaya dia, tahu mana orang yang berbahaya dan langsung pasang badaN. Sudah gitu tinggi pula, tipe ideal semua cewek pasti lah,”
Evan yang langsung paham dengan apa yang ingin dilakukan Vna, setelah melihat orang tidak terlalu memperhatikan mereka, dia kemudian menaruh lengannya di bahu Vina dan berbicara sambil tersenyum, “Sudah ngerti kan? Jadi lebih baik kamu jangan ganggu Vina lagi mulai sekarang ya. Kan malu kalo dibilang jadi penganggu hubungan orang.”
Tanpa berlama-lama, setelah Evan mengucapkan kalimat pedas tersebut, Vina langsung mengajak Evan pergi dari hadapan Giovani; karena memang dia sudah cukup telat untuk masuk ruang audisi.
“Wah kebetulan ada top star kita, bagaimana kalau satu dua lagu dari bintang internasional kita sebagai penyemangat untuk peserta yang ada di ruang tunggu?” celetuk Mrs. Rina begitu Vina dan Evan masuk ke dalam ruangan audisi. Memang sih, penampilan random dari salah satu juri atau pemenang tahun-tahun sebelumnya sering kali diadakan untuk menghibur peserta yang sudah menunggu begitu lama.
“Hah?”
“Ayo, keputusan bagaimana? Yang lain? Setuju ya?” Pak Afrianto tanpa banyak basa-basi langsung melakukan jajak pendapat. Semua orang dalam ruangan tersebut tampak tersenyum dan mengangguk, pertanda kalau mereka setuju dengan usulan Mrs. Rina.
“Tapi, pemainnya siapa? Karena pemain musiknya masih makan di luar,” ujar salah satu crew.
“Ada teman saya pak,” Vina langsung menarik Evan yang hendak melarikan diri secara diam-diam begitu disinggung soal absennya pemain musik yang di sewa oleh pihak TV. Mau tidak mau, Evan hanya bisa tersenyum dan memenuhi permintaan Vina.
Saat pertama kali menyentuh keyboard yang ada di atas panggung—yang memang di sediakan untuk seruan-seruan bagi siapa saja yang pede—hal pertama yang di lakukan oleh Evan adalah mencoba memainkan beberapa lagu sambil menunggu Vina yang sedang mencari lagu; sekalian pemanasan jari. Dia tidak peduli dengan tatapan orang yang melihat ke arahnya dan juga Vina karena dirinya sudah tenggelam di dunianya sendiri.
Tak berselang lama, sekitar beberapa menitan, Vina akhirnya naik ke atas panggung dan tentu saja, disambut dengan gemuruh tepuk tangan dari semua peserta audisi dengan begitu semangat. Dan sangat kebetulan juga, dirinya saat itu tengah memainkan lagu Cinta Luar Biasa yang cukup ia sukai.
“Lama amat kamu persiapannya,” Evan mengomel tanpa menghentikan permainan musiknya saat Vina duduk di sampingnya. Jarinya seperti sudah hafal mana saja yang harus di tekan berikutnya, sehingga sambil berbicara pun dia tetap bisa memainkannya tanpa harus terpaku ke atas keyboard.
“Iya dong, ngak boleh malu-maluin di depan banyak orang kaya gini,”
“Heleh, palingan juga gara-gara kamu makeup dulu kan? Udah, cepet, kamu mau nyanyi lagu apa?”
“Bahagia Bersamamu, Haico,”
“Terus?”
“Yang ini, Cinta Luar Biasa,”
“Ngak, dia kan R&B” ucap Vina dengan begitu yakin.
“Oke kalau begitu, mulai nih?”
Saat Vina bernyanyi di atas panggung sekarang ini, Evan sedikit bernostalgia saat mereka berdua mentas untuk pertama kali di atas panggung sekolah saat SMA. Dia tidak menyangka, kalau berawal dari musik, dia bisa dekat dengan Vina dan berpacaran sampai sekarang ini. Lagu Cinta Luar Biasa cukup mengena dengan kisah cintanya dan juga Vina; walau endingnya tentu tidak seperti kisah di lagunya. Sehingga tidak heran, saat lagu ini keluar, dia dan Vina begitu menyukai lagu ini sampai sekarang.
***
Melihat Vina yang begitu serius saat menjadi juri untuk sesaat, Evan sempat melupakan kekhawatirannya soal headline gosip besok. Karena penampilannya dengan Vina tadi pasti akan memancing beberapa media online untuk membuat kabar burung yang mereka rasa bisa menarik viewer.
Karena gerah dengan kondisi di dalam ruangan audisi—dimana para kru berada di satu pojokan ruangan sehingga terasa sempit—Evan memutuskan untuk mencari angin segar setelah memberi pesan kepada Vina untuk mengabarinya via WA kalau butuh sesuatu.
“Permisi, kakak bodyguard yang menyeramkan,” suara seorang laki-laki memanggilnya ketika dia hendak berjalan menuju ruang tunggu Vina, yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruangan audisi.
‘Dasar kampret’ dia mengumpat dalam hati karena kesal dengan kata ‘menyeramkan’ tersebut. Akan tetapi, ketika dia berbalik dan melihat kalau orang yang memanggilnya tadi ternyata ada Giovani, dia menurunkan kadar emosinya; atau mungkin lebih tepatnya menahan emosi. “Kenapa?” dia menjawab dengan biasa.
Giovani sekarang ini, saat berjalan dari kejauhan, terlihat berbeda dengan tadi saat mereka berjumpa tadi sebelumnya saat Evan bersama Vina. Apa ya? Seringai di wajahnya yang seperti memandang rendah Evan, dan gelagatnya juga terlihat seperti menantang siapa yang lebih baik dari antara mereka untuk bersanding dengan Vina.
“Hehehe,” dan sangat mengejutkan, sikap Giovani berubah 180 derajat menjadi orang cengengesan begitu dia dan Evan hanya tinggal berjarak 5 meter jauhnya. “Kakak betulan pacarnya kak Vina?” seperti yang sudah ada dalam pikiran Evan, pertanyaan dari bocah satu ini pasti tidak akan jauh-jauh dari Vina.
Dia sebenarnya ingin mengucapkan kata ‘iya’ untuk menyadarkan orang di depannya ini untuk berhenti menganggu Vina lagi. Namun, dia teringat dengan tujuannya dan juga rencana Kamila. “Ah, cuma teman saja kok. Teman akrab,” dia berbohong.
“Berarti tau dong apa yang disukai Vina. Bantui saya dong,”
“Well, lumayan, kenapa?” Evan pura-pura bego.
“Sudah jelas dong, bagaimana cara menaklukkan hati Kak Vina,”
“Hmm,” Evan berpikir sejenak apa yang akan dikatakannya, meski toh tidak akan terjadi juga sih pada akhirnya, “Musik, Vina paling suka orang yang bisa main alat musik, terutama Piano,” dia kemudian memutuskan untuk menatakan apa yang dia alami saja supaya tidak ribet.
“Ngak ada cara lain?”
“Nope, kalo lu suka seseorang, lu harus berusaha sebaik mungkin dong,” ujar Evan. Giovani terlihat ragu dengan saran Evan tersebut; tentu karena Evan kebetulan tahu—lewat sebuah video yang tidak sengaja pernah dilihatnya—kalo Giovani tidak pernah bermain alat musik apapun dan menolak saat ada challange memainkan alat musik. “Ya sudah kalo begitu, good luck,” ucapnya lagi; memanfaatkan kegelisahan Giovani.
“Oke, tunggu saja. Aku pasti akan membuat Kak Vina tersentuh dengan kesungguhanku,” Giovani mengucapkan hal tersebut ketika Evan sudah berjalan agak jauh.
‘Just try it, cause that’ll never happen’ ucap Evan dalam hatinya sambil tersenyum. Dia juga tidak berbalik dan hanya terus berjalan pergi ke ruang tunggu Vina.