Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 2 : GETTING CLOSER (PART IV)



Sebelum Evan sempat mengatakan sesuatu. Kak Vina memberi kode dengan menempelkan jari telunjuk di mulut; pertanda menyuruhnya untuk diam. Ia awalnya tidak mengerti maksud dari Kak Vina, dan baru paham setelah Kak Vina memberi kode dengan menggunakan mata yang melirik ke arah Alfred dan juga Galih.


Apa yang dilakukan Kak Vina berikutnya cukup mengejutkan. Kak Vina menariknya keluar dari kerumunan dan mengajaknya berjalan menjauhi kerumunan tersebut. Ia sebenarnya ingin bertanya kemana mereka akan pergi, namun entah kenapa, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Dan pada akhirnya, ia terus mengikuti Kak Vina sampai ke ruang tempat dimana ia melihat Kak Vina untuk pertama kali.


“Mau ngapain kita ke sini Kak?” Ia memberanikan diri untuk bertanya. Saat ini, jujur saja, pikirannya sudah melayang terlalu jauh. Bahkan terpikirkan ide gila di kepalanya untuk menyatakan perasaan kepada Kak Vina. Jika saja dirinya mabuk saat ini, mungkin ia akan mengatakan hal tersebut tanpa basa basi.


Kak Vina tidak menjawab; hanya menyuruhnya duduk di kursi salah satu piano yang ada dan kemudian pergi berjalan menuju sudut ruangan. Meski dalam hatinya ia bertanya-tanya\, dia tetap saja mengikuti apa yang disuruh Kak Vina. Dia lenih memilih piano mereka S**** yang memang terkenal dengan kualitasnya. Suaranya pun terdengar berbeda di telinganya jika dibandingkan dengan mereka lain.


Melatih otot-otot jarinya, ia memilih untuk memainkan salah satu lagu Mozart namun dengan tempo yang sedikit dinaikkan. Bertepatan dengan setelah ia selesai pemanasan, Kak Vina menaruh sebuah partitur lagu di hadapannya. “Ini apa Kak?” dia bertanya, karena judul yang tertulis di bagian atas kertas tersebut ‘finding you’ belum pernah ia dengar sebelumnya.


“Lagu baruku untuk pentas akhir tahun,” jawab Kak Vina.


Mendengar jawaban tersebut, ia menjadi sedikit bersemangat dan dengan melihat keseluruhan partitur dengan cepat. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui genre apa yang dipakai oleh Kak Vina kali ini. “Country ya?” ia kembali bertanya, sekedar untuk memastikan.


“Tahu dari mana?” Kak Vina tampak terpukau, hal itu terlihat jelas di wajahnya.


Merasa sedikit besar kepala, ia kemudian menunjuk beberapa tanda diam atau berhenti yang banyak dipakai Kak Vina kali ini. Ia juga bahkan sampai memainkan seperempat bagian dari lagu tersebut. Dia juga sedikit mengubah beberapa bagian dari Chord yang dipakai Kak Vina.


Sambil bermain, ia juga memperhatikan ekspresi Kak Vina yang tampak mengerutkan wajah—mungkin karena menyadari ada yang salah—tidak memedulikan hal tersebut, ia terus bermain sampai Kak Vina menghentikannya, “Wait, kok ada yang beda?” Kak Vina bertanya.


“Ah, itu, ada beberapa bagian yang Chordnya aku rubah kak, biar lebih bagus sedikit,” ujarnya, “Jelek ya?” ia kembali menanyakan pendapat Kak Vina setelah melihat ekspresinya yang seperti kurang senang. Namun beberapa detik berselang, wajah Kak Vina berubah menjadi lebih berseri-seri. Kak Vina kemudian menghampiri dia.


“Bagaimana kalau kamu jadi composer untuk musik ku kali ini?” pinta Kak Vina sambil terus menggenggam tangan Evan.


Dia, Evan, tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Kak Vina. Composer? Dirinya? Dia sendiri juga tidak punya pengalaman dalam mengaransemen sebuah lagu. Dan menurutnya, mengaransemen dan mengimprovisasi lagu adalah dua hal yang berbeda. Kalo mengimprovisasi, itu berarti dia hanya mengubah beberapa chord atau melodi dalam sebuah lagu. Sedangkan mengaransemen itu lebih ke arah menciptakan melodi dan chordnya dari awal sesuai dengan lirik dan request dari penyanyinya.


Akan tetapi, dia tiba-tiba teringat dengan dugaan Alfred soal perasaan Kak Vina. “Ok kak, tapi kakak juga tetap bikin ya. Jaga-jaga saja siapa tahu punyaku kurang bagus dan mengecewakan di mata kakak,” ucapnya menyanggupi permintaan Kak Vina. Setidaknya, dia ingin melakukan satu hal yang bersifat pribadi bersama Kak Vina, sekalian mengetes juga soal bagaimana perasaan Kak Vina kepada dirinya.


Kak Vina tidak menjawab namun hanya menganggukan kepala saja. Setelah itu, mereka kemudian mulai latihan sesuai dengan apa yang sudah di buat oleh Kak Vina. Sedangkan untuk menggubah lagu ini, dia juga tidak terlalu terbebani. Selain, karena progresinya yang sederhana, melodinya juga tidak terlalu rumit. Sehingga, dia cukup merekamnya saja dan menghafalnya.


Kak Vina juga tampaknya juga lupa kalo mereka berdua melewati satu jam pelajaran, “Kalo begitu, besok atau kapan-kapan kita lanjutkan lagi ya? Atau kamu bisa catat No. teleponku biar ngabarinnya lewat telpon saja,” ujar Kak Vina yang sekarang ini terlihat keringat dingin.


Tanpa menunda-nunda waktu, ia langsung mengambil handphonenya dari dalam saku celananya dan mulai mencatat No. telpon Kak Vina dengan cepat dan tenang agar tidak ada kesalahan sedikitpun. Dan setelahnya, Kak Vina langsung pergi dengan tergesa-gesa setelah mengucapkan “sampai ketemu besok”. Ia bahkan tidak sempat untuk membalas salam dari Kak Vina tersebut.


***


Tanpa berlama-lama, setelah Kak Vina pergi, ia juga meninggalkan ruangan tersebut dan berlari secepat kilat menuju ruangan kelasnya. Di dalam pikirannya sekarang hanya terpikirkan satu hal; yakni alasan yang cukup bagus agar di percaya oleh gurunya. Untuk itu, ia sengaja mengambil jalan memutar dengan mengambil tangga yang paling jauh dari kelasnya.


Namun, beruntung baginya, ketika ia sampai di kelas, tidak ada guru yang mengajar; hanya sekumpulan siswa yang duduk tidak sesuai dengan tempat duduk mereka, membentuk kelompok dan seperti membicarakan sesuatu sambil ditemani oleh beberapa snack. Melihat semua itu, ia merasa lega karena imagenya sebagai siswa teladan tidak tercoreng sama sekali.


“Heh, kemana saja lo, gua cariin di atas tadi malah menghilang kemana,” ujar Alfred yang langsung menghampirinya begitu mata mereka berdua bertemu.


“Oh iya”, gumamnya dalam hati sambil membayangkan dirinya yang menepok jidat. Meski aman dari guru, akan tetapi, ia lupa soal Nadya dan Alfred yang pasti akan langsung menginterogasi dirinya—yang mana kalo dia disuruh memilih untuk berhadapan dengan guru atau kedua temannya ini, ia mungkin akan memilih lebih baik berhadapan dengan guru saja—dengan berbagai macam pertanyaan.


Akan tetapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, ia tidak punya pilihan lain selain menghadapi kedua temannya ini, “Dari kantin, lapar gua,” ia memilih untuk berbohong. Salah memang, namun ia lebih memilih untuk berbohong demi mencegah kedua mulut bawel di depannya ini membocorkan rahasianya lebih jauh lagi.


“Yang benar?”


Berbeda dengan Alfred yang langsung mengangguk percaya begitu saja. Nadya lebih teliti; dia mengamati Evan dengan tatapan penuh curiga, melihat setiap gerak geriknya seperti orang yang sudah pernah belajar psikologi saja.


“Iya, masa lu ngak percaya sih sama gue. Kalo si kunyuk satu ini ya wajarlah kalau kamu curiga. Masa aku juga?”


Merasa terpojok, Evan berusaha untuk mengalihkan perhatian Nadya dengan menyeret Alfred. Akan tetapi, hal itu tampak tidak bekerja sama sekali. Nadya malah kemudian mengeluarkan hpnya dan mengatakan sesuatu yang langsung akan menyelesaikan semuanya, “Kalo begitu, ku tanya langsung ke Kak Vina,” kata-kata tersebut menjadi pukulan telak baginya.


“Ok, silahkan saja. Memang apa hubungannya Kak Vina dengan ini semua? Ngaco kalian,” tidak punya ide lain, dia dengan nekat menantang ancaman Nadya tersebut; padahal dalam hatinya saat ini, ia berdoa semoga Nadya tidak menelepon Kak Vina bertulan. Akan tetapi, harapannya tersebut juga tampaknya sia-sia, karena Nadya tanpa banyak bicara betulan menelepon Kak Vina.