
“Dasar tuh orang ya, kagak tau terima kasih banget dulu ngak gua laporin. Seandainya gua tahu kaya begitu sikapnya sekarang, udah pasti gua libas habis karirnya waktu itu,” Evan masih saja menggerutu ketika dia, Linda dan juga Kento sedang menunggu lift. Akibatnya, tak jarang orang yang menatap ke arah mereka bertiga karena sikap Evan tersebut.
“Terus lo nyesal gitu?” tanya Linda.
Sebab, dia menjadi salah satu saksi ketika Evan menutup mata soal artikel kontroversial Naden dahulu. Walau pada akhirnya Naden memang mendapat hukuman juga, akan tetapi hukuman tersebut terbilang ringan jika seandainya Evan membuka mulut soal kenyataan artikel Naden yang memang betul adalah copy paste dari artikel orang lain.
“A litle bit,” jawab Evan bertepatan dengan pintu lift dibuka, “Ah, lu ngak usah ikut. Kabarin gua terus kalau ada info berikutnya soal Vina,” ucapnya lagi, menahan Kento yang akan ikut masuk ke dalam lift ketika dia dan Linda sudah memasuki lift.
“Really? Bukan karena lu berdua mau pergi berkencan kan?”
“Apaan sih, gaje banget,” jawab Evan sambil menekan angka 35 dan mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan Kento tersebut.
“Lu belum kasih tau dia?” Linda kemudian bertanya kepada Evan soal Kento yang belum mengetahui soal hubungan rahasianya dengan Vina.
“Seriusan? Lu mau gua kasitahu ke dia soal itu?” Evan menjawab pertanyaan tersebut dengan sedikit menyindir ide konyol Linda tersebut, “Bagaimana dengan apa yang gua minta lu awasin? Ada perkembangan?” dia menjadi sedikit lebih serius dan bertanya soal permintaannya kepada Linda untuk mengawasi Galih.
“Nothing special, cuma layaknya pekerja biasa, bangun pagi, pergi ke kantor dan tidak pernah keluar lagi setelah itu. Tipikal pekerja kantoran banget lah. Tapi ngomong-ngomong, lu mau ngapain ke lantai 35,”
“Ya untuk ketemu Dirut lah, buat apaan lagi emangnya?”
“What? Buat apaan njir?”
“Just be quiet, and watch,” jawab Evan.
Tidak banyak orang yang tahu, sebagai salah satu karyawan yang cukup berpangaruh dengan artikel eksklusifnya dulu, Evan mendapatkan keistimewaan dari Raynold, Dirut yang menjabat sekarang ini—yang dulu adalah seorang Chief Editornya—yakni, dengan memberikannya tiga kesempatan untuk meminta bantuan apapun. Dan sampai sekarang, ia belum pernah menggunakan satupun kesempatan tersebut.
“Evan, karyawan favorit gue,” Raynold langsung menyambut dengan tersenyum saat Evan dan Linda masuk ke dalam ruangan Dirut, “Ada masalah apa lu datang? Kurang suka jadi Wakil Direktur Pemasaran? Mau pindah?”
“Ngak ada masalah dengan itu, malah gua lebih suka jabatan yang sekarang. Walau terkadang lebih sibuk,” jawab Evan sambil dia dan Linda mengambil tempat duduk di sofa yang tidak terlalu jauh dari meja Raynold.
“Terus, hal penting apa yang membuat lu sampai harus ke sini?” Raynold kemudian ikut bergabung duduk di sofa setelah selesai menandatangani sesuatu di mejanya.
“Naden, lu tau kan?”
“Iya, dia salah satu Chief Editor yang sekarang kan? Kenapa dia?”
“Gua mau lu mutasi dia atau demote, terserah lu ke jabatan apan,”
Raynold sempat terkekeh saat mendengar permintaan Evan, “Ada masalah apa lu sama dia?”
“Kenapa lu malah ketawa?”
“Ya habisnya agak membingungkan aja kenapa lu harus sampai meminta dia dupecat? Gua harus tau alasannya dulu dong sebelum memutuskan,”
“Gara-gara artikel Vina yang diloloskan sama Naden, menurutnya itu uma bullshit,” celetuk Linda yang dari tadi hanya diam dan mengamati pembicaraan Evan dan Raynold.
“Jadi, maksudlu sekarang kita hanya akan menerbitkan berita-berita gosip yang belum tentu benar begitu? Lu ngak pikirin dampaknya buat orang yang di gosipin? Gimana itu menganggunya untuk hidup mereka dan orang-orang disekitarnya? Dan..,” Evan yang hampir kelepasan meluapkan emosinya karena gosip soal Vina, tersadar saat Linda yang duduk di sampingnya mencubit pahanya.
“It’s their risk, mereka memilih hidup sebagai artis, publik figur, berarti mereka sudah tau dengan resiko kalau hidup mereka akan serba di expose, dan lu ngak bisa mengubah itu,” Raynold terdengar mulai agak meninggikan suaranya, pertanda kalau dia juga mulai sedikit kesal.
“Ya tapi kan…,”
“Gini aja deh,” Raynold langsung menyela sebelum Evan menyelesaikan perkataannya, “Oke, saran lu gua pertimbangkan. But, give me a time. Dan sementara itu, bagaimana kalau lu coba menuliskan 1 atau 2 artikel untuk bulan ini? Supaya ada sedikit perbandingan dengan apa yang lu keluhkan soal apa yang Naden lakukan. Kalau memang artikel lu lebih ngetop, gua akan demote dia dan memberikan Linda jabatan itu, bagaimana?”
“What? Me? Kenapa tiba-tiba gue dibawa-bawa?” saran yang diberikan Raynold tersebut membuat Linda agak terkejut—walau dari ekspresinya yang sempat tersenyum menandakan dia memang sedikit suka dengan gagasan tersebut—sama halnya juga dengan Evan yang tidak mengira solusi dari Raynold akan seperti itu.
“Yah, bisa dibilang karena lu orang yang pasti paham dengan visi-nya si kunyuk satu ini. Apalagi kita bertiga dulu pernah satu tim kan? Jadi itu juga mendukung penilaian gue kali ini,” ujar Raynold,
“Paham bagaimana? Lu kan juga tahu kalo ini orang pikirannya susah ditebak. Jadi mana gua paham visi-nya seperti apa,” Linda membantah,
“Hmm, perasaan seingat gua lu pernah bilang kalau lu sangat memahami dia sampai-sampai…”
“STOP!!!” Linda tiba-tiba berteriak saat Raynold tengah berbicara,
Mendengarkan percakapan Raynold dan Linda, Evan sedikit senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana masa lalu mereka bertiga yang bisa dibilang sangat berwarna. Dia masih ingat jelas suka duka yang mereka bertiga hadapi saat itu. Dimarahi atasan karena hal sepele, harus bekerja meski sedang agak demam, sampai bagaimana artikel mereka menjadi artikel dengan jumlah klik terbanyak selama seminggu. Rasanya semua itu seperti baru saja terjadi kemarin.
“Kenapa lu senyum-senyum hah?” Linda bertanya ketika menangkap basah Evan yang tersenyum lebar, “Wah, lu kaish tahu dia ya soal itu. Dasar lu ya laki-laki remes. Umur aja yang dewasa, tapi…” sebelum Evan sempat menjawab, Linda langsung mengomel ke arah Raynold, bahkan sampai mengacungkan jarinya meski Raynold adalah Dirut mereka/
“Apaan.. Dia udah tahu dari awal bego,” Raynold langsung membela dirinya dari tuduhan Linda yang mengecap dirinya sebagai laki-laki yang tidak bisa menjaga rahasia.
“Ah, soal perasaanmu maksudnya?” Evan langsung paham apa yang diributkan oleh Linda dan Raynold.
“L.. Lu tau soal itu? D.. Dari mana?”
“Yang penting bukan dari dia,”
“Ah sial,” Linda langsung menundukkan kepala.
Ada kalanya, Evan sedikit merasa menyesal karena menjadi orang yang cukup peka untuk urusan seperti itu, Entah karena instingnya sebagi wartawan yang mendorongnya menjadi seperti ini atau bukan, dia tidak bisa diam ketika ada sebuah kotak pandora atau misteri di depannya. Ia selalu saja tergoda untuk membuka kotak tersebut dan memecahkan teka-tekinya; walau terkadang ia tahu kalau itu semua bisa membahayakan dirinya atau orang-orang di sekitarnya.
***
“Jadi rencanamu apa?” ujar Alfred,
Malamnya, di restoran Alfred, sambil menunggu Vina yang masih dalam perjalanan setelah ia bercerita panjang lebar—demi mengisi waktu—reaksi Alfred dan Nadya kurang lebih sama; tidak memberikan solusi apapun sama sekali. Mereka malah menganggap kalau ia sengaja memancing pertengkaran dengan Naden karena sudah punya rencana tersendiri.
“Memang, dua orang ini kagak bisa harapkan sama sekali,” dia membatin dan hanya bisa menghela nafas ketika Nadya dan Alfred meanatapnya, seolah sedang menunggu perintah berikutnya.
“Bagaimana kalo artikel anonim?” ujar Nadya ketika mereka bertiga tengah terdiam dan tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.